#PojokKAA2015: Perpustakaan Baru di Alun-alun

Oleh: Gita Diani Astari (@gitadine)

Ada pemandangan baru di area Alun-alun Bandung: sebuah rangka bangunan di samping hamparan rumput sintetis peningkat indeks kebahagiaan. Saya agak kaget, karena waktu ke Alun-alun Sabtu malam lalu lebih terdistraksi oleh kelap-kelip lampu mainan sehingga tidak menyadari adanya ‘calon’ bangunan itu. Kira-kira apa fungsinya? Apakah target penyelesaian bangunan ini harus sebelum rangkaian KAA dimulai? (By the way, kemarin pagi ternyata sudah dilaksanakan pengibaran 109 bendera negara peserta KAA 2015.)

Karena penasaran, akhirnya saya dan teman saya mengajak salah seorang pekerja yang sedang beristirahat untuk berbincang-bincang soal ini. Namanya Pak Wahyu. Sambil merokok dan sesekali menyeruput kopi, beliau dengan sabar menjawab pertanyaan-pertanyaan kami.

Ternyata proses pembangunan ini telah berlangsung selama sekitar dua bulan. Saya dan Arya, teman saya, mencoba mengingat-ingat ketika Aleut menjelajahi alun-alun sekitar akhir Januari. Seingat kami, dulu memang area sekitar tempat pembangunan sekarang ini sudah ditutup.

Bangunan apa itu di belakang?

“Nanti ini mau dijadiin perpustakaan, Neng,” kata Pak Wahyu di sela isapan rokoknya. “Walikota kita mah nyuruh pinter. Nanti anak-anak yang ke sini jangan main bola wae, tapi belajar di perpustakaan.” Keren juga, pikir saya. Rasanya ingin cepat-cepat mengunjungi ketika selesai.

“Selesainya masih lama atuh Neng,” ujar Pak Wahyu ketika saya tanya target penyelesaiannya. Karena berada di wilayah yang akan diperhatikan delegasi internasional, saya kira bangunan ini ditargetkan selesai sebelum rangkaian acara dimulai. Saya mengangguk setuju, mengingat bangunan ini masih jauh dari selesai sementara jarak hingga dilangsungkannya acara terlampau singkat.

Tapi dengan masih dibangunnya perpustakaan ini, apakah tidak akan mengganggu pemandangan indah yang disajikan terutama untuk para delegasi internasional? “Ya paling diselesein luarnya dulu sih Neng, dicat dulu biar rapi,” jawab Pak Wahyu, menenangkan saya.

Tampak calon perpustakaan dari dekat

 

Pak Wahyu melanjutkan, ternyata biaya pembangunan perpustakaan ini berasal dari dana hibah sebuah kafe yang akan ditempatkan di sini. Sayangnya, beliau kurang tahu mengenai detil kafe tersebut. Beliau bilang, pengunjung baru akan dapat mengakses perpustakaan ini setelah membeli kopi dari kafe tersebut. Not a bad deal, tergantung harga dan kualitas kopinya nanti.

Lagipula, rasanya akan nyaman “ngopi cantik” di perpustakaan/kafe ini. Pak Wahyu bercerita, bangunan ini akan dibuat bertingkat dua, dengan lantai kedua yang berupa open rooftop. Wah, saya sudah dapat membayangkan asyiknya minum kopi dan membaca buku seraya menikmati pemandangan alun-alun.

Cerita Pak Wahyu belum selesai di situ. Kabarnya, akan ada fasilitas komputer dan WiFi yang dapat dinikmati oleh pengunjung. Nah, poin ini yang paling menarik hati fakir WiFi sejati seperti saya ini. Baiklah, semoga pembangunan ini lancar sesuai rencana ya, Pak Wahyu!

 

Tautan asli: http://gitadine.blogspot.com/2015/04/perpustakaan-baru-di-alun-alun.html

Iklan

2 pemikiran pada “#PojokKAA2015: Perpustakaan Baru di Alun-alun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s