Stasiun Cikajang +1.530

image

Stasiun Cikajang, stasiun kereta api paling tinggi di Indonesia (+1.530 m). Dibangun pada tahun 1926 dan kemudian dinonaktifkan pada tahun 1983 karena mulai rusaknya jalur kereta dan penurunan jumlah penumpang.

Kondisi stasiun ini sudah rusak karena lama tidak dipakai dan semakin lama semakin mengkhawatirkan, tembok-tembok sudah mulai terkelupas dan rusak, bagian atap juga sudah banyak bolong-bolong. Pada bagian tembok belakang sudah menempel tembok sebuah bangunan baru. Di bagian atas satu sisi bangunan masih dapat terbaca tulisan “Cikajang”.

Jalur-jalur rel di depan stasiun sudah banyak yang terkubur tanah, sebagian masih dapat dilihat tersingkap di atas tanah. Sekitar 15-20 meter di depan rel ada sebuah jalur rel yang walaupun samar masih dapat ditelusuri arahnya, menuju ke kampung. Di ujung rel yang terdapat di tengah kampung ada sebuah sisa bak besar yang sudah dipenuhi oleh sampah. Menurut warga lokasi itu memang sudah menjadi TPS.

Bila memerhatikan rangkaian rel di atas bak yang membulat ini, dapat diduga dulunya lokasi itu merupakan tempat pemutaran lokomotif. Sayang sekali, semuanya sudah tidak terperhatikan lagi. Bahkan di sekitar kampung ini sudah sulit untuk mencari bangunan lama. Hanya satu rumah tembok yang sudah setengah hancur masih berdiri di tengah kepungan bangunan-bangunan baru. Pada bagian depan rumah tua ini terdapat plakat seng bertuliskan PT KAI.

Rumah yang tampak berantakan ini ternyata masih berpenghuni, seorang nenek renta yang tinggal sendirian. Suaminya dulu memang bekerja sebagai pegawai kereta api. Kondisi hidupnya menyedihkan. Di ruang depan kasur tanpa seprai menggeletak begitu saja, kain-kain serta pakaian bertebaran, sebuah lemari sederhana berdiri miring seperti menunggu runtuh. Bagian lain dari rumah ini dibiarkan kosong karena bocor di sana-sini. Bagian atapnya banyak yang sudah runtuh. Untuk keperluan memasak, sebuah kompor sederhana diletakkan di ruang yang sama dengan ruang tidur.

Pintu depan rumah ini sudah lepas dari engselnya, sehingga agar dapat tetap berdiri, nenek itu perlu memasang sebuah palang yang menahan pintu dari luar. Untuk keluar masuk rumah, nenek ini menggunakan jendela di depan kasurnya, tentu dengan cara memanjatnya. Stasiun, bak pemutar lokomotif, rumah tua, dan nenek tua ini, semua tampak begitu menyedihkan…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s