Kelas Literasi Pekan Ke-53, Berani Bersuara!

Oleh: Hendi “Akay” Abdurrahman (@akayberkoar)

WhatsApp Image 2016-07-30 at 20.18.19

Kelas Literasi Pekan ke-53 di Halaman Gedung Indonesia Menggugat

Di penghujung bulan Juli, tepatnya tanggal 30, saya beserta teman-teman dari Komunitas Aleut dan Pustaka Preanger bertekad untuk tetap istiqomah. Istiqomah dalam kegiatan membedah buku, bercerita, mencoba mengemukakan pendapat, dan sharing pengalaman baca di akhir pekan. Waktu yang bagi sebagian orang adalah waktu yang pas dan memungkinkan untuk jalan-jalan, atau mungkin beristirahat setelah sebelumnya harus memeras energi dengan segala aktifitasnya masing-masing.

Bisa dikatakan kegiatan Sabtu siang itu adalah kegiatan yang kurang populer. Resensi buku secara lisan. Saya yakin, banyak dari teman-teman yang suka membaca. Tapi saya juga yakin, banyak dari teman-teman yang setelah menyelesaikan membaca buku, hanya selesai sampai mengerti isi buku yang dibaca tanpa membagikan pengalaman membacanya dengan orang lain secara lisan.

Masih beruntung, blog menjadi pelampiasan terakhir beberapa orang untuk menuangkan apa yang didapat dari membaca buku. Orang-orang tersebut mengikatnya dengan menulis resensi di blog pribadi. Tidak salah, justru hal-hal seperti itu adalah sesuatu yang mesti didukung, yang mesti dipertahankan. Walaupun baiknya selain ditulis di blog, diceritakan secara lisan seperti yang kami lakukan mungkin akan mempunyai nilai lebih. Selain menulis, juga belajar berbicara di depan orang banyak.

Saya termasuk orang yang susah dan kaku jika bercerita dengan orang lain yang belum dikenal. Belum satu kalimat beres, kesang leutik kesang gede udah mulai membasahi wajah. Malu, takut, dan tidak percaya diri menjadi suatu hal yang selalu saya rasakan ketika berbicara di suatu forum. Apalagi kalau di forum tersebut banyak perempuan cantik, kadang dengan melihat senyumnya saja saya langsung ngeluk (tunduk). Namun, perlahan, setelah saya beberapa kali mengikuti Kelas Literasi yang diadakan oleh Komunitas Aleut dan Pustaka Preanger,  hal-hal itu sedikit-demi sedikit bisa diatasi. Saya mulai bisa dan terbiasa untuk mengemukakan pendapat, bertanya, menyimak, bahkan menyanggah sampai berdebat. Kemajuan. Hahaha…

Lalu Sabtu kemarin, Sabtu terakhir di bulan Juli. Komunitas Aleut dan Pustaka Preanger kembali mengadakan kegiatan rutinnya, kelas Literasi yang memasuki pekan ke-53. Acara diadakan di ruang terbuka, setelah sebelumnya sering dilakukan di sekretariat Aleut di Kedai Preanger, Jl. Solontongan no 20-D. Kelas Literasi pekan ke-53 kali ini diadakan di halaman Gedung Indonesia Menggugat. Teman-teman yang menjadi peserta mulai berdatangan dari pukul 13.00 WIB, acara sendiri dimulai pukul 14.00 WIB. Walaupun beberapa teman datang terlambat karena satu dan lain hal, namun seiring waktu mereka memenuhi lapak, di bawah pohon dengan daun-daunnya yang sesekali berjatuhan.

Total peserta yang hadir berjumlah 13 orang. Dengan list sebagai berikut:

Peresensi:

  1. Saya (Akay) dengan buku karya Ahmad Tohari berjudul Senyum Karyamin
  2. Arya dengan buku berjudul The Silence of The Lambs karya Thomas Harris
  3. Nurul dengan buku karya Ahmad Tohari berjudul Di Kaki Bukit Cibalak
  4. Arni dengan buku karya Akio Morita berjuduk Made In Japan
  5. Bagas dengan buku karya Dr. Abdul Wahib Situmorang berjudul Gerakan Sosial:Teori dan Praktik
  6. Alexxx dengan buku karya Nasjah Djamin berjudul Hari-hari akhir si Penyair
  7. Irfan TP dengan artikel yang dibahasnya 5 Esai Tentang Pameran Buku, Bahasa, dan Sastrawan

Penyimak:

  1. Candra
  2. Novan
  3. Arif
  4. Arfin
  5. Nuggie beserta temannya, saya lupa nama temannya. Hehehe…

Diskusi berjalan menarik. Resensi pertama dibuka oleh Arya. Selanjutnya, pertanyaan dan obrolan seperti berjalan otomatis. Ada yang bicara dengan lantang, ada juga yang malu-malu tapi berani untuk mengemukakan pendapatnya. Suasana berjalan hangat, terkadang pembicaraan melebar ke berbagai topik yang dibumbui senyuman dan tawa ngabarakatak dari teman-teman lainnya yang justru membuat suasana semakin hidup.

