#PojokKAA2015: Ulin Jarambah

Oleh: Arif Abdurahman (@yeaharip)

ulin jarambah

“Omat ulah ulin di ranjěng, aya jurig samak!”

Aya wěh kolot baheula mah, nyaram barudakna těh jeung mamawa lelembut sagala. Tapi da ari budak mah nya langsung ngabuligirkeun maneh tinggal salěmpak pas nempo ranjěng těh. Paduli teuing rěk diculik ku jurig samak ge, nu penting mah bisa guyang jeung munding.

Ah asa resep ngabayangkeun pas masih lehoan keneh těh, kasusah hirup sigana ngan ukur pelajaran Matěmatika. Masih bisa ngalaman ulin jarambah sapertos nu dicaritakeun Us Tiarsa dina “Basa Bandung Halimun”. Pedah ari kuring mah ulin jarambahna di lembur, lain orang Kota. Kuring jadi mikir ari barudak zaman kiwari masih ngalaman teu nya? Baca lebih lanjut

#PojokKAA2015: Anoa yang Tak Sengaja Jadi Pusat Perhatian

Oleh: Arya Vidya Utama (@aryawasho)

Ada pemandangan menarik dalam empat hari terakhir menjelang hari puncak 60 Tahun Perayaan Konferensi Asia-Afrika tanggal 24 April kemarin di Jalan Cikapundung Timur. Alih-alih berfoto dengan kubus yang bergambar tokoh dunia, warga Bandung malah berfoto dengan Anoa.

Tentu saja Anoa yang dimaksud di sini bukanlah binatang Anoa yang merupakan binatang endemik Sulawesi. Anoa di Jalan Cikapundung Timur adalah panser beroda 6 buatan PT Pindad, perusahaan manufaktur senjata asal Bandung. Anoa yang satu ini merupakan ‘binatang endemik’ Bandung. Baca lebih lanjut

#PojokKAA2015: Enam Alinea untuk Alina *)

Oleh: Irfan Teguh Pribadi (@irfanteguh)

Alina sayang, apa kabar? Dari depan Rathkamp, sore ini aku ingin mengirimmu beberapa alinea. Kata, sebagaimana kau tahu, selalu lebih berhasil menarik minatku. Kini, di sini, di tepi Jalan Asia-Afrika yang tengah ramai oleh pengendara dan pejalan kaki, aku mencoba merekamnya dalam redup dan remang bahasa; untukmu. Aku sengaja tidak mengerat dan memotong beberapa gambar, untuk apa? Orang-orang sudah terlampau banyak mengantongi rupa; di depan Gedung Merdeka, tepi Jalan Cikapundung Timur, pinggir sungai yang keruh itu, sekitar monumen Dasasila Bandung, di depan kantor Harian Pikiran Rakyat, dan masih banyak lagi. Mereka mencoba mengawetkan semesta dirinya dalam dekapan yang mulia kamera. Tidak Alina, aku tidak mau mengirimmu keriuhan yang banal itu lewat gambar. Aku ingin mendekatimu dengan kata.

Selepas hujan sore ini, mentari masih malu-malu menampakan diri. Sementara orang-orang justru girang memenuhi ruas trotoar dan sebagian bahu jalan. Arus lalu-lintas tersendat, sesekali klakson bersahutan. Hotel Savoy Homann, de Vries, Visser, dan Gedung Merdeka mulai tersaput temaram. Beberapa saat lagi adzab maghrib akan berkumandang dari Masjid Agung. Menjelang sore dijemput malam, keramaian semakin riuh. Tua-muda, laki-laki perempuan, semuanya menyesaki trotoar yang sudah dipercantik. Baca lebih lanjut

#PojokKAA2015: Asia-Afrika Rasa Gasibu

Oleh: Yudha Bani Alam (@yudhaskariot)

Beraktifitas di minggu pagi memang cukup berat tapi tidak untuk yang berjiwa hidup sehat dan semangat berbelanja di pasar tumpah berkedok olahraga. Namun bagi saya daripada berdiam diri di rumah lebih baik Ngaleut dengan Komunitas Aleut. Ngaleut Minggu pagi ini (19 April 2015) bertema Ngaleut KAA. Saya berangkat dari rumah sekitar jam tujuh kurang lima belas menit, sempat tersendat di beberapa titik yang pada Minggu pagi menjadi titik pasar kaget. Mungkin untuk beberapa orang pasar kaget sudah menjadi hal yang lumrah, termasuk orang tua saya. Ada beberapa titik pasar kaget yang saya ketahui karena pasar kaget tersebut ada di jalur yang biasa saya lewati jika berpergian di Minggu pagi, seperti pasar kaget di Metro sesudah Rumah Sakit Al Islam, di kawasan Samsat yang dekat Carrefour Kiaracondong, dan yang paling terkenal adalah pasar kaget Gasibu.

