Beda Nasib Observatorium Mohr dan Observatorium Bosscha

Oleh: Kedai Preanger (@KedaiPreanger)

observatorium mohr 1

Gambar di atas merupakan observatorium abad ke-18 milik Tuan Mohr di Glodok yang berlokasi di dekat Klenteng Ji Den Yuen, Petak Sembilan, Batavia. Ketika Kapten Cook memperbaiki Kapalnya Endeavour di Pulau Onrust, Batavia, dia mencatat mengenai Observaturium Johan Mauritz Mohr ini. Lewat Observatorium miliknya, Pastor Mohr mengamati Transit Venus. Misi yg sama juga diemban oleh James Cook, di samping misi utamanya menemukan Benua di belahan Selatan. Nasib observatorium ini berakhir di tangan bencana alam.  Baca lebih lanjut

Iklan

Bosscha dan Social Entrepreneurship

Oleh: Arif Abdurahman (@yeaharip)

kar bosscha social entrepreneur

Foto asli: Koleksi Troppenmuseum

Jika tak ada kebijakan CSR, akankah sebuah perusahaan mendermakan sebagian pemasukannya? Secara prinsip ekonomi mustahil, ini disebut pemborosan, kecuali pendermaan tadi termasuk dalam bagian promosi.

Namun tentunya sebagai bagian dari masyarakat, mereka yang diberi kelebihan rezeki dibebankan sebuah tanggung jawab sosial untuk menyisihkan sebagian kekayaannya. Dan ya, pengusaha menjadi salah satu kekuatan dalam memajukan sekitar. Homo homini lupus, manusia memang menjadi serigala bagi sesamanya, namun jangan lupakan bahwa dasar kita adalah sebagai hewan yang bermasyarakat. Baca lebih lanjut

Rel Kereta Api memiliki Arti

Oleh: Alek alias @A13Xtriple

Semenjak suka ikut-ikutan jalan-jalan dengan @KomunitasAleut, saya jadi terpacu dan senang memperhatikan detail setiap benda, terutama benda-benda lama yang memiliki nilai sejarah. Benda-benda tersebut tak lagi hanya menjadi benda mati tanpa arti, namun memiliki cerita di dalamnya. Dalam beberapa minggu di akhir bulan September dan awal bulan Oktober 2013 @KomunitasAleut mengadakan rangkaian perjalanan yang juga berhubungan dengan sejarah perkembangan kereta api di Bandung dan wilayah sekitarnya.

Pada tanggal 21 September 2013 saya mengikuti survey untuk kegiatan reguler @KomunitasAleut, rutenya mulai dari Lapangan Sidolig (Stadion Persib), Kosambi, hingga Parapatan Lima, di rute ini kami melewati pintu perlintasan Kereta Api Kosambi. Pada pintu perlintasan tersebut ada sebuah pos penjaga yang halamannya dipagari menggunakan bilah rel kereta api bekas yang dicat dengan warna biru dan putih. Saya perhatikan pada bilah rel itu terukir tulisan nama dengan deretan angka. Pada pagar rel di pos perlintasan ini dapat kita temukan beberapa rel yang bertuliskan KRUPP 1883 dan KRUPP 1890. Tulisan yang serupa juga ditemukan pada potongan rel kereta yang digunakan sebagai tiang net lapangan volleyball di dekat bekas stasiun kereta api Soreang (KRUPP 1890). Yang terakhir ini adalah bagian dari kegiatan @KomunitasAleut menyusuri jalur rel kereta api Soreang-Banjaran pada tanggal 28 September 2013.

Dalam penyusuran itu, kami melewati daerah Citaliktik di sisi jalan raya Soreang-Banjaran. Di situ kami menemukan bekas rel kereta api yang menggantung di atas tanah. Saat saya perhatikan, terdapat tulisan CARNEGIE USA 1919 SS. Tulisan serupa juga ditemukan pada pagar pos perlintasan kereta api di Kosambi dalam kegiatan Jelajah Kawasan Kosambi pada tanggal 6 Oktober 2013, tulisannya CARNEGIE USA 1920 SS.

Saya juga menemukan tulisan CARNEGIE USA 1921 SS di sisa rel dekat bekas stasiun kereta api Cikajang (+1246m), Garut. Yang ini saya dapatkan saat mengikuti kegiatan Jelajah Kawasan Perkebunan di Priangan, tanggal 12-14 Oktober 2013. Pada sekitar daerah bekas stasiun kereta api Cikajang, Garut, ini juga ditemukan tiang dari bekas rel kereta api yang bertuliskan KRUPP 1890.

Perkembangan dan masuknya jalur-jalur kereta api khususnya di daerah Bandung dan Priangan lagi-lagi tidak bisa dilepaskan dari sumbangsih perkebunan-perkebunan di tanah Priangan. Beberapa tahun setelah keluarnya Undang-Undang Agraria (1870), daerah Priangan menjadi terbuka bagi para pemilik modal yang ingin membuka dan menanamkan modal mereka di sektor perkebunan swasta di Hindia. Hal ini tentu saja memacu laju pertumbuhan jumlah perkebunan. Priangan di masa itu memiliki sebanyak 150 perkebunan atau 80% dari jumlah total perkebunan di seluruh Hindia Belanda. Pada tahun 1902, di Hindia Belanda terdapat 100 pekebunan teh, 81 perkebunan terletak di Priangan. Sedangkan perkebunan kina ketika itu berjumlah 80 perkebunan, dan 60 di antaranya terletak di Priangan. Kebanyakan perkebunan-perkebunan tersebut berada di kawasan pergunungan Priangan.

