Ngaleut Sinumbra: Bagian 2 (Sinumbra-Cipelah)

Oleh: Warna Sari (@rie1703) dan Chyntiami Ayu Dewi (@chyntiami)

Karena catatannya terlalu panjang, jadi tulisannya dibagi dua saja, masing-masing mewakili kegiatan satu hari. Berikut ini adalah kegiatan hari kedua, Minggu, 21 Mei 2017.

Baca juga: Ngaleut Sinumbra: Bagian 1 (Cibuni Estate)

Benar saja dugaan semalam, pukul 07.30 pagi, rumah ini sudah riuh, ada para penjual gorengan dan sarapan yang berteriak-teriak menawarkan dagangannya, ada penjaja stoberi yang bolak-balik menawarkan stroberi dengan suara kencang dan tak mudah menerima jawaban “Henteu, Mang/Bu.” Beberapa bahan sarapan kami beli untuk dimakan bersama juga, ada nasi, sayuran, lauk-pauk, mie, berbagai macam camilan, dan entah apa lagi. Sambil sarapan, sebagian sudah bergantian menggunakan kamar mandi satu-satunya agar hemat waktu.

Setelah semua siap dan isi rumah sudah rapi kembali, kami sudah berada di atas motor lagi. Oya, walaupun kami menyewa rumah, membayar, tapi membersihkan rumah sudah jadi kewajiban bersama di Komunitas Aleut. Nah, balik lagi ke motor, jumlah peserta sudah bertambah dengan beberapa kawan yang datang susul-menyusul sejak sore kemarin, kami sudah mengarah ke Perkebunan Teh Sinumbra. Sama seperti kemarin, jalanan relatif sepi sehingga perjalanan lancar jaya sampai ke Pabrik Teh Sinumbra. Di jalur jalan ini kami berhenti sebentar menengok patung dada salah satu pejuang perkebunan yang sudah hampir terlupakan, Max Salhuteru. Kondisi patung dada ini semakin mengenaskan saja, pagar besi di depannya copot dan menimpa bagian kepala patung. Pihak sekolah tempat patung itu berada belum membetulkan pagar ini. Siapakah Max Salhuteru? Menurut cerita Bang Alek, Max adalah satu dari empat orang Indonesia yang bertugas mengambil alih perkebunan-perkebunan milik Belanda pada tahun 1957. Baca lebih lanjut

Ngaleut Déwata: Tanjakan, Halimun, jeung Béntang

Oleh: Irfan Teguh Pribadi (@irfanteguh)

Panon poé geus meleték di belah wétan, basa kuring hudang tuluy gura-giru indit ka cai. Minggu, 30 April 2017, kuring saparakanca rék ngaleut ka Déwata. Indit téh tangtu waé kudu isuk-isuk, da ari pabeubeurang mah pamohalan, teuing boa iraha balik deui ka Buahbatu. Cai karasa nyecep kana awak, ma’lum da teu unggal poé kuring mandi isuk-isuk téh, sasarina mah biasa wé mun geus deukeut ka waktu lohor.

Barudak geus jul-jol, sawaréh aya nu anyar, munggaran milu ngaleut. Kira wanci ngaluluh taneuh, rombongan geus siap, nya teu lila bring waé ka belah kidul. Eureun sajongjonan di POM béngsin Sékélimus, teu lila tuluy méngkol ka arah Batununggal, mapay Mengger, tuluy bras ka Jalan Mohamad Toha. Palasari, Cisirung, Rancamanyar diliwatan. Wahangan Ci Tarum katempo coklat kawas bajigur. “Tah, ieu Ci Tarum heubeul, mun itu Ci Tarum anyar,” ceuk kuring ka Méy. Nu dibéré nyaho padu ngabetem, sigana keur ngaregepkeun.

Mun momotoran kieu kuring sakapeung sok kapikiran méré ngaran ka motor sorangan nu geus dibabawa kaditu-kadieu. Ti Sedep, Cikajang, Pameungpeuk, Bayah, Cisalak, Brebes, Majenang, jeung patempatan séjénna ku motor kuring geus katincak. Bagéan handapna geus rujad basa diteunggar ku batu sagedé orok di leuweung saméméh Papandayan. Tapi naon kira-kira pingaraneunana? Mun motor Akay geus boga ngaran nyaéta Si Kuya, tapi motor kuring mah nepi ka anyeuna can boga asma. Kungsi kapikiran rék dibéré ngaran “Aya Jalan Komo Meuntas”, tapi panjang teuing, jeung asa kurang merenah wé deuih. Cag, tunda heula sual ngaran motor, anyeuna urang tuluykeun carita lalampahanna.   Baca lebih lanjut

Kau dan Aku Menulis Catatan Perjalanan

Oleh: Arif Abdurahman (@yeaharip)

“Nah, yang kayak gini nih bisa dibikin catatan perjalanannya,” ucap saya dengan kagok, antara kedinginan dan grogi.

