Malam Mencekam dalam Wisata Legenda Urang Bandung

Pastor Verbraak, Malam Mencekam Dalam Wisata Legenda Urang Bandung

Patung Verbraak (Photo by Komunitas Aleut)

Oleh: Rulfhi Alimudin (@rulfhi_rama)

Malam hari itu udara Kota Bandung tak terlampau dingin. Mungkin udara dingin enggan untuk  bercengkrama dengan Kota Bandung saat itu. Malam itu Bandung dipenuhi dengan beberapa kegiatan yang memanjakan wisatawan dan warganya.

Salah satu kegiatan yang mengisi malam tersebut adalah city tour Legenda Urang Bandung yang diselenggarakan oleh Komunitas Aleut dengan MooiBandoeng.

City tour kali ini mengangkat cerita urban legend di Bandung dengan tagline ‘fakta di balik urban legend’. City tour ini cukup menarik

antusias warga Bandung maupun luar Kota Bandung. Terbukti di hari pelaksanaan 28 Oktober 2017 bertempat di Taman Musik Jalan Belitung sebagai titik kumpul hampir seratus orang yang datang sebagai peserta tour.

Tentu untuk memberikan kenyamanan kepada peserta, rombongan dipecah menjadi dua kelompok. Setiap kelompok dipandu oleh dua orang pemandu. Rombongan berangkat dari Taman musik menuju titik pertama, yakni Rumah Kentang.

Sebelum sampai di Rumah Kentang, peserta berhenti dahulu di pos pertama yang berada di Jalan Banda. Pemandu pun menjelaskan ihwal legenda-legenda yang berkembang di Bandung pada masa kolonial.

Di bawah pohon tua pemandu bercerita mengenai mahluk-mahluk tak kasat mata yang sering jadi bahan cerita di Bandung. Masyarakat Bandung tempo dulu tidak ada yang berani keluar rumah selewat waktu asar. Konon di setiap pohon tua yang berada di jalanan  didiami oleh mahluk halus. Jika tak percaya, coba saja berjalan sendiri pada malam hari dan arahkan senter ke atas pohon, jika beruntung, dapat melihat wujud dari mahluk-mahluk tak kasat mata itu.

Suasana tour malam itu semakin membuat merinding, sebab kami harus melewati pohon-pohon besar dengan penerangan jalan yang minim. Titik berikutnya adalah Rumah Kentang yang berada di perempatan antara Jalan Banda dengan Jalan Aceh. Banyak beredar kabar bahwa pada malam hari di sekitar Rumah Kentang sering tercium aroma kentang yang menyengat. Aroma kentang ini keluar konon karena di rumah tersebut pernah terjadi kecelakaan yang membuat seorang anak kecil tercebur kedalam kuali besar ketika memasak kentang.

Hingga kini cerita tersebut tetep hidup di masyarakat Bandung. Di sisi lain, ada hal menarik jika melihat ke belakang mengenai ini. Rumah Kentang merupakan loji Freemason pertama di Kota Bandung dan menjadi yang teraktif dalam menyelenggarakan kegiatan Freemason di Hindia Belanda saat itu. Pada masa pendudukan Jepang, loji ini tak digunakan lagi, sebab semua praktik Freemason diberangus oleh pihak Jepang.

Rumah Kentang, Malam Mencekam Dalam Wisata Legenda Urang Bandung

Rumah Kentang (Photo by Komunitas Aleut)

Melangkah dari Rumah Kentang peserta beranjak ke Gereja Katolik Bebas S. Albanus. Meskipun memakai nama Katolik, gereja ini sebenarnya tidak berafiliasi dengan agama Katolik. Gereja ini berdiri dan dibangun dengan banyak pengaruh teosofi. Arahnya lebih ke Gerakan Zaman baru yang merupakan penggabungan ajaran barat dengan timur, ujungnya adalah phanteisme dan universalitas Tuhan.

Bangunan ini kini dibiarkan kosong tak terpakai, sehingga menjadi tempat hunian favorit bagi makhluk tak kasat mata. Menurut penuturan penjaga bangunan, setiap malam sering terdengar suara radio memancarkan saluran berbahasa Belanda. Padahal jelas-jelas di dalam bangunan tersebut sudah tidak ada lagi radio.

