Menyusuri Cikapundung Part I (03.05.09)

By : Natasha Dilla A Wijayabrata
“Malam ini aku harus tidur cepat”, pikirku setelah menunaikan ibadah solat isya. Terdengar ketukan seseorang di pintu kamarku. Ternyata ibuku. “Mau dibikinin apa buat besok?”, tanya beliau. “Emm.. apa aja lah!”, jawabku sekenanya. Tiba-tiba ibuku mengeluarkan selembar uang lima puluh ribuan dari dompetnya, “Nih, beli makanan kecil atu jig di Alfa buat besok!”. Segera aku melompat dan menyambar lembaran uang kertas tersebut dari tangannya.

Air mineral, sebotol Love Juice, keripik Lays, kue kesukaan widi (kebetulan aku juga suka), dan permen adalah beberapa item yang kubeli untuk perjalanan aleut besok. Besok, kami akan menyusuri Sungai Cikapundung, mulai dari Babakan Siliwangi sampai Curug Dago.

Setelah menyetel alarm di hape, aku segera memejamkan mata.

Terdengar alunan musik ”Dew” dari hapeku. Aku bangun dari tempat tidur dan hendak memasak air panas untuk mandi. Sesampainya di dapur, aku melihat ada seseorang yang telah mendahului niatku itu. Ibuku yang melakukan hal itu rupanya. Tanpa basa-basi, aku segera kembali ke kamar, tidur lagi…. Zzzzz.

Pukul lima subuh, aku mandi. Setelah sarapan ala kadarnya, aku berangkat menuju Sumur Bandung Straße Nummer vier. Di depan jalan, terlihat chaching sudah menungguku ditemani ayahnya. Setelah berbasa-basi mengenai keterlambatanku, kami segera menyetop angkot menuju kediaman sang koordiantor aleut.

Terlihat sekumpulan orang memenuhi halaman kediaman sang koordinator. ”Assalammualaikum.” teriakku ketika sampai di dekat kerumunan tersebut. ”Dik, dari Unpad ya?” kelakar Bang Ridwan, salah seorang dari kerumunan tersebut. ”heheh.. iya, Pak” jawabku singkat.

Kami dikumpulkan dalam sebuah lingkaran kecil di halaman rumah Ayan, koordinator Aleut. Berdoa adalah hal yang wajib dilakukan sebelum mengerjakan sesuatu. Kamipun berangkat menuju tujuan pertama, ”Circle K”. Bagi teman-teman yang hendak membeli perbekalan, sekaranglah saatnya. Setelah sempat berfoto di depan halaman ”Circle K”, kamipun capcus melanjutkan perjalanan kami.

Tiba di jembatan Babakan Siliwangi, sempat kami berhenti untuk memilih jalan mana yang akan kami tempuh. Jalur kanan sungai adalah jalur yang kami pilih saat itu. Dalam penglihatanku, jalan itu terlihat agak licin. Aku membiarkan Mete jalan di depanku agar bisa ”membimbing”ku ke ”jalan yang benar”. Sesekali aku menyibakkan dedaunan yang menghalangi jalanku. Di depan kami, jalan turunan menghadang. Wah ”ujian pertama”, pikirku dalam hati. Sempat terlintas pikiran untuk ”menyerah” di dalam benakku. Untunglah pikiran tersebut tidak bertahan lama di benakku (maenya we karek ge sakieu geus menyerah, heu). Segera aku menyambut tangan Mete yang sudah menjulur sedari tadi hendak membantuku menuruni turunan tersebut. ”Pake dua tangan ahh!” pintaku padanya seraya menjulurkan kedua tanganku. HAP! Aku meloncat sekuat tenaga. Aku mendarat dengan sukses di dataran tanah basah yang agak licin. Kemudian satu-persatu, pegiat aleut yang lainnya melakukan hal yang sama. Aku tidak menyangka masih ada pemandangan seperti ini di kota besar seperti Bandung. Sawah-sawah, kolam kecil, WC yang hanya ditutupi karung. Pokoknya desa banget deh!

