Sepotong Cerita Ngaleut Rancabali

Rombongan Aleut ngaleut Rancabali

Rombongan Aleut ngaleut Rancabali. Photo Mariana Putri

Oleh: Mariana Putri (@marianaaputri)

Hari minggu kemaren aku mengisi waktu bareng Komunitas Aleut dalam kegiatan ngaleut.  Judul ngaleut  kali ini adalah ‘Ngaleut Rancabali”. Kami mengunjungi Kampung Rancabali dan kompleks perkebunan teh yang erat kaitan dengan Max I. Salhuteru, salah satu tokoh yang berjasa dalam nasionalisasi perkebunan teh Sperata dan Sinumbra di Ciwidey, tahun 1957. Di Rancabali pula, Max I. Salhuteru dimakamkan.

Selain mengunjungi makam Max I. Salhuteru, kami pun mengunjungi sebuah patung dada Max I. Salhuteru yang berada di Ciwidey. Kondisi patung sudah tak terlalu terawat. Setelah melihat patung dada Max I. Salhuteru, kami mengganjal perut dengan kue balok legend dan teh Sinumbra, lalu melanjutkan perjalanan untuk makan siang di sisi Situ Nyonya. Setelah menuntaskan makan siang dan menikmati panorama sekitar Situ Nyonya, kami melakukan perjalanan pulang dengan melewati jalan yang langsung menghubungkan ke kawasan Glamping Lakeside. Seperti biasa, sehabis ngaleut, aku makin sadar bahwa aku banyak engga tahunya. (ana/upi)

***

Kondisi Jalan Ngaleut Rancabali. Photo Windi

Kondisi Jalan Ngaleut Rancabali. Photo Windi

Oleh: Windi  (@aozora_dee)

Hari ini jarambah lagi sama komunitasaleut ke makam Max Salhuteru, sang Administrateur perkebunan teh Rancabali. Terus makan kue balok di Sinumbra kemudian lanjut terus momotoran sampai ke Situ Nyonya, botram. Setelahnya ke Glamping Lakeside yang lagi hits di ig sampai² hashtagnya berterbaran di explore. Abis itu kaki mulai lemes dan lebih baik selonjoran sebentar karena momotoran di jalur makadam yang panjang bukan hal mudah. Apalagi kendaraan yang digunakan adalah motor matic standar

Udah gitu aja? Enggaklah. Masih ada lanjutan ceritanya ko.

Lanjutan cerita, selain ke makam Max I Salhuteru, kami juga ke mampir ke salah satu spot wisata yang kata teman mah sukses menarik banyak turis ke tempat ini dan membuat arus kendaraan meningkat tajam apalagi saat² libur dan akhir pekan.

Sebenarnya tidak berniat masuk ke area sana tapi berhubung sedang ada di sana ya kami manfaatkan kesempatan.
Kesan pertama melihat tempat ini adalah mewah dan ramai. Harga +-2jt/malam untuk sewa satu tenda menurutku relatif mahal. Entah menurutmu. Belum lagi ada area² bertarif lainnya yang enggak kalah bagus. Fasilitas yang nyaman dan bikin betah memang sesuai dengan jumlah uang yang dikeluarkan. Mungkin jika kau sedang kaya, tempat ini bisa jadi opsi liburan di Bandung

Masih di tempat ini. Salah satu spot foto populer di tempat ini adalah Pinisi Resto. Sebuah resto yang didesain menyerupai sebuah perahu Pinisi terdampar di pegunungan. Selain makan, kau juga bisa berfoto dengan latar pemandangan kebun teh dan Situ Patenggang serta gunung² yang mengelilingi Bandung Selatan. Pinisi Resto saat itu terlihat sedang sangat banyak pengunjung. Dari arah aku mengambil foto, suara gaduh pengunjung masih bisa terdengar jelas dan bikin geleng² melihat berdesak-desakannya orang²

Kontras denganku dan teman². Alih-alih masuk ke tempat yang sudah tersedia senyaman mungkin, kami malah masuk ke semak² pohon teh, menyusuri kampung² di sekitar Rancabali, berpanas² di tengah pematang kebun teh dan bersusah payah memacu kendaraan di jalan super rusak. Tidak dengan maksud uji nyali atau uji kekuatan fisik tapi pembelajaran di setiap perjalanan yang di dapat terasa lebih menggoda. Ini masalah preferensi, tentunya. Jika kau tidak sependapat, silahkan. .

Oh, ya, kau bisa cari informasi tempat ini di website mereka. Masukan saja nama Glamping Lakeside Rancabali di mesin pencarian. Ribuan hasil akan muncul di sana. Dan jika kau ingin tahu perjalanan seperti ini lebih lengkap, kau bisa menemukannya di website Komunitas Aleut. Ada banyak catatan perjalanan teman² dan secuil catatan perjalananku. Tidak bagus tapi lumayan untuk dijadikan kenangan. (dee/upi)

Baca juga artikel menarik lainnya mengenai catatan perjalanan

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s