Sejarah Perkebunan dan Pertanian di Bamboo House, Cimurah, Karangpawitan, Garut

          Minggu lalu saya ikut satu perjalanan literasi (momotoran) Komunitas Aleut dengan rute Sumedang – Darmaraja – Wado – Malangbong – Cibatu – Karangpawitan – Garut. Dari banyak tempat singgah, termasuk Cadas Pangeran dan kunjungan ke rumah pengasingan Tjoet Njak Dhien Baca lebih lanjut

Terjerat Puncak Eurad

WhatsApp Image 2018-11-25 at 6.05.54 AM

Oleh: Ariyono Wahyu Widjajadi (@A13xtriple)

Neng Rahmah terjerat tipu daya Gan Andung. Terpikat bujuk rayu Sang Jejaka justru membuat hidupnya tersiksa dan sengsara. Cinta buta membuatnya tega meninggalkan kedua orang tua yang sebenarnya melindunginya dari pesona dusta Si Durjana.

Nasib kemudian menyeretnya hingga tiba di Puncak Eurad, batas antara Bandung dengan Karawang. Baca lebih lanjut

Sepanjang Jalan Dewa(ta)

Sepanjang jalan dewata 1

Hutan Gunung Tilu | © Komunitas Aleut

Oleh : Rulfhi Alimudin Pratama (@rulfhi_rama)

Pedati kerbau berjalan di jalanan tengah hutan Gunung Tilu. Roda besi pedati menggilas tajamnya bebatuan. Benturan roda besi dengan bebatuan menghasikan dentuman suara. Suara yang memecah kesunyian hutan Gunung Tilu. Pedati itu membawa teh hijau hasil dari perkebunan teh Dewata menuju Rancabolang. 17 Km harus ditempuh menembus lebatnya hutan Gunung Tilu melalui jalan berbatu. Hamparan batu tersebut sengaja dihampar sebagai pelapis perkuatan jalan. Jalan tersebut dikenal sebagai jalan makadam.

Mendengar jalan makadam sontak melambungkan ingatan saya kepada mata pelajaran konstruksi jalan. Salah satu mata pelajaran yang saya ikuti ketika menempuh Baca lebih lanjut

Catatan Perjalanan : Ngaleut Dewata 2

P_20180303_142237_PN

Perkebunan Teh | © Tegar Sukma A. Bestari

Oleh: Tegar Sukma A. Bestari (@teg_art)

Dikejauhan kabut mulai turun, perlahan menyelimuti perbukitan sebagai tanda hari sudah mulai sore. Hari itu, pukul 16.30 saya duduk ditemani kucing kampung berwarna abu-abu yang dekil dan tidak terurus namun cukup gemuk. Sebenarnya saya sedang menunggu satu-satunya penambal ban di kawasan ini. Di sini penambal ban adalah profesi sampingan sehingga saya harus menunggu sang tukang hingga waktu kerja usai.

Biasanya semua pekerja pulang pukul 16.00, namun khusus hari itu ada pekerjaan tambahan bagi penambal ban. Saya sabar saja menunggu, toh tidak ada pilihan lain karena untuk keluar dari kawasan kebun teh ini harus melewati 18km dengan jalan yang bisa merusak motor. Sambil sesekali melihat jam tangan saya memperhatikan Baca lebih lanjut

Dewata yang Membawa Luka, Tawa, dan Was-was

Imajinasi di Dewata

Petualangan Menuju Dewata | © Fan_fin

Oleh: Hendi “Akay” Abdurahman (@akayberkoar)

“Kay, ban tukang kempes,” sahut Ervan setengah berteriak. Saya memperlambat laju motor. Kania, partner saya dalam Perjalanan Ngaleut Dewata jilid 2 ini, mengingatkan saya agar menepi jika menemukan tukang tambal ban. Saya mengangguk pertanda mengiyakan.

Hujan yang turun dari pagi membuat jalanan basah dan licin. Tak berapa lama, Kania menepuk pundak dan menyuruh saya untuk berhenti karena dia melihat tukang tambal ban. Entah sedang melamun atau justru terlalu serius berkendara, saya kaget dan menarik handle rem secara mendadak. Motor tersungkur, saya dan Kania meluncur. (Wah, kalimat terakhir berima nih) Hahaha… Baca lebih lanjut

Catatan Perjalanan: Akhirnya sampai Dewata!

Akhirnya sampai Dewata

Kawasan perkebunan teh Dewata

Oleh: Amanda Nafisyah (@nafisyamanda)

Pagi itu tanggal 3 Maret 2018 Komunitas Aleut mengadakan kembali kegiatan momotoran ke Perkebunan Teh Dewata. Ini kali kedua, setelah kali pertama kami tak berhasil menginjakan kaki di tanah Dewata karena beberapa alasan. Untuk momotoran Dewata kali ini aku yang sudah mendaftarkan diri dua hari sebelum hari H. Tepat pukul 05.05 WIB dering telpon membangunkanku. Ternyata itu telpon dari Rizka.

