Bandungers in Yogya : bagian 1

Oleh : R.Indra Pratama (@omindrapratama)

Sebagai mantan social scientist, saya benar-benar benci dengan sistem feodal yang sedikit banyak masih berlaku di Yogyakarta. Tapi di cabang lain lidah saya, sedikit keterjebakan Yogyakarta di masa lalu ini menjadikan kondisi yang lebih kondusif bagi banyak artefak masa lalu di daerah ini (Yogyakarta kota maupun DIY). 2009 merupakan perjalanan saya yang terbaik di kota ini. Menghabisan tiga hari untuk mengeksplorasi Yogyakarta, bahkan hingga bisa mencapai Candi Ijo di Gumuk (Bukit) Ijo yang memiliki pemandangan spektakuler.

2014 ini kesempatan itu datang lagi, kali ini via employee gathering kantor (PT Danareksa Persero). Lihat-lihat jadwal acara, saya punya waktu sekitar 8 jam untuk ngaleut sendirian (sebenarnya istilah ini kurang tepat, karena ngaleut berarti yang jalan jamak. Tapi saya tetap ingin pakai istilah ini sebagai tribut untuk Komunitas Aleut yang telah memperkenalkan saya akan konsep apresiasi ruang melalui tur sejarah).

Menginap di Hotel Hyatt di utara kota, saya berangkat pukul 14.30 dari hotel dengan memakai Taksi Centris yang dicall oleh pihak hotel. Menuruni Jalan Monjali (Monumen Jogja Kembali) menuju Jalan A.M.Sangaji. Saya berencana turun di daerah Stasiun Tugu, untuk kemudian jalan kaki ke arah selatan.

Objek pertama saya datangi sebelum turun taksi, yaitu Gedung SMAN 11 Yogyakarta. Gedung ini pada tahun 1908 merupakan lokasi Kongres Pertama Boedi Oetomo. Kongres ini secara politik merupakan “serah terima” dari para pendiri Boedi Oetomo di STOVIA, kepada para bangsawan feodal yang menjadi pengurus resmi. Setelah pendirian Boedi Oetomo di Jakarta, dirasa BO memerlukan dukungan kaum bangsawan untuk memajukan tujuan-tujuannya di bidang kebudayaan. Berbagai lobi dilakukan para pengurus untuk mendapatkan dukungan dari para pembesar lokal, khususnya wilayah Jawa Tengah.(1)

Dukungan untuk BO semakin meluas, dan akhirnya diselenggarakanlah kongres besar BO yang pertama tanggal 3-5 Oktober 1908 di gedung ini. Kongres dipimpin oleh dr.Wahidin Soedirohoesodo dan menghadirkan beberapa pembicara, yaitu R.Soetomo (STOVIA), R.Saroso (Kweekschool Yogyakarta), R. Kamargo (Magelang), dr MM.Mangoenhoesodo (Surakarta), dan M.Goenawan Mangoenkoesoemo (STOVIA).

Pembicaraan kongres kongres disimpulkan dengan mengesahkan Anggaran Dasar Boedi Oetomo yang pada pokoknya menetapkan tujuan perhimpunan sebagai berikut:
Kemajuan yang selaras (harmonis) buat negara dan bangsa, terutama dengan memajukan pengajaran, pertanian, peternakan dan dagang, teknik dan industri, kebudayaan (kesenian dan ilmu pengetahuan). (2)

SMAN 11 YogyakartaSMAN 11 Yogyakarta (eks Kweekschool Yogyakarta)

Kongres BO 1908Kongres BO 1908 di Kweekschool Yogyakarta

Beres napak tilas Kongres BO selama beberapa belas menit, saya pun kembali naik ke taksi yang menunggu. Lurus ke arah selatan, saya pun turun di depan Stasiun Tugu, yang sebenarnya sudah saya eksplorasi saat kedatangan kami ke Yogyakarta malam sebelumnya.