Tentu bisa dibayangkan sumbangsih sektor perkebunan Priangan bagi pemasukkan pemerintah Belanda. Sebagai gambaran besarnya sumbangan sektor perkebunan Priangan, hasil ekspor produk perkebunan kina Priangan pada tahun 1939 sebanyak 12.391 ton atau 90% dari seluruh produksi kina dunia. Karena besarnya sumbangan sektor perkebunan daerah Priangan dengan produk-produk ekspor unggulan di pasar dunia seperti teh, kopi, kina, dan karet, tak heran bila daerah ini mendapatkan prioritas untuk pembukaan jalur kereta api. Jalur kereta api ini tentu saja untuk mempermudah, memperlancar dan mempercepat pergerakan barang dan modal di daerah ini.

Memang sebelumnya sudah ada jalur jalan Onderneming yang dibangun pemerintah Hindia sebagai sarana transportasi hasil-hasil bumi dari program Tanam Paksa atau Cultuurstelsel. Salah satu hasil Revolusi Industri adalah penemuan kereta api uap yang membuat sistem transportasi menjadi lebih cepat dan efisien. Akhirnya Bandung mendapatkan akses jalur kereta api pada tahun 1884, lalu Bandung-Ciwidey, dan jalur kereta api ke Cikajang pada tahun 1890. Jalur ke daerah Bandung selain memudahkan pengangkutan hasil-hasil perkebunan, juga dalam rencana jangka panjang adalah sebagai sarana pendukung pemekaran Gemeente Bandoeng pada tahun 1919.

Jalur kereta api ke Ciwidey dibangun juga untuk memfasilitasi transportasi hasil perkebunan di daerah pedalaman (hinterland), tempat perkebunan-perkebunan besar seperti N.V. Assam Thee Onderneming Malabar (milik Preangerplanter K.A.R. Bosscha), atau perkebunan teh “Gamboeng” dan “Ardjasari” milik sepupu K.A.R Bosscha, Ir. Rudolf Eduard Kerkhoven. Di Cikajang, Garut, ada perkebunan teh Waspada (Bellevue) milik K.F. Holle atau perkebunan karet Boenisari Lendra, dll.

Masa jaya perkebunan kolonial sudah berlalu, banyak lintasan kereta api saat ini sudah tidak lagi beroperasi. Banyak juga artefak sejarah kereta api yang tertinggal dan masih dapat ditemukan, misalnya bilah-bilah rel seperti yang sudah diceritakan di atas. Bilah-bilah rel termasuk yang masih mudah dan banyak ditemukan di sekitar jalur mati atau di pos-pos perlintasan seperti di Kosambi itu.

Lalu apa makna nama Krupp atau Carnegie yang tercetak pada bilah-bilah rel itu?

Krupp adalah nama pabrik pembuat rel tersebut, sedangkan 1883 adalah angka tahun pembuatan rel tersebut. Tahun yang sangat menarik karena bertepatan dengan meletusnya Gunung Krakatau. Krupp adalah perusahaan baja Jerman yang terkenal memproduksi seamless railway tires atau roda (rel) kereta api tanpa sambungan yang terkenal anti retak. Rel buatan Krupp sangat terkenal walaupun harganya tinggi. Kualitasnya sangat baik. Rel Krupp juga digunakan pada jaringan rel kereta api di Amerika Serikat sejak sebelum Perang Sipil, karena pada saat itu pabrik-pabrik di Amerika Serikat belum mampu memproduksi baja dalam kapasitas besar dan dengan kualitas yang sebaik itu.

Dari 100.000 ton jalur kereta yang digunakan di Amerka Serikat pada tahun 1869, hanya 5000 ton berasal dari pabrik-pabrik baja di Amerika, sisanya diproduksi oleh parik baja di Sheffield, Inggris, dan oleh pabrik Krupp, Jerman. Pemasukan pabrik baja Krupp pada tahun 1860-an, 92% diperoleh dari penjualan di luar negeri/ekspor. Tak heran jika jalur rel kereta api di Hindia Belanda, khususnya di Priangan, juga menggunakan rel dari Krupp.

Produk rel ini dikembangkan oleh Alfred Krupp (1812-1887), anak pendiri pabrik baja Krupp, Friedrich Krupp. Alfred harus berhenti sekolah pada usia 14 tahun untuk melanjutkan operasi pabrik baja Krupp setelah Friedrich meninggal pada tahun 1824. Alfred mengembangkan teknik cast steel pada tahun 1841 yang kemudian dia patenkan. Teknik ini sebelumnya dikenal hanya dikuasai oleh perusahaan-perusahaan baja di Inggiris, khususnya di perusahaan–perusahaan baja di daerah Sheffield.

Kemajuan produksi pabrik baja Krupp juga diuntungkan ketika Napoleon melakukan blokade laut terhadap Inggris. Sehingga Krupp menjadi pemasok baja utama di Eropa. Alfred mengembangkan perusahaannya dengan membeli peleburan-peleburan baja, tambang-tambang besi, dan membeli cadangan biji besi. Pada tahun 1858, Krupp membuat senjata ketika memperoleh kontrak dari Kerajaan Prusia.

Seperti sebagian Preangerplanters, Krupp juga sangat peduli pada kesejahteraan karyawannya. Krupp menyediakan perumahan bagi para pekerjanya atau bagi para pensiunan dari pabriknya. Krupp menyediakan asrama bagi pegawainya yang masih lajang, asuransi kesehatan, program tunjangan pensiun, koperasi, dan sekolah teknik untuk memperoleh tenaga kerja yang terampil.

Lalu ada CARNEGIE. Carnegie adalah nama perusahaan pembuat rel tersebut, USA adalah negara asal perusahaan, 1920 angka tahun pembuatan, sedangkan SS adalah singkatan dari Statspoorwagen/Perusahaan Kereta Api Negara. Statspoorwegen adalah perusahaan yang menjadi operator untuk transportasi kereta api di wilayah Priangan. Kantor pusat SS berada di Bandung pada tempat yang dulunya merupakan Grand National Hotel. Yang menarik adalah membahas perusahaan pembuat rel kereta api tersebut, Carnegie Steel Company.

