Oleh: M. Ryzki Wiryawan (@sadnessystem) Kebon Binatang (Bonbin) Kota Bandung didirikan pada tahun 1933 oleh tuan W.H. Hoogland, seorang tokoh pecinta Bandung sekaligus pimpinan organisasi Bandoeng Vooruit. Beliau adalah seorang kaya raya, direktur Bank D.E.N.I.S. yang berkantor di jalan Naripan (sekarang Bank BJB). Setelah mengalami masa kemunduran pada zaman Jepang, Kebun Binatang Bandung kembali direvitalisasi … Lanjutkan membaca Kebon Binatang Bandung Tahun 1950
Kota Bandung
Cara Komunitas Aleut Merespon Kegiatan Kota dan Membibit Gerakan Literasi
Oleh: Irfan Teguh Pribadi (@irfanteguh) Sesekali atau bahkan berkali-kali, di smartphone muncul broadcast yang isinya informasi dan himbauan untuk menghindari beberapa ruas jalan. Hal itu disebar katanya demi menghindarkan warga kota dari macet jahanam yang menjengkelkan. Selintas hal tersebut—karena kerap muncul, seperti sebuah kebenaran yang tak terbantah. Warga kota yang tergesa dengan agendanya masing-masing … Lanjutkan membaca Cara Komunitas Aleut Merespon Kegiatan Kota dan Membibit Gerakan Literasi
Stadion Persib
Oleh: Irfan Noormansyah (@fan_fin) Stadion Persib, lebih populer dengan nama Stadion Sidolig, merupakan cikal bakal lahirnya SSB Sidolig. Sidolig sendiri merupakan sebuah singkatan dari "Sport in de Openlucht is Gezond" yang artinya "berolahraga di tempat terbuka itu sehat". Saat ini Stadion Persib dikenal juga sebagai lokasi mess para pemain serta salah satu stadion yang sering … Lanjutkan membaca Stadion Persib
Gereja Katholik Bebas Santo Albanus
Bangunan ini merupakan karya Ghijsels yang desainnya rampung tahun 1918, dan dibangun tahun 1919-1920. Walau mengambil nama Katholik, gereja ini tidak memiliki afiliasi dengan Roma. Setidaknya sejak tahun 2000-an, gereja ini dikenal warga Bandung sebagai tempat kursus Bahasa Belanda. Cerita lebih lengkap mengenai gereja ini bisa dibaca di https://komunitasaleut.com/2010/02/05/bandungs-lost-symbol/.
Catatan Perjalanan: Basa Bandung Halimunan
Oleh: Chika Aldila (@chikaldila) Mengenang masa lalu, terutama masa kecil, memang selalu menyenangkan. Banyak hal-hal yang dapat kita tertawakan di saat kita beranjak dewasa; kebanyakan mempertanyakan kebodohan-kebodohan yang telah diperbuat saat kita kecil dahulu. Membandingkan keadaan dahulu dan sekarang, dari mulai sifat perilaku sampai dengan lingkungan tempat tinggal. Pahit manisnya kenangan itu tentunya menjadi satu … Lanjutkan membaca Catatan Perjalanan: Basa Bandung Halimunan
Laundry Tempo Dulu di Ciguriang
Oleh: Vecco Suryahadi Saputro (@veccosuryahadi) Tukang Dobi di Kebon KawungMalam ini, saya baru selesai membaca tulisan Chika Aldila tentang pengalamannya saat NgAleut Basa Bandung Halimunan. Tulisan ini menarik dan menggoda saya untuk menambah cerita tentang salah satu titik perjalanannya. Titik itu adalah mata air Ciguriang di Kebon Kawung. Dalam tulisan Chika, pengguna mata air Ciguriang adalah warga Kebon … Lanjutkan membaca Laundry Tempo Dulu di Ciguriang
Rusa Berbulu Merah dan Masyarakat Kurang Baca
Oleh: Irfan Teguh Pribadi (@irfanteguh) Sehari pasca pembubaran paksa oleh berbagai ormas seperti FPI, PUI, dan Laskar Fisabililah, akhirnya kemarin (24/3/2016) pentas monolog Tan Malaka berhasil digelar dengan aman. Acara yang diselenggarakan di IFI Bandung itu berlangsung di bawah penjagaan ketat aparat keamanan dan beberapa LSM yang mendukung acara seperti AMS, Jangkar, dan Pekat. Gelaran … Lanjutkan membaca Rusa Berbulu Merah dan Masyarakat Kurang Baca