Stasiun Tugu mulai beroperasi pada 2 Mei 1887 (Info tambahan : Stasiun Lempuyangan sudah beroperasi sejak 1872). Awalnya, stasiun ini hanya digunakan untuk transit kereta pengangkut hasil bumi. Mulai digunakan untuk transit kereta penumpang sejak 1 Februari 1905 (3). Stasiun ini juga pernah menjadi lokasi salah satu peristiwa bersejarah Republik ini, yaitu saat rombongan pembesar Republik Indonesia yang dipimpin Soekarno berhasil tiba di Yogyakarta saat hijrah dengan kereta api luar biasa dari Jakarta. Rombongan tiba di Stasiun Tugu pada pagi hari tanggal 4 Januari 1946, setelah melalui perjalanan yang melelahkan dan menegangkan belasan jam lamanya.. Usai upacara penerimaan di Stasiun Tugu, rombongan singgah di Pura Pakualaman. Setelah beberapa saat, Soekarno dan keluarga pindah ke bekas rumah gubernur Belanda (Loji Besar, sekarang istana kepresidenan Yogyakarta).(4)

Stasiun Tugu 2014Stasiun Tugu 2014

Stasiun Toegoe 1935Stasiun Toegoe 1935 (@mbahKJ)

Kebetulan kadang menguntungkan, tepat di seberang Stasiun Tugu, saya menemukan bangunan eks Hotel Toegoe yang cantik. Tersembunyi dibalik pagar seng yang tinggi. Titik ini sebelumnya tidak ada dalam tujuan saya. Tapi saya sempatkan mengambil gambar dari jauh. Sampai sekarang saya belum menemukan informasi mengenai kapan bangunan ini dibangun. Informasi yang saya dapat hanya bahwa bangunan ini sejak abad 20 difungsikan sebagai Hotel Toegoe. Lalu saat Agresi Militer tahun 1948, dipergunakan sebagai markas Pasukan Belanda dibawah komando Kolonel DBA Van Longen. Tak ayal saat Serangan Umum 1 Maret dilancarkan, bangunan ini menjadi salah satu sasaran penyerangan salah satu pasukan TRI, yang dipimpin Sudarno. (5)

Bangunan dengan gaya arsitektur indis ini saat saya temui ditutupi pagar seng. Sejak dimiliki oleh pengusaha Probosutedjo (adik tiri Soeharto) tahun 1982, bangunan ini sudah beberapa kali beralih fungsi, dan kini sedang dirancang untuk menjadi Soeharto Center. (6)

Eks Hotel Toegoe 2014Eks Hotel Toegoe 2014

Hotel Toegoe 1900Hotel Toegoe 1900 (KITLV)

Saya pun jalan menyeberangi rel. Tujuan saya berikutnya bukanlah Malioboro. Saya benci berjalan di Malioboro yang ramai dan tak nyaman. Saya mengambil jalan memutar melalui Jalan Mataram yang sejajar dengan Malioboro di timur. Tujuan saya berikutnya adalah sebuah masjid yang dulu terkenal dengan nama Surau Kalimantan. Tapi ternyata letaknya cukup jauh dari Tugu. Saya pun menyusuri Jalan Mataram, sempat mampir shalat di sebuah masjid kecil di Kampung Gemblakan Bawah. Dimana saya menemukan sebuah selebaran menarik, yang intinya ingin menyadarkan warga Kampung Gemblakan Bawah Akan pentingnya sebuah lapangan bermain. Menarik sekali dan layak dicontoh.

Selebaran

Setelah berjalan agak jauh saya pun menemukan Surau Kalimantan yang dicari. Kini ia bernama Masjid Quwattul Islam. Masjid ini mulai dibangun pada tahun 1943.Langgar ini menempati sebidang tanah pemberian dari Sultan Hamengku Buwana IX. Sebelumnya warga masyarakat Kalimantan mengajukan permohonan kepada Sultan Hamengku Buwana IX agar diperbolehkan mendirikan sebuah tempat ibadah di Yogyakarta. Sultan pun memberikan sebidang tanah seluas 958 meter persegi. Kemudian diperluas pada tahun 1953. Perluasan ini sekaligus menandai berubahnya Langgar Kalimantani menjadi Masjid Quwwatul Islam. (7)

Suaru KalimantaniMasjid Quwwatul Islam (eks Surau Kalimantani)

Itulah, menemukan objek yang dicari dengan tanpa persiapan matang membuat sensasi tersesat ala National Geographic Adventure sangat terasa.

