Wyata Guna dalam Tanya

Denyut di jantungmu kota
Pusat gelisah dan tawa
Dalam selimut debu dan kabut
Yang hitam kelam warnanya
Sejuta janjimu kota
Menggoda wajah-wajah resah
Ada di sini dan ada di sana
Menunggu di dalam tanya

(Balada Sejuta Wajah-God Bless)

Saya masih mengingat dengan jelas, saat duduk di kelas dua SMP, pernah meminta kepada seorang kawan untuk dibuatkan gambar logo band God Bless. Kawan tersebut memang pandai menggambar, matanya awas dan mampu menangkap bentuk dengan baik, untuk kemudian digambarkan di atas kertas. Saya tak mampu membuat karya seperti itu. Setiap dia menggambar, saya selalu memperhatikan dengan takjub.

Dia sering menggambar segala hal tentang band rock Inggris, Queen. Mulai dari logo hingga gambar personilnya. Lewat dia, saya kemudian lebih mengenal Queen. Setiap bertandang ke tempat tinggalnya, saya mendengar lagu-lagu Queen dari tape-nya. Baca lebih lanjut

Nasib Renta Teleskop Zeiss Bosscha Jelang Satu Abad

Lensa teleskop Carl zeiss Observatorium Bosscha. tirto.id/Irfan Teguh Pribadi

Lensa teleskop Carl zeiss Observatorium Bosscha. tirto.id/Irfan Teguh Pribadi
Polusi cahaya di Lembang kini menjadi tantangan terbesar bagi Observatorium Bosscha yang selesai dibangun 1928 atau 90 tahun lalu.
Oleh: Irfan Teguh Pribadi (@irfanteguh)

Carl Zeiss lahir di Weimar, Jerman, pada 11 September 1816. Ia adalah pakar optik yang pada 1846 mendirikan perusahaan yang bergerak di bidang sistem optik di Kota Jena. Perusahaan inilah yang pada 1921, dikunjungi oleh Karel Albert Rudolf Bosscha, seorang juragan perkebunan teh di Malabar, Bandung, Jawa Barat. Baca lebih lanjut

Bima Sakti Tertancap di Bosscha

index

Observatorium Bosscha | Foto Tropen Museum

Oleh: Vecco Suryahadi (@Veccosuryahadi)

Pada tahun 1948, Observatorium Bosscha mendapatkan bantuan donasi untuk membuat optik teleskop baru dari Unesco. Bantuan ini didapatkan ketika Egbert A. Kreiken yang pernah menjadi staf Observatorium Bosscha (1928-1930) menghadiri General Meeting UNESCO di Meksiko. Baru pada tahun 1950, berita ini disampaikan kepada Pemerintah Indonesia.

Pada awalnya, teleskop yang akan dibuat berjenis Cassegrain. Kemudian diganti menjadi Schmidt karena pertimbangan transparansi langit di observatorium. Sayangnya, jenis Schmidt tergolong mahal. Akibatnya, terjadi negosiasi antara UNESCO dengan Pemerintah Indonesia. Hasilnya biaya pembangunan mounting, gedung, dan operasional teleskop ditanggung oleh Pemerintah Indonesia. Sedangkan optik teleskop berasal dari bengkel Observatorium Yerkes yang didanai oleh UNESCO.

Saat itu, biaya yang ditanggung pemerintah Indonesia tergolong besar. Biaya pembuatan mounting saja berkisar 150 ribu – 200 ribu dolar. Padahal Pemerintah Indonesia hanya menyediakan sekitar 16 ribu dolar saja. Akibatnya, pihak observatorium meminta bantuan Jan H. Oort, direktur Observatorium Leiden. Atas bantuannya, Observatorium Bosscha mendapatkan desain mounting dari Rademakers di Rotterdam secara gratis.

Pembangunan mounting dimulai pada tahun 1957. Biayanya pun turun menjadi 17 ribu dolar dengan donasi seribu dolar dari Leiden yang sebelumnya menjanjikan 4 ribu dolar.  Akhirnya, mounting selesai pada bulan Maret 1958 dan tiba dua bulan kemudian di Pelabuhan Tanjung Priok.