Perusahaan ini didirikan tahun 1892 oleh Andrew Carnegie. Ia meraih sukses dengan menciptakan metode peleburan baja yang efisien dan menghasilkan baja dengan kualitas yang baik. Pada tahun 1900-an, produksi baja Amerika Serikat melampaui produksi baja Inggris, dan sebagian besar produksi tersebut berasal dari pabrik yang dimiliki oleh Andrew Carnegie. Pada tahun tahun 1901 Andrew Carnegie menjual perusahaannya senilai $480 juta, untuk kemudian menjadi perusahaan baja “US Steel”. Dari uang tersebut, Carnegie membuat donasi untuk berbagai kegiatan amal, perpustakaan, lembaga-lembaga ilmu pengetahuan, sekolah, universitas, hingga menyumbang bagi pembangunan Hooker Telescope di Observatorium Mount Wilson. Mirip dengan sifat dermawan K.A.R. Bosscha, pemilik perkebunan Malabar di Pangalengan, Bandung.

Dari kedua potongan rel kereta api tadi, dapat pula kita menyimpulkan perkembangan perusahan baja dunia. Bahwa sebelum tahun 1900, produksi baja dunia dikuasai oleh produk-produk baja dari Inggris (Sheffield) dan Eropa (Krupp). Baru setelah Perang Sipil Amerika, produksi baja negara tersebut mengalami kemajuan yang memuncak pada awal tahun 1900. Saat itu produksi baja Amerika Serikat dapat melampaui produksi baja Inggris.

Copy of SAM_1313

Copy of SAM_1309

Copy of SAM_1921

Copy of SAM_1919

Copy of SAM_1830

SAM_1815

de Koning der Thee (Sang Raja Teh)

Oleh: Alek alias @A13Xtriple

Tanah Priangan yang subur melahirkan banyak Preangerplanters yang kaya raya: Suiker Lords, Thee Jonkers, Koffie Baronnen, Kina Boeren, dan Tabaks Boeren. Boeren dalam bahasa Belanda berarti petani, namun boeren di sini tentunya bukan petani biasa melainkan petani kaya raya. Begitu pun dengan planters yang berarti pemilik perkebunan, mereka bergelimang harta.

Ada 8 keluarga planters yang termashur di Priangan: Van Der Hucht, De Kerkhovens, De Holles, Van Motmans, De Bosscha’s, Families Mundt, Denninghofs Stelling, Van Heeckeren van Walien. Dari 8 keluarga tadi, tiga diantaranya tercatat sebagai yang pertama mendirikan sekolah bagi anak-anak keluarga pekerja dan masyarakat di sekitar perkebunanya. Mereka adalah Keluarga Holle, Kerkhoven, dan Bosscha. Bosscha menguasai perkebunan teh “Malabar” di Pangalengan, Holle dan Kerkhoven memiliki beberapa perkebunan, di antaranya di Garut dan Sukabumi.

Upaya budidaya teh di Priangan mengalami kemajuan setelah didatangkan bibit teh unggulan dari  daerah Assam di India pada tahun 1878. Bibit-bibit teh tersebut tumbuh dan dikembangkan di perkebunan Parakan Salak dan Sinagar di daerah Sukabumi oleh Adriaan Walraven Holle, Albert Holle, dan Eduard Julius Kerkhoven. Lalu di perkebunan Gambung dan Arjasari oleh Ir. Rudolf Eduard Kerkhoven.

Di awal abad XX kualitas teh dari P. Jawa adalah yang terbaik mutunya di seluruh dunia, ini berkat jasa para Preangerplanters yang mengembangkannya. Teh menjadi komoditas eksport unggulan yang mendatangkan banyak keutungan besar dan tentu saja uang. Dengan uang, para pemilik perkebunan mampu melakukan apa saja, di antaranya ada yang lebih memilih untuk mendermakan sebagian hartanya bagi kemakmuran rakyat banyak. Seperti K.F. Holle pemilik perkebunan teh Waspada di Garut, yang mendirikan Kweekschool (Sakola Radja), yang bangunannya sekarang digunakan sebagai Mapolwiltabes Bandung. Holle juga menerbitkan buku-buku pelajaran berbahasa Sunda. Tak heran karena aktivitasnya tersebut K.F. Holle diangkat sebagai Penasihat Urusan Dalam Negeri Hindia Belanda. Bila di daerah sekitar Garut kita mengenal K.F. Holle, untuk daerah di sekitaran Bandung, tentu kita sudah tidak asing dengan nama Bosscha.

Image

Karel Albert Rudolf Bosscha (Gravenhage, 15-5-1865 – Pangalengan, 26-11-1928) adalah putra dari  pasangan Johannes Bosscha Jr., seorang ahli fisika, dengan Paulina Emilia Kerkhoven (anak dari Anna Jacob Kerkhoven terlahir dari keluarga Van der Hucht). Dari garis ibu, Ru Bosscha, demikian ia biasa dipanggil, adalah saudara sepupu dari Ir. Rudolf Eduard Kerkhoven (Ru Kerkhoven) pemilik perkebunan teh Assam Gambung dan Arjasari. Paman Ru Bosscha adalah Eduard Kerkhoven pemilik perkebunan teh Sinagar, selama 6 bulan setelah tiba di Hinda 1887, Ru Bosscha bekerja di perkebunan tersebut. Karena kurang menyenangi pekerjaan tersebut, Ru Bosscha bergabung degan kakaknya yang geolog, Jan Bosscha, di Borneo dalam kegiatan eksplorasi emas di daerah Sambas hingga tahun 1892. Pada tahun 1892, Ru Bosscha kembali ke perkebunan Sinagar dan bekerja hingga tahun 1895 sebagai Administrator.

