Bandungers in Yogya : Bagian 2

Oleh : R.Indra Pratama (@omindrapratama)

Dari Pakualaman, saya lanjut jalan untuk mengeksplorasi daerah Bintaran. Daerah ini terkenal dengan arsitektur indis-Jawa yang khas. Kawasan Bintaran merupakan kawasan hunian alternatif bagi orang Belanda yang menetap di Yogyakarta. Merupakan perluasan dari kawasan hunian di Malioboro. Nama Bintaran dikenal karena kawasan ini adalah tempat berdirinya Ndalem Mandara Giri, kediaman Bendara Pangeran Haryo Bintoro, salah satu trah Keraton Ngayogyakarta. [1]

IMG_6963Suasana Bintaran

Objek pertama yang saya temui kawasan ini adalah Museum Panglima Besar Sudirman. Seorang tokoh yang saya belum mengerti signifikansinya dalam sejarah pergerakan. Sudirman adalah seorang bekas guru, dan kemudian menjadi kepala sekolah, di sekolah dasar Muhammadiyah.  Pada tahun 1944, ia bergabung dengan tentara Pembela Tanah Air (PETA) yang disponsori Jepang, menjabat sebagai komandan batalion di Banyumas. Dari saat itulah pasca kemerdekaan, karier militer Sudirman melejit hingga mendapat gelar panglima.

Museum Sasmitaloka SoedirmanMuseum Sasmitaloka Panglima Besar Jenderal Sudirman

Patung Jenderal Sudirman

Museum ini menempati sebuah rumah tua, yang saat era Yogyakarta sebagai ibukota Indonesia ditempati oleh Sudirman (Pada tanggal 18 Desember 1945 sampai tanggal 19 Desember 1948)[2]. Rumah ini dibangun tahun 1890, pertama ditempati oleh Mr. Wijnchenk, seorang pejabat keuangan Puro Pakualaman[3]. Sayang saat saya datang museum telah tutup. Namun penjaganya masih mengijinkan saya mengambil gambar dari luar.

Patung Jenderal Sudirman

Patung Jenderal Sudirman

Saya jalan lagi (backtrack) melalui Jalan Bintaran menuju Gereja Santo Yusup Bintaran. Gereja ini dibangun tahun 1931 atas prakarsa seorang indo bernama H. van Driessche. SJ.[4]

IMG_6972Gereja Santo Yusup Bintaran

Backtrack lagi, karena perut mulai keroncongan (istilah yang pas dipakai di Yogyakarta), saya pun balik ke arah utara untuk makan di Bakmi Jawa Kadin. Kenapa disebut Kadin, karena di samping warung ini, terdapat Gedung Kamar Dagang Indonesia (KADIN). Bakmi ini sudah melayani pelanggan sejak tahun 1947[5]. Pendiri Bakmi Kadin adalah Mbah HJ. Karto, sedangkan penerusnya adalah Bapak Rochadi. Warung ini juga memiliki fasilitas wi-fi yang cukup cepat. Konon bakmi ini adalah salah satu favorit Soeharto.[6]

Setelah kenyang, saya pun kembali menuju selatan untuk melihat Museum Kirti Griya Taman Siswa di Jalan Taman Siswa. Di Selatan bintaran, saya sempat menemukan plang “Rute Gerilya Jenderal Sudirman”. Namun sepanjang perjalanan berikutnya saya tidak pernah lagi menemukan plang serupa.

Setelah 15 menit, saya pun tiba di depan Museum Kirti Griya. Museum ini dulunya berfungsi sebagai Pendopo Yayasan Tamansiswa, sebuah yayasan pendidikan yang diprakarsai oleh RM Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantara). Awalnya kegiatan belajar-mengajar Tamansiswa berpusat di Jalan Gajah Mada, namun seiring dengan meningkatnya jumlah peserta didik, maka pada tahun 1935 Ki Hadjar Dewantara beserta Ki Sudaminto, Ki Supratolo dan  Mas Adjeng Ramsinah patungan membeli bangunan ini untuk dijadikan pusat kegiatan Tamansiswa. Bangunan ini kemudian direnovasi pada periode Juli-November 1938 dengan penambahan pendopo dan perluasan bangunan asli.

