O, DEWATA

Oleh : Arifin Surya Dwipa Irsyam (@suryadwipa)

Perhatian! Catatan ini ditulis dari sudut pandang Aleutian yang berhalangan ikut momotoran ke Perkebunan Teh Dewata. Sengaja ditulis agar penulis masih dapat tetap eksis walaupun tidak ikut serta. Selain itu, catatan singkat ini juga ditulis karena adanya dorongan hasrat yang tinggi untuk berbagi informasi mengenai Dewata dari aspek tertentu. Hatur nuhun.

Tak bisa kupungkiri bahwa dadaku dijejali rasa iri pagi itu. Saat teman-teman pergi bersama-sama menuju Perkebunan Teh Dewata yang terletak di Pasirjambu, Kabupaten Bandung. Aku hanya bisa membatin, “Groet Uit Bandoeng1i”. Salam hangat dari Bandung untuk kalian di sana. Sesak sekali rasanya. Segenggam tar pekat seperti mencengkeram trakeaku dengan erat, sehingga sulit untuk bernafas. Ya.., hal ini memang sudah menjadi konsekuensiku karena kali ini tidak dapat bergabung bersama mereka untuk menjamahi kecantikan kawasan pegunungan di Bandung Selatan.

Esok siangnya, aku semakin menjadi-jadi. Rasa iri bertambah gemuk di dalam dada. Suaranya bergemuruh. Riuh. Ibarat Mbok Randa dadapan yang menerima kenyataan bahwa Bawang Putih jauh lebih ayu ketimbang Bawang Merah. Terutama saat para kawan membagikan lembaran-lembaran kertas foto maya dan saling bercerita setelah pulang dari Dewata. Aku menahan-nahan ujung telunjuk agar tidak menyentuh tombol unduh pada foto-foto yang terlampir dalam grup Whatsapp. Hahahah..

Di balik rasa iri itu, aku kagum pada mereka yang telah menyelesaikan perjalanan ke Dewata. Setelah menempuh jalan berbatu sepanjang 14 KM, berkawan dengan halimun dingin dan pekat malam, serta hantu-hantu lapar di sela-sela batu atau dedaunan. Banyak cerita yang kudapat dari Agus, Puteri, dan Rulfhi tentang semua hal yang telah dihadapi. Bravo!! So Proud of you, guys! Melalui perjalanan ke Dewata, tentu banyak pengalaman berharga yang dapat dipetik oleh para penggiat Komunitas Aleut. Senang rasanya mendengar bahwa beberapa Aleutian jadi mengenal lebih dekat dengan anggota lainnya dalam kegiatan momotoran yang katanya gila banget ini. Hati semakin bahagia saat mendengar bahwa beberapa modus masih dilancarkan dalam keadaan yang kepepet. Hahahaha..

Buatku belajar tidak terbatas hanya saat aku menyentuh buku atau objek belajar lainnya secara langsung. Bersyukur aku kenal Abang yang tidak setengah-setengah dalam memberikan informasi. Saat minum segelas kopi hitam di pelataran Museum Gedung Sate, ia menunjukkan beberapa foto tumbuhan yang berhasil diabadikan dalam perjalanan ke Dewata.

Sebuah foto yang menunjukkan kondisi Dewata bermandikan halimun pekat sangat melekat di kepala. Foto itu Abang ambil di sore hari di tengah perjalanannya. Amboi! indah sekali. Foto tersebut mampu melayangkan anganku ke beberapa abad silam ketika sebagian besar Priangan masih berupa hutan tropis yang liar. Kawasan Dewata memang merupakan hutan pegunungan tropis yang basah dan lembap, bagian dari Cagar Alam Gunungtilu. Oleh sebab itu, jenis-jenis tumbuhan pengisinya pun berbeda dengan hutan dataran rendah. Hal tersebut dapat dilihat dari aneka jenis tumbuhan terna yang hidup di lantai Dewata.

IMG-20180307-WA0023

Cagar Gunung Tilu | © Komunitas Aleut

Baiklah, sebelum kesedihan menjadi berlarut-larut, saya mau cerita saja tentang beberapa tumbuhan yang fotonya saya lihat dari hp Abang.

Pacar leuweung (Impatiens platypetala Lindl.) adalah salah satu dari sekian banyak jenis tumbuhan terna di sana. Tumbuhan berbunga jambon ini diberi nama penunjuk jenis platypetala karena memiliki daun mahkota yang pipih dan rata. Nama tersebut diambil dari bahasa latin, platy artinya pipih dan petal berarti daun mahkota. Van Steenis mencatat dalam bukunya yang berjudul The Mountain Flora of Java, bahwa jenis tersebut banyak tumbuh di bukit atau gunung pada ketinggian hingga 2500 m dpl dan tersebar secara luas di seluruh kawasan Malesiaii, mulai dari Semenanjung Malaya hingga New Guinea.