Tahun 1895, Ru Bosscha merintis berdirinya Preanger Telefoon Maatschappij, yang diambil alih pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1908. Kesuksesan Ru Bosscha datang ketika dia memiliki Perkebunan Teh Malabar sejak tahun 1896, atas dukungan keuangan dari R.E. Kerkhoven dan S.J.W. van Buuren. Berdasarkan pengamatannya, iklim daerah Pangalengan tempat perkebunan tehnya berada sangat mirip dengan daerah kaki pegunungan Himalaya di India. Ru Bosscha berkeyakinan bahwa daerah tersebut sangat cocok ditanami teh. Keyakinannya tersebut terbayar setelah dalam 10 tahun dari awal masa reklamasi, perkebunan N.V. Assam Tea Company ‘Malabar’ berhasil membayar deviden 80%. Perkebunan tersebut terus berkembang hingga luasnya lebih dari 1000Ha. Perkebunan Teh Malabar menjadi contoh bagi seluruh perkebunan teh di Hindia Belanda, karena tak pernah gagal dalam penerapan teknologi dalam bidang eksplorasi, eksploitasi, dan penanaman. Degan penggunaan teknologi tepat guna, Thee Onderneming “Malabar” menghasilkan laba terbesar di seluruh Hindia Belanda saat itu. Tak heran Ru Bosscha di juluki “de Koning der Thee atau Sang Raja Teh.

Dari kesuksesan finansialnya itu, Ru Bosscha, memberikan banyak sumbangsih bagi perkembangan masyarkat Bandung. Ru Bosscha adalah salah satu Preangerplanter yang pertama mendirikan sekolah untuk anak-anak keluarga pekerja perkebunan dan masyarakat sekitarnya. Ru Bosscha, mendirikan dan mendesain sendiri dam dan pembangkit listrik tenaga air dari sungai Tjilaki untuk tenaga listrik bagi perkebunannya sekaligus juga supply bagi listrik kota Bandung.

Keberhasilan Ru Bosscha dalam mengembangkan teh di perkebunannya mengantarkan dirinya terpilih menjadi Ketua “Perhimpunan Pengusah Perkebunan Teh” dari tahun 1910-1923. Dia juga mendirikan dan memimpin “Balai Penyelidikan Tanaman Teh” di Pangalengan dari  tahun 1917-1920 kemudian dari tahun 1922-1923. Keberhasilannya sebagai pengusaha perkebunan teh mengantarkan dirinya ikut mendirikan dan juga duduk sebagai komisaris di banyak perkebunan teh di Priangan diantaranya: Wanasoeka, Taloen, Sitiardja, Raja Mandala, Arjuna, Papandajan, Sindangwangi, dan Bukit Lawang.

Image

Sebagi pengusaha yang sukses, dia juga ikut mempromosikan dan mendirikan banyak perusahaan seperti : de Nederlandsch-Indische Escompto Mij., de Bandoengse Electriciteits Mij (Perusahaan Listrik Bandung), Technisch Bureau Soenda (Biro Teknik Sunda), de D.E.N.I.S.-hypotheekbank, de N.V. Eerste Ned.-Ind. Ziekten en Ongevallen Verzekering Mij., E.NI.ZOM (perusahaan asuransi jiwa dan kesehatan) di Batavia, de theezaadtuin ‘Selecta’ (kebun bibit teh), het Houtindustrie-Syndicaat (Sindikasi Industri Perkayuan), de Automobiel Import Mij. (perusahaan importir mobil), de Kistenfabriek, dan banyak perusahan lainnya.

Keberhasilan Ru Bosscha dalam mengembangkan perkebunanya tak lepas dari penerapaan ilmu pengetahuan dalam usahanya, seperti penggunaan tenaga air untuk pembangkit listrik bagi perkebunannya. Ru Bosscha juga merintis penggunaan ukuran/skala metrik (Metrisch Stelsel) di perkebunannya. Dia mengganti ukuran luas seperti “Bahu” (7096m2) menjadi Hektar. Jarak yang semula diukur menggunakan “Pal” (1 pal kurang lebih sama dengan 1.5 km) diganti menggunakan patokan Kilometer.

Dari keuntungan perkebunanya tersebut Ru Bosscha ikut menyumbang bagi pendirian lembaga-lembaga seperti mendirikan dan mensponsori bursa tahunan Jaarbeurs, menjadi donatur tetap untuk lembaga Bala Keselamatan (Leger de Heils), Lembaga Tuli Bisu (Doofstommen Instituut), mendirikan Lembaga Kanker(Kanker Instituut) dengan menyumbangkan 250gr Radium bromide. Dia juga membiayai perawatan pasien di panti perawatan lepra di Plantungan, Jawa Tengah. Bosscha menyumbang pula bagi pendirian komplek permukiman pensiunan KNIL di Bandung yang dikenal sebagai komplek Bronbeek. Dia ikut mendirikan dan duduk sebagai President Curator (Dewan Penyantun) Technische Hogeschool Bandung (sekarang ITB) hingga wafatnya di tahun 1928. Di perguraan tinggi teknik pertama di Hindia Belanda ini Ru Bosscha menyumbang Laboratorium Fisika. Plakat sumbangan tersebut masih terdapat di dinding gedung Laboratorium Fisika.

Image

Ketertarikan Ru Bosscha terhadap ilmu pengetahuan mungkin karena dalam darahnya mengalir darah ilmuwan dari garis keturunan ayah. Ayahnya, Johaness Bosscha Jr adalah seorang ahli fisika, sedang kakeknya Prof. Dr. J. Bosscha adalah yang merancang dan mengusulkan pendirian peneropongan bintang di Universitas Leidse di Belanda. Mengikuti jejak kakeknya Ru Bosscha dan sepupunya Ru Kerkhoven berinisiatif mendirikan peneropongan bintang (Sterrenwacht) modern pertama di Hindia Belanda. Pada Oktober 1922 pembangunan dimulai di atas tanah sumbangan dari keluarga peternak sapi di Lembang, Ursone Familie, dan diresmikan pada tanggal 1 Januari 1923. Pada tahun 1928 peneropongan ini resmi dinamakan Bosscha-Sterrenwacht sebagai penghargaan atas sumbangsihnya selama ini.