Hanya ada gelap di depan sana. Kami harus balik kanan setelah sadar jalan menuju Patuahwatee yang keluar ke Kawah Putih enggak memungkinkan untuk ditembus. Kami sudah dibuat gila, tapi kegilaan kami belum cukup edan untuk memutuskan bunuh diri berjamaah melewati jalanan itu. Maka tidak bisa tidak, jalur pergi harus disusur kembali. Bedanya, ini sudah malam. Hanya ada gelap. Gelap dan rasa cekam. Namun aleutan motor yang mengular begitu rekat dan perempuan yang ada di jok belakang membuang waswas dan menambah awas saya.

Bukan hanya gelap, tapi dingin. Kemeja flannel biru kotak-kotak cocok untuk dipakai pergi kencan, tapi tidak untuk menghadapi serangan dingin Ciwidey. Solusi menumpas dingin paling ampuh saat itu, ini murni alasan fisiologis, tentu saja pelukan. “Urang cuma pake flannel teh buat modus,” canda saya. Tapi dia menolak, malu-malu tapi mau. Karena sweater bermotif tribal saya kira sama tak terlalu fungsional. Hanya dingin yang memeluk. Anehnya, saya memang dingin, tapi tak terlalu kedinginan. Perlu disyukuri pula, lewat dingin ini membantu meredakan rasa sakit di pergelangan tangan kanan karena sebelumnya jatuh di Leuweung Datar. Ada gelap, juga dingin. Dingin yang menghangatkan. Baca lebih lanjut

Merakdampit dan Kegelisahan Para Penggarap Lahan Sewaan

Oleh: Anggi Aldila (@anggicau)

REPUBLIKA.CO.ID, M.A.W Brouwer (1923-1991) seorang dari negeri Belanda yang telah lama tinggal di Bandung, Jawa Barat, pernah berujar “Bumi Pasundan lahir ketika Tuhan sedang tersenyum”. Pernyataan itu menjadi sangat familiar untuk sebagian warga Kota Bandung, terutama bagi yang sering melewati kawasan Asia-Afrika karena terpampang di dinding bawah jembatan penyebrangan, persis di depan Gedung PLN.

Mungkin tidak salah dengan pernyataan tersebut, tidak usah seluruh Pasundan, seputaran Bandung pun selalu menjadi tempat yang cocok untuk memanjakan mata, tidak percaya? Cobalah pergi ke daerah Merakdampit di Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung.

Menyusuri Kawasan Bandung Utara memang tidak akan pernah bosan. Selain soal pemandangan (terutama pemandangan langsung ke Kota Bandung), Kawasan Bandung Utara menyimpan cerita tentang kawasan Danau Bandung Purba. Baca lebih lanjut

Pak Dayat dan Pasar Buku Suci

Oleh: Irfan Teguh Pribadi (@irfanteguh)

DSCN4156

Tadi pagi seorang kawan mengabarkan bahwa Toko Buku Djawa yang berada di Jl. Braga tutup! Ya, bukan tutup sementara, tapi permanen. Dia melihat buku-buku diangkut ke dalam mobil, entah mau pindah ke mana. Toko buku yang dijaga si mbak yang kurang ramah ini akhirnya menyerah. Ada sekira tiga kali saya singgah ke sana, membeli beberapa buku sejarah dan mendapat berkah senyuman si mbak meskipun minimalis. Rasanya baru saja kemarin saya menyaksikan Toko Buku Eureka di Rawamangun dan Depok meregang nyawa, sekarang ada lagi kantong literasi yang tumbang.

Itu boneka siapa?

Itu boneka siapa?

Seminggu ke belakang, saya juga mencium aroma kematian—bukan hanya toko buku, tapi pasar buku! Terletak di lantai 2 Pasar Cihaurgeulis yang kumuh, siapa pun akan prihatin begitu berkunjung ke Pasar Buku Suci. Sudah lama saya mendengar ihwal kantong literasi ini, namun entah kenapa perlahan hilang dari perhatian dan ingatan. Baru-baru waktu membuka FB, ingatan yang tercecer itu timbul kembali. Pada sebuah akun FB, seseorang mengabarkan bahwa bahwa salah satu tokoh buku yang pernah berniaga di Suci telah meninggal dunia.

Adalah Pak Dayat orang yang banyak dikenang itu. Saya tidak pernah bertemu dengannya, apalagi mengenalnya secara pribadi. Tapi dari sejumlah obituari koleganya, saya membayangkan beliau adalah orang yang bersahaja-berkawan. Pada Pesta Buku Bandung yang berakhir tanggal 5 Februari kemarin, kabar duka tentang Pak Dayat pun saya temui di “koran” mini Lawang Buku. Di sana menyebutkan bahwa almarhum sempat berkiprah di Pasar Buku Suci.