Selanjutnya saya mencari sebuah nDalem (rumah bangsawan) yang saya sangka ada di dekat Jl.Mataram. Tapi ternyata seorang mbok di Beringharjo bilang bahwa lokasi itu ada di sekitar keraton. Yaelah broo..

Alhasil saya pun lewat depan Beringharjo. Pasar Beringharjo terlihat cukup bersih dan teratur untuk ukuran Pasar Tradisional. Wilayah Pasar Beringharjo konon mulanya merupakan hutan beringin. Tak lama setelah berdirinya Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, tepatnya tahun 1758, wilayah ini mulai dijadikan tempat transaksi ekonomi oleh warga. Pada tahun 1925, barulah tempat transaksi ekonomi ini memiliki sebuah bangunan permanen. Nama ‘Beringharjo’ sendiri diberikan oleh Hamengku Buwono IX, artinya wilayah yang semula pohon beringin (bering) diharapkan dapat memberikan kesejahteraan (harjo). (8)

BeringharjoPasar Beringharjo (jogjacityparadise)

Beringharjo 1940anPasar Beringharjo 1940-an (KITLV)

Saya pun dengan buta arah mengikuti jalan. Rupanya jalan itu membawa saya ke Taman Budaya Yogyakarta. Taman budaya ini terletak di Jalan Sriwedani. Taman Budaya Yogyakarta pertama kali dibangun di sekitar Kawasan Universitas Gadja Mada, Bulaksumur pada 11 Maret 1977. Diresmikan oleh Sri Sultan HamengkubuwonoIX. Awalnya, Taman Budaya Yogyakarta menggunakan nama Purna Budaya. Pada tahun 2002 akhirnya Taman Budaya Yogyakarta dibangun ulang di daerah Sriwedani ini. (9)

Tak jauh dari Sriwedani ada Taman Pintar. Sebuah hiburan yang menarik untuk membawa anak-anak bermain. Taman ini mulai dibangun tahun 2004. Direncanakan sebagai tempat wisata yang berintegrasi dengan Benteng Vredeburg, Taman Budaya, maupun tempat perbelanjaan buku Shopping Center. Shopping Center mungkin kalau di Bandung seperti Palasari. Dimana buku-buku baru dan bekas berjejer bersama. Saya pun belanja Catatan Seorang Demonstran dan Orang orang di Simpang Kiri Jalan karya Soe Hok Gie. Dua buku Rp.60.000 saja.

Lurus terus ke arah selatan saya pun sampai ke Jalan Senopati. Saya kurang tertarik untuk lihat Bank Indonesia karena sudah pernah. Saya blusukan sedikit ke area parkir bus wisata. Untuk kemudian memotret gedung SD Marsudirini. Dulu sekolah ini bernama Sekolah Dasar Interamata yang didirikan oleh para suster OSF (Ordo suster St.Fransiskus) pada tanggal 28 Juni 1920.

SD MarsudiniSD Marsudirini

Saya juga melewati Kelenteng Fuk Lik Miau (Kelenteng Gondomanan). Klenteng ini dibangun  dengan menempati area seluas 1150 meter persegi yang merupakan  hibah dari Keraton Kasultanan Yogyakarta tahun 1900 (masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwono VII).

KelentengKelenteng Fuk Lik Miau (Kelenteng Gondomanan)

Saya mencoba stick to the plan dengan bergegas jalan menuju Pakualaman. Sempat melewati juga Museum Biologi UGM yang menempati sebuah rumah tua. Sayang sampai sana kompleks wisata telah tutup (sebagaimana semua museum yang saya datangi).

Museum Biologi UGMMuseum Biologi UGM 2014

Saya sangat tertarik ke Pakualaman sebab sejarah pergerakan Indonesia mencatat Pakualaman menelurkan dua bersaudara yang perannya sangat penting di masa pergerakan. Yang pertama adalah Suryopranoto si Raja Mogok. Seorang pangeran yang mengabdikan dirinya untuk mengagitasi kaum buruh. Serta adik kandungnya, yaitu Suwardi Suryaningrat alias Ki Hajar Dewantara. Klan Pakualaman memang salah satu klan feodal pertama yang membuka diri terhadap pendidikan ala barat.

