Oleh: M. Ryzki Wiryawan (@sadnessystem) Kebon Binatang (Bonbin) Kota Bandung didirikan pada tahun 1933 oleh tuan W.H. Hoogland, seorang tokoh pecinta Bandung sekaligus pimpinan organisasi Bandoeng Vooruit. Beliau adalah seorang kaya raya, direktur Bank D.E.N.I.S. yang berkantor di jalan Naripan (sekarang Bank BJB). Setelah mengalami masa kemunduran pada zaman Jepang, Kebun Binatang Bandung kembali direvitalisasi … Lanjutkan membaca Kebon Binatang Bandung Tahun 1950
Komunitas Aleut
Cara Komunitas Aleut Merespon Kegiatan Kota dan Membibit Gerakan Literasi
Oleh: Irfan Teguh Pribadi (@irfanteguh) Sesekali atau bahkan berkali-kali, di smartphone muncul broadcast yang isinya informasi dan himbauan untuk menghindari beberapa ruas jalan. Hal itu disebar katanya demi menghindarkan warga kota dari macet jahanam yang menjengkelkan. Selintas hal tersebut—karena kerap muncul, seperti sebuah kebenaran yang tak terbantah. Warga kota yang tergesa dengan agendanya masing-masing … Lanjutkan membaca Cara Komunitas Aleut Merespon Kegiatan Kota dan Membibit Gerakan Literasi
Stadion Persib
Oleh: Irfan Noormansyah (@fan_fin) Stadion Persib, lebih populer dengan nama Stadion Sidolig, merupakan cikal bakal lahirnya SSB Sidolig. Sidolig sendiri merupakan sebuah singkatan dari "Sport in de Openlucht is Gezond" yang artinya "berolahraga di tempat terbuka itu sehat". Saat ini Stadion Persib dikenal juga sebagai lokasi mess para pemain serta salah satu stadion yang sering … Lanjutkan membaca Stadion Persib
Catatan Perjalanan: Basa Bandung Halimunan
Oleh: Chika Aldila (@chikaldila) Mengenang masa lalu, terutama masa kecil, memang selalu menyenangkan. Banyak hal-hal yang dapat kita tertawakan di saat kita beranjak dewasa; kebanyakan mempertanyakan kebodohan-kebodohan yang telah diperbuat saat kita kecil dahulu. Membandingkan keadaan dahulu dan sekarang, dari mulai sifat perilaku sampai dengan lingkungan tempat tinggal. Pahit manisnya kenangan itu tentunya menjadi satu … Lanjutkan membaca Catatan Perjalanan: Basa Bandung Halimunan
Laundry Tempo Dulu di Ciguriang
Oleh: Vecco Suryahadi Saputro (@veccosuryahadi) Tukang Dobi di Kebon KawungMalam ini, saya baru selesai membaca tulisan Chika Aldila tentang pengalamannya saat NgAleut Basa Bandung Halimunan. Tulisan ini menarik dan menggoda saya untuk menambah cerita tentang salah satu titik perjalanannya. Titik itu adalah mata air Ciguriang di Kebon Kawung. Dalam tulisan Chika, pengguna mata air Ciguriang adalah warga Kebon … Lanjutkan membaca Laundry Tempo Dulu di Ciguriang
Rusa Berbulu Merah dan Masyarakat Kurang Baca
Oleh: Irfan Teguh Pribadi (@irfanteguh) Sehari pasca pembubaran paksa oleh berbagai ormas seperti FPI, PUI, dan Laskar Fisabililah, akhirnya kemarin (24/3/2016) pentas monolog Tan Malaka berhasil digelar dengan aman. Acara yang diselenggarakan di IFI Bandung itu berlangsung di bawah penjagaan ketat aparat keamanan dan beberapa LSM yang mendukung acara seperti AMS, Jangkar, dan Pekat. Gelaran … Lanjutkan membaca Rusa Berbulu Merah dan Masyarakat Kurang Baca
Iwang
