Melihat Langsung Proses Pembuatan Teh di Pabrik Teh Malabar

Oleh: Erna Sunariyah (@ernasunariyah)

Masih tentang tour Mengenang K.A.R Bosscha bersama Mooi Bandoeng beberapa waktu lalu. Kali ini, saya ingin berbagi tentang satu tempat yang bisa dibilang jantungnya perkebunan teh di Malabar. Yaitu pabrik teh Malabar atau dulu dikenal dengan nama Pabrik teh Tanara.

Di tempat inilah, daun teh dari seantero perkebunan di wilayah Malabar dan Tanara di produksi hingga menjadi bubuk teh dan bisa kita seduh seperti sekarang.

Pabrik Teh Malabar yang dulunya bernama Pabrik Teh Tanara

SEJARAH PABRIK TEH MALABAR

Pada tahun 1896 K.A.R Bosscha mengelola pabrik pengolahan teh. Yaitu pabrik teh Malabar yang kini menjadi Gedung Olahraga Gelora Dinamika dan Pabrik teh Tanara yang dibangun pada tahun 1905 yang sekarang menjadi pabrik teh Malabar.  Gedung olahraga Gelora Dinamika sendiri lokasinya tidak jauh dari perkebunan pabrik teh Malabar.  

Selama 32 tahun K.A.R Bosscha bertindak sebagai administratur pabrik dari tahun 1896-1928.

Menurut buku Kisah Para Preanger Planters karya Her Suganda, dua pabrik teh yang dikelola oleh K.A.R Bosscha ini merupakan pelengkap dari perkebunan Teh Malabar selain rumah-rumah untuk pekerja perkebunan, sekolah rakyat dan rumah tinggal Bosscha. Untuk penerangan sekaligus menggerakkan mesin pabrik, didirikan Pusat Listrik Tenaga Air (PLTA) Cilaki dengan memanfaatkan sumber air Sungai Cilaki. Sungai ini merupakan anak sungai Cisangkuy yang bermuara di sungai Citarum.

Dalam buku Lebih Dekat dengan K.A.R Bosscha disebutkan bahwa untuk kelancaran pekerjaan perkebunan, ia selalu menggunakan mesin yang tercanggih yang bisa didapatkan saat itu. Salah satu mesin dalam proses produksi ini merupakan ciptaan Bosscha sendiri, yaitu mesin pelayu (dengan mekanik ban berjalan). Untuk menggerakkannya diperlukan tenaga listrik sebesar 300 hp (=221 kW).

Karena berbagai kecanggihannya tersebut, hasil dari kedua perkebunan ini merupakan yang terbesar di dunia saat itu (1910), produksinya sekitar 1.200.000 kg/tahun terdiri dari 5 tingkatan kualitas. Semua ini dikerjakan oleh 12 staff orang Eropa dan lebih dari 3.000 karyawan pribumi.

Baca juga : Berkunjung Ke Rumah Bosscha

PROSES PENGOLAHAN TEH

Setelah proses administrasi ijin masuk ke pabrik selesai, kami pun diarahkan ke plant produksi tak jauh dari kantor pabrik berada. Di pintu masuk pabrik sudah menunggu seorang pegawai yang akan menjadi guide kami selama plant tour berlangsung.

foto : @komunitasaleut

Namanya pak Asep. Pak Asep ini sudah cukup lama bekerja di pabrik teh Malabar dan sudah sering menjadi guide saat ada rombongan wisatawan yang ingin tahu banyak tentang cara pengolahan teh di pabriknya langsung.

Sebelum diajak masuk ke dalam pabrik, pak Asep menjelaskan sekilas tentang profil pabrik dan jenis teh yang diolah disini. Pabrik Malabar ini memproduksi teh hitam dan teh hijau. Daun tehnya sama, hanya cara pengolahannya saja yang berbeda.

Sesuai dengan tulisan di pintu selamat datang pabrik, pengolahan teh dilakukan dengan metode orthodox yaitu teh dihancurkan dengan cara digiling bukan dicacah atau dalam dunia industri disebut metode CTC (Crushing, Tearing, Churling) . Metode orthodox ini digunakan dari dulu dan dipertahankan hingga saat ini. Perbedaan mencolok antara metode orthodox dan CTC terletak pada rasanya yang berbeda. Daun teh yang diolah menggunakan cara orthodox lebih enak rasanya ketimbang menggunakan metode CTC.

Untuk pemasarannya sendiri, 90% diekspor ke luar negeri dan 10% nya untuk lokal. (Agak shock sih dengernya) 😦

Satu hal yang disayangkan adalah, kita tidak diperbolehkan mengambil gambar proses produksi selama plant tour berlangsung. 😕 okelah. Yang penting ilmunya harus dapat! Hehe.

Secara proses, daun teh yang sudah dipetik dari perkebunan akan mengalami 6 proses sebagai berikut.

