Komunitas Aleut, Mencintai Sejarah Kota dengan Cara Berbeda

Reporter: Dian Rosadi

 

Komunitas Aleut, mencintai sejarah kota dengan cara berbeda

Komunitas Aleut Bandung. ©2015 Merdeka.com/Dian Rosadi

Merdeka.com – Kota Bandung dikenal sebagai kota yang banyak menyimpan peninggalan sejarah. Berbagai warisan peninggalan Belanda dapat dengan mudah dijumpai di berbagai sudut kota. Sebagian besar peninggalan tersebut berwujud bangunan bergaya arsitektur zaman kolonial. Namun sayangnya, sebagian masyarakat belum sepenuhnya tahu atau bahkan tidak mengenal beragam peninggalan sejarah tersebut.

Adalah Komunitas Aleut yang mencoba ingin membangun kesadaran masyarakat untuk mengenal sejarah. Aleut sendiri merupakan kata dari bahasa Sunda yang artinya berjalan beriringan. Nama Aleut diambil karena setiap berkegiatan, aktivitas mereka selalu dilakukan bersama-sama saat mempelajari sebuah tempat bersejarah.

Uniknya komunitas ini mempelajari sejarah dengan cara mendatangi langsung tempat-tempat bersejarah yang dituju. Metode ini dinilai cukup efektif untuk memberikan pengetahuan baru bagi anggota yang ingin belajar sejarah secara langsung.

“Sejarah itu bukan melulu soal proklamasi, sumpah pemuda. Sebenarnya banyak di Kota Bandung juga menarik dibicarakan. Jadi sejarah itu lebih fun, enggak harus melulu belajar tentang tahun, tokoh-tokohnya yang harus hafal siapa aja,” ujar salah seorang Koordinator Komunitas Aleut Arya Vidya Utama saat berbincang dengan Merdeka.com di Sekretariat Komunitas Aleut, Jalan Solontongan, Kota Bandung, Sabtu (3/10)

Komunitas yang berdiri sejak 2006 ini banyak menggelar kegiatan. Setiap hari Minggu, Komunitas Aleut rutin mendatangi lokasi-lokasi bersejarah. Hampir seluruh lokasi bersejarah di Kota Bandung telah disambangi oleh komunitas ini. Sebut saja kawasan Asia Afrika, Braga dan lokasi-lokasi lainnya.

“Kita ngumpul di satu titik untuk briefing dulu, diberi pengantarnya dulu dan biasanya sebelum memulai kegiatan itu kita ada sesi perkenalan, asal dari mana, kuliah atau kerja di mana, setelah itu baru kita jalan. Rutinnya kegiatan ini dilakukan setiap Minggu. Namun ngaleutnya di luar hari Minggu juga ada, kalau akses yang agak sulit biasanya di hari kerja,” kata Arya.

Tak hanya Kota Bandung saja, beberapa tempat di daerah pendukung Bandung seperti Cimahi, Kabupaten Bandung Barat, wilayah Bandung Selatan beberapa kali telah disambangi. Bahkan sejumlah lokasi bersejarah yang di luar wilayah Bandung Raya, seperti Cirebon juga tak luput dari kunjungan komunitas ini.

Saat ini jumlah anggota aktif Komunitas Aleut sekitar 100 orang. Selain berkegiatan dengan mengunjungi tempat-tempat bersejarah, komunitas ini juga menggelar kelas resensi buku. Kelas resensi buku ini digelar setiap hari Sabtu. Setiap anggota komunitas diwajibkan membaca salah satu jenis buku yang dipilih sesuai minatnya.

Nantinya masing-masing anggota menjelaskan isi buku yang dibacanya tersebut kepada anggota lain. “Jadi setiap hari Sabtu ada kelas resensi buku. Kita sharing buku-buku yang dibaca oleh setiap anggota. Tak melulu harus buku soal sejarah, bisa filsafat, militer, cerpen, buku apapun pokoknya,” ucapnya.

Tak hanya itu, komunitas ini juga sempat beberapa kali mendatangkan narasumber yang diundang secara khusus untuk membahas salah satu topik. Topik yang dibahas juga beraneka ragam.

“Kita juga pernah ngobrol dengan orang-orang yang cukup ahli, misalnya Kimung pernah kita undang untuk belajar tentang karinding,” katanya.

Salah satu tujuan utama dari Komunitas Aleut yakni membangun kesadaran warga untuk mencintai kotanya dengan mengenal sejarah. Namun penyampaiannya dikemas dengan cara lebih menyenangkan.

“Utamanya lebih ke kesadaran tempat tempat bersejarah. Dengan kenal kan lebih cinta kotanya. Setelah cinta pasti lebih menjaga kotanya. Itu sih tujuan kita seperti itu, kenal, cinta jaga. Selain itu, di Bandung banyak yang bukan asli orang Bandung, bisa dia kuliah ataun cuma kerja di Bandung. Kita harapkan semangat ini bisa mereka bawa ke kota mereka masing masing. Jadi ketika mereka meninggalkan Bandung. Semangat itu bisa dibawa dan bisa menular,” katanya.

Untuk menjadi anggota dari komunitas ini cukup mudah. Anggota cukup melihat rencana kegiatan yang diposting di media sosial Komunitas Aleut. Cukup follow akun twitter @komunitasaleut, Instagram @komunitasaleut, fan page Facebook Komunitas Aleut.

Setelah itu cukup mengkonfirmasikan kehadiran kepada nomor telepon yang tertera. Setelah itu tinggal datang ke lokasi titik kumpul yang telah ditentukan. Untuk informasi lebih detail juga bisa mengankses laman http://www.aleut.wordpress.com. Setiap anggota baru dikenakan biaya pendaftaran Rp 10 ribu untuk satu tahun plus mendapat pin keanggotaan.

[mtf]
Iklan

2 pemikiran pada “Komunitas Aleut, Mencintai Sejarah Kota dengan Cara Berbeda

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s