Siapa yang tidak tahu seberapa terkenalnya pasar kaget Gasibu. Selain karena harga dari barang-barang yang dijual begitu miring alias kelewatan murah, yang menjadikan pasar kaget Gasibu begitu terkenal lannya adalah kepadataannya yang juga luar biasa kelewatan.  Sebelum para padagang di relokasi ke kawasan Monumen Perjuangan Rakyat yang hanya bergeser ke sisi utara dari Lapangan Gasibu, kepadatan di kawasan ini sangatlah parah yang menyebabkan kemacetan 1 kilometer di Jalan Diponogoro dan di Jalan Surapati. Kemacetan ini kadangkala tidak bisa dilewati sama sekali oleh kendaraan roda dua dan roda empat. Ada langkah bagus dan baik pada kepemimpinan Walikota dan Wakil Walikota Bandung yang baru, Bapak Ridwan Kamil dan Bapak Oded Danial yang merelokasi para pedagang di Lapangan Gasibu. Kepadatan mulai terasa berkurang dan tertata rapi tidak sampai memakan ruas Jalan Surapati walaupun kepadatan kadang masih terjadi karena banyaknya pengunjung ke pasar kaget tersebut.

Begitu kagetnya saya ketika sampai di kawasan Gedung Merdeka. Begitu padatnya di kawasan ini pada Minggu pagi kali ini, hal yang tidak pernah saya rasakan setiap berkunjung ke kawasan ini. Mulai dari Jalan Braga Selatan atau Jalan Braga Pendek yang sekarang memiliki B-R-A-G-A nya memulai kepadatan yang terjadi dikawasan ini. Huruf B-R-A-G-A yang terletak di halaman depan Gedung Denis Bank (sekarang Gedung BJB) menjadi salah satu konsentrasi foto-foto masyarakat yang mengunjungi kawasan ini. Dilanjutkan ke jalan Asia-Afrika yang kepadatannya sangat di luar dugaan. Bunyi klakson, deru mesin kendaraan bermotor dan keriuhan masyarakat yang memenuhi trotoar jalan bercampur menjadi satu yang mengingatkan kembali pada masa-masa pasar kaget Gasibu sebelum direlokasi: padat dan macet. Saking padatnya saya harus berjalan memutar dan bertemu kembali dengan B-R-A-G-A yang tadi saya lewati untuk menuju Jalan Banceuy dengan berjalan kaki bersama teman-teman dari Komunitas Aleut. Di depan Hotel Savoy Homann terjadi kepadatan yang menyebabkan kemacetan, sementara di sisi kanan dan kiri jalan ada masyarakat yang berjalan sambil menuntun sepedanya karena begitu padatnya jalan dikawasan ini dan tidak sedikit pula mayarakat yang asik berfoto-foto ria.

yudha7

Kepadatan di Depan Hotel Savoy Homann

Bisa dibilang antusiasme masyarakat terhadap wajah baru kawasan Gedung Merdeka ini sangat tinggi. Antusiasme masyarakat yang sangat tinggi ini pasti memiliki efek domino bagi kehidupan masyarakatnya, mulai dari naiknya index of happiness masyarakat sampai menjadi lahan basah untuk memenuhi kebutuhan ekonomi nya. Keramaian ini menjadi faktor penarik yang kuat untuk mendatangkan teman-teman pengusaha kecil dan menengah ke bawah yang menjajakan dagangan mereka, dari minuman sampai makanan. Ingat apa yang terjadi pada Lapangan Gasibu dulu dan pada Car Free Day Dago?.

yudha9

Kepadatan dan keramaian masyarakat di jalan Asia Afrika

yudha8

Penjual makanan dan minuman di Jalan Cikapundung Timur

Biasanya titik-titik keramaian ini akan berubah wajah dan fungsi awal, awalnya tempat olahraga menjadi pasar tumpah, dulunya ruang terbuka hijau jadi lapak jual-beli, awalnya bersih menjadi kumuh dan dulunya lancar jadi macet. Mudah-mudahan dengan antusiasme masyarakat yang tinggi, tinggi pula antusiasme masyarakat dalam menjaga dan melindungi kawasan ini. supaya tidak ada yang berubah satupun dari wajah dan fungsi awalnya. Itung-itung menjaga agar kita punya warisan untuk generasi selanjutnya dan mencetak sejarah dengan hilangnya pemikiran “liat aja, sebentar lagi juga rusak”.

#PojokKAA2015: Seputar Pengibaran Bendera Negara-negara KAA

Oleh: Deris Reinaldi

Semula jadwal pengibaran bendera negara peserta KAA jatuh di tanggal 18 April 2015, tapi entah mengapa alasannya, jadwalnya dimajukan menjadi tanggal 15 April 2015. Bendera yang dikibarkan terdiri dari 109 bendera dari setiap negara peserta KAA yang dikibarkan oleh Pramuka Kwarcab Bandung, para pengibar ini terdiri dari pelajar SD, SMP dan SMA di Bandung. Upacara terbuka untuk umum, sehingga semua orang dapat melihat proses pengibaran bendera. Upacara pengibaran bendera dihadiri oleh para relawan KAA, pegawai Museum KAA, dan sahabat Museum Konferensi Asia-Afrika. Upacara ini bertempat di Jl. Cikapundung Timur yang kini jalannya menggunakan batu granit serta banyak bangku-bangku untuk nongkrong.

deris1

Para pengibar bendera ini diberi waktu untuk latihan selama dua hari tepatnya dari hari Senin, 13 April sampai Zelasa, 14 April 2015. Dalam latihannya yang singkat ini semangat mereka tak terhalangi semangatnya untuk latihan di tengah cuaca di Bandung yang sulit terprediksi. Patut diacungi jempol, bila perlu dua jempol untuk pengibar bendera negara peserta KAA. Baca lebih lanjut