1. Proses Pelayuan

Pucuk teh dipetik dari jam 6 pagi hingga 2 siang untuk selanjutnya masuk ke proses pelayuan. Daun teh yang diambil adalah pucuk 1-3 untuk pasaran ekspor dan 4 ke bawah untuk pasaran lokal.  Dari sekian proses pengolahan teh, bagian ini yang paling saya suka! 😄 Begitu masuk, bau teh menyeruak. Daun teh segar yang baru diantarkan dari perkebunan langsung masuk ke ruangan ini dan disimpan di sebuah tempat yang dinamakan withered through.

Fungsi dari proses ini adalah untuk menghilangkan kadar air daun teh dengan menggunakan vent besar selama 12-20 jam. Daun-daun teh yang sudah layu kemudian dimasukkan kedalam wadah untuk selanjutnya diangkut menggunakan monorel ke proses selanjutnya.

2. Proses penggilingan

Daun teh yang sudah layu akan masuk ke proses penggilingan dengan metode orthodox. Proses penggilingan membutuhkan waktu selama 50 menit. Setelah daun teh selesai digiling, hasil gilingannya akan diayak. Semakin baik daun teh yang dipetik, proses saringannya pun hanya perlu satu atau dua kali penyaringan saja langsung halus. Makin daun teh nya kurang baik maka perlu hingga 5x penyaringan. Bahkan ada yang walaupun sudah masuk ke penyaringan terakhir tetap saja kasar. Biasanya daun teh hasil 1 atau 2 saringan untuk pasaran ekspor, sedangkan lebih dari itu dijual untuk pasaran lokal.

3. Proses Oksidasi Enzimatis

Proses oksidasi enzimatis adalah proses reaksi oksidasi substansi senyawa-senyawa kimia yang ada dalam cairan daun dengan oksigen yang ada di udara melalui bantuan enzim sehingga dihasilkan substansi theaflavin dan thearubigin yang menentukan sifat seduhan.

Proses ini hanya dilakukan untuk teh hitam saja. Daun teh yang sudah digiling disimpan di sebuah ruangan dengan tingkat kelembaban hingga 90% selama kurang lebih 2 jam.

Berdasarkan penjelasan pak Asep, Karakteristik teh hitam yang baik itu diantaranya adalah warnanya hitam, bersih dari serat & tulang, rasa tidak pahit dan warna setelah diseduh berwarna merah cerah.

4. Proses Pengeringan

Daun teh yang sudah digiling dan dioksidasi akan masuk proses pengeringan yang memerlukan waktu 20 menit dengan suhu 90-110 derajat.

Bila terlalu lama dikeringkan, teh akan gosong. Namun jika terlalu cepat, teh akan mentah. Untuk itu lama waktu pengeringan harus tepat sesuai dengan standar.

5. Proses Sortasi

Pada proses ini teh yang sudah dikeringkan akan dikelompokkan berdasarkan ukuran tertentu sehingga partikel teh menjadi seragam. Selain itu pada proses sortasi ini, tangkai kering dan serat merah pada teh akan dihilangkan dengan cara diayak lagi menggunakan ayakan khusus.

Selain dua hal diatas, di proses ini dilakukan uji mutu dari teh yang dihasilkan apakah pengeringan teh sudah sesuai standar atau belum, pun masalah rasa teh, diuji pula kualitasnya disini.

Sample teh yang sudah melewati uji mutu akan disebar ke customer menggunakan sistem lelang dan khusus. Khusus dalam arti, pembeli langsung pesan ke pabrik tanpa melalui proses lelang.

foto : @komunitasaleut
Jenis-jenis teh

6. Proses Pengemasan

Setelah dipastikan teh yang dihasilkan mutunya sudah baik, proses selanjutnya adalah pengemasan. Proses ini merupakan proses akhir untuk selanjutnya dikirimkan ke customer.

Itulah rangkaian proses pengolahan teh yang dilakukan di pabrik teh Malabar. Sebelum mengakhiri kunjungan, saya sempat melihat-lihat beragam teh yang sudah dikemas dengan berbagai merk baik ekspor maupun impor yang tersimpan rapi di sebuah lemari kaca.

Sebenarnya saya awam soal merk teh mana yang paling terkenal atau mahal. Namun, berkat teman-teman tour lain yang cukup tahu tentang teh saya jadi tahu bahwa merk seperti Ahmad tea dari London atau Sedap Java Tea dari Jepang merupakan beberapa merk teh yang sangat terkenal di luar negeri. Dan, tehnya ternyata diproduksi di Indonesia! 😀

Merk-merk teh lokal dan luar negeri yang diproduksi di pabrik Teh Malabar

Kunjungan itu kami tutup dengan minum teh bersama yang sudah disediakan oleh pihak pabrik. Teh yang disiapkan juga grade premium yang kebanyakan dijual ke luar negeri. Rasanya tidak pahit dan lebih enak.

Saatnya nge-teh 😋

Bagaimana? Tertarik menikmati teh, sekalian melihat proses pengolahannya langsung?

Langsung masukkan ke list up tujuan jalan-jalanmu berikutnya ya! 😉

Baca juga artikel lainnya mengenai Bosscha dan artikel menarik lainnya

Tautan asli erunasite.wordpress.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s