Sedikit Cerita dari Ngaleut Mapay Jalan Satapak

Oleh: Hani Septia Rahmi (@tiarahmi)

Biasanya jalan setapak digunakan sebagai jalan potong atau lebih populer dikenal sebagai jalan tikus jika menuju suatu tempat. Tapi dari ngaleut kemaren saya mendapat perspektif baru. Ternyata, jalan setapak ataupun gang itu memilki cerita lain.

Saat ngaleut hari Minggu kemarin, saya & Komunitas Aleut menyusuri Jalan Pangarang dan Jalan Rana. Perjalanan dimulai  dari mulut Jalan Pangarang yang berbatasan dengan Jalan Dalem Kaum. Di sekitar daerah ini banyak dijumpai penginapan dan kos-kosan. Penginapannya beragam, mulai dari hotel melati hingga hotel bintang 3 berdiri disepanjang Jalan Pangarang hingga perpotongan Jalan Rana. Ketika saya membaca beberapa blog backpacker, ternyata daerah tersebut merupakan tujuan para backpacker dalam mencari penginapan murah, selain untuk keperluan lain, hehehe. Sedangkan kos-kosan banyak sekitaran perpotongan Jalan Rana dan Jalan Pangarang, serta di sepanjang Jalan Rana. Kebanyakan kos-kosan di daerah ini diperuntukkan untuk para pekerja dan pegawai yang berkantor sekitar Alun-alun atau di Jalan Asia-Afrika. Bahkan di salah satu kosan tertera tulisan “Khusus menerima pegawai negeri/BUMN”, saya sendiri tidak mengerti kenapa ada peraturan seperti itu.

Teman-teman Komunitas Aleut pun berbelok ke gang sempit. Pada mulut gang tertulis Gang/Jalan Pangarang III. Di bawahnya terdapat petunjuk kurang lebih bertuliskan UKM Pembuatan Boneka. Saat menyusuri gang-gang sempit di sekitar Jalan Pangarang, saya juga sekilas melihat pengrajin perhiasan logam. Perjalanan ngaleut berlanjut dan akhirnya berhenti di sebuah rumah yang bertuliskan “A. Ruchiyat Wooden Puppet and Mask”. Wow, ternyata di antara gang di tengah kota Bandung tersembunyi pengrajin wayang golek! Cukup unik bisa menemukan pengrajin wayang golek di sini,  karena pengrajin wayang golek di daerah Bandung lebih dikenal berada di Jelekong, Baleendah, Kabupaten Bandung.

Di sini saya dan Komunitas Aleut berkenalan dengan Pak Tatang Haryana, pengrajin sekaligus pemilik bengkel wayang golek ini. Beliau merupakan anak dari A. Ruchiyat yang namanya tertera di dinding rumah. Di halaman rumahnya yang tidak begitu luas, berdiri sebuah sanggar yang bernama Sanggar Pitaloka. Selain tempat pembuatan dan penjuakan wayang, dipamerkan juga wayang-wayang hasil karya Pak Tatang, A. Ruchiyat dan Aki Soma yang bisa dibeli. Hasil karya dari sanggar ini tak hanya wayang golek saja, namun juga wayang klithik serta pernak-pernik yang masih berhubungan dengan tokoh wayang seperti gantungan kunci, pulpen, hiasan kulkas, topeng, dan juga pajangan hewan yang lucu-lucu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s