Catatan Perjalanan: Mengumpulkan Kejutan-Kejutan Kecil di Sepanjang Jalur Pantai Selatan

Oleh: Hendi “Akay” Abdurahman (@akayberkoar)

whatsapp-image-2016-12-13-at-08-30-17
Pantai Bubujung, Cipatujah. 

Dalam film Ada Apa Dengan Cinta (AADC), ada adegan di mana Cinta membacakan puisi buatan Rangga yang diiringi petikan gitar di sebuah cafe. Dalam puisinya, “Aku” sedang dalam kebimbangan. Bosan dengan kepenatan, kesepian, dan kesendirian. Di akhir puisi, “Aku” seolah menyerah dengan menunjuk hutan dan pantai sebagai tempat menyendiri.

***

Bila boleh saya memprediksi, mungkin di antara kalian sedang bersiasat untuk merencanakan liburan akhir tahun. Ada yang sudah mempersiapkan schedule untuk menghabiskan liburan ke pantai, atau mungkin juga ada yang sedang bersiap untuk mendaki gunung. Di pojok kamar, sebagian pemuda-pemudi sedang mencari-cari destinasi wisata favorit dengan keadaan terkini melalui Instagram. Yaahh, libur akhir tahun masih sekitar dua pekan lagi, tapi persiapan harus diperhitungkan sejak dini. Mungkin begitu gumam mereka.

Sebelas motor bermacam-macam merk  dengan kemampuan mengemudi yang biasa saja bersiap untuk menyusuri jalur Pantai Selatan. Satu motor menyusul, total dua belas motor. Satu mobil berwarna putih yang dikemudikan oleh perempuan tangguh yang dengan resmi kami juluki “Bibi Lung”, ikut serta dalam perjalanan ini. Bibi Lung tak sendiri, ia ditemani oleh perempuan –entah sepupu atau keponakannya– berkerudung manis dengan senyum yang penuh kalsium. Tak berlebihan saya sebut senyumnya penuh kalsium, senyum anggunnya berhasil menurunkan tekanan darah, melenturkan otot-otot, dan juga melancarkan peredaran darah beberapa kawan laki-laki lainnya,walau hanya beberapa detik.

Saya beserta kawan-kawan dari Komunitas Aleut memang sudah merencanakan suatu perjalanan yang cukup panjang untuk mengisi weekend ini. Kami tidak berhenti Ngaleut, karena nyatanya perjalanan ini adalah bagian dari Ngaleut. Kami berangkat Jumat malam, tanggal 9/12/2016. Dengan rute: Bandung – Pangalengan – Rancabuaya – Sayangheulang – Cilauteureun – Santolo – Cipatujah – Karang Tawulan – Cikalong – Cikatomas – Singaparna – Tarogong – Cijapati – Majalaya – Bandung. Kami akan melakukan perjalanan dengan jarak lebih dari 460 km. Berangkat dari sekretariat, Jalan Solontongan 20-D. Kami melaju menembus gerimis melewati jalanan Buah Batu menuju arah Pangalengan via Banjaran.

Untuk saya pribadi, inilah perjalanan pertama melewati Rancabuaya melewati jalur Pangalengan. Sebelumnya saya pernah juga ke Santolo, namun dengan jalur Garut – Cikajang – Pameungpeuk. Setelah saya bandingkan, ternyata jalur Pantai Selatan via Pangalengan ini merupakan jalur yang enak untuk disusuri. Jalanan yang tergolong bagus untuk jalur pegunungan membuat kami tak perlu tenaga tambahan untuk melewatinya. Hanya memang, kami sering menemukan belokkan yang tajam yang artinya kami harus tetap berhati-hati.

whatsapp-image-2016-12-12-at-23-42-50
Situ Cileunca, di sini saya bisa melihat Gunung Nini dan saung tempat K.A.R Bosscha memantau perkebunan teh miliknya.

Situ Cileunca menjadi kejutan kecil pertama saya, saya baru kali ini berkunjung ke Situ ini. Di daerah Pangalengan, sebelumnya hanya Situ Cisanti yang pernah saya kunjungi. Dan ternyata cukup luas juga Cileunca ini. Kami berhenti sejenak untuk sekadar menghirup udara segar Cileunca, juga untuk sarapan dengan gorengan yang dikombinasikan dengan leupeut dari penjual di tepi Cileunca. Setelahnya merokok adalah finishing yang paling hakiki. Sambil sarapan ini, saya bisa melihat Gunung Nini dan saung kecil tempat K.A.R Bosscha memantau perkebunannya.

whatsapp-image-2016-12-13-at-19-20-55
Air terjun Rahong, Cisewu.