Atas perhatiannya yang besar bagi kemajuan masyarakat Bandung, Ru Bosscha mendapat beberapa penghargaan, di antaranya diangkat sebagai anggota Volksraad di Batavia, menjadi Ketua kehormataan seumur hidup lembaga Bandoeng Vooruit, dan penghargaan sebagai “Warga Utama Kota Bandung” (1921). Upacara penganugerahan gelar tersebut disertai upacara besar-besaran di Balai Kota oleh Gemeente Bandoeng. Ru Bosscha bahkan mungkin satu-satunya orang di Hindia Belanda yang pada masa hidupnya didirikan 6 buah monumen peringatan bagi jasa-jasanya. Sebuah jalan di bagian utara Bandung juga mengabadikan namanya, Jalan Bosscha.

Mungkin tanpa sifat kedermawanan Bosscha kita tidak akan memiliki peneropongan bintang, sekolah tinggi teknik terbaik, hingga ke perusahaan teh terbaik di Indonesia saat ini.

 Image

*disarikan dari: “Semerbak Bunga di Bandung Raya” (Haryoto Kunto)

Biografi singkat pada penjelasan koleksi Foto Tropen Museum

Ngaleut! Puntang-Malabar with GEOTREK II

Ditulis Oleh : M. Ryzki W.

Again,,, Perjalanan dengan Pak Bachtiar / Pak Budi selalu memberi wawasan dan pengalaman baru bagi saya, kali ini temanya adalah Geotrek II “Menguak Kabut Gunung Malabar dan Gunung Wayang, Kab. Bandung” Punten kalo judulnya salah, maklum saya masih terpesona dengan pengalaman kemarin,, hahaha

Seperti biasa di pagi2 buta, peserta sudah dikumpulkan di Itzerman Park – Taman Ganesha, di lokasi ini, apabila kita mau ngamprak sedikit, ada sebuah plakat buatan jaman Belanda yang menunjukan lokasi Pegunungan Malabar, yang dahulu konon masih terlihat dari taman ini, sekarang mah tertutup kabut polusi made by human,,,

Sejak pertama datang, saya disajikan dengan wajah2 asing yang tampak ramah, beberapa orang telah saya kenal seperti Pak Bachtiar, Ulu, Bang Ridwan, dan Yanstri, yang lainnya sepertinya perlu Taaruf dulu,,, Dalam perjalanan nanti, wajah2 ini akan selalu terkenang, walau nama2nya tidak bisa semuanya saya ingat karena keterbatasan memori otak saya.

Nah, dalam perjalanan kali ini kami menggunakan Bus ITB, yang sangat nyaman dibandingkan dengan Truk TNI yang pernah kami gunakan menuju lokasi tambang emas di Pangalengan dahulu kala,,, Insting saya membimbing saya kepada Bus 1, dan benar saja, kebetulan Pak Bachtiar juga menaiki Bus yang sama, jadi dalam beberapa kesempatan di perjalanan saya beruntung bisa mendapatkan joke2 segar dari beliau, selain materi2 tentunya,,,

Alhasil, tibalah kita di lokasi pertama, yaitu Gunung Puntang yang merupakan bagian dari pegunungan Malabar,,, Sesampainya di gerbang gunung ini, kami sudah disambut oleh segerombolan anak SMP yang sebenarnya memang tidak berniat menyambut rombongan kami. Setelah menghabiskan beberapa bala-bala tiis kami pun meneruskan perjalanan ke lokasi pemancar komunikasi Hindia Belanda yang terkenal itu.

Setelah tiba di gunung puntang, Pak Bachtiar menjelaskan mengenai asal muasal nama “Malabar” yang menurutnya berasal dari bahasa sunda yang artinya air yang membludak (tolong revisi kalau salah, pak,,) atau bisa juga mengacu pada kawasan di India, yang merupakan salah satu kawasan penghasil budak bagi VOC… Penggunaan nama malabar ini juga mungkin berhubungan dengan Edward Kerkhoven pengusaha perkebunan teh yang pernah mengepalai perkebunan teh di daerah Assam India. Selain itu kawasan ini mungkin pernah dijadikan perkebunan kopi asal Malabar India, yang diimpor ke Jawa tahun 1699 oleh VOC. Kata “Malabar” ini juga bisa jadi berasal dari bahasa Arab “Mal” artinya Uang dan “Abar” yang artinya Sumber, dan memang Malabar ini merupakan daerah yang sangat menghasilkan uang,,,,

Peta Malabar, India

Lalu, konon dulunya di situs gunung Puntang ini berdiri kerajaan Nagara Puntang, beberapa peninggalannya pernah ditemukan. Tapi yang paling terkenal dari sini adalah pemancar radio kolonial , yang berdasarkan informasi dari situs PR, dibangun di masa pemerintahan hindia Belanda mulai tahun 1917-1929 oleh Dr. Ir. C.J. de Groot (de Groot artinya “Yang Besar/Agung”, suatu julukan baginya), beliau adalah seorang sarjana teknik lulusan Universitas Delft, Belanda.

Pemancar ini ditujukan sebagai sarana komunikasi utama dengan pemerintah pusat di Belanda, daripada sebelumnya yang menggunakan saluran kabel Laut milik Inggris di laut Aden yang rawan karena sedang terlibat perang dunia II.

Nah, Pemilihan gunung puntang dengan ketinggian 1300 mdpl sebagai lokasi pemancat ini, pertama dengan pertimbangan keamanan tempat ini cukup tersembunyi, selain itu struktur kawasan ini mendukung penguatan sinyal ke negara Belanda.