Kondisi pelataran

Kondisi pelataran

Jejalin kabar inilah yang akhirnya menyeret saya untuk mengingat kembali Pasar Buku Suci, dan menyempatkan diri untuk mengunjunginya. Sekira pukul 13.15 wib saya sudah sampai di parkiran motor Pasar Cihaurgeulis yang kumuh. Dengan kondisi seperti ini mulanya saya ragu, apakah benar di sini tempat menjual buku? Namun keterangan dari tukang parkir, dan tulisan yang tertera di sebuah bangunan sekarat akhirnya menyakinkan saya, bahwa ya memang di sinilah tempatnya.

Telah puluhan kali saya menyambangi Pasar Buku Palasari, meskipun bangunannya sederhana, namun tak pernah saya merasa seprihatin seperti sekarang. Di tangga sebelum pintu masuk saya disambut sebuah boneka yang tergantung. Kalau akhir-akhir ini banyak film horror yang menggunakan boneka, maka apakah ini juga sebuah simbol horor yang lain? Tangga itu ditutupi oleh atap yang hampir hancur. Besi berkarat di mana-mana, dan tali-tali rafia yang terikat.

Lorong gelap

Lorong gelap

Di dalam kios buku berjajar dalam lorong yang agak gelap, namun hanya beberapa saja yang masih buka. “Tos aruih tadi sěp, ah da tiiseun panginten,” kata seorang ibu setengah baya yang kebetulan kiosnya masih buka, sambil memilih-milih buku berbahasa Sunda yang tanyakan. Sudah pulang? padahal jam dua pun belum, pikir saya. “Buku-buku Sunda těh sok dicandakan ku nu daragang di UNISBA, janten ieu mah sesa wě, tah geuning ieu aya Ajip Rosidi,” sambung si ibu sambil memperlihatkan buku karangan sastrawan kelahiran Jatiwangi itu.

Suaminya sedang sibuk membantu seseorang yang tengah menyalakan lampu. Tak lama beliau pun ikut bergabung. “Bapak, uninga Pak Dayat? Saurna mah kapungkur nu ngagaduhan kios Tanah Air, “ tanya saya ke si bapak.  Sejenak beliau terdiam sambil mengingat-ngingat. “Pak Dayat nu dedeganna alit saněs? Nyak kunaon kitu?.” Saya jelaskan ihwal “pertemuan” saya dengan Pak Dayat yang akhirnya membawa saya ke sini.“Innalillahi…. tah kitu yuswa mah nyak sěp, padahal mah da anom kěněh Pak Dayat těh,” wajahnya memancarkan kekagetan, begitu juga istrinya. Di sesela perbincangan, saya sempat mengambil beberapa gambar pasar buku tersebut.

Yang dijual di sini mayoritas adalah buku-buku pelajaran untuk siswa sekolah—dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Waktu saya berkunjung, bisa dipastikan bahwa tidak ada seorang calon pembeli pun kecuali saya. Beberapa pemilik kios yang masih buka nampak berwajah kuyu. Kegembiraan macam apa yang hendak mereka rayakan di tengah barang dagangan yang sepi pembeli? Saya agak manaruh curiga pada lantai yang lumayan bersih, jangan-jangan ini disebabkan karena kurangnya pengunjung.

Setelah mendapatkan lima buku yang diminati dan harganya murah meriah, akhirnya saya pamit. Dari atas nampak lahan parkir yang centang-perenang dan kotor. Genangan air dan sampah bekas orang berjualan ikan masih ada. Aroma di sekitar pasar buku itu jangan ditanya lagi, sebab di bawahnya pasar basah maka bisa dipastikan bau busuk yang khas bertahan sepanjang hari. Dengan kondisi yang menyedihkan ini, Pasar Buku Suci seperti hendak menjemput ajal. Namun semoga saja sangkaan saya itu tidak benar.

Lampu baru nih :-)

Lampu baru nih 🙂

Di sepanjang jalan Suci (Surapati-Cicaheum) atau Jl. P.H.H. Mustofa, memang ada kompetitor yang sangat mumpuni, apalagi kalau bukan Bandung Book Centre. Toko buku yang mulanya terkenal di kawasan Palasari ini kini melebarkan sayap niaganya.  Terletak pada bangunan yang sama dengan Giant Hypermarket,Bandung Book Centre cukup memanjakan pengunjungnya.

Maka bagi Pasar Buku Suci, dengan kondisi tempat yang kurang layak, disertai dengan hadirnya kompetitor yang berpengalaman, bertahan hidup pun kiranya sudah sebuah prestasi. Saya tak hendak menyalahkan kehadiran toko buku yang berdekatan dengan Giant, justeru bagus untuk menopang kebutuhan buku para pelajar yang kampusnya berjajar sepanjang Jl. Suci, namun kiranya renovasi dan penataan ulang Pasar Buku Suci menjadi kebutuhan yang mendesak, mungkin sama pentingnya dengan menghadirkan taman-taman kota yang kini dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. [ ]

Bekas pedagang ikan

Bekas pedagang ikan

Foto : Arsip Irfan Teguh Pribadi

 

Tautan asli: http://wangihujan.blogspot.com/2015/02/pak-dayat-dan-pasar-buku-suci.html