#PojokKAA2015: Masih “Permak Wajah” Asia Afrika

Oleh: Yudha Bani Alam (@yudhaskariot)

Jumat pagi kawasan Jalan asia afrika terlihat lengang namun menjelang jam 10.00 WIB, kepadatan kendaraan mulai terlihat bahkan cenderung macet apalagi di Jalan Cikapundung Barat yang sekarang menjadi ramai karena menjadi perputaran jalur untuk menuju ke Jalan Naripan yang awal nya berada di jalan cikapundung timur. Pembangunan memang memliki dua sisi, yaitu positif dan negatif. Mungkin kemacetan yang terjadi adalah salah satu sisi negatif nya yang mudah-mudahan bersifat sementara.

yudha1

Suasana di Jl.Cikapundung Barat

Peringatan Bersejarah Konferensi Asia Afrika tahun 2015 yang menginjak usia 60 tahun yang dihelat tanggal 19 April 2015 sampai 24 April 2015 di Jakarta dan Bandung. Persiapan besar-besaran terjadi di Kota Bandung terutama di kawasan Jalan Asia Afrika. Mulai dari penataan trotoar, panambahan bunga-bunga di titik-titik tertentu, pengadaan bangku-bangku dan lampu-lampu jalan yang bercita rasa masa lalu serta adanya bola-bola batu diatas trotoar. Apabila belum pernah lagi menginjakkan kaki di kawasan ini, jangan kaget jika suasana nya begitu berbeda dari sebelumnya. Pengerjaan infrastruktur yang tadi disebutkan sebelumnya masih ada beberapa yang terus dikerjakan sampai sekarang (Jumat, 10 April 2015). Seperti mengecat lampu jalan raya nya dan trotoar serta memotong-motong batu granit yang menjadi alas untuk pejalan kaki diatas trotoar. Penempatan kursi-kursi nya pun sudah mencapai gedung N.I ESCOMTO MIJ Bank (Gedung Bank Mandiri) dan Gedung Jiwasraya namun belum dipermanenkan. Baca lebih lanjut

#PojokKAA2015: Simon Saparakanca

Oleh: Irfan Teguh Pribadi (@irfanteguh)

Kang Simon nu nganggo kaos leungeun beureum

Salah sahiji karesep kuring nyaěta maca buku. Ari kuring sok ngarasa leuwih sugema jeung reugreug lamun seug macana buku nu sorangan meunang meuli, lain meunang nginjeum ti perpustakaan atawa ti babaturan. Di Bandung aya hiji tempat nu sok didatangan ku kuring pikeun meuli buku-buku ngeunaan sajarah Bandung, nyaěta nu dagang buku urut di Jl. Cikapundung Barat, gigireun pisan kantor PLN, deukeut Jl. Asia Afrika.

Ku ayana KAA, nu daragang di sabudeureun Jl. Asia Afrika tangtu bakal ditartibkeun ku pamarěntah. Kang Simon, salah sahiji nu dagang buku di dinya basa ku kuring di tanya ngeunaan hal ěta, anjeunna sasauran, “Kuring mah jeung saparakanca nu daragang di dieu ngadakung pamarěntah waě. Sanajan teu dipiwarang ogě tangtos bakal merěkeun maněh. Enya apanan ieu těh hajat gedě nu diayakeun ku nagara urang, nya tangtu urang kudu ngama’lum.” Baca lebih lanjut

Kenal Kanal Cikapayang

@A13Xtriple

Hari Minggu, 10 November 2013, bertepatan dengan Hari Pahlawan, @KomunitasAleut mengadakan “Ngaleut Kanal Cikapayang”. Mungkin ini sebagai apresiasi dari para penggiat @KomunitasAleut bagi pahlawan lokal Bandung, Raden Adipati Aria Martanagara.

Walaupun hanya bersifat lokal, Bupati Martanagara memiliki banyak jasa bagi kemajuan kabupaten yang dipimpinnya. Kabupaten yang menjadi Kota Bandung kini, sedikit banyak masih merasakan manfaat dari apa yang dibangun Martanagara dalam masa pemerintahannya 1893-1918. Salah satu hasil karya Martanagara yang masih dirasakan manfaatnya adalah jalur kanal yang lebih dikenal dengan sebutan sungai Ci Kapayang.

Kanal atau saluran air ini dibangun oleh Martanagara dengan mengerahkan puluhan penduduk salah satu kampung tertua di Bandung yang letaknya di aliran sungai Ci Kapundung, yaitu kampung Balubur. Diceritakan ketika dalam proses pembangunan di daerah jembatan Ci Kapayang di sebelah utara Pasar Balubur sekarang, proyek ini menelan korban 6 orang meninggal. Kabarnya, karena tempat yang digali tersebut adalah makam kuno yang angker. Itu mungkin kabar mistisnya, namun yang jelas mungkin medan proyek pembangunan kanal yang berat.

Haryoto Kunto dalam bukunya “Wajah Bandung Tempoe Dulu,” menceritakan kondisi kanal ini dahulu tebing pinggirnya masih lebar dan curam dengan air yang deras dan jernih. Derasnya air di aliran Ci Kapayang di daerah Balubur tepatnya berada di depan Rektorat ITB, di sekitar percabangan aliran Ci Kapayang yang ke timur ke arah Gasibu dan ke selatan ke arah Pieterspark.

