Merakdampit dan Kegelisahan Para Penggarap Lahan Sewaan

Oleh: Anggi Aldila (@anggicau)

REPUBLIKA.CO.ID, M.A.W Brouwer (1923-1991) seorang dari negeri Belanda yang telah lama tinggal di Bandung, Jawa Barat, pernah berujar “Bumi Pasundan lahir ketika Tuhan sedang tersenyum”. Pernyataan itu menjadi sangat familiar untuk sebagian warga Kota Bandung, terutama bagi yang sering melewati kawasan Asia-Afrika karena terpampang di dinding bawah jembatan penyebrangan, persis di depan Gedung PLN.

Mungkin tidak salah dengan pernyataan tersebut, tidak usah seluruh Pasundan, seputaran Bandung pun selalu menjadi tempat yang cocok untuk memanjakan mata, tidak percaya? Cobalah pergi ke daerah Merakdampit di Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung.

Menyusuri Kawasan Bandung Utara memang tidak akan pernah bosan. Selain soal pemandangan (terutama pemandangan langsung ke Kota Bandung), Kawasan Bandung Utara menyimpan cerita tentang kawasan Danau Bandung Purba.

Sisa-sisa cekungan Danau Bandung atau yang lebih dikenal dengan Patahan Lembang yang masih kita bisa lihat jelas sampai sekarang. Rangkaian pegunungan Palasari yang terbentang dari Maribaya sampai ke Kawasan Parongpong merupakan salah satu bukti tentang Patahan Lembang.

Untuk menuju kawasan Merakdampit ini, ada beberapa pilihan, mau dari kawasan Cicaheum terus naik ke atas lewat Jatihandap atau mau lewat kawasan Dago Pakar. Tim Djeladjah Priangan bersama Komunitas Aleut, memilih jalur dari kawasan Dago Pakar, karena objek soal Bandung Purba banyak kita lewati di jalur ini.

Dari Dago Pakar mengambil jalan ke arah Warung Bandrek , jalur ini juga menjadi jalur favorit untuk para pesepeda. Karena sebelum melakukan perjalanan ini kita terlebih dahulu berkunjung ke rumah Keluarga Ursone.

Maka saat ada warung warga yang berada di atas Dago Pakar kita beristirahat sejenak sambil mendengarkan penjelasan mengenai kawasan Cekungan Bandung dan Bandung Purba dari Ridwan Hutagalung sebagai pendiri komunitas ini.

Kondisi jalan sendiri sebenarnya sudah cukup bagus, ya tidak terlalu rusak dan sudah mulai banyak yang di-cor. Menyusuri bagian bawah Tebing Keraton perjalanan diteruskan menyusuri kampung-kampung yang masih berada di kawasan Cimenyan.

Kami sempat tersesat di Kampung Barutunggul karena mengikuti jalur utama, setelah diberitahu warga maka jalan yang harus diambil adalah jalan yang melewati Kampung Pasanggrahan. Mengambil jalur ke arah Kampung Tugu pemandangan Kota Bandung sudah cukup terlihat jelas, dalam bentuk cekungan tentunya.

Rehat sejenak di Kampung Tugu, mengobrol bersama warga lokal semacam menjadi kebiasaan apabila kami momotoran. Selain menanyakan jalur, sering juga kami menjadi tempat pelampiasan curhat warga lokal tersebut, seperti warga di Kampung Tugu yang curhat soal administrasi yang terkadang harus pergi ke Soreang, Ibukota Kabupaten Bandung.

Memasuki Kampung Buntis sudah mulai banyak terlihat banyak plang penunjuk jalan, terutama yang menunjukkan objek wisata Bukit Bintang, dan jalan rusak mulai kami rasakan. Bukit bintang dilewat begitu saja karena memang bukan tujuan utama.

Akhirnya kawasan Merakdampit tujuan utama ngaleut momotoran sudah tercapai, dan daerah Batu Tarengtong menjadi pemberhentian puncak karena setelah dari situ perjalanan adalah perjalanan pulang. Di Batu Tarengtong itulah kami dapat melihat salah satu tempat yang dikeramatkan, yaitu Keramat Cisebel, yang tahun lalu sudah kami kunjungi.

Baca juga: Catatan Perjalanan: Ngaleut Merakdampit

Di kawasan Merakdampit ini atau mungkin Kawasan Bandung Utara lainnya, sudah banyak lahan yang tidak dimiliki oleh warga sekitar, kebanyakan para warga yang bermatapencaharian sebagai petani ini menyewa lahan yang disewakan oleh orang kaya dari kota, mungkin daripada tidak diurus lebih baik disewakan.

Patok-patok penanda kepemilikan lahan mudah kita lihat di sepanjang jalan yang mungkin tidak pernah disentuh pengaspalan. Kekhawatiran para petani muncul seiiring dengan berkembangnya Kawasan Bandung Utara, karena dengan banyaknya lahan-lahan yang dibuat menjadi tempat wisata maka para petani itu harus bersiap menganggur karena sudah tidak ada lagi lahan yang bisa digarap.

Seperti seorang bapak yang sedang menggarap kebun bawang di Batu Tarengtong yang sudah mendapatkan info soal tanah garapannya yang akan dijadikan kafe oleh pemilik lahan.

***

 

Dimuat di Republika.co.id pada hari Minggu, 30 April 2017

Iklan

Satu pemikiran pada “Merakdampit dan Kegelisahan Para Penggarap Lahan Sewaan

  1. Ping balik: Catatan Perjalanan: Ngaleut Merakdampit | Dunia Aleut!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s