Saya sendiri meresensi buku berjudul Senyum Karyamin, karya Ahmad Tohari. Buku terbitan Gramedia Pustaka Utama berisikan kumpulan cerpen. Total ada 13 cerpen di dalamnya. Dari ketiga belas cerpennya, saya paling suka cerpen yang berjudul Blokeng.

Blokeng adalah nama seorang perempuan di suatu kampung. Dia dihamili oleh seseorang yang tidak diketahui dan menjadi pertanyaan orang-orang kampung tersebut. Penduduk kampung ogah dibandingkan apalagi dimirip-miripkan dengan Blokeng. Maklum saja, sosok bernama Blokeng ini adalah orang yang “kurang waras” di desa tersebut. Tak seorang dua orang yang mengintrogasi Blokeng perihal “siapa yang telah menghamilimu?”. Namun Blokeng tak pernah mengatakan siapa sebenarnya orang yang telah menghamilinya.

“Aku tak boleh berkata apa-apa. Kalau mulutku bocor dia akan memukulku dengan ini,” kata Blokeng sambil menggamit lampu senter pak Hansip yang mengintrogasinya.

Pernyataan Blokeng tersebut membuat hansip berpendapat kalau yang menghamili si Blokeng adalah seorang lelaki yang mempunyai senter. Muncul sesutau yang aneh di kampung tersebut. Lampu-lampu senter lenyap. Bahkan penduduk yang punya jadwal ronda malam pun beralih dari lampu senter ke korek api untuk membantu pekerjaannya menjaga kampung.

Selain lampu senter, sandal jepit menjadi barang lain yang mendadak hilang di kampung itu. Hal itu terjadi karena Blokeng memberikan keterangan berbeda kepada warga. Dia adalah seorang laki-laki yang malam-malam merangkak ke dalam sarangnya dan memakai sandal jepit. Lalu orang-orang di desa tempat Blokeng tinggal beralih dari sandal jepit ke bakiak dan bandol sebagai alas kaki. Sendal japit lenyap dengan serta-merta.

Penduduk kampung semakin dibuat tidak nyaman dengan beberapa pernyataan Blokeng. Penduduk kampung dibuat blingsatan. Hanya Blokeng sendiri yang tidak ikut blingsatan. Dunianya yang tidak cukup akal membebaskannya dari dosa, dari keharusan mempunyai suami yang sah, dan dari kepongahan yang akan menelorkan keblingsatan dan kepura-puraan.

Dari seluruh cerita di buku Senyum Karyamin, saya kira Ahmad Tohari seperti ingin menyampaikan bagaimana perbedaan penduduk desa atau kampung dengan penduduk di kota. Desa yang polos, minimnya pendidikan, dan kerja keras penduduk desa yang khas, bertolak belakang dengan penduduk kota yang hedonis, pendidikan yang cukup, dan kemanjaan penduduk kota. Selain itu, penamaan tokoh di cerita-ceritanya terbilang unik. Nama-nama seperti Kenthus, Blokeng, Minem dan Samin seperti ingin mempertegas sebuah cerita yang ndeso.

Overall, setelah saya membaca buku Senyum Karyamin, banyak nilai-nilai bermuatan sosial yang ingin beliau sampaikan kepada pembacanya, dan saya kira dia berhasil. Senyum Karyamin salah satunya, saya kira.

Nah, untuk teman-teman yang ingin ikut dalam kegiatan Kelas Literasi Komunitas Aleut dan Pustaka Preanger, jangan malu-malu, mari gabung. Selain menambah wawasan dan menambah teman mungkin juga kalian menambah jodoh… eh mendapatkan maksudnya.😀

 

Tautan asli: https://blogakay.wordpress.com/2016/08/01/kelas-literasi-pekan-ke-53-berani-bersuara/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s