IMG_6973Museum Kirti Griya Tamansiswa

Dana pembangunan pendapa yang diperkirakan menghabiskan dana f. 4000,00 (empat ribu gulden)

Sumber dana antara lain :

1. Para siswa setanah air dengan Gerakan Sebenggolan tiap siswa menyumbang satu benggol (dua setengah sen satu per empat puluh gulden), setiap bulan.

2. Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia melakukan penarikan pertandingan sepakbola di berbagai tempat dan uang seluruhnya diserahkan kepada Tamansiswa.

3. Hasil penjualan pekerjaan tangan Wisma Rini yang pada waktu itu pengasuhnya adalah Ni Koema Ratih Wonobojo. [7]

COLLECTIE_TROPENMUSEUM_'De_heer_Soerjoadipoetro_houdt_een_voordracht_over_de_school_van_Tagore_voor_o.a._kwekelingen_van_het_Nationaal_Onderwijs_Instituut_'Taman_Siswa'_te_Bandung_Java'_TMnr_10002308Suasana Kegiatan Belajar-Mengajar di Salah Satu Sekolah Tamansiswa (tropenmuseum)

Ki_Hadjar_Dewantara,_with_Tamansiswa_Leaders_(page_104)Ki Hajar Dewantara dan Para Pemuka Tamansiswa

Kini saya pun sampai ke bagian paling menantang dari perjalanan ini. Lewat jalan mana saya harus menyeberangi Kali Code untuk menemukan Pemakaman Sasanalaya (dulu Tjandilaya). Saya pun masuk ke daerah Kampung Gondomanan. Menyusuri kampung yang bersih ke arah selatan. Untuk kemudian belok ke barat untuk menyeberangi Kali Code yang dangkal dan kotor (mungkin juga akibat lahar dingin Merapi 2010). Demi meminimalisir kenyasaran, saya bertanya pada warga, arah Pemakaman Sasanalaya. Sambil menunjukkan arah, salah satu ibu menyeletuk “mau sajen to mas?“. Saya senyum aja sambil berterimakasih. Emang ada tampang sajen ya?..

GondomananJembatan Kali Code Gondomanan

Akhirnya sampai juga ke Sasanalaya tempat makam Arie Frederik Lasut, ahli pertambangan dan aktivis Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi (KRIS)  asal Minahasa. Didalamnya juga terdapat makam Alexander Noel Constantine dan Roy Hazlehurst. Kedua orang ini adalah pilot dan co-pilot pesawat Dakota VT-CLA (membawa obat-obatan untuk keperluan perjuangan dari Malaya), yang ditumpangi oleh tiga pahlawan nasional RI yakni Komodor Muda Udara (Kolonel) A Adisutjipto, Komodor Muda Udara Abdulrachman Saleh, dan Opsir Muda Udara (Lettu) Adisumarmo. Pesawat angkut ini sebelumnya milik negara bagian Orissa, India, kemudian dibeli oleh pejuang-pejuang Indonesia untuk mendukung kedaulatan negara RI yang baru saja berdiri. Konon di pemakaman yang dulu dikenal sebagai Kerkhof Gondomanan ini juga terdapat makam fotografer pribumi pertama Kasijan Cepphas. [8]

Sayang saat saya tiba pintu pemakaman ini sudah ditutup. Di gerbang depan masih ada tulisan lama “Tjandi Laya”. Menunjuk nama lama pemakaman ini.

SasanalayaTPU Sasanalaya

Sedikit kecewa, saya pun jalan lagi melewati Purawisata. Di area rekreasi ini rupanya sedang ada panggung musik metal. Sempat ingin masuk tapi takut kemalaman. Di luar banyak berkumpul kawan-kawan muda berbaju hitam. Scene musik Yogyakarta akhir-akhir ini memang menarik dan kompak, meskipun sempat ada tragedi bunuh diri ketua panitia acara Locstock.

Sebetulnya niat saya ingin mencari Ndalem Joyodipuran. Bekas kongres Perempuan Pertama tahun 1928 (yang diperingati sebagai Hari Ibu, tiap 22 Desember). Namun ternyata lokasi tersebut ada di belakang, dan akan menyulitkan saya menuju objek berikutnya.

Akhirnya saya jalan ke barat menuju Jalan Ibu Ruswo. Rejeki memang tidak kemana, saya menemukan sebuah nDalem lagi yang terbuka untuk umum (sebagai lahan parkir), yaitu nDalem Yudonegaran. nDalem ini merupakan bekas rumah Bendoro Pangeran Haryo Yudonegoro, seorang kerabat keraton.  Terdapat beberapa kereta kuda kuno yang bisa diakses, dan ternyata di nDalem ini juga terdapat sebuah sekolah Farmasi.