Aliran Ci Kapayang ke arah Pieterspark yang deras, dahulu sering dipergunakan sebagai arena bermain bagi anak-anak. Jika hari mulai senja, anak-anak bergerombol di aliran Ci Kapayang tersebut dengan perahu yang terbuat dari kayu; di tengah-tengah perahu tersebut ditancapkan sebatang lilin, kemudian dihanyutkan di aliran Ci Kapayang. Anak-anak bergerombol mengikuti kerlap-kerlip nyala lilin di perahu mereka ke arah Pieterspark. Bagi adik-adik kecil yang belum mampu membuat perahu kayu sendiri, mereka memanfaatkan kulit buah dari tanaman cucurutan atau sepatu-dua (sepatu dewa).

Kulit-buah tanaman Ki Acret (Spathodea Campanulata) ini kira-kira panjangnya 15-20 cm, yang bila terbelah dua bentuknya mirip perahu. Dulu kabarnya tanaman ini banyak ditemui di daerah Jl. Sumatera, Jl. Taman Sari, sebelah utara Pasar Balubur, atau sepanjang jalan raya ke Pangalengan. Namun, dalam penelusuran kemarin di daerah Balubur-Rektorat ITB tidak ditemukan lagi pohon Ki Acret tersebut. Mungkin karena daerah Balubur-Rektorat ITB dan daerah Jl. Cikapayang sudah banyak berubah sejak pembangunan jalan layang Pasupati.

Jalan layang yang diresmikan tahun 2005 itu telah mengubah lingkungan aliran kanal Ci Kapayang di daerah Balubur-Rektorat ITB hingga ke daerah lapangan Gasibu. Namun perubahan lingkungan aliran Ci Kapayang juga tercatat sudah terjadi pada tahun 1950-an ketika aliran Ci Kapayang yang masih jernih dan deras airnya itu dipergunakan untuk budidaya ikan dalam keramba yang mengakibatkan pencemaran dan pendangkalan aliran sungai.

Copy of SAM_3365
Tebing sisi sungai Ci Kapayang pada tahun 1980-an sudah berubah dipenuhi rumah dan perkampungan seperti di daerah aliran Ci Kapayang di belakang Apotik Kimia Farma, perempatan Jl. Dago-Jl. Riau. Kondisi tebing aliran Ci Kapayang yang sudah dipenuhi permukiman saat ini bisa juga dilihat di daerah Sasak Gantung, di tebing sisi Ci Kapayang dan Cikapundung.

Selama lebih dari 100 tahun sejak pembangunannya, aliran kanal ini masih dimanfaatkan bagi saluran drainase kota Bandung. Bisa disebutkan kota Bandung masih bergantung pada peninggalan Martanagara ini. Karena rasanya kota yang semakin padat ini tidak lagi membangun kanal sefenomenal Ci Kapayang. Padahal jika hujan lebat selalu terjadi banjir cileuncang menggenangi Bandung.

Kepopuleran dan manfaat dari Ci Kapayang bisa dibuktikan dari masih dikenalnya aliran sungai tersebut bagi masyarakat yang tinggal di aliran kanal tersebut. Seperti ibu-ibu di daerah Taman Hewan, yang mencuci di sumur umum warga, dengan pasti mengatakan jika got selebar 2,5m didepannya adalah Ci Kapayang. Sekelompok anak di Gang Abah Winata di derah yang sama juga memanfaatkan aliran Ci Kapayang untuk berenang.

Copy of SAM_3369
Tak terbayang apakah anak-anak itu gatal-gatal atau tidak, karena sepanjang aliran Ci Kapayang di daerah Taman Hewan, Pelesiran, itu saat ini dipenuhi sampah dan limbah rumah tangga. Seorang teman kuliah yang keluarganya sudah tinggal selama 3 generasi di tepi aliran Ci Kapundung, dengan pasti menunjukkan saluran air di seberang rumahnya di kawasan Sasak Gantung, adalah Ci Kapayang. Bahkan dia menunjukkan di sebelah mana Ci Kapayang bermuara kembali ke sungai Ci Kapundung. Daerah Sasak Gantung (sasak=jembatan; jembatan gantung yang merupakan salah satu jembatan hasil karya Martanagara) adalah satu dari tiga tempat Ci Kapayang bermuara setelah mengalir dari hulunya di Sungai Ci Kapundung, di daerah Lebak Gede.

Ada beberapa pendapat mengapa Martanagara membangun kanal Ci Kapayang. Ada yang berpendapat bahwa Ci Kapayang dibangun sebagai saluran irigasi untuk mengairi ladang dan sawah di kota Bandung, karena pada masa pemerintahannya Martanagara mengintensifkan penanaman singkong yang saat itu sedang naik pasarannya di Dunia. Dalam masa pemerintahaan Martanagara pula luas sawah di Bandung terus bertambah, dari 800ribu bau di  tahun 1896 menjadi 1juta bau di tahun 1912.