Lalu, bagaimana dengan optik teleskopnya? Optik itu datang terlambat karena dua faktor. Pertama, direktur observatorium Van Albada kembali ke Belanda karena boikot terhadap orang Belanda yang dilakukan Pemerintah Indonesia. Kedua, Gerard Kuiper yang menjabat direktur Observatorium Yerkes enggan menyerahkan optik karena tidak ada astronom yang bertanggung jawab di Bosscha.

ps_the_afscheidrede_figuur1 (Langit Selatan Blog)

Foto: milik pribadi Prof. Dr. The Pik Sin di blog langit selatan

Kemudian, datanglah Dr. The Pik Sin yang telah menyelesaikan studi doktoral di Amerika Serikat. Pada tahun 1959, Dr. Pik Sin diberi mandat sebagai direktur observatorium. Perlu diketahui bahwa Dr. Pik Sin adalah murid pertama Van Albada. Dengan alasan-alasan di atas, maka yakinlah Gerard Kuiper untuk menyerahkan optik teleskop berharganya.

Perakitannya dan pembangunan dilakukan secara hati-hati dan detail. Pemasangan tabung dan rangka kaki “Bima Sakti” dipercayakan kepada Pabrik Sendjata & Mesiu Bandung (kini Pindad). Sedangkan, pemasangan alat-alat optiknya diserahkan kepada Dr. The Pik-Sin dan Dr. Victor. M. Blanco, ahli bintang dari Case Institute of Technology. Perakitan dan pemasangan ini memakan waktu dua bulan.

Teleskop selesai pada bulan Mei 1960. Teleskop itu kemudian dipancang di bangunan bekas astrograaf yang letaknya sekitar 300 meter sebelah timur dari koepel Teleskop Zeiss. Upacara serah terima dilakukan Dr. Mattson yang mewakili UNESCO kepada Pemerintah Indonesia.

Lalu, apa nama teleskop baru yang mahal ini? Namanya ialah Bima Sakti. Pelaku di balik nama Bima Sakti ialah Van Albada. Alasannya ialah penggunaan utama teleskop untuk meneliti galaksi Bimasakti.

Baca juga artikel lainnya dari Vecco

(komunitasaleut.com – vss/upi)

Sumber Bacaan:

Tulisan Evan I. Akbar di Bosscha.itb.ac.id.

Buku Djawa Barat.

The Bosscha Observatory Schmidt Telescope karya Van Albada

 

Pendirian Lembaga Rumah Buta (PSBN Wyata Guna)

Oleh: Vecco Suryahadi (@Veccosuryahadi)

Foto dari http://collectie.wereldculturen.nl

Pada tahun 1902, K.A.R. Bosscha mendonasikan lahan seluas tiga bahu yang terletak di Burgemeester Coopsweg (kini Jl. Pajajaran) kepada yayasan untuk tuna netra bernama Blinden Instituut en de Werk Inrichting voor Blinde Inlanders te Bandoeng. Kemudian dibangunlah sebuah komplek rumah buta di lahan tersebut.

Baru pada tahun 1903, komplek rumah buta ini selesai. Peresmian komplek ini dilakukan oleh Ketua Kehormatan Perkumpulan Residen bernama G. J. A. F. Oosthout yang kemudian diserahkan kepada Dr. Westhof yang saat itu menjadi ketua perkumpulan.

Selanjutnya, banyak aktivitas-aktivitas terkait kaum tuna netra di Hindia Belanda. Salah satunya ialah pengajaran cara meraba, mencium, dan mencicipi yang memungkinkan para murid dapat mengetahui ilmu tumbuh-tumbuhan dan tanah. Baca lebih lanjut

Melihat Langsung Proses Pembuatan Teh di Pabrik Teh Malabar

Oleh: Erna Sunariyah (@ernasunariyah)

Masih tentang tour Mengenang K.A.R Bosscha bersama Mooi Bandoeng beberapa waktu lalu. Kali ini, saya ingin berbagi tentang satu tempat yang bisa dibilang jantungnya perkebunan teh di Malabar. Yaitu pabrik teh Malabar atau dulu dikenal dengan nama Pabrik teh Tanara.

Di tempat inilah, daun teh dari seantero perkebunan di wilayah Malabar dan Tanara di produksi hingga menjadi bubuk teh dan bisa kita seduh seperti sekarang.

Pabrik Teh Malabar yang dulunya bernama Pabrik Teh Tanara

SEJARAH PABRIK TEH MALABAR

Pada tahun 1896 K.A.R Bosscha mengelola pabrik pengolahan teh. Yaitu pabrik teh Malabar yang kini menjadi Gedung Olahraga Gelora Dinamika dan Pabrik teh Tanara yang dibangun pada tahun 1905 yang sekarang menjadi pabrik teh Malabar.  Gedung olahraga Gelora Dinamika sendiri lokasinya tidak jauh dari perkebunan pabrik teh Malabar.   Baca lebih lanjut

Berkunjung ke Rumah Bosscha!