IMG_6990

Gapura nDalem Yudonegaran

IMG_6993nDalem Yudonegaran

Lanjut jalan lagi, saya pun melewati Plengkung (Gerbang area keraton) Wijilan. Area Wijilan terkenal sebagai sentra gudeg. Saya pun terbuai dan masuk ke Gudeg Bu Djuminten atau dikenal sebagai Gudeg Yu Djum. Buat saya, Gudeg Mbarek yang lebih basah lebih enak. Mirip buatan mertua saya. Harga seporsi Rp.30.000 (plus dada ayam).

IMG_6997Plengkung Wijilan

Plengkung sendiri merupakan bangunan gapura pintu masuk menuju jeron (dalam) benteng Keraton Yogyakarta . Bangunan ini merupakan satu dari lima plengkung yang digunakan untuk masuk ke dalam benteng Keraton Yogyakarta. Kelima plengkung tersebut yaitu : Plengkung Nirbaya, Plengkung Tarunasura (Plengkung Wijilan) , Plengkung Madyasura (Plengkung Buntet), Plengkung Jagabaya (Plengkung Tamansari), Plengkung Jagasura (berada di sebelah barat alun-alun utara). Dari kelima plengkung tersebut, yang terkenal adalah Plengkung Gading dan Plengkung Wijilan karena wujudnya yang masih asli. [9]

Setelah kekenyangan, jalan lagi menuju Alun-Alun Utara. Rupanya sedang ada pasar malam dalam rangka Sekaten. Kata Sekaten sendiri berasal dari kata Syahadatain atau dua kalimat syahadat. Acara ini merupakan peringatan ulang tahun Nabi Muhammad s.a.w. yang diadakan pada tiap tanggal 5 bulan Jawa Mulud (Rabiul awal tahun Hijrah) di alun-alun utara Surakarta dan Yogyakarta. Upacara ini dulunya dipakai oleh Sultan Hamengkubuwana I, pendiri keraton Yogyakarta untuk mengundang masyarakat mengikuti dan memeluk agama Islam.[10]

IMG_7016Suasana Pasar Malam

Di pasar malam ini, saya kembali kalap melahap empat buah mendoan dan satu plastik gula kapas. Entahlah kandungan apa didalamnya. Penasaran, saya pun menonton wahana tong setan. Wahana ini seru (tapi juga berisik dan bau bensin). Dimana dua sepeda motor RX King, dan satu sepeda onthel (yes man, onthel), berjalan merayap di tong secara vertikal. Tanpa helm dan pengaman apapun. Plus sedikit saweran dari penonton. Ongkos pertunjukkam Rp.10.000 saja untuk 20 menit pertunjukkan. Evel Knievel would say : Worth it!.

IMG_7019Persiapan Pertunjukan Tong Setan

Beranjak dari alun-alun, saya pun masuk ke area Masjid Gedhe Yogyakarta. Jadi teringat setting film Sang Pencerah. Memang di kawasan inilah dulu Kyai Ahmad Dahlan berjuang menegakkan Islam yang diyakininya, dengan tentangan dari kaum konservatif.

Di area Masjid Gedhe juga ada pasar kaget. Dalam masjid sedang ada ceramah. Saya sendiri menjama’ Maghrib dan Isya disini. Karena takut lupa. Di dua bangsal di halaman masjid nampak dua rombongan pemain set gamelan sedang bersiap main. Masjid Gedhe Kauman dibangun oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I bersama Kyai Faqih Ibrahim Diponingrat (penghulu kraton pertama) dan Kyai Wiryokusumo sebagai arsiteknya. Masjid ini dibangun pada hari Ahad Wage, 29 Mei 1773 M atau 6 Robi’ul Akhir 1187 H.[11]

IMG_7048 Masjid Gedhe Kauman YogyakartaIMG_7051Suasana Masjid Gedhe

COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Klein_gebouw_behorend_bij_de_moskee_op_het_stadsplein_Jogjakarta_TMnr_10014974Gerbang Masjid Gedhe 1920an (Tropenmuseum)

