Berziarah ke Makam RE Kerkhoven

Oleh: Hevi Fauzan (@hevifauzan)

Rabu, 1 Maret 2017, untuk pertama kali, saya berkesempatan berziarah ke makan Kerkhoven di Gambung. Di sana, terdapat 3 makam, yaitu makam Rudolph Eduard Kerkhoven, Jenny, dan satu makam lagi yang kemungkinan sebagai tempat peristirahat pengasuh anak-anak mereka. Perjalanan ini terwujud bersama rekan-rekan dari Komunitas Aleut.

Perkebunan teh Gambung berada di Desa Cisondari, Kecamatan Pasir Jambu. Dari Bandung, tempat ini bisa diakses melalu jalan raya yang menghubungkan Soreang dan Ciwidey. Dari SPBU Pasirjambu, kita harus berbelok ke kiri, menuju Gunung Tilu.

Sempat dihentikan hujan dan berteduh di warung yang juga sebuah tempat penggilingan biji kopi, kami berempat masuk ke kompleks pusat penelitian teh dan kina. Setelah melewati pintu utama dan beberapa pos satpam, kami harus berhenti di dekat pabrik dan memarkirkan kendaraan di sana. Ternyata, untuk masuk ke makam, pengunjung harus membayar sekian rupiah. Pihak perkebunan memberikan list fasilitas apa saja yang bisa digunakan oleh pengunjung, termasuk list harga didalamnya. Untuk masuk ke kompleks makam Keluarga Kerkhoven yang letaknya terpencil di belakang, pengunjung harus membayar Rp 15.000 rupiah/orang bagi WNI dan 50.000/orang bagi non-WNI.

Sosok R.E. Kerkhoven bagi saya, menepiskan sosok para penjajah yang selalu digambarkan datang untuk mengeksploitasi alam Nusantara dan manusianya. Rudolph Eduard (R.E.) datang ke Gambung sebagai pengusaha muda yang bekerja keras mengubah lahan Gambung, dari lahan bekas penanaman kopi yang terbengkalai, menjadi lahan teh di kaki gunung Tilu di bulan November 1873.

Dalam kamus Sunda yang disusun R.A. Danadibrata di halaman 204, Gambung mempunyai arti kata yang sama dengan gamblung. Gambung berarti sawah atau kebun yang tidak diolah atau dipelihara karena ditinggalkan oleh pemiliknya. Danadibrata kemudian memberi tambahan, bahwa tanah yang ditinggal bukan berarti tidak bisa diolah (atau gersang), karena kata untuk tanah yang ada dalam keadaan ini disebut garung.

Dalam buku Sang Juragan Teh yang disusun Hella Haasse, perjuangan R.E. untuk membuka Gambung salah satunya adalah dengan membersihkan akar-akar tanaman kopi. Tanaman tersebut merupakan sisa tanaman kopi di masa Preangerstelsel yang kemudian ditinggal setelah sistem tanam paksa itu berakhir. Di Priangan, tanam paksa diterapkan jauh hari sebelum Cultuurstelsel diterapkan di Hindia. Adalah kopi, menjadi tanaman yang membawa masyarakat Priangan pada kondisi yang menyedihkan sejak tahun 1720.

Lokasi makam Keluarga Kekhoven berada di belakang perkebunan. Letaknya tidak jauh dari rumah mereka yang kini telah dihancurkan dan diganti dengan bangunan baru. Pemandangan Gunung Tilu akan menjadi teman dalam perjalanan menuju makam yang tidak memakan waktu lama. Dari kejauhan, makam R.E. Kerkhoven sudah terlihat dengan warna nisan dan jirat merah muda yang terang.

R.E. Kerkhoven, dengan jiwa wirausaha dan tekad yang kuat datang ke Hindia Belanda, menyusul keberhasilan keluarganya yang membuka perkebunan teh di Priangan, seperti sang paman Eduard Julius Kerkhoven yang membuka perkebunan teh di Sinagar, atau Rudolph Albertus Kerkhoven, ayah RE yang membuka perkebunan di Arjasari, Banjaran, Kabupaten Bandung. Keluarga ini juga melahirkan generasi pekebun teh lain yang terkenal, seperti K.A.R. Bosscha atau K.F. Holle.

Dengan kerja kerasnya itulah, R.E. muda akhirnya berhasil membangun usahanya di Gambung, berupa perkebunan yang menghasilkan teh berkualitas.

Keadaan kompleks makam terlihat cukup bersih. Makam R.E. berada di tengah dengan nisan bertuliskan nama, tanggal lahir, dan tanggal meninggal. Di sebelah kiri, terdapat makam istrinya, Jenny Roosegaarde Bisschop, yang merupakan cicit gubernur jenderal Hindia Belanda dan “pendiri” kota Bandung, Daendels. Di antara dua makam sejoli suami dan istri ditanami beberapa tanaman, salah satunya tanaman yang memiliki bunga merah menyala yang menarik perhatian, Anthurium Andraeanum.

Di sebelah kanan, rada jauh dari kedua makam tersebut, terdapat makam yang dibangun tanpa nisan.

Pasangan R.E. dan Jenny tinggal bersama di Gambung setelah mereka menikah di tahun 1878. Mereka dikaruniai 5 putra, antara lain Ru, Edu, Emile, Bertha, dan Karel. Jenny sendiri meninggal secara memilukan. Disinyalir depresi karena kesepian, Jenny meninggal di tahun 1907.

Kompleks makam sendiri ada di bawah pohon besar nan rindang. Saya hanya tahu nama pohon Rasamala yang ada di dekat makam R.E., karena nama pohon memang tertulis di sana. Tidak jauh dari kompleks makam, dibangun juga kandang penangkaran kera. Kompleks makam sendiri tidak terlalu gelap karena berada di pinggir perkebunan teh dengan pemandangan Gunung Tilu yang berdiri megah.

Setelah lewat seperminum teh, kami lalu memutuskan untuk pulang ke Bandung, melalui jalur Gambung-Banjaran via Lamajang.

 

Tautan asli: http://pahepipa.com/berziarah-ke-makam-re-kerkhoven/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s