Sampailah kami di sebuah sungai dengan aliran kecil, Sungai Cibarani, begitulah sungai itu disebut. Setelah mendengar sedikit penjelasan tentang sungai tersebut (sebenarnya aku ga ngedenger, da ga kedengeran, hehe), Bang Ridwan memberi pilihan kepada kami semua. Apakah kami akan melanjutkan perjalanan melalui jalanan kering, atau berjalan kukucuplakan, nganclum di sungai yang memiliki terowongan, lebih tepatnya saluran air berupa terowongan mirip gua kecil. Kami semua sangat tertarik untuk melewati terowongan tentu saja. Selain penasaran, manusia kan paling suka maen aer ato ga maen api. Aku sangat ingin kukucuplakan, tapi aku sempat dihinggapi ketakutan kacugak beling, karena perjalanan melalui terowongan air ini, mengharuskanku membuka sepatu, karena aku embung sepatu aku kebasahan. Setelah diyakinkan oleh Bang Ridwan bahwa di sungai ini tidak mungkin ada beling, akupun yakin untuk kukucuplakan. ”Bismillah.” Ternyata kekhawatiranku memang tak menjadi kenyataan. Aku berhasil sampai di ujung terowongan dengan selamat. ”Alhamdulillah.” aku memuji Allah SWT. Di ujung terowongan, aku sempat berfoto untuk bukti bahwa aku pernah melewati terowongan saluran air Sungai Cibarani. Mungkin penghuni tunggal terowongan tersebut sempat mengeluh karena sarangnya agak rusak oleh kami. Yup! Spider webs melintang di sepanjang langit-langit terowongan tersebut.

Perjalanan kami lanjutkan di sisi kiri sungai Cikapundung. Banyak lumpur juga ternyata. Kakiku terjerembab ke dalam lumpur yang untungnya tidak terlalu dalam. Tapi sepatu dan kaos kakiku menjadi korban dari lumpur tersebut, KOTOR! (untung kaos kakinya murah, dapet beli di Paun, hehe). Walaupun begitu, kotor tidak menjadi masalah buatku. Akhirnya sampailah kami di pintu air Limoes ya kalo ga salah. Setelah sempat berfoto-foto, satu-persatu dari kami menaiki tanjakan dengan bantuan seutas tali yang telah dipersiapkan oleh salah seorang dari kami. Sesampainya di atas, kami tak kapok untuk berfoto kembali (iraha deui). Persawahan menyambut kami kembali, setelah sebelumnya kami melewati komplek perumahan yang lumayan bagus. Aku sempat bingung bagaimana cara mereka menembus jalan raya dari sini, karena melihat track yang tadi kami lalui, rasanya sangat mustahil jika mereka melewati track yang kami lalui jika ingin ke kota (kabayang!). Tapi ternyata, ada jalan keluar masuk yang bisa dilalui kendaraan. Oohhh….

Setelah melewati sengkedan-sengkedan, kami bertemu kembali dengan Sungai Cikapundung, kali ini kami melewati jalur disebelah kanannya. Beberapa puluh meter kemudian, kami diharuskan menyebrangi jembatan yang dibuat dari drum-drum minyak bekas (sungguh memprihatinkan). Dilanjutkan dengan melawan arus sungai dibantu dengan seutas tali yang akan membantu menjaga keseimbangan kita. Satu-persatu dari kami melewatinya dengan sukses. Giliranku tiba. Yeay Yippie suksess!! Tetapi hal itu berbanding terbalik dengan teman yang berada tepat di belakangku. Sungguh ironis. Dia tigujubar ke sungai. Entah apa yang membuatnya tigujubar. Air sungai menenggelamkan tubuhnya, dan hanya menyisakan kepalanya. Semua yang dipakai dan dibawanya basah kuyup. Gelak tawa semua pegiat aleut yang melihat kejadian tersebut berhamburan, seakan tak peduli dengan kemalangan yang menimpa salah seorang dari rekan mereka. Tetapi sesungguhnya aku sedih (sedih atau terhibur? Yah, beda-beda tipislah, peace!). Mengapa dia harus mengalami hal yang malang untuk kedua kalinya, heuheu. Untung hape-nya ga rusak lagi. Tak perlu kusebut siapa orangnya. Karena semua sudah tau bukan siapa orangnya. Bahkan malaikat juga tau.

Sampailah kami di warung, yang jika dihitung, itu adalah warung yang ke…. berapa ya? Aku lupa. Beristirahat sejenak dan jajan adalah tujuan utama kami berhenti di warung tersebut. Beberapa dari kami ada yang duduk selonjoran, jajan, minum, ngopi, dan ada juga yang moé awak dan baju yang basah akibat tigujubar di walungan. Perjalanan dilanjutkan….