Lama menunggu degung yang tak kunjung main, saya pun jalan ke belakang masjid menuju Kampun Kauman. Di Kampung inilah ulama-ulama Masjid Gedhe dan keluarganya bermukim. Di ujung gang saya menemukan sebuah monument. Di monumen itu terdapat tulisan “Syuhada bin Fisabillillah”, tahun 1945 – 1948, dan daftar nama  ( 25 orang). Monumen itu didirikan untuk memperingati jasa warga Kauman yang meninggal ketika ikut pertempuran di era revolusi fisik..[12]

IMG_7058Monumen Fisabilillah

IMG_7059

Suasana Kampung Kauman

Saya sempat pula mengunjungi langgar pertama Ahmad Dahlan, juga sebuah sekolah dasar yang dibangunnya tahum 1919.

IMG_7083Langgar KH Ahmad Dahlan

IMG_7084SD Muhammadiyah Suronatan. Dibangun Tahun 1919 oleh KH Ahmad Dahlan

Saya melewati Kampung Kauman yang rapi dan bersih menuju Jalan Nyi Ahmad Dahlan. Sempat melewati Plengkung Jagasura. Kata jagasura berasal dari dua unsur kata yakni jaga ‘menjaga’ dan sura ‘berani’. [13]

IMG_7077Plengkung Jagasura

Bersambung ke bagian ketiga..


[1] Yunanto Wiji Utomo. 2007. Bintaran, Dari Kediaman Pangeran Bintoro ke Kawasan Indisch. Diakses via yogyes.com (http://www.yogyes.com/id/yogyakarta-tourism-object/architectural-sight/bintaran/) 29 Januari 2014

[2] Imran, Amrin (1980). Panglima Besar Jenderal Soedirman. Jakarta: Mutiara

[3] Suwandi. 2012. Pengunjung “Kecelik” Saat Museum Sasmitaloka Pangsar
Jenderal Sudirman Yogyakarta Direnovasi. Diakses via tembi.net (http://www.tembi.net/en/news/museum/pengunjung-kecelik-saat-museum-sasmitaloka-pangsar-jenderal-sudirman-yogyakarta-direnovasi-3720.html) 29 Januari 2014.

[4] Yunanto Wiji Utomo. 2007. Bintaran, Dari Kediaman Pangeran Bintoro ke Kawasan Indisch. Diakses via yogyes.com (http://www.yogyes.com/id/yogyakarta-tourism-object/architectural-sight/bintaran/) 29 Januari 2014

[5] Arisca Meir.

[6] I Made Asdhiana. 2011. Bakmi Kadin Yogyakarta. Diakses via travel.kompas.com (http://travel.kompas.com/read/2011/04/08/08470887/Bakmi.Kadin.Yogyakarta) 29 Januari 2014.

[7] Taman Siswa .1993. Buku Petunjuk Musuem Dewantara Kirti Griya. Proyek Taman Siswa

[8] A. Sartono. 2013. Sasanalaya Menjadi Persemayaman Terakhir Pejuang Indonesia Asal Australia dan Inggris. Diakses via tembi.net (http://www.tembi.net/id/news/bale-dokumentasi-situs/sasanalaya-menjadi-persemayaman-terakhir-pejuang-indonesia-asal-australia-dan-inggris-5381.html) 29 Januari 2014

[9] http://www.tagtung.com/173-plengkung-gading.html

[10] Pemerintah Kota Surakarta. 2011. Calendar of Cultural Event Solo 2011.

[11] Olivia Lewi Pramesti. 2011. Masjid Kaum Duafa. National geographic Indonesia.[12] Yunanto Wiji Utomo. 2011. Kampung Kauman, Pesona Perjuangan Islam. Diakses via yogyes.com (http://www.yogyes.com/id/yogyakarta-tourism-object/neighborhood/kauman/) 29 Januari 2014.

[13] Sartono K. Keraton Yogyakarta-Plengkung Jagasura. Diakses via tembi.net (http://www.tembi.org/keraton_yogja/plengkung_jagasura.htm) 29 Januari 2014.
Iklan

3 pemikiran pada “Bandungers in Yogya : Bagian 2

  1. Permisi min, saya sedang mencari buku karangan Haryoto Kunto judulnya “Semerbak Bunga di Kota Bandung” bisa dibeli dimana ya min, dan berapa harganya? Terima kasih, ditunggu balasan emailnya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s