Cikajang dan Stasiun yang Awalnya Tidak Diinginkan

Saya kembali melewati Cikajang, sebuah kota kecil di Kabupaten Garut. Malam itu, suasana lengang dan sedikit basah. Cikajang tetaplah Cikajang, kota berhawa dingin ini sering saya kunjungi dahulu, baik saat menempuh perjalanan ke Pangandaran, ataupun secara sengaja untuk melihat-lihat keadaan stasiun di sana. Minggu 8 November 2020 itu, saya melewati Cikajang bersama teman-teman dari Komunitas Aleut. Perjalanan “momotoran” ini merupakan bagian dari Aleut  Development Program 2020. Jalur yang kami tempuh saat itu adalah jalur Bandung – Pangalengan – Rancabuaya – Pameungpeuk – Cikajang – Garut – dan kembali ke Bandung.

Saat itu, saya hanya punya waktu beberapa detik saja untuk menengok ke arah Stasiun Cikajang. Stasiun tertinggi di Indonesia ini memang ada di dalam gang. Sebenarnya, keberadaan Stasiun Cikajang ini tidak jauh dari pinggir jalan raya. Stasiun ini hanya tersembunyi di belakang toko-toko, dan dalam keadaaan rusak parah dan menunggu renovasi. Saat melewati Cikajang saat itu, ada beberapa cerita tentang Stasiun Cikajang yang lewat di kepala.

Cibatu-Cikajang, 1980. http://www.world-railways.co.uk.

Dicibir Dewan Rakyat

Baca lebih lanjut

Stasiun Cikajang +1.530

image

Stasiun Cikajang, stasiun kereta api paling tinggi di Indonesia (+1.530 m). Dibangun pada tahun 1926 dan kemudian dinonaktifkan pada tahun 1983 karena mulai rusaknya jalur kereta dan penurunan jumlah penumpang.

Kondisi stasiun ini sudah rusak karena lama tidak dipakai dan semakin lama semakin mengkhawatirkan, tembok-tembok sudah mulai terkelupas dan rusak, bagian atap juga sudah banyak bolong-bolong. Pada bagian tembok belakang sudah menempel tembok sebuah bangunan baru. Di bagian atas satu sisi bangunan masih dapat terbaca tulisan “Cikajang”.

Jalur-jalur rel di depan stasiun sudah banyak yang terkubur tanah, sebagian masih dapat dilihat tersingkap di atas tanah. Sekitar 15-20 meter di depan rel ada sebuah jalur rel yang walaupun samar masih dapat ditelusuri arahnya, menuju ke kampung. Di ujung rel yang terdapat di tengah kampung ada sebuah sisa bak besar yang sudah dipenuhi oleh sampah. Menurut warga lokasi itu memang sudah menjadi TPS.

Bila memerhatikan rangkaian rel di atas bak yang membulat ini, dapat diduga dulunya lokasi itu merupakan tempat pemutaran lokomotif. Sayang sekali, semuanya sudah tidak terperhatikan lagi. Bahkan di sekitar kampung ini sudah sulit untuk mencari bangunan lama. Hanya satu rumah tembok yang sudah setengah hancur masih berdiri di tengah kepungan bangunan-bangunan baru. Pada bagian depan rumah tua ini terdapat plakat seng bertuliskan PT KAI.

Rumah yang tampak berantakan ini ternyata masih berpenghuni, seorang nenek renta yang tinggal sendirian. Suaminya dulu memang bekerja sebagai pegawai kereta api. Kondisi hidupnya menyedihkan. Di ruang depan kasur tanpa seprai menggeletak begitu saja, kain-kain serta pakaian bertebaran, sebuah lemari sederhana berdiri miring seperti menunggu runtuh. Bagian lain dari rumah ini dibiarkan kosong karena bocor di sana-sini. Bagian atapnya banyak yang sudah runtuh. Untuk keperluan memasak, sebuah kompor sederhana diletakkan di ruang yang sama dengan ruang tidur.

Pintu depan rumah ini sudah lepas dari engselnya, sehingga agar dapat tetap berdiri, nenek itu perlu memasang sebuah palang yang menahan pintu dari luar. Untuk keluar masuk rumah, nenek ini menggunakan jendela di depan kasurnya, tentu dengan cara memanjatnya. Stasiun, bak pemutar lokomotif, rumah tua, dan nenek tua ini, semua tampak begitu menyedihkan…