Kejutan kecil lainnya nampak di Cisewu, memang sebelumnya Perkebunan Teh Cukul membuat saya takjub juga. Namun pemandangan teh sudah sering saya lihat, dan tak jauh beda. Intinya tak membuat saya terkejut. Sedangkan di Cisewu, saya menemukan air terjun Rahong, saya menemukan air terjun di tengah-tengah perjalanan menuju Rancabuaya. Spontan saja kami berhenti di tempat ini, tanpa perencanaan. Air terjun yang cukup bersih, dengan arus yang agak deras dan sedikit dalam membuat kami penasaran untuk berenang dan berendam. Saya juga turut berenang dan berendam di sungai ini. Tapi satu yang harus diperhatikan, kamu harus berhari-hati karena batu-batunya licin, baiknya barang-barang (apalagi handphone) disimpan di pinggir sungai. Setangguh apapun kamu berenang tetap mesti waspada, jangan karena tampang kamu yang ke pencintaalam-pencintaalaman (wajah agak seram, rambut panjang) lalu kamu sotoy loncat sana loncat sini. Maksudnya jika tampang kamu sudah kepecintaalaman-pencintaaman pun tak menjamin kamu selamat, kamu bisa saja terpeleset dan jatuh. Apalagi jika tak bisa berenang.

img-20161210-wa0007
Memasuki Rancabuaya, kami disuguhi pantai yang membiru

Setelah selesai berenang di Air Terjun Rahong, kami melanjutkan perjalanan menuju Rancabuaya, Santolo, dan pantai yang berada di daerah Cipatujah. Kami menginap di Cipatujah semalam. Tidak, kami tidak bermain di pantai, saya hanya merasakan suasana pantainya saja. Itu sudah cukup, Cipatujah dan beberapa pantai di sekitarnya memang tak seramai Pangandaran yang berada di ujung Jawa Barat, tapi suasana pantainya hampir sama.

30824259403_9bab5f75e7_z
Mannequin Challenge di tepi pantai Bubujung

Melewati jalur Sancang yang berada di Garut Selatan, dulu leuweung Sancang ini terkenal akan hutannya yang misterius. Saya tak begitu kenal dengan sejarah tempat ini. Namun jika kalian mencari tahu lebih dalam ternyata leuweung Sancang ini sangat berkaitan dengan Prabu Siliwangi. Dengan jalur yang sudah bagus walaupun berbelok-belok ditambah banyaknya pohon karet membuat kami begitu menikmati jalur ini. Arghh… harusnya saya membekali sejarah leuweung Sancang terlebih dahulu agar imajinasi ketika melewati tempat ini begitu terasa.

Kejutan lainnya yang saya dapat tentu saja di Pantai Bubujung. Kali ini kami bermain-main di tepi pantai ini. Pantai yang berbatasan antara Garut dan Kabupaten Tasikmalaya ini menurut saya tak bagus-bagus amat. Pasirnya juga tak sebagus pasir putih Ujunggenteng. Namun secara tak sengaja kami menikmati matahari tenggelam di sini. Ini di luar rencana kami. Kami berlari, berfoto, dan menikmati sore di pantai ini. Pantai yang nyaris sepi dari pengunjung. Tapi justru karena sepi itulah saya dan Komunitas Aleut merasa hangat. Seorang teman berteriak kepada teman lainnya untuk melakukan Mannequin Challenge yang sedang hits itu. Hahaha… seru!!! Satu hal, ini terjadi juga dengan spontan, gara-gara motor seorang kawan bocor dan mesti ditambal. Arghhh… kejutan itu mengasyikkan.

whatsapp-image-2016-12-12-at-23-46-38
Pantai Karang Tawulan, kami menikmati suasana liburan di sini

Kali ini kami mendatangi Pantai Karang Tawulan. Pantai yang baru saya dengar dan baru saya datangi. Beberapa kawan juga baru pertama kali mendatangi pantai ini. Namun, berbeda dengan pantai Bubujung, pengunjung pantai ini lumayan banyak. Untuk daerah sekitar Tasikmalaya atau Garut Selatan mungkin pantai ini sudah mereka kenal. Halaman sekitar pantai yang luas menginisiasi kami untuk makan bersama, ngampar samak lalu menikmati anginnya. Sejuk.

Selesai dari rangkaian perjalanan menyusuri jalanan pantai, kami melanjutkan perjalanan menuju arah Bandung. Melalui jalur Cikalong, Cikatomas dan Singaparna. Gerimis sering kali turun, hujan besar juga datang sesekali. Sampai akhirnya di perjalanan pulang menuju Garut, kami dihadiahi hujan yang lebat. Jarak pandang sangat tipis. Beberapa teman mengendalikan motornya dengan sangat hati-hati dengan tetap saling memerhatikan satu sama lain. Sampai akhirnya kami berhenti di Indomaret, untuk menunggu hujan agar tak terlalu deras. Sambil ngemil beberapa makanan ringan, kami bercanda dengan obrolan tak tentu. Menceritakan pengalaman selama perjalanan dengan dibumbui beberapa gelak tawa.