Ahh,, Mengunjungi lokasi ini seakan2 mengingatkan saya akan kakek saya yang dahulu pernah juga mengunjungi tempat ini.

Poto si Kakek dan kawan2 di depan kantor Stasiun radio malabar

Radio Malabar berdiri tanggal 5 Mei 1923 merupakan pemancar menggunakan teknologi arc transmitter yang terbesar di dunia. Stasiun pemancar Malabar ini memiliki antena pemancar sinyal sepanjang 2 Km, membentang hingga gunung halimun. Kebayang? Nah saya juga gak kebayang sebelum liat gambar berikut

Sketsa bentuk antena

Berikut adalah kutipan informasi dari situs Pikiran Rakyat :
…Sementara untuk perangkat pemancar, Dr. Ir. C.J. de Groot menggunakan teknologi yang cukup kuno yaitu berupa poulsen (busur listrik) untuk membangkitkan ribuan kilowatt gelombang radio dengan panjang gelombang 20 km hingga 75 km.

Mereka yang bertugas menjalankan pemancar tersebut di antaranya Mr. Han Moo Key, Mr. Nelan, Mr. Vallaken, Mr. Bickman, Mr. Hodskey, Ir. Ong Keh Kong, serta masyarakat setempat, di antaranya Djukanda, Sudjono, dan Sopandi. Hal ini tertulis dari nama-nama yang tertera di dinding rumah yang kini hanya berupa puing-puing dinding batu….

Melalui pemancar ini jualah, terkenal frase “Halo Bandung” sebagai sign call dan pernah pula dipopulerkan lewt lagu oleh Willy Derby dan konon Ismail Marzuki. Dahulu, untuk bisa sekadar berkomunikasi lewat pemancar ini, biayanya sangat mahal, pokoknya untuk orang pribumi mah gak akan mampu dah, orang Belanda juga kudu nabung berbulan2 supaya bisa nelpon kerabatnya di negara asalnya. Makanya dalam lagu Halo Bandung yang versi asli, terlihat gambaran perasaan sang penelpon yang sangat terharu ketika bisa mendengar suara ibunya. Mantap dah,,,

The Famous Halo Bandung

BTW, Puing2 bangunan yang sempat dijadikan lokasi pemotretan peserta tour dulunya adalah Kampung Radio (Radio Dorf), yang rumah2nya bergaya kolonial. Di lokasi ini juga terdapat fasilitas penunjang seperti kolam renang, lapangan olah raga (tenis), bahkan gedung bioskop. Kolam renangnya adalah yang dikenal sebagai kolam cinta, yang konon apabila kita pacaran disana, hubungan pacarannya akan langgeng, tapi tetep aja nikahnya mah sama orang lain,, hahaha

Nah, siapa pula yang menghancurkan bangunan2 disini, yang pasti adalah pihak yang anti Belanda, bisa jadi jepang atau pribumi,,, Tapi jangan lupa, lewat pemancar inilah teks proklamasi bisa menyebar ke seluruh dunia,,,

Nah sebagai bahan perenungan, bayangkanlah bahwa dahulu untuk sekadar menelpun orang di luar negeri, memerlukan sebuah kompleks bangunan dengan antena 2 kilometer yang ditenagai oleh 4 pembangkit listrik, sekarang cuma butuh sebuah handphone dan charger, dan pulsa tentunya,,, mari kita bersama2 mengucapkan Syukur Alhamdulillah,,,

Kemudian, sesuai tradisi, perjalanan dengan Pak Bachtiar atau Pak Budi seakan-akan belum lengkap apabila belum basah-basahan. Walaupun ada jalan tanah yang lumayan bagus, tetap saja peserta dibimbing menyusuri sungai Cigereuh (Tolong revisi kalo salah), yang meripuhkan banyak peserta kecuali saya, untung saja tidak ada peserta yang mengalami kesulitan berarti, semuanya berhasil melalui rintangan dengan selamat sentausa, semuanya bahagia kecuali pak Moro yang harus mengikhlaskan kamera digitalnya yang tercelup air,,, Pengen diganti tuh Pak,,

Setelah sampai di sisi sungai ini, Pak Budi langsung menjelaskan mengenai jenis batu-batuan serta penyebab parahnya efek gempa di tasikmalaya (2/09/09) di daerah Pangalengan, yang ternyata berada dalam satu sesar/jalur patahan, ditambah dengan konstuksi bangunan yang rapuh. Sumpah saya baru tahu, Pak,,,

Selanjutnya peserta digiring kembali ke tempat parkir Bus, tapi tetep aja banyak yang penasaran dengan kolam cinta, padahal pada gak bawa pacar, tapi saya pun tergoda dan mengikuti mereka juga,,, Peserta memanfaatkan keindahan suasana kolam ini dengan saling mengambil dokumentasi.

Tepat di belakang kolam ini, ialah stasiun pemancar radio tersebut, kini hanya tersisa puingnya yang terongok dengan kondisi yang menyedihkan, untuk mencapainya, saya dan Yanstri harus melewati ranting2 dan semak2 lebat terlebih dahulu,,, Tapi lumayanlah bisa popotoan di sini.

Sekembalinya ke Bus, ternyata sudah dipenuhi oleh para peserta yang kelaparan dan tampaknya sudah lumayan lama menunggu, untung saja ada peserta yang lebih telat datang, jadi saya dan Yanstri nggak terlalu malu,, haha

Kita melanjutkan perjalanan ke situs Boscha,,,

Mulai terasa hawa yang membuai dan pemandangan yang menyilaukan seperti kesan Penulis Louis Couperus saat mengunjungi kawasan pangalengan ini :

“Ya di alam yang indah dan lingkungan yang bersinar cerah, pria itu sekan-akan berada dalam rumahnya sendiri. Dia besar dan kuat seperti gunung berapi, dia pekat dan halus seperti kehijauan daun teh, sama sperti langit biru yang membentang”.

