Menikmati Senja di Rancabayawak

Oleh: Hevi Fauzan (@hevifauzan)

IMG_20160802_120324

“Ketika Tuhan berencana, manusia lah yang menentukan.”

Ajakan Komuntas Aleut kali ini tidak mungkin penulis lewatkan begitu saja. Salah satu tempat yang kami kunjungi adalah sebuah tempat tersembunyi di kota Bandung, yang bernama Kampung Blekok. Ya, Kampung Blekok, sebuah nama yang cukup lucu saat didengar oleh telinga orang-orang Sunda.

Di era modern, daerah di kotamadya Bandung ini memang tidak tersembunyi amat. Dengan teknologi GPS dan Google Maps, keberadaan Kampung Blekok dengan sangat mudah ditemukan. Kampung tersebut terletak hanya beberapa ratus meter sebelah barat stadion baru Gelora Bandung Lautan Api. Namun, keberdaannya baru penulis ketahui melalui rekan di Aleut, kerana informasi tentangnya masih sangat kurang, atau sengaja ditutupi untuk dilupakan, entahlah. Hal inilah yang membuat penulis penasaran untuk ikut mengunjunginya, Sabtu, 30 Juli 2016.

Kampung tersebut berada di kawasan bernama Rancabayawak. Bayawak dalam bahasa Indonesia berarti biawak, sebangsa reptil yang masuk ke dalam golongan kadal besar, suku biawak-biawakan (Varanidae), binatang yang juga satu famili dengan komodo.

IMG_20160802_120614

Toponimi daerah Bandung memang kaya dengan nama-nama yg berkenaan dengan air. Tak heran jika di Bandung, kita akan menemukan banyak daerah yang diawali dengan kata “ci” (artinya air), “ranca” (rawa) “situ” (danau), dll. Uniknya, penamaan nama tersebut terkadang dikaitkan dengan nama binatang yang ditemui atau dominan di daerah bersangkutan. Nama-nama seperti Rancaekek, Rancabadak, Rancaoray, Rancamanyar, dll, adalah nama yang sudah tidak asing di pendengaran urang Bandung.

Dari perubahan daerah bernama Rancabayawak itulah, perkembangan sejarah ekosistem dan kehidupan alam kota Bandung bisa dilihat sampai sekarang. Daerah Rancabayawak, yang di dalamnya terdapat Kampung Blekok, adalah salah satu daerah di kelurahan Cisaranteun Kidul, Kecamatan Gedebage, Kotamadya Bandung.

Pada jaman dahulu, bagian daerah bernama Gedebage ini merupakan titik terendah dari Danau Bandung Purba. Seiring dengan menyusutnya danau yang berkelindan dengan sasakala Sangkuriang itu, Gedebage berubah menjadi rawa luas yang bernama Muras Geger Hanjuang.

IMG_20160802_120523

Gedebage, yang berarti kebahagiaan yang besar, kemudian menjadi pesawahan seiring dengan program pemerintah Kabupaten Bandung di akhir abad 19. Kawasan sawah tersebut terbentang dari Bandung hingga Cicalengka. Rancabayawak kemudian berubah menjadi daerah sawah rawa yang menampung air di sepanjang tahunnya.

Keberadaan air yang melimpah ini membuat ikan seperti lele (Clacrias Batachus), betok (Anabas Testudineus), atau gabus (Ophiocephalus Striatus) hidup tenteram di sana. Keberadaan mereka mengundang burung-burung pemakan ikan seperti kuntul blekok (Ardeola Speciosa), kuntul kerbau (Bubulcus Ibis), belibis (Dendrocygna Javanica), bangau (Egretta Alba), kuak malam (Nycticorax Nicticorax), dan kokondangan (Ixobrychus Cinanmomeus) untuk datang berkunjung. Dan sesuai dengan toponimi daerahnya, bisa jadi banyak sekali biawak yang hidup di sana.

Selain itu, daerah ini menjadi tempat yang nyaman bagi burung-burung dari Asia utara untuk bermigrasi. Tercatat burung Tilil (Tringa Hypoleucos), Hahayaman (Gallicrex Cinerea), blekek (Gallinago Stenura), dan tututan (Porzana Pusca), menjadikan Ranca Bayawak sebagai tempat singgah mereka. Keadaan tersebut dapat kita baca dalam artikelnya Johan Iskandar. Dosen biologi dari FMIPA Unpad itu juga menyebutkan, bahwa burung yang sekarang dominan tinggal di Kampung Blekok adalah kuntul blekok dan kuntul kerbau.

Menikmati senja di Kampung Blekok adalah sesuatu yang cukup spektakuler bagi saya. Sebagai orang Bandung, saya menyesal baru mengetahui ada tempat hinggap burung blekok dan kuntul di sana. Senja yang spektakuler, karena saat matahari tenggelam di depan mata, di sudut mata lain, ratusan burung terbang pulang dan hinggap di pohon-pohon bambu di sana. Subhanallah…

IMG_20160802_120732

Kemudian saya sadar, bahwa senja seperti ini entah sampai kapan akan selalu ada di sana. Pasalnya, pembangunan fisik di luar Kampung Blekok sudah mulai masif. Terlihat dari kejauhan truk truk besar dan backhoe yang sedang mengerjakan suatu proyek. Belum lagi, tanah di sekeliling kampung sudah berpindah tangan, walau masih berbentuk sawah dan tanah terbuka.

Dengan sadar, saya mengajak seorang teman untuk kembali ke Kampung Blekok tahun depan. Saya hanya ingin tahu, apakah senja tahun depan, 5 tahun atau 10 tahun ke depan, akan sama dengan senja hari ini? Atau berbeda sama sekali, saat sawah di sana sudah dihabisi?

Arti nama Gedebage, bagi burung-burung dan binatang lainnya bisa berarti sebenarnya, kebahagiaan yang besar. Mereka sebenarnya bahagia tinggal dan hidup di sana. Tapi apalah daya, demi manusia, keberadaan mereka seolah dikucilkan kemudian coba dilupakan, sesuatu yang memang menyakitkan.

 

Tautan asli: https://hevifauzan.wordpress.com/2016/08/02/menikmati-senja-di-ranca-bayawak/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s