Oleh: Erna Sunariyah (@ernasunariyah)

Saya termasuk orang yang suka dengan bangunan heritage. Apapun jenis maupun nilai yang dimiliki oleh bangunan tersebut. Saat tour mengenang K.A.R Bosccha tanggal 25 November 2017 lalu bersama mooi Bandung, saya berkesempatan untuk mengunjungi rumah Bosscha, salah seorang preanger planters yang paling berpengaruh di tanah priangan.

Rumah bergaya arsitektur eropa

Rumah ini terletak di tengah perkebunan teh Malabar, kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung. Kenapa disebut rumah Bosscha? Karena rumah ini merupakan kediaman dari Karel Albert Rudolf Bosscha selama ia memimpin perkebunan teh Malabar selama 30 tahun lebih.

Dari kejauhan terlihat bangunan paling mencolok diantara bangunan lain sekitarnya. Sebuah rumah bergaya arsitektur Eropa dengan cerobong menjulang dan pilar persegi serta kolom jendela melengkung. Bagian atap berbentuk segitiga mengadaptasi atap rumah tradisional. Batuan alam warna hitam pada dinding luar diberikan agar tidak terlihat kotor saat terkena debu atau cipratan tanah saat hujan. Dinding rumah yang terpasang kaca di hampir semua bagiannya, membuat cahaya bebas masuk ke dalam rumah.  Baca lebih lanjut

Wisata Pangalengan: Satu Hari Menyusuri Jejak Bosscha di Perkebunan Teh Malabar Bandung

 

Oleh : Irfan Noormansyah (@fan_fin)

Nama Bosscha sangat lekat dengan sebuah tempat peneropongan bintang di kawasan Lembang. Nama tersebut diambil dari nama sang inisiator yaitu Karel Albert Rudolf Bosscha. Selain membangun observatorium, Bosscha juga mengelola Perkebunan Teh Malabar di daerah Pangalengan, Bandung. Di Perkebunan Teh Malabar inilah Bosscha banyak menghabiskan masa hidupnya. Saat pendidikan belum menyentuh masyarakat, ia bangun sebuah sekolah. Saat Perkampungan masih gelap gulita, ia buat listrik menerangi setiap rumah. Saat penduduk sekitar tak memiliki penghasilan, ia kembangkan perkebunan teh yang dikelolanya hingga produk tehnya kini menjadi salah satu komoditas ekspor di Jawa Barat. Beberapa waktu lalu, team dari YourBandung mencoba menyusuri jejak yang ditinggalkan oleh Bosscha di Perkebunan Teh Malabar Bandung melalui sebuah tour wisata “one day trip to heart of the tea Pangalengan” yang diselenggarakan oleh Mooi Bandoeng.

Baca lebih lanjut

Tudung Lampu Sang Penyelamat Bosscha

Oleh: Deris Reinaldi

20150516_083924

Kian hari penduduk Indonesia teruslah meningkat, tentu saja ada korelasinya dengan kebutuhan ekonomi dan pemukiman yang meningkat. Dunia seakan semakin sempit dan penuh sesak yang bisa juga disebut heurin ku tangtung. Bumi yang semakin hari semakin tua mulai menghadapi berbagai macam permasalahan akibat peningkatan laju penduduk dan ekonomi. Salah satu masalah yang dihadapi dunia adalah polusi cahaya. Polusi ini tidak bisa dielakkan dari kehidupan ini karena pengaruh teknologi yang digunakan masyarakat.

Polusi cahaya ini berpengaruh terhadap pengamatan benda-benda langit di Observatorium Bosscha. Dahulu dengan mudah benda langit dapat diamati di Observatorium Bosscha, tapi sekarang begitu sulit untuk mengamatinya. Maka dari itu, pihak Observatorium memulai aksinya untuk mengurangi polusi cahaya agar Observatorium Bosscha tetap bisa dijadikan obyek pengamatan benda langit. Aksinya berupa pembagian tudung lampu kepada setiap rumah-rumah penduduk sekitar Observatorium Bosscha.

