#PernikRamadhan: Berpuasa di Negeri Singa (Bagian 2)

Oleh: Wisnu Setialengkana (@naminawisnu)

Suasana di Sekitar Masjid Sultan Saat Berbuka

Suasana di Sekitar Masjid Sultan Saat Berbuka

Kali ini saya ingin bercerita mengenai suasana berbuka puasa di sebuah Mesjid di Singapura. Mesjid ini dikenal dengan nama Mesjid Sultan. Mesjid Sultan salah satu mesjid besar di Singapore diantara sekitar 71 mesjid yang menyebar di seluruh kawasan Singapura. Perkembangan mesjid di Singapore semakin hari semakin meningkat, bahkan ada sebuah mesjid di kawasan Woodlands yang yang baru berdiri dengan nama Presiden pertama Singapura yaitu Tun Yusof Ishak.

Di bulan Ramadhan, Mesjid Sultan yang berada di kawasan Kampong Glam merupakan mesjid yang menjadi salah satu pusat kegiatan umat Muslim. Seperti pada umumnya mesjid-mesjid di Indonesia, di Mesjid Sultan ini banyak diselenggarakan kegiatan ibadah dalam rangka bulan Ramadhan. Di sekitaran Mesjid Sultan yang merupakan mesjid pertama di Singapura ini, setiap bulan Ramadhan selalu diadakan bazaar Ramadhan. Dalam tulisan terdahulu, saya sempat bercerita bahwa ada dua bazaar besar di Singapore yaitu di Geylang Serai dan Mesjid Sultan.

Suasana Bazaar Ramadhan @ Mesjid Sultan

Suasana Bazaar Ramadhan @ Mesjid Sultan

Baca juga: Berpuasa di Negeri Singa (Bagian 1)

Perbedaannya antara bazaar di Geylang Serai dan Mesjid Sultan adalah jumlah stand bazaar dan aneka rupa yang diperdagangkan. Bila di Geylang Serai bisa dikatakan hampir seluruh macam ragam pernik Ramadhan yang berkaitan dengan umat Muslim ada, nah kalo di Mesjid Sultan lebih kepada makanan dan minuman untuk berbuka puasa. Dari berbagai macam kueh-kueh ringan, kurma, kebab sampai makanan berat seperti nasi briyani ataupun nasi padang diperdagangkan di bazaar ini. Stand-nya pun tidak sebanyak bazaar di Geylang Serai.

Deretan Kurma yang dijual di Bazaar

Deretan Kurma yang dijual di Bazaar

Stand Kebab di Bazaar

Stand Kebab di Bazaar

Para pengunjung biasanya menyerbu pedagang kurma dan kueh-kueh ringan, karena untuk makanan berat para pengunjung lebih memilih untuk membeli sambil berbuka puasa di restoran-restoran yang juga cukup banyak yang berada di kawasan Mesjid Sultan. Sebut saja Kampong Glam Café, Sultan Cafetaria ataupun Tepak Siren.

minang-storefrontDi sekitaran Mesjid Sultan juga terdapat rumah makan Padang yang saya rasakan benar-benar masakan Padang. Ada dua rumah makan Padang yang saya sukai, yaitu Hj. Maemunah dan Rumah Makan Minang. Rumah Makan Minang adalah penyedia makanan atau catering untuk Departemen Dalam Negeri Singapura dan Singapore Airlines. Menu andalannya salah satunya adalah Tahu Telor. Soal harga di rumah makan ini bisa dikatakan cukup terjangkau.

Kembali ke suasana Ramadhan di kawasan Mesjid Sultan. Di bagian luar Mesjid Sultan menjelang buka puasa, sekitar jam 18 waktu Singapura, biasanya sudah dipenuhi oleh para masyarakat yang memilih berbuka puasa bersama di Mesjid Sultan. Sekitar 400-an porsi makanan berbuka disediakan oleh pengurus Mesjid yang struktur awal nya dibangun sekitar 1826 oleh masyarakat Jawa yang kebanyakan merupakan pedagang awal di Singapura. Mereka inilah yang menjalankan aktivitas perdagangan dengan masyarakat Arab, Boyan dan Bugis sebelum kedatangan saudagar Tionghoa.

Menu makanan berbuka puasa yang disediakan di Mesjid Sultan tidak terlalu beragam bila dibandingkan dengan menu berbuka di Mesjid Nabawi atau Masjidil Haram. Biasanya menu berbukanya adalah nasi briyani dengan ayam dan minuman. Untuk minuman biasanya lebih dari satu macam, yaitu ada teh susu, air teh, dan Sirap Bandung.

