Kepingan Perjalanan Susur Pantai Geopark Ciletuh

Susur pantai Geopark Ciletuh

Susur Pantai Geopark Ciletuh | Foto Komunitas Aleut

Oleh : Ervan Masoem (@Ervan)

Stop crying your heart out

stop crying your heart out

stop crying your heart out

Begitulah akhir lagu dari band Oasis yang berjudul “Stop Crying Your Heart Out.” Bukan saya sedang patah hati, kebetulan saja lagu tersebut berada pada playlist saya ketika itu. Saya mendengarkan lagu ini sembari menunggu hujan berhenti. Dalam hati saya berkata “berhentilah menangis” tentu saja yang saya tuju adalah langit. Langit sore itu terus menjatuhkan tetesan air yang membasahi bumi, padahal pada saat itu juga saya harus segera berangkat ke Kedai Preanger yang menjadi titik kumpul untuk susur pantai Geopark Ciletuh pukul 7.00 malam.

Waktu sudah  menunjukan pukul 6.30 sore tapi tak ada tanda-tanda hujan akan berhenti. Haruskah saya menembus derasnya hujan dengan balutan jas hujan, dan menarik tuas gas lebih kencang dari biasanya sebab Riung Bandung-Buahbatu lumayan memakan waktu, belum lagi dengan kemungkinan macet dan lamanya lampu merah perempatan Carrefour Kircon. Jika saya menunggu sampai hujan reda, saya tak tahu hujan akan berhenti sampai pukul berapa, mungkin saja hujan bisa berlangsung hingga malam dan  mungkin saja saya akan sangat terlambat atau tertinggal rombongan. Baca lebih lanjut

Sepotong Cerita Ngaleut Rancabali

Rombongan Aleut ngaleut Rancabali

Rombongan Aleut ngaleut Rancabali. Photo Mariana Putri

Oleh: Mariana Putri (@marianaaputri)

Hari minggu kemaren aku mengisi waktu bareng Komunitas Aleut dalam kegiatan ngaleut.  Judul ngaleut  kali ini adalah ‘Ngaleut Rancabali”. Kami mengunjungi Kampung Rancabali dan kompleks perkebunan teh yang erat kaitan dengan Max I. Salhuteru, salah satu tokoh yang berjasa dalam nasionalisasi perkebunan teh Sperata dan Sinumbra di Ciwidey, tahun 1957. Di Rancabali pula, Max I. Salhuteru dimakamkan.

Selain mengunjungi makam Max I. Salhuteru, kami pun mengunjungi sebuah patung dada Max I. Salhuteru yang berada di Ciwidey. Kondisi patung sudah tak terlalu terawat. Baca lebih lanjut

Ngaleut Sinumbra: Bagian 1 (Cibuni Estate)

Oleh: Warna Sari (@rie1703) dan Chyntiami Ayu Dewi (@chyntiami)

Ini catatan seadanya aja dari mengikuti kegiatan perayaan ulangtahunan Komunitas Aleut yang ke-11 tanggal 20 dan 21 Mei kemarin ke Sinumbra. Di dalam poster kegiatan yang selalu ada setiap minggu itu, judul Ngaleutnya memang begitu saja, “Ngaleut Sinumbra” ditambah keterangan kecil “Refleksi 11 Tahun Komunitas Aleut.” Pun engga banyak tambahan informasi tentang apa saja yang akan dilakukan selama di Sinumbra. Entah kegiatan seperti apa yang namanya refleksi itu. Paling-paling setelah bertanya langsung ke cp Aleut saja baru dapat sedikit bayangan, itu pun di ujung jawabannya ditambahkan keterangan “Ini rundownnya engga fix kok, bisa tiba-tiba berubah tergantung spontanitas di lapangan nanti.”

Okelah, saya putuskan saja untuk ikut Ngaleut Sinumbra ini. Paling engga, satu kegiatan sudah pasti bisa diikuti, yaitu Kelas Literasi pekan ke-94 yang diberi judul “Sejarah Perkebunan Teh.” Saya suka teh dan saya suka suasana perkebunan teh, dua hal ini sudah cukup jadi alasan buat mengikuti kegiatan Komunitas Aleut di Sinumbra. Lagi pula, seminggu ini pekerjaan di kantor bener-bener padat, dan mengikuti kegiatan Komunitas Aleut seperti biasanya sudah bisa jadi jaminan untuk refreshing yang menyenangkan. Iya, semua kegiatan Komunitas Aleut yang rutin setiap minggu itu memang selalu menyenangkan, nah apalagi kalo edisi spesial seperti ini.

Sabtu pagi, saya dan sekitar 18 kawan lain sudah siap berangkat dari sekretariat Komunitas Aleut di Kedai Preanger, Jl. Solontongan 20-D Buahbatu, menggunakan 10 buah motor biasa, kebanyakan sih motor matik. Jalur yang akan kami lalui sudah diumumkan, yaitu Cibaduyut – Rancamanyar – Cilampeni – Ciwidey – Rancabali – Cibuni dan nanti akan ada kawan lain yang bergabung di sekitar Margahayu. Perjalanan di jalur yang sudah sangat umum ini sangat lancar, engga ada macet atau kepadatan kendaraan kecuali sedikit saja di pusat kota Ciwidey. Katanya jalur biasa ini dipilih supaya cepat sampai di Rancabali dan punya lebih banyak waktu eksplorasi daerah di sekitar perkebunan teh nanti. Baca lebih lanjut