Pacar leuweung merupakan jenis yang paling umum ditemukan di tempat lembap dan teduh di Pegunungan Jawa. Tumbuhan terna yang satu kerabat dengan pacar kuku (Impatiens balsamina L.) ini acap tumbuh pinggiran sungai atau dekat mata air. Oleh sebab itu, keberadaannya di suatu lokasi di hutan dapat dijadikan sebagai indikator bahwa lokasi tersebut dekat dengan sumber air. Tentu informasi ini sangat berguna, terutama jika kita tersesat di hutan dan butuh air.

pacar leuweung

Pacar Leuweung | © Komunitas Aleut

Pacar leuweung dapat dianggap sebagai gulma apabila tumbuh di kawasan perkebunan teh, karena dapat mengganggu pertumbuhan tanaman budi daya yang sengaja ditanam. Meskipun demikian, jenis ini sebenarnya dapat dibudidayakan sebagai tanaman hias karena bunganya yang indah dan berwarna cantik. Berdasarkan publikasi ilmiah Silalahi dkk. pada tahun 2015, masyarakat Batak Simalungun di Sumatera Utara memanfaatkan bagian daunnya untuk mengobati demam. Jenis ini dikenal dengan nama silundad dalam bahasa Simalungun.

Selain pacar air hutan, juga ada teklan (Ageratina riparia (Regel) R.M.King & H.Rob.). Tumbuhan yang masih berkerabat dekat dengan babadotan dan kirinyuh ini berasal dari Meksiko dan Karibia. Dalam buku Flora of Java jilid 2 (1965), disebutkan bahwa teklan telah lama diintroduksi ke Pulau Jawa. Kemudian jenis tersebut mampu beradaptasi dengan lingkungan Jawa dan hidup secara liar di daerah pegunungan.

teklan

Teklan | © Komunitas Aleut

Sesuai nama penunjuk jenisnya, teklan pada umumnya tumbuh di sekitar aliran sungai atau kawasan riparian, dan juga di tempat-tempat lembap serta pinggir jalan setapak dekat hutan. Sama seperti pacar air hutan, teklan yang tumbuh di sekitar perkebunan teh dapat disebut sebagai gulma. Meskipun dianggap gulma, teklan mengandung senyawa chromene yang dapat dimanfaatkan sebagai pembasmi jamur parasit pada pohon pepaya, jeruk, dan alpukat, yaitu jamur Colletotrichum gloeosporioides.

Jenis selanjutnya yang akan saya bahas yakni Clinopodium gracile (Benth.) Kuntze (selanjutnya akan ditulis sebagai C. gracile). Khusus jenis ini, saya belum mendapatkan informasi mengenai nama lokalnya, namun dikenal dengan nama slender wild basil di belahan dunia barat. Slender wild basil biasanya tumbuh di tempat yang terbuka, pinggiran hutan, dan sepanjang daerah aliran air, pada ketinggian 0 hingga 2400 m dpl.

Secara taksonomi, C. gracile dikelompokkan dalam suku Lamiaceae bersama jati (Tectona grandis L.f.), mint (Mentha spp.), dan surawung (Ocimum spp.). Hal tersebut dikarenakan semua jenis tersebut memiliki perhiasan bunga yang membentuk bibir atas dan bibir bawah.

Penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Park dkk. (2010) menunjukkan bahwa ekstrak C. gracile memiliki aktivitas biologi sebagai anti-inflamasi. Selain itu, minyak esensial yang terkandung di bagian batang, daun, dan bunga, memiliki aktivitas antilarva dan secara efektif dapat menghambat pertumbuhan larva nyamuk Aedes albopictus, yang menjadi vektor penyakit chikungunya. Walaupun kecil dan tumbuh di antara bebatuan berlumut, C. gracile ternyata memiliki manfaat yang luar biasa.

slender wild basil

Slender Wild Basil | © Komunitas Aleut

Saya rasa saya cukup membahas tiga jenis tumbuhan saja dalam tulisan ini. Mengapa? Alasannya sederhana, agar Komunitas Aleut kembali lagi ke Dewata untuk program Biotour. Selain dijadikan sebagai destinasi wisata perkebunan teh, Perkebunan Teh Dewata dan lingkungan sekitarnya memiliki potensi besar untuk dijadikan sebagai lokasi untuk mempelajari keanekaragaman hayati di dataran tinggi. Mengingat bahwa kondisi lingkungan di sana masih relatif terjaga yang dibuktikan dengan keberadaan aneka jenis satwa liar, seperti macan tutul (Panthera pardus melas), owa (Hylobates moloch), dan surili (Presbytis comata). Sesuai namanya, kawasan tersebut merupakan tanah surgawi milik para dewa yang subur dan banyak menyimpan kekayaan hayati. Semoga kelak saya dapat menginjakkan kaki di sana! O Dewata.. tunggulah aku!

i Salam dari Bandoeng

ii Kawasan Malesia: Kawasab Biogeografi yang membentang mulai dari Malaysia, Indonesia, Singapura, Brunei, Filipina, dan Papua Nugini, hingga bagian timur berbatasan dengan zona ekologi Australasia.

Baca juga artikel lainnya dari Arifin Surya Dwipa Irsyam

(komunitasaleut.com – ipi/upi)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s