Niat kami untuk mengunjungi Kampung Naga yang sebelumnya kami obrolkan di Cipatujah harus dibatalkan karena cuaca yang tidak mendukung, padahal kami ingin sekali mengunjungi Kampung tersebut. Banyak dari kawan-kawan yang penasaran dengan kondisi di sana. Tapi apa boleh buat, mungkin lain kali kami bisa mengunjunginya. Semoga.

Lalu Cipanas Garut menjadi pelipur lara, kami menginap semalam di Garut karena cuaca yang sudah terlalu malam ditambah jalanan macet. Belum lagi kemungkinan-kemungkinan lainnya seperti adanya longsor di beberapa titik, dan lain sebagainya.

img-20161211-wa0003
Saya, Hamdan, Arif, dan Irfan. Berendam air panas di salah satu penginapan di Cipanas

Ini menjadi kejutan kecil saya selanjutnya. Mungkin bagi sebagian kawan ini hal biasa. Tapi siapa sangka, di bak mandi berair hangat dengan ukuran 1,5 x 1,5 meter ini kami bercerita tak mengarah. Seorang Arif membayangkan sedang berada di Jepang dengan datangnya seorang perempuan cantik. Irfan sedang memanggil noni yang rupawan, Hamdan yang sedang berhangat-hangat dengan air panas dengan secangkir kopi di pinggir bak. Dan saya tak mau kalah, saya membayangkan Sora Aoi datang tiba-tiba lalu duduk di pinggir saya. Kami semua berimajinasi. Hahaha

Sampai tibalah obrolan khas laki-laki muncul. “Maneh mineng ngaloco?” tanya Arif, entah kepada siapa pertanyaan itu ditujukkan. Nyatanya pertanyaan itu dijawab oleh saya dan teman lainnya. “Urang mah sering” timpal Irfan tanpa malu-malu. “Urang oge sering” jawab saya setelah Irfan berani jujur. Sedangkan Hamdan juga tak menampik, dia suka coli tapi masih dalam tahap yang wajar. “Ngarana ge lalaki” begitu katanya. Obrolan kami makin menjurus dengan pertanyaan lanjutan. “Maneh pas ngaloco ngabayangkeun artis saha” begitu tanya seseorang, saya lupa itu pertanyaan siapa. Jawaban-jawaban lainnya muncul. Coba tebak, siapa sajakah artis yang pernah kami bayangkan saat coli? Hahaha…

Kembali kami bercerita pengalaman-pengalaman selama perjalanan, juga hal-hal lainnya dengan penuh canda tawa. Besoknya kami pulang, sekitar jam 8 pagi. Pulang ke Bandung via Cijapati. Jalanan yang menanjak mengaharuskan saya beberapa kali bertukar pasangan. Akhirnya kami berhenti disalah satu warung untuk makan siang, sate dan nasi rames menjadi menu kami. Sambil melihat pemandangan dari atas, lagi-lagi kami bercerita pengalaman selama perjalanan. Warung ini menjadi tempat terkahir kami berhenti untuk melanjutkan pulang ke sekretariat di Solontongan.

30792921334_862f8e6b35_z

Pengalaman perjalanan saya bersama Komunitas Aleut ini membuat saya khususnya, belajar banyak hal. Bukan melulu mengenai destinasi, lebih dari itu. Kami belajar berkelompok, bekerja sama, memerhatikan teman selama perjalanan, dan belajar untuk menurunkan ego demi kepentingan kelompok. Kami berbagi rokok, menyukupkan makanan agar cukup untuk dimakan bersama, saling menutupi kekurangan satu sama lain, bercerita banyak hal dan masih banyak lagi pelajaran yang kami ambil dari satu perjalanan ini.

Ya, pada akhirnya tempat-tempat yang kami kunjungi dengan segala keindahannya adalah bonus. Tujuan kami untuk selalu belajar dan berkembang serta mengenal lebih jauh akan diri sendiri dan kepekaan kepada kawan-kawan adalah hal yang utama.

“Aku” dalam puisi yang dibacakan Cinta yang menunjuk hutan dan pantai untuk menjadi tempat mengasingkan diri nyatanya tak berlaku bagi kami. Hutan dan pantai sebagaimana yang kami datangi adalah tempat untuk berbagi. Tak hanya berbagi sesama kawan, kami pun berbagi dengan pemilik warung-warung sekitar.

Sedangkan untuk saya, bisa saja perjalanan ini adalah liburan sekaligus perjalanan panjang akhir tahun. Perjalanan ini sudah sangat menyenangkan, dan kumpulan kejutan-kejutan yang hadir selama kami menyusuri jalur pantai selatan ini membuat perjalanan ini semakin berwarna. [kay]

 

Tautan asli: https://blogakay.wordpress.com/2016/12/14/catatan-perjalanan-mengumpulkan-kejutan-kejutan-kecil-di-sepanjang-jalur-pantai-selatan/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s