Kedatangan kami di tempat ini disambut oleh jamuan makan siang yang luar biasa, betapa tidak, Soto Bandung yang hangat di tengah hawa dingin pangalengan. Yummm,,, Tidak sempurna hidup seseorang sebelum merasakan moment tersebut… Sebelumnya pak Budi bercerita mengenai gempa bumi, mengingat kediaman boscha tempat kami bersantap ini juga merupakan salah satu korban gempa bumi yang tidak bertanggung jawab tersebut,,,

Kemudian pak Bachtiar menceritakan legenda Danau Cisanti (Hulu sungai citarum) yang membuai angan,,, Konon di masa lalu ada seorang pemuda gagah nan tampan yang memakai kemeja biru dan bertopi Kompas (hehe), yang ingin menikahi seorang wanita cantik di daerah lain. Nah, ketika pemuda ini asyik bertapa di Cisanti, ia melihat seorang wanita cantik jelita, lebih cantik dari Luna Maya,,, dan hatinya langsung terpikat,”Keleplek-klepek” kalau istilah Pak Bachtiar.

Sesuai dengan istilah “wajahnya mengalihkan duniaku”, pemuda ini sangat terobsesi dengan wanita cantik tersebut, bahkan usaha agrobisnisnyapun hingga terbengkalai. Alhasil, ketika sang pemuda ini hendak meminang wanita calon istrinya, dalam perjalanan menuju lokasi resepsi, ia berkata pada pengawalnya kalau ia pengen mampir dulu ke cisanti untuk bertapa,,, Benar saja sang wanita gaib pun muncul, kali ini sang pemuda pun penasaran mendekatinya dan berakhir mati tenggelam….

Ternyata sang wanita gaib adalah arwah seorang wanita yang mati penasaran karena dikecewakan seorang pria tak bertanggung jawab, ia ingin memepringatkan pria lain agar tidak lengah,,, Dan ternyata terbukti kalau sejak dahulu pria itu tidak bisa dipercaya,,,

Nah, orang tua mempelai wanita yang menunggu kedatangan sang Pemuda sangat kecewa atas kematian calon menantunya, ia pun mengobrak-abrik gedung perkawinan dan melempar apapun yang ada di sana, seperangkat wayang yang ia tendang berubah menjadi gunung wayang, lainnya ada yang berubah menjadi gunung kendang, dan lain-lain…

Sungguh cerita yang menarik dan sangat bermuatan moral, intinya jadi cowok jangan jelalatan !

Setelah santap siang yang tidak terlupakan, saya menyempatkan diri untuk sekadar mendokumentasikan rumah sang Hoofdadministrateur Bosscha yang kemarin sempat terkena efek gempa. Nah, mumpung masih di rumah Bosscha, mari kita sekalian ngomongin beliau…

Interior Rumah bosscha

Ngutip Wikipedia sedikit, Bosscha lahir di Den Haag tanggal 15 Mei 1865. Ia adalah anak dari Johannes Bosscha, seorang profesor sekolah akademi militer di Breda sekaligus direktur Politeknik Delft. Nah, si Bosscha ini ternyata dari kecil memang sudah punya cacat di kaki, jadi harus selalu ditemani tongkat di usia lanjutnya.

Setelah menamatkan sekolah tinggi di Delft, ia berangkat ke Bandung untuk mengurus proyek pertamanya, yaitu pemrosesan teh dengan “ban berjalan” di pabrik teh di perkebunan Sinagar Cibadak yang dikelola oleh pamannya E.J. Kerkhoven. Beberapa tahun kemudian ia mendapat panggilan dari pamannya, R.E. Kerkhoven, seorang pengusaha teh yang pernah dimuat dalam novel Hella S. Haasse, Berjudul Heren van de Thee (1992). Bosscha ditugasi untuk mengelola lahan perkebunan teh baru di pangalengan yang memiliki ketinggian 1400-1700 mdpl. Mulai tahun 1986, perkebunan ini mulai digarap, dan menghasilkan perusahaan NV Assam Thee Onderneming yang sangat menguntungkan.

Tahun 1910 Ru Bosscha menjadi anggota pengurus harian Het Thee Expert Bureu. Tahun 1911 ia mendirikan Kebun Pembibitan Selecta di Garut. Sejak tahun 1917 Ru menjadi Kepala Persatuan Kebun Percobaan Teh. Tahun 1917-1920 an 1922-2923 menjadi pimpinan Persatuan Perkebunan Sukabumi (Soekaboemische Landbouw Vereneging). Ayahnya pada waktu di Eropa terkait denagn peraturan skala metrik (het metricsh stelsel), karena itu Ru Bosscha menerapkannya di Indonesia. Satuan ukuran tanah yang dahulunya adalah bahoe ( 1 bahu bangunan=500×500 Rijnlandse roeden=7096 m2) diganti dengan hektar. Sepanjang jalan dari Pengalengan ke Bandung dipancangi tonggak dalam jarak ukuran kilometer yang sebelumnya mepergunakan pal (1 pal = 1.5 kilometer). (Dikutip dari maulanusantara.wordpress.com)

Tidak seperti tokoh kolonial lainnya, Bosscha termasuk dalam kalangan Filantropis atau sahabat kemanusiaan, bahkan sejak dulu ia telah mengembangkan konsep Corporate Social Responsibity (CSR). Di perkebunannya ia turut mendirikan pusat kesehatan dan sekolah rakyat untuk para buruh dan keluarganya (sekarang bangunannya masih ada lho).