Menu Berbuka Puasa di Masjid Sultan

Menu Berbuka Puasa di Masjid Sultan

Sirap Bandung

Sirap Bandung

Sedikit cerita soal minuman Sirap Bandung. Nama minuman yang mirip dengan kota yang sangat saya cintai ini adalah miuman yang terdiri dari susu kental ditambah dengan sirup mawar yang memberikan warna merah mudah. Minuman ini merupakan adaptasi dari susu mawar yang biasa disajikan di India. Dalam bahasa Melayu, seorang kawan saya mengatakan bahwa Bandung memiliki arti ‘pasangan’ dan Sirap adalah sirup. Penamaan minuman ini membuat saya bertanya-tanya: bisakah saya menemukan penjual Sirap Bandung di kota Bandung? Entahlah. Yang ada mungkin Orson ya kalau di Bandung.

Para Jamaah yang Berbuka di Masjid Sultan

Para Jamaah yang Berbuka di Masjid Sultan

Waktu berbuka puasa di Singapura bersamaan dengan adzan Maghrib yaitu sekitar jam 19-an waktu Singapura. Kurang lebih jam 18.30, petugas Mesjid dan panitia berbuka puasa sudah mulai membagikan makanan dan minuman untuk berbuka puasa. Area yang digunakan adalah halaman Mesjid yang dipasang tenda dan meja panjang serta kursi-kursi yang digunakan oleh para masyarakat yang ingin berbuka puasa di Mesjid yang mendapatkan pengakuan dari Pemerintah Singapore pada tanggal 14 Maret 1975 sebagai “national monument”

Bagian dalam Mesjid untuk shalat tidak digunakan untuk kegiatan berbuka puasa. Bila di Mesjid Nabawi atau Masjidil Haram kegiatan berbuka puasa pun dilakukan dibagian dalam mesjid dengan menggelar plastik panjang disetiap shaf sebagai pelindung dari karpet sehingga kebersihannya tetap terjaga.

Di saat masyarakat yang sudah duduk rapi, di bagian dapur Mesjid beberapa petugas sibuk untuk mempersiapkan hidangan berbuka puasa. Ada yang mempersiapkan piring-piring untuk diisi nasi briyani, ada juga yang mempersiapkan minuman dan kemudian membagikannya kepada masyarakat. Sangat jelas terpancar kebahagian dari para petugas dalam mempersiapkan semua kebutuhan berbuka puasa itu. Tak ada kesan lelah di raut wajah mereka.

Di kawasan sekitar Mesjid Sultan, bazaar yang berlangsung pun tak kalah sibuk. Para pedagang terus menjajakan jualannya. Masyarakat yang tidak kebagian untuk berbuka di Mesjid Sultan atau memang memilih berbuka di restoran sekitaran Mesjid juga perlu mempersiapkan diri, karena restoran-restoran yang adapun terkadang sudah penuh. Sama seperti di Indonesia, banyak juga masyarakat Muslim Singapura yang mengadakan buka puasa bersama. Mereka berkelompok dengan keluarganya, rekan sejawat atau dengan para sahabat.

Restoran-restoran di sekitar Mesjid Sultan pada bulan Ramadhan menyediakan meja dan kursi tambahan di bagian luar. Bila kita mendapatkan posisi di luar, justru kita bisa menyaksikan suasana berbuka puasa di sekitar Mesjid Sultan yang jauh lebih menarik. Kita bisa melihat Mesjid Sultan yang bersinar sambil menikmati hidangan buka puasa. Saya sendiri pernah mengalami berbuka puasa di Mesjid Sultan, juga pernah memilih untuk berbuka puasa di restoran yang berada di sekitaran Mesjid Sultan. Sama-sama nikmat. Bedanya kalo di Mesjid Sultan gratis. Itu saja.

Suasana Berbuka Puasa Bersama Keluarga

Suasana Berbuka Puasa Bersama Keluarga

Adzan Magrib berkumandang dan selesailah puasa hari ini. Dengan diiringi oleh doa, saatnya berbuka puasa dimulai.

Selesai menikmati hidangan berbuka, saya pun bersiap untuk melaksanakan shalat Maghrib bersama masyrakat Singapore lainnya. Lepas shalat Maghrib sambil menunggu shalat Isya dan Tarawih, biasanya saya berkeliling di kawasan Kampong Glam ini. Favorit saya sih toko parfum yang berada di depan Kampong Glam Café dan juga toko pernak-pernik yang menjual barang-barang dengan harga miring. Sayangnya kalo sudah sore dan malam, toko mainan yang juga menjadi favorit saya sudah tutup.

Lepas Isya dan Taraweh saya segera kembali ke kostan saya di kawasan Sengkang. Bila tidak terburu-buru saya menggunakan bus nomor 80 menuju Sengkang. Namun bila tergesa, saya memilih menggunakan MRT dari Stasiun Bugis menuju Stasiun Sengkang dimana saya harus berganti line di Stasiun Outram Park.

 

sumber :

http://sultanmosque.sg/

foto-foto :

– Koleksi Pribadi

http://www.faineg.com, untuk foto Rumah Makan Minang

 

Tautan asli: http://wisnusetialengkana.blogspot.com/2015/06/berpuasa-di-negeri-singa-2.html

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s