Saat membuat tudung lampu

Saat membuat tudung lampu

 Pihak Observatorium Bosscha telah membagikan 300 tudung lampu ke setiap rumah sekitar Observatorium Bosscha pada Februari lalu. Dalam pembuatan tudung lampu ini, dananya berasal dari pengunjung Observatorium Bosscha. Biaya pembuatan per tudung lampu terbilang murah, hanya dengan Rp. 10.000,00 saja. Pembuatan tudung lampu cukup sederhana dan mudah, tinggal mengetahui petunjuknya.

Baca lebih lanjut

Bosscha dan Social Entrepreneurship

Oleh: Arif Abdurahman (@yeaharip)

kar bosscha social entrepreneur

Foto asli: Koleksi Troppenmuseum

Jika tak ada kebijakan CSR, akankah sebuah perusahaan mendermakan sebagian pemasukannya? Secara prinsip ekonomi mustahil, ini disebut pemborosan, kecuali pendermaan tadi termasuk dalam bagian promosi.

Namun tentunya sebagai bagian dari masyarakat, mereka yang diberi kelebihan rezeki dibebankan sebuah tanggung jawab sosial untuk menyisihkan sebagian kekayaannya. Dan ya, pengusaha menjadi salah satu kekuatan dalam memajukan sekitar. Homo homini lupus, manusia memang menjadi serigala bagi sesamanya, namun jangan lupakan bahwa dasar kita adalah sebagai hewan yang bermasyarakat. Baca lebih lanjut

Treasure from the Past : Ngaleut Tahura – Bosscha

Oleh : Yanstri Meridianti

 

Minggu, 31 Januari 2010 Klab Aleut kembali melakukan penjelajahan. Pukul 8:15 kami memulai perjalanan dari depan Terminal Dago. 19 Aleutian berjejalan di dalam angkot yang akan membawa kami ke titik awal perjalanan. Ya, perjalanan kali ini dimulai dari Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda (THR Ir. H. Djuanda/Tahura) yang terletak di kawasan Dago Pakar. Setelah membayar retribusi sebesar Rp 5.000,- mulailah kami menyusuri jalan setapak yang rindang karena dikelilingi oleh pohon-pohon besar. Tahura berfungsi sebagai museum hidup (arboreteum) yang memiliki koleksi tanaman mencapai lebih dari 2.500 jenis sehingga sering menjadi objek studi bagi pelajar, mahasiswa dan para ahli dalam bidang pengenalan pohon.

 

Dalam sejarah geologi Dataran Tinggi Bandung, kawasan tersebut dipercaya sebagai salah satu tempat hunian dan pembuatan senjata manusia purba yang menempati daerah pinggiran Situ Hyang tatkala Bandung masih merupakan danau. Selain itu, pada zaman penjajahan Belanda dan Jepang kawasan ini pernah dijadikan benteng pertahanan. Sisa-sisa peninggalannya masih bisa dijumpai berupa goa, masing-masing disebut goa Belanda dan goa Jepang.

 

Goa Belanda yang dibangun pada tahun 1812 merupakan lorong menembus kaki bukit. Lorong tersebut awalnya disiapkan untuk mengalirkan air Cikapundung lalu ditampung di kolam pakar untuk pembangkit pusat tenaga air (PLTA) Bengkok. Namun setelah sudah tidak efektif lagi lorong berbentuk terowongan itu kemudian dijadikan pusat radio komunikasi Belanda. Kami sempat melewati goa yang memiliki 15 cabang lorong tersebut yang juga berfungsi sebagai jalan pintas menuju wanawisata Maribaya yang jaraknya sekitar lima kilometer. Bagi mereka yang ingin menyaksikan bagian dalam goa tersebut, tersedia penunjuk jalan (guide). Atau bisa saja dengan menyewa lampu baterai dari mereka. Tetapi, dalam perjalanan kali ini saya hanya “numpang” lewat, sehingga tidak sempat mencoba memasuki satu per satu lorong-lorong yang ada di dalam goa tersebut.

 

Pada zaman pendudukan Jepang, goa tersebut berfungsi sebagai gudang mesiu. Selain goa tersebut, pada tahun 1942 Jepang juga membangun goa lainnya yang letaknya sekitar 500 meter dari goa Belanda. Ada empat buah goa berukuran besar yang berjejer di sini, serta beberapa goa berukuran kecil. Sayangnya, karena keterbatasan waktu saya belum sempat melihat keadaan di dalam goa tersebut.