Namun mungkin alasan Martanagara membangun kanal Ci Kapayang yang masih jelas terlihat tujuannya adalah untuk  mengalirkan air sungai Ci Kapundung ke daerah-daerah yang tidak dilalui aliran sungai besar, dengan fungsi sebagai aliran drainase baik bagi aliran air tanah, maupun aliran air kotor, sekaligus untuk mengairi taman-taman yang dibangun di Bandung, di antaranya Jubileumpark (Taman Sari), Ijzermanpark (Taman Ganesha), Pieterspark (Taman Merdeka/Taman Balai Kota), Insulindepark (Taman Lalu-lintas), dan Molukenpark (Taman Maluku). Pemerintah kota saat itu membangun taman-taman yang bersifat terbuka dengan salah satu tujuannya adalah menyediakan tempat rekreasi yang murah, sekaligus tempat berinteraksi warga kota baik dengan sesama warga maupun dengan alam.

Sarana rekreasi dan berinteraksi dengan alam inilah yang mungkin sudah sangat berkurang di kota Bandung saat ini. Sehingga warganya dengan usahanya sendiri menciptakan sarana rekreasi bagi dirinya. Bandingkan dengan warga kota baheula yang disediakan taman-taman luas dengan konsep penataan yang jelas, mulai dari tanaman yang ditanam di taman-taman tersebut hingga ke sistem pengairan dengan kanal seperti contoh Ci Kapayang di atas.

Copy of SAM_3269
Gambaran warga kota yang merindukan ruang terbuka hijau inilah yang dapat ditemui di lahan bekas Jubileumpark, di sekitaran Kebon Binatang. Di bantaran Ci Kapundung bisa ditemui seorang bapak yang menyirami bibit tanaman pepaya thailand. Pak Latif, yang bekerja sebagai satpam di sebuah kantor pengacara memperoleh biji pepaya thailand tersebut dari kantor tempatnya bekerja. Karena bertempat tinggal di daerah lembah Jl. Cihampelas yang merupakan pemukiman yang padat dan tanpa lahan untuk bercocok tanam, Pak Latif menyalurkan hobi bercocok tanamnya di bak beton di taman pinggiran Ci Kapundung, tak jauh dari pintu air Lebak Gede.

Dia juga memanfaatkan tanah lahan Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) untuk menanam pohon pepaya yang sudah besar. Warga lain menggunakan lahan di belakang Kebun Binatang Bandung yang dialiri Ci Kapayang untuk membuat kolam ikan, sebagian untuk berternak dan yang lainnya untuk dijadikan kolam pemancingan. Warga kota terus merindukan taman terbuka yang mudah diakses untuk berekreasi dan berinteraksi dengan alam. Bukan taman tertutup seperti yang disebutkan Pak Kunto di bukunya “Taman yang dilihat boleh dipegang jangan”.

Copy of SAM_3263

Merenda Cikapundung dan Pemukiman Padat

Oleh: Nia Janiar (@janiar_)

Pemanfaatan Cikapundung menjadi tema ngaleut Minggu (20/1) yang cerah itu. Berkumpul di Jl. Sumur Bandung, kami berjalan melewati Babakan Siliwangi yang kini sedang terancam keberadaannya sebagai hutan kota yang akan hilang karena rencana komersialisasi lahan. Awalnya, Babakan Siliwangi disebut Lebak Gede (“lebak” artinya lembah) yang daerahnya membentang hingga kampus UNPAD di Jl. Dipatiukur. Di arah utara dari Lebak Gede, terdapat Villa Mei Ling yang merupakan saksi sejarah karena beberapa kali pernah diadakan rapat penyerahan dari Belanda ke Jepang di sana.

Nama Babakan Siliwangi mulai muncul di tahun 1950-an karena munculnya sanggar-sanggar film dan teater. Dari sanggar teater tersebut, terdapat sebuah sosok yang fenomenal yaitu Nurnaningsih karena ia merupakan artis Indonesia yang telanjang di depan kamera. Jika kalian penasaran, filmnya berjudul “Harimau Tjampa”. Kembali kasih.

Di bawah pohon Ki Hujan, Bang Ridwan menjelaskan bahwa Ratu Juliana, ratu Belanda kala itu, ingin membuat tempat peristirahatan di sebelah selatan Lebak Gede pada tahun 1929 namun pembangunan tempat peristirahatan itu tidak pernah terjadi. Alih-alih tempat peristirahatan, mereka membangun sebuah taman bernama Jubileum Park. Mengacu pada konsep Jawa, nama taman ini diubah menjadi Taman Sari atau Kebun Binatang yang dibangun tahun 1930.

Tidak jauh dari Sabuga, terdapat pintu air Lebak Gede yang merupakan saksi sejarah dimana Bupati Bandung kala itu, Martanegara, membuat pintu air dan kanal untuk membagi air ke beberapa daerah di Bandung dan aliran barunya disebut sungai Cikapayang. Pada mulanya kanal-kanal ini berguna untuk mendistribusikan air sungai Cikapundung untuk taman-taman yang ada di Merdeka, Cilaki, dan Taman Ganesha. Pendistribusian air sungai yang terbentuk dari aliran lava Gunung Tangkuban Perahu ini membuat air tidak menumpuk di satu sungai dan meluap. Sayangnya, jalan menuju kanal yang ada di Lebak Gede ini tertutup sampah sehingga aliran airnya tidak terlalu besar.

