#PojokKAA2015: Wajah Baru Kelakuan Lama

Oleh: Yudha Bani Alam (@yudhaskariot)

Kemeriahan menjelang Konferensi Asia-Afrika di Bandung sangat terasa bukan hanya karena Bandung sebagai tuan rumah dan tempat berlangsungnya Konferensi Asia-Afrika pertama pada tahun 1955. Kemeriahan ini ditandai dengan perombakan secara besar-besaran terhadap kawasan di sekitar Gedung Merdeka dan Museum Konferensi Asia-Afrika. Salah satunya adalah Jalan Cikapundung Timur yang dulunya merupakan jalan menuju Jalan Naripan.

Sekarang, jalan tersebut telah mempunyai wajah baru yang sangat berbeda dari sebelumnya, walaupun pembangunannya masih terus berjalan sampai sekarang. Jalan ini nantinya tidak lagi digunakan sebagai jalan raya namun sebagai jalan untuk pejalan kaki. Kendaraan roda dua atau empat dilarang melintas di jalan ini.

Suasana Malam di Jalan Cikapundung Timur

Suasana Malam di Jalan Cikapundung Timur

Wajah baru jalan ini tidak dibarengi dengan tingkah laku yang baru oleh masyarakat yang sedang menikmati suasana di kawasan ini. Ditemukan beberapa gelas-gelas dan botol-botol plastik bekas minuman serta teman-temannya tergeletak begitu saja ditinggalkan oleh para penikmatnya. Terlihat pedagang minuman, baik itu minuman kemasan maupun kopi seduh.

Memang di sekitar jalan Cikapundung Timur belum ada tempat sampah dan pembangunannya belum mencapai seratus persen.Tetapi setidaknya sikap masyarakat terhadap hal-hal yang seperti itu sudah memiliki kesadaran untuk menjaga kebersihan dan kenyaman di mana pun kita berada dan khususnya di wajah baru Jalan Cikapundung Timur. Pasti akan ada yang membersihkan kawasan Jalan Cikapundung Timur ini, namun alangkah indahnya apabila masyarakatnya sendiri yang sadar akan kebersihan dan kenyamanannya.

Gelas-gelas Bekas Minuman di salah satu titik di Jalan Cikapundung Timur

Gelas-gelas Bekas Minuman di salah satu titik di Jalan Cikapundung Timur

Saya berhasil mewawancarai dua orang pengunjung di kawasan Jalan Cikapundung Timur. Keduanya bernama Fadilah dan Nurul yang berasal dari Jalan Pahlawan. Keduanya baru pertama kali mengunjungi kawasan Gedung Merdeka setelah mengalami perubahan. Di mata keduanya, pemandangan baru di kawasan Gedung Merdeka memiliki kesan yang bagus. Bangku-bangku yang ada bisa digunakan untuk berkumpul dengan teman-teman dan Jalan Cikapundung Timur yang menjadi lebih baik daripada sebelumnya.

Saat disinggung mengenai gelas-gelas plastik bekas minuman yang tergeletak begitu saja, mereka mengatakan bahwa sudah banyak melihat gelas-gelas plastik lainnya yang tergeletak seperti itu. Mereka juga lebih menekankan pada kesadaran masyarakatnya itu sendiri. Keduanya juga berharap adanya tempat-tempat sampah di sekitar kawasan Gedung Merdeka apabila nanti pembangunannya sudah rampung seratus persen.

Saat ditanya apakah mereka akan berkunjung kembali ke kawasan Gedung Merdeka, mereka menjawab iya dengan syarat: kawasan Gedung Merdeka khususnya Jalan Cikapundung Timur bebas dari pengamen dan pengemis agar terasa lebih nyaman dan tertib. Memang kawasan ini berpotensi menjadi lahan basah bagi mereka. Saya juga sempat melihat seorang pengamen yang sedikit memaksa pada pengunjung yang sedang duduk di depan gedung Nederlandsche Handel Maatchappij N.V.

Selain gelas-gelas dan botol-botol plastik, ada hal lain yang membuat saya tercengang melihatnya. Tepat disebelah kiri jalan yang dekat jalan masuk yang dulunya tempat pakrir bis di Jalan Cikapundung Timur, terlihat seorang ibu-ibu dan kedua anak perempuannya yang masih kecil sedang berdiri menghadap sungai dan ternyata salah satu anak perempuannya sedang buang air kecil dan berusaha ditutupi oleh ibu nya serta kakak perempuannya agar apa yang dilakukan sang adik tidak terlihat oleh banyak orang yang ada disana. Miris memang tapi itu kenyataannya.

Pemerintah mana pun pasti ingin menata kotanya dengan indah dan rapi. Namun hal itu harus dibarengi pula dengan tingkah laku masyarakatnya yang indah pula. Saya rasa semua keindahan kota itu akan percuma apabila tidak dijaga sendiri oleh masyarakatnya sendiri. Mun lain arurang, deuk saha deui?.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s