#PernikRamadhan: Carvil dan Qaari Pencuri Sandal

Oleh: Hevi Abu Fauzan (@hevifauzan)

Cerita ini ingin saya tulis sebagai salah satu kisah lucu sekaligus miris yang pernah penulis alami saat Ramadhan di rumah. Kisah yang heboh ini terjadi di bulan Ramadhan tahun 1996 yang penulis cukup ingat sampai saat ini. Bersama teman-teman lain, Ramadhan di tahun-tahun sekitar itu diisi dengan kegiatan-kegiatan yang cukup positif.

Subuh selepas sahur ada acara kuliah subuh diikuti pengajian kitab kuning setelah matahari menampakkan dirinya. Pengajian kitab kuning pun kembali dilakukan bada Ashar sampai menjelang Maghrib. Selepas Isya, kami melaksanakan Tarawih, dan kembali mengaji sampai waktu Sahur tiba.

Di pertengahan 90-an saat itu, sandal merk Carvil mulai digilai oleh masyarakat, khususnya oleh anak-anak muda di daerah sentra tahu Cibuntu, tepatnya Jalan Aki Padma yang kini berada di sebelah selatan Jalan overtol Pasirkoja. Pada saat bulan Ramadhan tahun itu tiba, iklan merk sendal itu cukup gencar ditayangkan di TV-TV swasta, dengan bintang iklan kalau tidak salah Ari Wibowo. Alhasil, banyak anak-anak muda di kampung kami menggunakan sendal merk Carvil. Baca lebih lanjut

#PernikRamadhan: Sebelas atau Dua Tiga?

Oleh: Wisnu Setialengkana (@naminawisnu)

Salah satu yang sering terjadi bila kita memasuki bulan Suci Ramadhan adalah sebuah pertanyaan:

“Shalat Tarawihnya berapa rakaat? Sebelas atau Dua Tiga?”

Iya kan? Bahkan kita sendiri yang terkadang bertanya hal tersebut.

“Mesjid kita berapa rakaat shalat Tarawihnya tahun ini? Masih sama kaya tahun lalu? Masih dua tiga rakaat?”

Dan setiap tahun pertanyaan ini selalu berulang. Gagal move on? Ah, tidak juga. Saya sih berpendapat itu soal pilihan yang didasarkan oleh keyakinan masing-masing. Termasuk juga dengan mereka yang yakin untuk ikut pilihan keluarga atau sahabat-sahabatnya pada saat shalat Tarawih bareng. Baca lebih lanjut

#PernikRamadhan: Berpuasa di Negeri Singa (Bagian 2)

Oleh: Wisnu Setialengkana (@naminawisnu)

Suasana di Sekitar Masjid Sultan Saat Berbuka

Suasana di Sekitar Masjid Sultan Saat Berbuka

Kali ini saya ingin bercerita mengenai suasana berbuka puasa di sebuah Mesjid di Singapura. Mesjid ini dikenal dengan nama Mesjid Sultan. Mesjid Sultan salah satu mesjid besar di Singapore diantara sekitar 71 mesjid yang menyebar di seluruh kawasan Singapura. Perkembangan mesjid di Singapore semakin hari semakin meningkat, bahkan ada sebuah mesjid di kawasan Woodlands yang yang baru berdiri dengan nama Presiden pertama Singapura yaitu Tun Yusof Ishak.

Di bulan Ramadhan, Mesjid Sultan yang berada di kawasan Kampong Glam merupakan mesjid yang menjadi salah satu pusat kegiatan umat Muslim. Seperti pada umumnya mesjid-mesjid di Indonesia, di Mesjid Sultan ini banyak diselenggarakan kegiatan ibadah dalam rangka bulan Ramadhan. Di sekitaran Mesjid Sultan yang merupakan mesjid pertama di Singapura ini, setiap bulan Ramadhan selalu diadakan bazaar Ramadhan. Dalam tulisan terdahulu, saya sempat bercerita bahwa ada dua bazaar besar di Singapore yaitu di Geylang Serai dan Mesjid Sultan.

Suasana Bazaar Ramadhan @ Mesjid Sultan

Suasana Bazaar Ramadhan @ Mesjid Sultan

Baca juga: Berpuasa di Negeri Singa (Bagian 1)

Perbedaannya antara bazaar di Geylang Serai dan Mesjid Sultan adalah jumlah stand bazaar dan aneka rupa yang diperdagangkan. Bila di Geylang Serai bisa dikatakan hampir seluruh macam ragam pernik Ramadhan yang berkaitan dengan umat Muslim ada, nah kalo di Mesjid Sultan lebih kepada makanan dan minuman untuk berbuka puasa. Dari berbagai macam kueh-kueh ringan, kurma, kebab sampai makanan berat seperti nasi briyani ataupun nasi padang diperdagangkan di bazaar ini. Stand-nya pun tidak sebanyak bazaar di Geylang Serai. Baca lebih lanjut