Image

Kanal Air

Image

Pintu Air

Image

Cikapundung sempat dijadikan tempat wisata bule-bule berpose di atas badan sungai Cikapundung tahun 1930an

Dari seberang sungai, kami ditunjukkan sebuah air terjun kecil yang konon dulu tingginya mencapai 20 meter. Pembabatan pohon-pohon di daerah hulu membuat tanah atau lumpur terbawa air hujan dan ikut aliran sungai yang kini kecoklatan dan membikin sungai Cikapundung mengalami pendangkalan. Bisa dilihat air terjun di bawah ini mencapai hanya sekitar 10 meter saja. Pendangkalan sungai ini bisa menjadi salah satu penyebab banjir.

Image

Kami melanjutkan perjalanan dengan melintasi pemukiman padat Cihampelas yang berdesak-desakkan. Saking penuhnya, rumah-rumah berdempetan. Tidak hanya sisi kanan dan kiri, tetapi juga depan dan belakang–hanya menyisakan ruang satu meter untuk berjalan. Bahkan, ada jalan yang di atasnya terdapat rumah warga sehingga kami layaknya masuk ke sebuah gua. Sungguh menyesakkan.

Image

Image

Image

Aliran sungai Cibarani yang berasal dari sungai Cikapundung

Kondisi tanah yang seperti lembah ini membuat jalan di pemukiman ini memiliki tanjakan dan turunan yang curam. Di bawah pemukiman, bersisian dengan sungai Cikapundung, tanah dibenteng dengan semen dan bebatuan. Di sela batu diberikan pipa-pipa untuk mengalirkan air tanah ke sungai. Jika tidak ada pipa, tentu saja pemukiman Cihampelas ini tinggal menunggu ajal longsor karena tentunya benteng tidak dapat menahan desakkan air tanah.

Image

Benteng yang menyangga

Saya memiliki kecurigaan tentang rumah-rumah yang bertingkat. Alih-alih pindah, sepertinya mereka memilih membuat tingkatan baru untuk diisi dengan keluarga baru. Jadi, mungkin satu rumah bisa diisi beberapa keluarga.

Keluar dari pemukiman padat, kami menemukan sebuah rusun atau apartment yang menjulang di atas tanah tempat Pemandian Tjihampelas yang dibangun tahun 1902 sebagai kolam renang nomer satu di Hindia-Belanda. Sayangnya tempat yang bersejarah dan membanggakan ini harus dihancurkan untuk sesuatu yang tidak meninggalkan apa-apa selain penyedotan air tanah besar-besaran. Sementara itu, di belakang apartment, terdapat beberapa warga yang sedang mencuci. Menurut Bang Ridwan, dulu warga sering mencuci dengan air bekas Pemandian Tjihampelas.

Rupanya, di sisi selatan eks Pemandian Tjihampelas terdapat sebuah jalan kecil yang dulunya merupakan Jl. Cihampelas yang sebenarnya karena banyaknya pohon hampelas yang daunnya bertekstur kasar dan tepinya bergerigi.

Image

Setelah dari sana, kami meneruskan berjalan ke Merdeka Lio yang terletak di antara Jl. Wastukencana dan Jl. Pajajaran. Dulunya ini merupakan perkampungan kuli bangunan yang membuat genteng atau keramik (lio) untuk mengganti atap rumbia. Mereka dibebaskan (atau dimerdekakan) dari pajak. Menurut Reza, koordinator Aleut, “merdeka” juga berasal dari “mardijker” (kaum tentara pribumi bayaran atau Belanda hitam) diambil dari bahasa Sanskerta “mahardika” yang disingkat menjadi “mardika” atau “merdeka”, jadi tidak ada hubungannya dengan kemerdekaan.

Setelah melalui berbagai pemukiman, perjalanan terhenti di Cicendo karena saat itu saya harus pulang duluan namun teman-teman lainnya tetap melanjutkan perjalanan. Sementara teman-teman Aleut! berkumpul di Gedung Indonesia Menggugat, mobil travel membawa saya 147 kilometer menuju barat laut. Jakarta: dengan polemik sungai dan pemukiman yang tak kalah rumit.

Original Post

Ngaleut Ngabaraga Cikapundung (Bagian Akhir)

Oleh : Atria Sartika (@atriasartika)

Setelah singgah sebentar di Masjid Mungsolkanas rombongan Ngaleut Komunitas Aleut kembali menyusuri pemukiman penduduk menuju Pemandian Cihampelas. Namun ternyat saya tidak memperhatikan kata “BEKAS” yang disebutkan sebelum kata “Pemandian”. Karena pembaca, TERNYATA pemandian itu sudah tidak ada dan digantikan dengan pembangunan sebuah apartemen. ARGH kesal rasanya, karena jika mendengar cerita orang-orang yang sempat mengunjungi pemandian atau kolam renang ini, ada sebuah patung Neptunus di pemandian tersebut.  Bahkan kabarnya tahun 1960an kolam renang ini amat terkenal.

 
jalan setapak di samping ex-kolam renang

                                                                                                                                                           Kami sempat berhenti di jalan setapak yang tepat berada di sisi daerah konstruksi bangunan apartemen yang mengambil tempat di bekas tempat Pemandian Cihampelas. Diceritakan bahwa daerah ini disebut Cimaung karena dulu kabarnya di daerah ini banyak Maung atau Harimau. Sedangkan ada juga cerita dari Pak Edi bahwa daerah ini disebut Cimaung karena dulunya daerah ini dipenuhi Bambu dan kabarnya nampang kepala Maung tergantung di bambu. Selain itu diceritakan pula bahwa massive-nya pembangunan di daerah sekitar menyebabkan tertutupnya sejumlah mata air yang dulu ada di sekitar Cihampelas.