Roti Gratis Untuk Bobotoh
Panpel Persib membagikan roti dan air mineral gratis bagi Bobotoh yang datang menonton laga final Piala Bhayangkara di Gelora Bung Karno. Roti dan air mineral ini tak hanya dikhusukan bagi mereka yang memegang tiket, namun bagi seluruh Bobotoh yang sedang melintas di daerah ini. Momen ini diabadikan oleh @kedaipreanger saat bertandang ke GBK untuk menyaksikan … Lanjutkan membaca Roti Gratis Untuk Bobotoh
Pintu Air di Cicendo
Warga sekitar menyebut tempat ini dengan nama Bong. Padahal, arti dari bong sendiri adalah pemakaman Tionghoa. Kok bisa? Hehe, soalnya wilayah pemukiman padat di dekat pintu air ini dulunya memang pemakaman Tionghoa. Entah bagaimana di kemudian hari warga sekitar mengenal bong sebagai pintu air. Ngomong-ngomong, apakah Aleutians tau nama sungai yang ada di foto ini? … Lanjutkan membaca Pintu Air di Cicendo
Patrakomala, Penghias Stilasi Bandung Lautan Api
Oleh: Tegar Bestari (@teg_art) Bunga Patrakomala adalah maskot Kota Bandung yang dijadikan penghias stilasi Bandung Lautan Api. Meskipun kalah ukuran, tapi bunga aslinya juga mau ikut eksis di sebelahnya :))
M.I. Prawirawinata
Di lokasi ini pernah berdiri sebuah Toko Buku dan Percetakan M.I. Prawirawinata, toko buku dan percetakan pertama yang dimiliki oleh seorang pribumi. Setelah berhenti beroperasi pada pertengahan 1930-an, bangunan yang berada di ruas Jl. Lembong ini beralih fungsi menjadi hotel.
Skandal Homoseksual di Bandung
Oleh: M. Ryzki Wiryawan (@sadnesssystem) Kasus pencabulan bukanlah suatu hal baru di Indonesia. Pada masa kolonial, kejadian tersebut turut dianggap sebagai suatu aib. Suatu kisah menarik mengenai itu diungkap dalam buku "Vaarwel, Tot Betere Tijden: Documentatie over de ondergang van Ned-Indie" yang diterbitkan dalam bahasa Indonesia oleh Penerbit Djambatan dengan judul "Selamat Tinggal, Sampai Jumpa … Lanjutkan membaca Skandal Homoseksual di Bandung
Bangunan Swarha
Bangunan ini berada di Jl. Asia-Afrika, beroperasi sebagai hotel sekitar awal 1950-an. Pada saat perhelatan Konferensi Asia-Afrika 1955, gedung ini digunakan sebagai tempat menginap para kuli tinta. Setelah sekitar satu dekade beroperasi, hotel ini kemudian tutup. Lantai dasar bangunan ini masih digunakan untuk berjualan kain, sedangkan 4 lantai ke atasnya dibiarkan kosong begitu saja. Sempat … Lanjutkan membaca Bangunan Swarha
Di Balik Layar #Ngaleut Toko Buku dan Percetakan
Hari Sabtu (12/03/2016), beberapa Aleutians sedang melakukan survey lokasi untuk #Ngaleut Toko Buku dan Percetakan Tempo dulu yang berlangsung hari Minggu kemarin. Kegiatan semacam ini rutin dilakukan setiap minggunya untuk memastikan lancarnya keberlangsungan #Ngaleut.
Beli Buku di Jl. Cikapundung Barat
Di tengah perjalanan #Ngaleut Toko Buku dan Percetakan Tempo Dulu siang tadi, @teg.art dan @tiarahmii menyempatkan diri untuk membeli buku di emper Jl. Cikapundung Barat. Kawasan ini dikenal sebagai salah satu sentra buku dan majalah bekas sejak sekitar 1960-an. Harga buku yang ditawarkan bervariatif, mulai dari puluh ribu hingga ratusan ribu rupiah. Foto: @fajarasaduddin