“Halo Riz, maaf aku baru bangun hahahaha”

“Iya Man, Nisa juga udah aku bangunin. Haha”

Padahal malam sebelumnya aku yang menyanggupi untuk membangunkan mereka berdua pukul 04.30 WIB. Tapi aku gagal. Ini semua gara-gara selimut! Setelah shalat dan persiapan ok, aku langsung pergi menuju rumah Tintin. Rumah kami yang terletak di Kopo, berada dalam jalur perjalanan rombongan dari Kedai Preanger ke Dewata Baca lebih lanjut

Sepotong Cerita Ngaleut Rancabali

Rombongan Aleut ngaleut Rancabali

Rombongan Aleut ngaleut Rancabali. Photo Mariana Putri

Oleh: Mariana Putri (@marianaaputri)

Hari minggu kemaren aku mengisi waktu bareng Komunitas Aleut dalam kegiatan ngaleut.  Judul ngaleut  kali ini adalah ‘Ngaleut Rancabali”. Kami mengunjungi Kampung Rancabali dan kompleks perkebunan teh yang erat kaitan dengan Max I. Salhuteru, salah satu tokoh yang berjasa dalam nasionalisasi perkebunan teh Sperata dan Sinumbra di Ciwidey, tahun 1957. Di Rancabali pula, Max I. Salhuteru dimakamkan.

Selain mengunjungi makam Max I. Salhuteru, kami pun mengunjungi sebuah patung dada Max I. Salhuteru yang berada di Ciwidey. Kondisi patung sudah tak terlalu terawat. Baca lebih lanjut

Perkebunan Kertamanah yang Kembali Hidup

Muka Kertamanah 1949.png

Pabrik Kertamanah 1949 (Arsip foto HA. J. JonkerSecretary of Economic Affairs J. Van Baalen)

Oleh: Vecco Suryahadi (@veccosuryahadi)

Pada tahun 1949, pabrik dan perkebunan di Kertamanah terlihat sibuk dan ramai. Lebih dari 400 orang berkumpul di halaman pabrik. Banyak mobil dan kereta kuda terlihat nangkring di halaman Pabrik Teh Kertamanah. Perkebunan Kertamanah terlihat hidup kembali.

Kenapa disebut hidup kembali? Untuk menjawab pertanyaan itu, mari kita mundur mulai dari era pendudukan Jepang di Hindia Belanda atau sekitar 6-7 tahun lalu. Baca lebih lanjut

Surat dari Kertasarie Untuk Merdeka

Oleh: Hendi “Akay” Abdurahman (@akayberkoar)

Hendi, Manda, dan motor jadulnya

Hendi, Manda, dan motor jadulnya

Dear Deka…

Kita sudah lama berada di sini, di Bandung. Kota yang kita cintai, kota yang penuh dengan memori. Aku yakin, kecintaanmu pada kota ini begitu besar, sama halnya denganku. Bagaimana tidak, kita sama-sama angkatan 1900-an bukan? Hehehe… Kita merasakan pahit dan manisnya perkembangan zaman, dari zaman kolonial sampai zaman milenium sekarang. Selain itu, yang bagiku menggelitik, kita masih diberikan umur untuk menyaksikan orang-orang beradu argumen tentang letak geografis kita. Kau yang berada di pusat kota, menjadi penanda kesombongan sebagian orang untuk sekedar bilang “Aku masih masuk anak kota, bukan Bandung”. Padahal aku dan kau tak pernah mempermasalahkan hal itu. Kita sama-sama cinta Bandung. Arghhh lucu sekali…

Aku tahu, kau berada di titik keramaian, yang tak jarang menjadi tempat orang-orang untuk berkencan. Dan aku, aku yang berada jauh di selatan, hanya berteman dengan hehijauan. Bahkan orang-orang yang berpapasan denganku seperti lupa untuk sekedar menyapa.

Itu tak terjadi sekarang saja, kau memang sudah ditakdirkan untuk selalu ceria dengan kaki-kaki penuh kemenangan. Coba kau putar lagi ingatanmu ke masa lalu, kau begitu disayang orang-orang Belanda. Kau selalu dikelilingi orang-orang kaya. Groote Postweg dan Bragaweg bagian selatan tempat kau menancapkan alamat adalah jalan tersohor. Bandingkan dengan daerah tempatku berpijak yang jarang sekali didekor. Baca lebih lanjut