Kami kemudian melanjtkan perjalanan. Sepanjang perjalan saya melihat bahwa di sisi kanan saya adalah semacam tanggul benteng yang sering kita temukan yang dibangun permanen untuk mencegah erosi. Namun ternya di sisi kiri saya berjejer rumah-rumah penduduk. Saya memperhatikan rumah-rumah penduduk ini berada di tempat yang illegal sebab seharusnya di bantaran kali dan sungai harus berupa lahan kosong. Akhirnya setelah berjalan cukup lama kami singgah di sebuah lahan kosong di sisi aliran sungai yang lantainya di beton dan sisi pinggirnya dipasangi semacam rang nyamuk. Kami kemudian beristirahat sambil mendengar Om Ridwan bercerita.

Ia bercerita bahwa kini telah dilakukan upaya revitalisasi Sungai Cikapundung. Dibangunnya semacam tebing tanggul di sisi bawah rumah penduduk yang berada tepat dipinggir Sungai Cikapundung. Selain itu dengan mulainya rekreasi air di CIkapundung ikut meningkatkan kepedulian pemerintah untuk menjaga kebersihan Cikapundung dengan mulai merevitalisasinya. Namun sangat disayangkan karena revitalisasi tidak dilakukan dari hulu Cikapundung melainkan hanya disekitar pertengahan sungai Cikapundung, padahal tidak ada gunanya terus menerus menjaga kebersihan di daerah tengah sungai jika sampah, lumpur dan limbah ternak dan manusia terus mengalir dari hulu sungai. Selain itu terlihat juga bahwa tebing bendungan  yang saya sebutkan tadi, kondisinya sebenarnya sudah perlu diwaspadai karena tampaknya air yang terjebak di bawah tanah namun tidak memiliki saluran air kembali ke arah Cikapundung mulai merembet keluar melalui celah-celah tebing tersebut. Hal ini bisa menyebabkan longsor atau bahkan tebing tersebut ambruk.

 
Batu tulis yang diragukan “ketuaannya”

                                                                                                                                                       Setelah istirahat dengan berbelanja berbagai jajanan berakhir, kami pun melanjutkan perjalanan. Setelah menyusuri kembali jalur-jalur rumah penduduk yang padat kami sampai ke sebuah tempat. Awalnya saya bingung, apa yang ingin kami lihat di sana karena saya tidak melihat hal special apa pun. Memang bunyi arus sungai terdengar dan sungai Cikapundung itu sendiri dapat terlihat tapi tetap saja menurut saya tidak ada yang special. Namun ternyata di sana terdapat batu tulis. Menurut masyarakat sekitar batu tulis ini adalah peninggal bersejarah dari zaman dulu. Namun menurut Om Ridwan, berdasarkan upaya perifikasinya melalui tulisan-tulisan yanga ada, batu tulis itu masih tergolong baru. Masih buatan 1900-an karena tulisan bahasa kunonya jelek (ha..ha..alasan yang aneh).

Sangat sebentar kami di batu tulis itu, dan kemudian memutuskan melanjutkan perjalanan hingga kami tiba di bawah jalan layang. Awalnya saya terpana karena pertamakalinya saya benar-benar berada di bawah jalan layang. Mata saya langsung menangkap pemandangan sejumlah mobil yang terparkir rapi di tanah terbuka di bawah jalan layang. Baru kemudian saya menyadari bahwa saya mendengar bunyi aliran air dan merasakan ada angin yang berhembus. Saat melihat orang berdiri kea rah tepi sungai barulah saya melihat bahwa kali ini kami kembali berada di tepi sungai Cikapundung. Kami kembali beristirahat sejenak sambil menikmati angin yang membuai nyaman.

 
istirahat di bawah jalan layang di tepi Cikapundung

Kemudian diceritakan bahwa dua kali daerah ini pernah digusur, terakhir pada saat pembangunan jalan layang ini. Selain itu daerah ini pernah terendam banjir bah yang besar. Yakni sekitar tahun 1945 sebelum peristiea Bandung Lautan Api.  Hal itu karena pihak Belanda membuka semua pintu air sehingga meluaplah sungai CIkapundung. Hal ini dilakukan untuk mengacaukan gerakan laskar lokal yang berusaha merebut kekuasaan dari tentara sekutu.

 
makam Iboe Idjah

                                                                                                                                                              Setelah itu tanpa sengaja rombongan terpisah menjadi dua karena jaraknya cukup jauh. Saya dan sejumlah rombongan kecil mampir sebentar di makam Iboe Idjah yang berada sendirian di pondasi rumah seseorang. Menurut warga sekitar, kuburan tersebut tidak dapat dipindahkan. Selain itu tidak jauh dari lokasi makam Iboe Idjha ada juga perkuburan keluarga yang terletak di dekat masjid dan perkuburan itu dipagari.

