Kampung Rancabayawak, Penjaga Terakhir Blekok di Bandung

Oleh: Anggi Aldila Besta (@anggicau)

image
Kawanan burung Kuntul di Kampung Ranca Bayawak, Kampung ini juga terkenal dengan sebutan Kampung Blekok . foto doc Komunitas Aleut

Mendengar kata “blekok”, pasti ingatan kita sebagai urang Sunda tertuju pada sebuah umpatan kekesalan terhadap seseorang. Padahal, belum tentu mereka yang mengumpat itu tahu apa itu blekok. Jenis burung yang lebih tenar dengan nama Belibis ini memang habitatnya tidak hidup di perkotaan melainkan di daerah pinggiran kota yang masih banyak sawah.

Di pinggiran Kota Bandung, ada sebuah kampung yang bernama Rancabayawak, yang terkenal dengan sebutan Kampung Blekok. Kampung ini terletak di Kelurahan Cisaranten Kidul, Kecamatan Gede Bage. Saya rasa orang Bandung pun sedikit yang tahu soal kampung yang sekarang sudah mulai terkurung oleh derasnya pembangunan di sekitarnya. Daerah yang dulunya adalah lahan persawahan kini berubah menjadi calon perumahan elit.

Toh kondisi ini, tidak menyurutkan niat warga untuk tergiur menjual kawasan tersebut ke pengembang, sekalipun harga tanah warga sudah ditawar mahal. Keinginan untuk melestarikan kampung tersebut sebagai habitat Belekok-lah yang membuat masyarakat enggan menjual tanah mereka. Lagipula, jika mereka menjual tanahnya lalu harus pindah tempat tinggal yang baru, mereka merasa enggan untuk beradaptasi lagi dengan lingkungan yang baru.

Menurut Ujang Syafaat, Ketua RW 02 Kampung Rancabayawak, kawanan burung Belekok ini sudah ada dari tahun 1970-an. Kawasan ini menjadi semacam area istirahat untuk burung Blekok yang sedang bermigrasi di kawasan Asia. Tidak hanya beristirahat, burung – burung inipun mempunyai sarang  dan beranak pinak di kampung ini.

image
Ujang Syafaat saat menerima kunjungan dari @komunitasAleut . Foto doc Komunitas Aleut

Menurut Pak Ujang, saat salah satu wisatawan dari Australia berkunjung ke Kampung Rancabayawak, wisatawan itu berujar bahwa burung yang dia lihat itu adalah burung asli Australia. Wisatawan itu pun takjub dibuatnya, karena kemapuan burung ini yang bisa terbang jauh hingga ke daerah Gedebage. Belekok di daerah ini juga sudah menjadi langganan para peneliti baik dari dalam maupun luar negeri. Mereka meneliti mulai dari aktivitas rutin burung tersebut hingga  dampak kesehatan terhadap manusia.

Apabila dimanfaatkan dengan baik, Kampung Blekok ini sangat potensial untuk menjadi tempat wisata terutama wisata edukatif, karena pengunjung dapat melihat dengan jelas burung Belekok/Kuntul yang sedang bertengger atau baru pulang dari mencari makan. Peran pemerintah sangat diharapkan dalam membantu mengelola kampung ini, apalagi ekonomi kreatif sedang gencar gencarnya digalakan oleh pemerintah. Selama ini masyarakat Kampung Rancabayawak-lah yang swadaya dalam menjalankan program – program kegiatan yang ada di kampung , tidak ada bantuan dari pemerintah. Bersyukur ada dana bantuan dari Pertamina, yang mungkin cukup membantu untuk berbagai kegiatan pelestarian Belekok.

Untuk mengantisipasi menghilangya Blekok dari Rancabayawak, tidak cukup hanya kampungnya saja yang ditata, namun lingkungan sekitar sebagai penunjang burung blekoknya sendiri juga harus diperhatikan. Karena keberadaan blekok sangat tergantung lingkungannya.

Menjadikan Rancabayawak sebagai simbol wisata baru di Kota Bandung sangat mungkin bisa terjadi. Selain akses jalan ke kampung ini sudah sangat baik, penduduk setempat pun sangat ramah terhadap pengunjung. Di kampung ini juga kita bisa menikmati kuliner khas dari Kampung Blekok ini seperti pepes gurusuk.

Promosi wisata yang gencar tentunya harus dibarengi dengan persiapan yang matang, terutama dari segi sosial budaya agar setiap pengunjung menghormati juga warga di sini sebagai tuan rumah. Jangan lupakan pula untuk mengawasi segi komersialnya, karena apabila sebuah tempat wisata yang sudah terlalu komersil lambat laun akan ditinggalkan oleh pengunjungnya.

You’ll Never Walk Alone, Liverbird.

 

Tautan asli: https://tulisansikasep.wordpress.com/2016/08/02/kampung-ranca-bayawak-penjaga-terakhir-blekok-di-bandung/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s