 

Perjalanan berlanjut melewati kolam penampungan air (DAM) yang sekaligus berfungsi sebagai kolam pengendapan lumpur dari air Sungai Cikapundung yang akan digunakan sebagai penggerak turbin di PLTA Bengkok yang terletak di daerah Dago Bengkok. Saat ini PLTA tersebut dikelola oleh PT. Indonesia Power UBP Saguling. Dari stiker yang tertempel di dekat pintu air saya mendapat informasi tambahan bahwa DAM yang saya lalui tersebut adalah DAM Bantarawi.

 

Bukan Aleut namanya kalau memilih berjalan melalui jalan yang biasa. Meskipun di atas DAM tersebut berdiri sebuah jembatan, kami memutuskan untuk menyeberang jalan melalui tengah-tengah DAM yang sedang kering. Untuk itu, kami harus turun melalui tangga besi yang menempel di pinggiran DAM. Cukup mendebarkan buat orang yang takut ketinggian seperti saya. Tetapi, ternyata setelah dilalui, rasanya biasa-biasa saja. Lebih mendebarkan naik Kora-Kora di Dufan. Untuk naik dari atas DAM kami harus sedikit berakobrat melompati tembok yang lumayan tinggi. Bahkan beberapa Aleutian harus ditarik karena cukup sulit melompati tembok tersebut.

 

Perjalanan dilanjutkan melalui semak-semak yang mengharuskan kami berpegangan ke batang-batang pohon untuk dapat melewati jalanan yang terus menanjak. Di beberapa tempat jalanan tertutup tanah basah yang cukup tebal. Belum lagi pohon tumbang yang beberapa kali menghadang langkah kami.Cukup ampuh untuk membakar kalori. Akhirnya tibalah kami di Desa Mekarwangi, Kampung Sukamulya dengan disambut hujan yang semakin lebat dan memaksa kami untuk sejenak menghentikan perjalanan. Sebuah warung dipilih sebagai tempat berteduh sekalian mengisi perut yang mulai keroncongan.

 

Hujan masih saja tidak tentu, terkadang berhenti, terkadang semakin deras. Tetapi hal tersebut tidak menyurutkan langkah kami untuk terus melangkah. Kami sempat melewati semacam tembok dengan goa kecil dibawahnya. Di tembok tersebut terdapat tulisan sekolah yang saya lupa nama persisnya, yang jelas semacam sekolah tentara. Tapi sayangnya saya tidak sempat memeriksa apa yang ada di balik tembok tersebut.

 

Lagi-lagi langkah kami harus terhenti akibat dihadang hujan lebat. Sambil berteduh saya sempat mengamati lingkungan sekitar. Rasa-rasanya saya familiar dengan jalan ini? Ternyata saya pernah berkunjung ke sini empat tahun yang lalu. Banyak yang sudah berubah di lingkungan tersebut. Daerah yang sekarang sedang diratakan untuk dijadikan jalan, dahulu merupakan kebun penduduk yang dikelilingi oleh semak-semak nan hijau. Selain itu, di persimpangan jalan menuju Maribaya dahulu merupakan kebun stroberi. Sekarang tempat tersebut menjadi kebun sawi dan sayur-mayur lainnya. Entah karena musim penghujan tidak baik untuk menanam stroberi atau karena tanaman stroberi sudah tidak terlalu menjual seperti dahulu sehingga diganti dengan komoditas lainnya.

 

Kami sempat mengalami kekecewaan karena tukang bakso yang kami tuju ternyata sedang tidak berjualan. Sehingga cacing-cacing kelaparan dalam perut kami harus puas dengan semangkuk indomie yang kami santap. Perjalanan diteruskan menuju Gn. Batu. Akhirnya saya bisa menyaksikan dengan mata kepala sendiri yang namanya Gn. Batu. Dahulu saya sempat mengira bahwa Gn. Batu terletak di daerah dekat pintu tol Pasteur. Ternyata itu hanya nama daerah saja.