Pemandu yang cukup sensitif mengatakan bahwa ia melihat sosok makhluk tak kasat mata yang mengintip dari jendela. Peserta lainnya juga sempat mengatakan melihat kilatan putih yang terbang. Kejadian kejadian seperti itu membuat suasana perjalanan semakin mencekam saja.

Gereja Albanus, Malam Mencekam Dalam Wisata Legenda Urang Bandung

Gereja Katolik Bebas St. Albanus

Langkah kaki yang gemetar setelah mendengar cerita dari pemandu maupun peserta lainnya, tak menghentikan langkah untuk melanjutkan perjalanan menuju titik berikutnya, yakni Patung Verbraak yang berada di Taman Maluku.

Patung yang berada di sudut Taman Maluku konon sering kali memalingkan mukanya ketika ada pengendara yang lewat di depannya. Banyak beredar kabar juga bahwa Pastor Verbraak meninggal karena kecelakaan pesawat dan jenazahnya dimakamkan di bawah patungnya.

Namun semua prasangka mengenai Pastor Verbraak terbantahkan dalam tour kali ini. Pastor Verbraak nyatanya tak pernah menginjakan kaki di Bandung, masa hidupnya ia baktikan di tanah Aceh: membantu dan menguatkan para korban perang.

Semasa hidupnya Pastor Verbraak dikenal sebagai bapak yang penuh kasih. Ia sangat dicintai oleh semua orang. Kala usianya menginjak 80 tahun dan kesehatannya mulai memburuk, ia pindah ke ke Magelang. Hingga tiga tahun kemudian, Verbraak meninggal dan dimakamkan secara militer.

Untuk menghormati pengabdiannya bagi kemanusiaan. Lembaga The Dutch East Indian Army mengumpulkan dana dan mendirikan patung Pastor Verbraak di Taman Maluku. Patung ini dirancang oleh seniman G.J.W. Rueb.

Dari Patung Verbraak  peserta beranjak ke gedung sekolah yang terkenal dengan hantu Noni Belanda cantik: Nancy. Konon Nancy sering kali terlihat sosoknya di jendela lantai atas. Beredar kabar juga jendela tersebut tidak bisa ditutup, tiap kali ditutup selalu membuka sendiri. Hingga akhirnya jendela tersebut dibiarkan saja terbuka terus.

SMA 5, Malam Mencekam Dalam Wisata Legenda Urang Bandung

Tangga SMA Negeri 5 Bandung (Photo by Komunitas Aleut)

Gedung SMA Negeri 3 dan 5 yang beralamat di Jalan Belitung ini dulunya merupakan sekolah HBS (Hoorgere Burgeschool te Bandoeng). Di SMA 5 yang merupak titik terakhir, peserta diperbolehkan untuk mengekplorasi setiap sudut sekolah ini. Memasuki lantai dua, udara sekitar mulai terasa pengap. Menurut pemandu, udara pengap ini karena kita sedang bersinggungan dengan energi dari dunia lain. Beberapa peserta bahkan mendengar suara orang mengetik dengan mesin ketik di lantai dua. Ada juga peserta yang melihat seorang anak SMA yang sedang berjalan di lorong kelas dan bergabung dengan rombongan.

Selesai mengekplorasi SMA 5, peserta kembali berkumpul di lantai dasar untuk menuju Taman Musik sebagai tempat sharing dan penutupan. Kejutan dari tour kali ini ternyata belum usai, sebab panitia telah mempersiapkan beberapa hadiah menarik untuk para peserta yang berani membagikan pengalamannya.

Rangkaian city tour kali ini telah memberikan pengalaman menarik dan menyenangkan walaupun juga membuat bulu kuduk merinding. Di balik cerita urban legend yang hidup dan berkembang di masyarakat terdapat nilai sejarah yang luput dari pengetahuan kita. Untunglah ada Komunitas Aleut dan MooiBandoeng yang senantiasa memberikan pengetahuan sejarah dengan cara menyenangkan.

Baca juga artikel terkait Plesiran atau tulisan menarik lainnya. (upi/rap)

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s