Pendirian Lembaga Rumah Buta (PSBN Wyata Guna)

Oleh: Vecco Suryahadi (@Veccosuryahadi)

Foto dari http://collectie.wereldculturen.nl

Pada tahun 1902, K.A.R. Bosscha mendonasikan lahan seluas tiga bahu yang terletak di Burgemeester Coopsweg (kini Jl. Pajajaran) kepada yayasan untuk tuna netra bernama Blinden Instituut en de Werk Inrichting voor Blinde Inlanders te Bandoeng. Kemudian dibangunlah sebuah komplek rumah buta di lahan tersebut.

Baru pada tahun 1903, komplek rumah buta ini selesai. Peresmian komplek ini dilakukan oleh Ketua Kehormatan Perkumpulan Residen bernama G. J. A. F. Oosthout yang kemudian diserahkan kepada Dr. Westhof yang saat itu menjadi ketua perkumpulan.

Selanjutnya, banyak aktivitas-aktivitas terkait kaum tuna netra di Hindia Belanda. Salah satunya ialah pengajaran cara meraba, mencium, dan mencicipi yang memungkinkan para murid dapat mengetahui ilmu tumbuh-tumbuhan dan tanah. Baca lebih lanjut

Melihat Langsung Proses Pembuatan Teh di Pabrik Teh Malabar

Oleh: Erna Sunariyah (@ernasunariyah)

Masih tentang tour Mengenang K.A.R Bosscha bersama Mooi Bandoeng beberapa waktu lalu. Kali ini, saya ingin berbagi tentang satu tempat yang bisa dibilang jantungnya perkebunan teh di Malabar. Yaitu pabrik teh Malabar atau dulu dikenal dengan nama Pabrik teh Tanara.

Di tempat inilah, daun teh dari seantero perkebunan di wilayah Malabar dan Tanara di produksi hingga menjadi bubuk teh dan bisa kita seduh seperti sekarang.

Pabrik Teh Malabar yang dulunya bernama Pabrik Teh Tanara

SEJARAH PABRIK TEH MALABAR

Pada tahun 1896 K.A.R Bosscha mengelola pabrik pengolahan teh. Yaitu pabrik teh Malabar yang kini menjadi Gedung Olahraga Gelora Dinamika dan Pabrik teh Tanara yang dibangun pada tahun 1905 yang sekarang menjadi pabrik teh Malabar.  Gedung olahraga Gelora Dinamika sendiri lokasinya tidak jauh dari perkebunan pabrik teh Malabar.   Baca lebih lanjut

Berziarah ke Makam RE Kerkhoven

Oleh: Hevi Fauzan (@hevifauzan)

Rabu, 1 Maret 2017, untuk pertama kali, saya berkesempatan berziarah ke makan Kerkhoven di Gambung. Di sana, terdapat 3 makam, yaitu makam Rudolph Eduard Kerkhoven, Jenny, dan satu makam lagi yang kemungkinan sebagai tempat peristirahat pengasuh anak-anak mereka. Perjalanan ini terwujud bersama rekan-rekan dari Komunitas Aleut.

Perkebunan teh Gambung berada di Desa Cisondari, Kecamatan Pasir Jambu. Dari Bandung, tempat ini bisa diakses melalu jalan raya yang menghubungkan Soreang dan Ciwidey. Dari SPBU Pasirjambu, kita harus berbelok ke kiri, menuju Gunung Tilu.

Sempat dihentikan hujan dan berteduh di warung yang juga sebuah tempat penggilingan biji kopi, kami berempat masuk ke kompleks pusat penelitian teh dan kina. Setelah melewati pintu utama dan beberapa pos satpam, kami harus berhenti di dekat pabrik dan memarkirkan kendaraan di sana. Ternyata, untuk masuk ke makam, pengunjung harus membayar sekian rupiah. Pihak perkebunan memberikan list fasilitas apa saja yang bisa digunakan oleh pengunjung, termasuk list harga didalamnya. Untuk masuk ke kompleks makam Keluarga Kerkhoven yang letaknya terpencil di belakang, pengunjung harus membayar Rp 15.000 rupiah/orang bagi WNI dan 50.000/orang bagi non-WNI.

Sosok R.E. Kerkhoven bagi saya, menepiskan sosok para penjajah yang selalu digambarkan datang untuk mengeksploitasi alam Nusantara dan manusianya. Baca lebih lanjut

Catatan Perjalanan: Mengumpulkan Kejutan-Kejutan Kecil di Sepanjang Jalur Pantai Selatan

Oleh: Hendi “Akay” Abdurahman (@akayberkoar)

whatsapp-image-2016-12-13-at-08-30-17
Pantai Bubujung, Cipatujah. 

Dalam film Ada Apa Dengan Cinta (AADC), ada adegan di mana Cinta membacakan puisi buatan Rangga yang diiringi petikan gitar di sebuah cafe. Dalam puisinya, “Aku” sedang dalam kebimbangan. Bosan dengan kepenatan, kesepian, dan kesendirian. Di akhir puisi, “Aku” seolah menyerah dengan menunjuk hutan dan pantai sebagai tempat menyendiri.

***

Bila boleh saya memprediksi, mungkin di antara kalian sedang bersiasat untuk merencanakan liburan akhir tahun. Ada yang sudah mempersiapkan schedule untuk menghabiskan liburan ke pantai, atau mungkin juga ada yang sedang bersiap untuk mendaki gunung. Di pojok kamar, sebagian pemuda-pemudi sedang mencari-cari destinasi wisata favorit dengan keadaan terkini melalui Instagram. Yaahh, libur akhir tahun masih sekitar dua pekan lagi, tapi persiapan harus diperhitungkan sejak dini. Mungkin begitu gumam mereka.

Sebelas motor bermacam-macam merk  dengan kemampuan mengemudi yang biasa saja bersiap untuk menyusuri jalur Pantai Selatan. Satu motor menyusul, total dua belas motor. Satu mobil berwarna putih yang dikemudikan oleh perempuan tangguh yang dengan resmi kami juluki “Bibi Lung”, ikut serta dalam perjalanan ini. Bibi Lung tak sendiri, ia ditemani oleh perempuan –entah sepupu atau keponakannya– berkerudung manis dengan senyum yang penuh kalsium. Tak berlebihan saya sebut senyumnya penuh kalsium, senyum anggunnya berhasil menurunkan tekanan darah, melenturkan otot-otot, dan juga melancarkan peredaran darah beberapa kawan laki-laki lainnya,walau hanya beberapa detik. Baca lebih lanjut