 

Gn. Batu relatif mudah untuk didaki karena ketinggian gunung ini tidak seberapa dan di sana sudah tersedia jalur setapak pendakian dengan sebaran batu alam yang dapat dipakai sebagai pijakan atau pegangan saat mendaki. Di atas Gn. Batu terdapat dua buah makam. Salah satu makam tersebut sudah berlapis porselain berwarna biru dengan tulisan “Keramat Mbah Jambrong Gunung Batu”. Sedangkan makam satunya lagi tampak tidak terawat. Saya sempat bertanya-tanya siapakah Mbah Jambrong tersebut? Tetapi setelah saya bertanya sana-sini termasuk kepada mbah gugel hingga saat ini saya belum menemukan keterangan yang cukup jelas. Tidak jauh dari makam Mbah Jambrong terdapat stasiun pemantauan gempa bumi milik puslitbang geologi. Dari puncak Gn. Batu kita bisa melihat dengan jelas bentuk mangkuk raksasa (plateu) Bandung dan gunung-gunung besar yang mengelilinginya di antaranya Gn. Tangkubanparahu seperti dilukiskan lewat lagu “Bandung” ciptaan Bimbo yang liriknya sebagai berikut:

 

Bandung

Bandung dilingkung gunung

Tempatku berlindung

Terpaku di utara Bandung

Tangkubanparahu

 

Selain Gn. Tangkubanparahu, di sebelah utara kita dapat melihat Gn. Burangrang, Perbukitan Bukanegara, Gunung Bukit Tunggul, Gn. Palasari dan Gn. Manglayang. Di sebelah timur terdapat Gn. Bukit Jarian, Gn. Geulis, Gn. Dusung dan Gn. Kendan. Di Selatan terlihat Gn. Mandalawangi, Gn. Rakutak, Gn. Malabar, Gn. Patuha dan Gn. Kendeng. Sementara itu, di sebelah barat terhampar perbukitan sisa-sisa gunung api tua kala Pleosen, seperti Gn. Selacau (Soreang), Gn. Lagadar dan Gn. Bohong (Cimahi).

 

Puas menikmati keindahan alam kota Bandung dari ketinggian, kami melanjutkan perjalanan ke arah Observatorium Bosscha. Melewati tanah lapang di sebelah kantor desa  dengan beberapa menara yang kemungkinan adalah menara BTS berdiri di sana. Terlihat dua orang nekat memperbaiki menara tersebut dalam kondisi hujan. Dalam hati saya bertanya-tanya, “apa ga takut kesetrum ya?”. Dikejauhan saya melihat bangunan yang menyerupai kastil. Semula saya menyangka bangunan tersebut adalah mesjid, tetapi setelah saya amati dengan seksama sepertinya itu villa. Tetapi saya tidak sempat melihatnya dari jarak dekat sehingga belum bisa memastikan bangunan apakah itu sebenarnya.

 

Kami mulai bergerak memasuki Desa Pencut. Setelah melewati jalanan yang menurun dan menanjak dengan tajam serta melewati pinggiran sungai kami disambut dengan anak tangga yang berjumlah tak kurang dari 50 anak tangga. Akhirnya, kami tiba juga di Observatorium Bosscha dengan disambut oleh rumah teleskop Bamberg yang di depannya berdiri sebuah tugu bertuliskan K.A.R. Bosscha 1923. Kami sempat beristirahat sambil membuat foto keluarga di depan Kubah Teleskop refraktor Ganda Zeiss.

 

Observatorium Bosscha (dahulu dikenal sebagai Bosscha Sterrewacht) didirikan antara tahun 1923-1928. Terletak di Lembang, sekitar 15 km ke arah utara Bandung. Nama Observatorium Bosscha itu sendiri diambil dari nama sponsor utamanya, Karel Albert Rudolf Bosscha (1865-1928), seorang tuan tanah yang memiliki perkebunan teh di daerah Malabar.

 

Observatorium ini dilengkapi dengan teleskop berbagai ukuran dan jenis. Masing-masing teleskop memiliki sasaran objek pengamatan yang berbeda-beda. Ada 5 teleskop yang aktif untuk penelitian astronomi. Kelima teleskop tersebut adalah: teleskop refraktor Ganda Zeiss, teleskop Schmidt Bima Sakti, teleskop Refraktor Bamberg, teleskop Cassegrain GOTO, dan teleskop refraktor Unitron.

 

Perjalanan kali ini ditutup dengan segelas susu hangat dan segudang pengalaman yang tak terlupakan.

 

Suganda, Her. Jendela Bandung. Pengalaman Bersama KOMPAS. Penerbit Buku Kompas, 2008.

Surono, Yds. Agus, Tim Klab Aleut. Intisari: Where To Go (Guide Book) edisi Bandung. PT Intisari Mediatama, 2009.

Bandung Dalam Balutan Lirik Lagu Lawas, Djoko Subinarto

http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=87148

http://www.itb.ac.id/news/1184.xhtml