Tidak banyak waktu yang kami habiskan di sana. Kami kembali menyusuri pemukiman penduduk dan cukup terkesima setelah melewati kawasan padat penduduk tidak lama kami menemukan sebuah kost yang menurut kami tergolong elit dari segi tampilannya. Sambil berjalan saya berusaha memperhatikan sekitar karena saya pada dasarnya memiliki kemampuan navigasi yang lemah. Setelah sampai di jalan raya barulah saya sadar bahwa kami telah sampai di wilayah Wastu Kencana. Kami kemudian berkumpul di depan Pasar Bunga Wastu Kencana. Saat itu kembali diceritakan kepada kami bahwa sekitar tahun 40’an daerah menjadi salah satu tempat perkuburan di Bandung. Wilayah UNISBA saat ini dulunya merupakan wilayah perkuburan. Selain itu disebutkan pula bahwa di tengah pertigaan jalan dekat Pasar Bunga Wastu Kencana bediri sebuah patung. Patung Engelbert Van Bavervoorde yang awalnya diletakkan di tengah pertigaan jalan itu, namun karena ada seorang anak yang sempat meninggal karena bersepeda dan menabrak patung tersebut, akhirnya dipindahkanlah patung tersebut ke pinggir jalan.

Setelah itu kami melanjutkan perjalanan ke daerah Merdeka Liau. Tempat ini dinamai Merdeka Liau karena dulunya di daerah ini dijadikan pusat pembuatan genteng yang dilakukan oleh budak-budak yang di merdekakan oleh Belanda sehingga mereka pun kadang disebut sebagai Belanda kulit hitam. Mereka juga disebut kaum Mardik. Produksi genteng semakin besar ketika Bupati RAA Martanagara membuat kebijakan bahwa atap rumbai harus diganti menjadi atap genteng.

 
ini Plakat di SMPN 40

                                                                                                                                                                    Di daerah ini kami masuk ke wilayah Kawasan SMPN 40 yang termasuk sebagai salah satu cagar budaya. Tahun 1931 bangunan sekolah ini sudah ada. Awalnya sekolah ini bangun sebagia sekolah praktik bagi Kweekschool yakni sekolah keguruan. Sekolah ini sempat menjadi Sekolah Wanita atau SKP (Sekolah Kepandaian Putri). Beruntung saat kami ke SMP ini adalah Abah Landung yang menjelaskan perihal sejarah sekolah itu. Ia bahkan mengantarkan kami ke bagian yang paling tua di areal sekolah. Yaitu sebuah ruangan yang dulunya berfungsi sebagai ruang arsip.  Akhirnya setelah bercerita sebentar dengan Abah Landung kami kembali melanjutkan perjalanan hingga sampailah kami di jalan Cicendo. Kami ditunjukkan wilayah yang dulunya adalah kompleks pabrik Cina. Hanya sebentar kami di daerah ini. Kami pun segera melangkahkan kaki semakin dekat ke Gedung Indonesia Menggugat. Ada hal yang menarik yakni bahwa sekolah ini memiliki plakat yang isinya menjelaskan tentang jumlah sumbangan yang diterima sekolah ini.

 
Plakat Gedung Indonesia Menggugat

                                                                                                                                                             Inilah finish kami kali ini yakni di Gedung Indonesia Menggugat. Finally setelah cukup lama saya penasaran dengan Gedung Indonesia Menggugat, saya pun bisa menginjakkan kaki ke dalam gedung itu. Gedung ini menjadi saksi ketika Soekarno dan kawan-kawannya di sidangkan dan Soekarno membuat petisi yang berjudul “Indonesia Mengggat” padahal pada tahun itu, tahun 1930, Indonesia sendiri belum ada. Gedung ini sendiri sudah ada sejak 1910, namun baru terkenal pada 1930 yang bersejarah itu.

Akhirnya seperti biasa, sesi ngaleuet Komunitas Aleut hari ini diakhiri dengan sesi sharing. Sharing kali ini hampir semuanya menemukan kesadaran yang sama yakni bahwa kita harus peduli tentang sampah. Sepanjang ngaleut seharian tak henti kami melihat sampah-sampah di sunga Cikapundung dan di daerah pemukiman warga. Hingga akhirnya sebagian besar merasa bahwa kita harus memulai perubahan terkait sampah ini dari diri kita sendiri. Bahkan diusulkan agar Ngaleut nanti bisa sambil mengumpulkan sampah-sampah yang berserakan yang dilewati di jalan. Selain itu sesi sharing mengingatkan kita untuk melakukan perubahan dengan diri kita sendiri dan jangan berharap dan menyerahkan tanggung jawab kepada orang lain terlebih dahulu. Karena kitalah yang pertama kali mengetahui dan menyadari fenomena tersebut sehingga kita jugalah yang harus pertama kali mengambil aksi.

Ah, baiklah mulai hari ini saya harus bertanggung jawab pada pengetahuan saya. Yakni dengan melakukan sesuatu, mungkin bisa dimulai dengan selalu menyediakan kantong kresek khusus untuk sampah di tas guna menampung sampah pribadi saat tidak menemukan tempat sampah. Dan bisa sambil sesekali mengumpulkan sampah di jalan yang ditemukan.
Ya, mari berubah dan melakukan perubahan dengan tangan kita sendiri.

Catatan:
foto-foto dalam tulisan ini adalah dokumentasi pribadi dan foto-foto yang saya ambil dari akun twitter @KomunitasAleut dan @edisetiadi6