Singkat cerita, sampailah kami di Curug Dago. Ada pemandangan yang tidak enak buatku ketika sampai disana. Para remaja SMP, istilah sekarang sih ABG, terlihat duduk-duduk di sebuah Gazeebo, asumsiku sih mereka lagi bobogohan. Miris uy ngeliatnya. Mereka kan belum cukup umur untuk bobogohan. Yang lelaki merangkul perempuan di sebelahnya. Ga enak deh ngeliatnya. Males. Yasudlah.

Untuk mencapai curug ini, kami harus menuruni dan menaiki berpuluh-puluh tangga. Kondisinya sangat buruk. Licin, tidak ada pegangan, sangat tidak aman bagi siapapun yang menggunakannya. Di anak tangga terakhir, kami disambut oleh prasasti batu yang bertuliskan aksara Thailand di atasnya. Konon, tempat ini pernah disinggahi oleh Raja Chulalonkorn (Rama V) dan Pangeran Prajathipok Paramintara (Rama VII) dari Thailand. Prasasti ini lumayan terawat, karena dibangun bangunan beratap mirip Gazeebo dan kaca sebagai dinding di sekelilingnya. Di salah satu sisi kacanya, terdapat tulisan yang memberitahukan bahwa tempat itu pernah disinggahi oleh raja dan pangeran Thailand. Ada tiga bahasa kalo ga salah, bahasa Thailand, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris. Sayang sekali, suasana yang didapat kurang begitu dramatis. Curug Dago berkesan biasa saja. Padahal menurut beberapa pegiat aleut yang sebelumnya pernah kesini, ketika itu mereka disuguhi kabut dan embun di sekeliling Curug Dago. Mungkin karena pada perjalanan kali ini, kami ditemani udara yang cukup panas, maka suasana dramatis yang kuharapkan tak muncul pada saat itu. Debit air yang jatuh dari ataspun terlihat kecil.

Saatnya membuka bekal. Waktu makan telah tiba. Tempat yang dipilih untuk makan siang cukup unik, yaitu di pinggiran sungai yang kering. Kabayang mun ada air bah, bisa-bisa kami semua tersapu oleh derasnya air bah, tapi moal mungkin. Sebagian dari kami yang tidak membawa bekal dari rumah, dengan terpaksa membeli makanan yang ada di warung yang tak jauh dari tempat kami makan. Tempatnya PW kata aku mah. Jadi betah diem lama-lama disitu. Tapi kami tak bisa berlama-lama. Segera setelah santap siang dan sedikit ngaso, kami semua beranjak pergi meninggalkan tempat tersebut.

Dalam perjalanan pulang, pemandangan yang disuguhkan tidak jauh berbeda dari pemandangan-pemandangan sebelumnya. Suasana pedesaan masih setia menemani kami. Rumah-rumah penduduk yang sangat padat kembali menyambut penglihatan kami. Ada kisah unik pada saat perjalanan pulang. Kami menemukan sebuah batu, sebenarnya ada tiga buah, yang dipercaya oleh penduduk sekitar sebagai jelmaan dari bali Sangkuriang (”bali” dalam bahasa Indonesia berarti tali pusar). Kondisi situs itu sangat memprihatinkan. Terdapat di dalam rumah warga. Salah satu batunyapun sudah raib tertimbun ubin rumah. Bahkan sang empunya rumah tersebut tidak mengetahui kisah dibalik batu-batu tersebut. Merupakan kisah yang mungkin tidak banyak orang yang tau.

Tibalah kami di Jalan Kiputih, daerah Ciumbuleuit. Dari situ, kami menyewa angkot untuk kembali ke kediaman koordiantor aleut di Jalan Sumur Bandung Nomor 4. Dua angkot sewaan segera meluncur menuju Sumur Bandung. Tiba disana, kami berbagi kesan-kesan selama perjalanan.

Akhirnya sampai juga di rumah tercinta. Cape. Pengen mandi aer anget. Setelah mandi, kusempatkan diri untuk menyembah Sang penguasa alam. Setelah itu, aku tak sadarkan diri di kasur. Saat kubuka mata, waktu menunjukkan pukul setengah tujuh. Linglung. Aku pikir sudah pagi.

Sungguh perjalanan yang mengesankan….

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s