Para petani teh mengantar hasil panen ke Pabrik,,,

Selain sebagai preanger planter, Bosscha juga merambah ke bidang-bidang lain, dan kalau membahas semuanya mungkin perlu sebuah buku tersendiri, silakan saja browsing di internet kalau mau tahu lebih banyak,,,

Nah tanggal 28 November kemarin saat kita mengunjungi makan Boscha sebenarnya mendekati masa 81 tahun sejak Bosscha meninggal tanggal 26 Nopember 1928 di Malabar. Ia meninggal beberapa saat setelah dianugerahi penghargaan sebagai Warga Utama kota Bandung. Nah, saking sibuknya, Boscha belum sempat menikah sepanjang hidupnya, lagipula buat apa menikah kalau anda tinggal di tengah perkebunan teh dingin yang dihuni oleh banyak mojang2 yang geulis ?

Makam Bosscha nih, pak Upin belum lahir pas poto ini dibuat,,,

Jenazahnya tidak dikirim ke Negara asalanya melainkan dikebumikan di area perkebunan ini sesuai amanatnya.

Peserta tour berkesempatan untuk mengunjungi makam Bosscha yang berbentuk observatorium Bosscha di Lembang, namun sang kuncen makam “kekeuh” kalau bentuk makam itu menyerupai topi yang biasa dikenakan oleh para Preanger Planters. Sang kuncen, kalau gak salah namanya Pak Upin, otomatis menceritakan segala yang ia ketahui mengenai Bosscha, mulai dari penyebab kematiannya karena tetanus, yang menurut sumber lain karena patah tulang akibat terjatuh dari kuda Putihnya (versi kedua ini lebih saya percaya,,,), kisah pohon teh tua gaib yang suka berpindah2 (yang menurut saya mitosnya sengaja diciptakan agar tidak ada yang mengganggu peohonan tersebut), kisah sepeda torpedo yang bisa mengantar Bosscha secepat kilat ke Lembang, hingga kisah turis pembakar jagung yang mendadak kaya setelah bertemu hantu Bosscha…

Pak Upin juga menceritakan legenda gunung Nini (diterjemahkan menjadi Gunung Nenek, hehe), yang di atasnya terdapat sebuah gazeebo tempat Tuan Bosscha mengamati kekayaan alamnya. Menurut Pak Upin, gunung ini didiami seorang nenek-nenek, yang kedapatan amanat menjaga perkebunan ini. Segala informasi ini cukup menghibur, sebanding dengan tarif Rp. 1000 yang dikenakan kepada setiap peserta yang mendengarkannya,,, hahaha

Entah soal kebenaran mitos2 mengenai Bosscha di atas, namun menurut saya Tuan Bosscha sangat memahami kultur masyarakat Indonesia yang serba mistis, sehingga dia menciptakan mitos-mitos tersebut untuk menjaga asetnya, dan usaha tersebut terbukti berhasil.

Oh ya, sebelum kelewat, Pak Budi Brahmantyo juga sempat menjelaskan mengenai proses penggunaan panas bumi (Geothermal) sebagai pembangkit listrik, yang menjadi sample dalam hal ini adalah PLTU Wayang Windu, yang tidak terlihat jelas karena sudah tertutupi kabut,,, Yang bisa saya simpulkan adalah bahwa teknologi geotermal ini cukup ramah lingkungan, namun sangat bergantung pada keadaan lingkungan sekitar…

Dari sini, kitapun melanjutkan perjalanan ke situ Cileunca, bus berhenti sebentar, memberi kesempatan kepada peserta yang ingin mengambil dokumentasi.

Situ Cileunca Baheula

PLTA ini menggunakan aliran sungai Cisangkuy (atau Cileunca ya?…), pada awalnya ditujukan untuk memberi pasokan listrik bagi Stasiun Pemancar Radio Malabar. Pembangunan dilakukan selama 7 tahun (1919-1926), dan mitosnya saat menguruk lahan tersebut, penduduk tidak menggunakan pacul melainkan menggunakan halu.

Berdasarkan catatan Amoel (amoel.blogspot.com), Pembangunan situ tersebut, dikomandani dua orang pintar, yakni Juragan Arya dan Mahesti. Maka, tak heran, makam Mahesti dijadikan tempat keramat oleh masyarakat setempat. Selain itu konon ada dua siluman yang terkenal di Situ Cileunca. Lulun Samak dan Dongkol. Lulun Samak adalah “sesuatu” yang mematikan dengan cara menggulung mangsa. Sementara, Dongkol adalah “sesuatu” yang berwujud kepala kerbau.

Yah, di luar semua mitos tersebut,,, Pemandangan situ ini patut mendapat “Two Thumbs Up” dari Roeper dan Ebert…

Nah, kali ini perjalanan yang sangat tunggu2, mengunjungi rumah “Jerman” di daerah Cukul. Sepertihalnya makan soto Bandung di Rumah Bosscha, tidak sempurna pula hidup seseorang sebelum mengunjungi rumah luar biasa ini… Berangkkkaat !

Saat kita tiba di lokasi “Waaakwaww,,,!!!” Rumah ini telah rata dengan tanah, sayapun menangis tersedu-sedu melihat pemandangan ini, artinya hidup saya tidak sempurna,,, Lebay,,, Tetapi aslina, saya tetap sangat menyesali pembumirataan bangunan ini, yang menurut penjaganya disebabkan oleh gempa panalengan kemarin. Tapi katanya mau dibangun lagi, entah seperi bentuk aslinya atau berubah sama sekali,,, Di lokasi tersebut saya sempat menancapkan sebuah tongkat, dimana nantinya apabila saya mengunjungi lokasi tersebut diharapkan telah berdiri bangunan yang sama persis,,, (Meniru Daendles)

The Ruins

Akhirnya Geotrek II pun ditutup dengan suasana yang sendu, tapi saya tetap bahagia dan sangat menikmati mengikuti perjalanan ini, sunggu tidak akan terlupakan sepanjang masa,, saya akan terus mengikuti geotrek selanjutnya selama masih sesuai dengan anggaran fiskal saya, baiklah, terima kasih untuk semua penyelengara, Wabilahi taufik wal hidayah, Wassalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh,,,