Oleh: Irfan Teguh Pribadi (@irfanteguh) Hari masih pagi dan jalan Solontongan belum terlalu ramai. Iwang tengah duduk di depan tempat bimbingan belajar sambil menikmati segelas kopi sachet. “Ngopi dulu,” katanya sambil mengangkat gelas. Saya hanya mengangkat jempol sambil berlalu menuju kios penjual rokok. Sehari-hari Iwang tinggal di tempat bimbingan belajar, dia bekerja di sana. Bukan … Lanjutkan membaca Iwang
Monumen Bandung Lautan Api
Oleh: Irfan Noormansyah (@fan_fin) 24 Maret 1946, langit Bandung tak secerah hari ini. Kepulan asap hitam dan jilatan api merah membara mewarnai jengkal udara di kota ini. Ratusan ribu warga kota Bandung membakar bangunan dan tempat tinggalnya untuk melindungi Kota Bandung dari penjajah. 70 tahun berselang, Kota Bandung telah lahir kembali dengan membawa banyak perubahan … Lanjutkan membaca Monumen Bandung Lautan Api
M.I. Prawirawinata
Di lokasi ini pernah berdiri sebuah Toko Buku dan Percetakan M.I. Prawirawinata, toko buku dan percetakan pertama yang dimiliki oleh seorang pribumi. Setelah berhenti beroperasi pada pertengahan 1930-an, bangunan yang berada di ruas Jl. Lembong ini beralih fungsi menjadi hotel.
Skandal Homoseksual di Bandung
Oleh: M. Ryzki Wiryawan (@sadnesssystem) Kasus pencabulan bukanlah suatu hal baru di Indonesia. Pada masa kolonial, kejadian tersebut turut dianggap sebagai suatu aib. Suatu kisah menarik mengenai itu diungkap dalam buku "Vaarwel, Tot Betere Tijden: Documentatie over de ondergang van Ned-Indie" yang diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh Penerbit Djambatan dengan judul "Selamat Tinggal, Sampai Jumpa … Lanjutkan membaca Skandal Homoseksual di Bandung
Di Balik Layar #Ngaleut Toko Buku dan Percetakan
Hari Sabtu (12/03/2016), beberapa Aleutians sedang melakukan survey lokasi untuk #Ngaleut Toko Buku dan Percetakan Tempo dulu yang berlangsung hari Minggu kemarin. Kegiatan semacam ini rutin dilakukan setiap minggunya untuk memastikan lancarnya keberlangsungan #Ngaleut.
Beli Buku di Jl. Cikapundung Barat
Di tengah perjalanan #Ngaleut Toko Buku dan Percetakan Tempo Dulu siang tadi, @teg.art dan @tiarahmii menyempatkan diri untuk membeli buku di emper Jl. Cikapundung Barat. Kawasan ini dikenal sebagai salah satu sentra buku dan majalah bekas sejak sekitar 1960-an. Harga buku yang ditawarkan bervariatif, mulai dari puluh ribu hingga ratusan ribu rupiah. Foto: @fajarasaduddin
Gedung Indonesia Menggugat
Gedung Indonesia Menggugat, dulunya berfungsi sebagai pengadilan. Nama gedung diambil dari judul pledoi Sukarno dengan judul sama yang ia tulis selama mendekam di Penjara Banceuy. Nah, lokasi ini merupakan titik kumpul kegiatan Ngaleut Toko Buku dan Percetakan Tempo Dulu hari Minggu besok. Sudahkah Aleutians memastikan diri bergabung? Foto: Arya Vidya Utama (@aryawasho)
Kliping Riwayat Preangerplanters
Lima artikel yang dimuat di HU Pikiran Rakyat, rubrik Selisik, Senin, 22 Februari 2016. Salinan artikelnya menyusul.
Schiller dan Taman Jomblo yang Medioker
Oleh: Zen RS (@zenrs) Tanpa sengaja berkunjung ke Taman Schiller, taman kecil di depan sebuah kampus seni di Wina. Salah satu yang menyenangkan dari Praha dan Wina, dua dari empat kota di Eropa yang saya singgahi pada Oktober 2015 silam, mungkin juga di kota-kota tua lainnya di Eropa, adalah banyaknya ruang-ruang publik yang dinamai atau … Lanjutkan membaca Schiller dan Taman Jomblo yang Medioker