Gerbang Pura Pakualaman

Gerbang Pura PakualamanPura PakualamanPura Pakualaman

Sengkalan Pura PakualamanSengkalan Gerbang Pura Pakualaman

Kompleks Pura Pakualaman mulai dibangun tahun 1813 dengan bantuan dari Inggris, saat pertama kali Pangeran Notokusumo oleh Inggris diberikan gelar sebagai seorang pengeran yang merdeka dari Kesultanan Yogyakarta akibat kekisruhan tahta antara Hamengkubuwono II dan pejabat Inggris (10). Pada perkembangannya, Klan Pakualaman memang lebih perhatian kepada urusan seni, budaya, sastra, pendidikan, dan arsitektur. Tak mengeherankan jika melihat beberapa anggota klan ini menjadi “aktivis sosial” (Freemasonry, pergerakan buruh, pendidikan, dan lain-lain). Mungkin lain waktu kita buat tulisan khusus mengenai Klan Pakualaman ini.

Saya sempat juga membasuh kaki di Masjid Pakualaman. Masjid ini dibangun circa 1850, pada masa pemerintahan Pakualam II. Masih banyak ciri arsitektur masjid khas keraton di Masjid Pakualaman ini. Disinilah saya, tempat Suwardi dan Suryopranoto belajar mengaji. Bangga juga.

Masjid PakualamanMasjid Pakualaman

Sumber Bacaan

[1] Kahin, George M. 1952. Nationalism and revolution in Indonesia. Ithaca: Cornell University Press.

[2] Miert, Hans van. 2003. Dengan Semangat Berkobar: Nasionalisme dan Gerakan Pemuda Indonesia, 1918-1930. Jakarta : Hasta Mitra. Penerjemah : Sudewo Satiman

[3] Yunanto Wiji Utomo. 2006. Tugu Railway Station, One of the Oldest Train Stops in Indonesia. Diakses via yogyes.com (http://www.yogyes.com/en/yogyakarta-tourism-article/getting-there-and-around/stasiun-tugu/). 23 Januari 2014.

[4] Ricklefs, M.C. 1993. A History of Modern Indonesia Since c.1300. San Francisco: Stanford University Press.

[5] Dinas Kebudayaan Provinsi DIY. 2012.  Hotel Toegoe. Diakses via http://www.tasteofjogja.org/contentdetil.php?kat=artk&id=OTc=&fle=Y29udGVudC5waHA=&lback=a2F0PWFydGsmYXJ0a2thdD0xMSZsYmFjaz0=. 23 Januari 2014

[6] Addi Mawahibun Idhom. 17 Juni 2013. Hotel Toegoe akan menjadi Soeharto Center. Diakses via tempo.co (http://www.tempo.co/read/news/2013/06/17/078488720/Hotel-Toegoe-akan-menjadi-Soeharto-Center).  23 Januari 2014.

[7] A. Sartono. 2013. Masjid Quwwatul Islam, dulu Bernama Surau Kalimantani. Diakses via tembi.net (http://www.tembi.net/en/news/bale-dokumentasi-situs/masjid-quwwatul-islam–dulu-bernama-surau-kalimantani-4259.html) 23 Januari 2014.

[8] Yunanto Wiji Utomo. 2006. Beringharjo, Pasar Tradisional Terlengkap di Yogyakarta. Diakses via Yogyes.com (http://www.yogyes.com/id/yogyakarta-tourism-object/market/beringharjo/) 23 Januari 2013.

[9] Ahmad Ibo. Taman Budaya yogyakarta: Laboratorium Seni di Yogyakarta. Diakses via indonesiakaya.com (http://www.indonesiakaya.com/kanal/detail/taman-budaya-yogyakarta-laboratorium-seni-di-yogyakarta) 23 Janauri 2013.

[10] Tasyriq Hifzhillah. Pura Pakualaman. Diakses via jogjatrip.com (http://jogjatrip.com/id/193/Pura-Pakualaman) 24 Januari 2014.

Bersambung ke bagian kedua..

Iklan

Satu pemikiran pada “Bandungers in Yogya : bagian 1

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s