Dari Radio Sampai Marhaenisme (Part 1)

Oleh : Rini Anggraini Lestari

 

Sejak obrolan random setaun lalu dengan dua teman saya yang menyentil kesadaran tentang banyaknya perubahan wajah kota Bandung (read my post Bandoengkoe), saya jadi punya hobi baru luntang-lantung jalan kaki sendirian, bagaikan syahrini tanpa mas anang, menyusuri sudut2 kota Bandung. Berjalan kaki untuk sekedar meresapi dan menikmati suasana (semerawut) Bandung hari ini. Bernostalgia dengan memori kenyamanan Bandung masa lalu. Bermain dengan imaji khayal masa depan, membayangkan akan seperti apa tempat yang saya lewati hari ini 20 tahun mendatang.

Tapi sepertinya mulai sekarang saya ngga perlu lagi jalan kaki sendirian. Karena apa?

Karena Briptu Norman sudah mengundurkan diri dari kepolisian..:p

Oke bukan.. Tapi karena sekarang saya sudah bergabung dengan komunitas yang hobinya mapay jalan abring2an menyusuri tempat2 yang menyimpan banyak cerita tentang Kota Bandung. Yes, Komunitas Aleut!

Ngaleut pertama saya adalah hari minggu lalu saat episode Dayeuh Kolot 2. Kami menyusuri jejak2 peninggalan kejayaan teknologi komunikasi radio pada zaman penjajahan.  Menurut cerita Bang Ridwan, sekitar tahun 1920an kolonial belanda mulai membangun menara2 dan stasiun radio untuk saling berkomunikasi dengan  pasukan militer yang ada di daerah lain. Bahkan mereka membangun jaringan komunikasi radio untuk menghubungkan Indonesia dengan Belanda sehingga mereka dapat menerima perintah langsung dari Ratu Belanda.

Zaman kejayaan teknologi radio tersebut diabadikan dengan membangun sebuah monumen setengah bola dunia dengan dua orang (bugil) yang bersebrangan, satunya sedang berbicara dan satunya mendengarkan. Monumen tersebut dulu di simpan di sekitar mesjid istiqamah, tapi sayangnya kemudian dihancurkan, karena takut orang2 nafsu ngeliat patung bugilnya.. heu.. ngga deng..

Saya juga tidak tau persis kenapa di hancurkan, tapi menurut Bang Ridwan kemungkinan memang karena pertimbangan norma kesopanan.

Ketika Jepang datang untuk menduduki Indonesia, Jepang menguasai stasiun radio untuk memutus jaringan komunikasi militer Belanda. Jepang sangat mengetahui pentingya radio untuk kebutuhan komunikasi militer, oleh karena itu mereka tidak memakai gedung2 sebagai tempat stasiun radio, melainkan menggunakan gua2 agar komunikasi radio tidak mudah diputus lawan.

Di Bandung sendiri menara radio pertama di bangun di dataran tinggi puntang dan halimun sehingga jaringan gelombangnya melewati daerah cekungan yang ada di antara kedua gunung tersebut. Kemudian menara2 dan stasiun radio lainnya mulai di bangun di beberapa daerah. Salah satunya di dayeuh kolot yang saat ini menjadi kawasan kampus ITT Telkom. Di dalam kawasan kampus masih ada sisa 2 menara radio yang masih berdiri (sekarang digunakan oleh provider GSM). Plakat menara menunjukkan bahwa menara tersebut di bangun pada tahun 1934. Dulu, semua tempat yang dibangun menara dan stasiun radio, daerah disekitarnya disebut sebagai kampung radio. Termasuk daerah Palasari yang ada di dayeuh kolot ini.

Tidak jauh dari kawasan kampus, terdapat gedung yang dulu digunakan sebagai stasiun radio (sekarang digunakan oleh PT Telkom). Dengan izin pak satpam yang baik hati kami dibolehkan untuk masuk melihat-lihat gudang tua dan naik ke atap gedung untuk melihat menara pengawas. Menurut cerita pak agus (satpam yang baik hati), sejak pertama gedung ini di bangun tidak banyak perubahan pada bentuk bangunan. Bahkan kayu pada atap menara pengawas belum pernah diganti sejak pertama dibangun.


Disaat teman2 lain mengililingi atap gedung, saya berbincang-bincang dengan pak agus. Membicarakan sedikit sejarah stasiun radio ini. Menurut pak agus, dulu stasiun radio ini bernama stasiun Palapa. Nah sebenarnya ini masih harus di konfirmasi lagi kebenaran nama stasiun radio ini. Karena ada perbedaan informasi yang saya dapat dari penggiat aleut lain yang mengatakan bahwa stasiun radio ini dulu bernama stasiun Palasari. Di dalam gedung tersebut ternyata masih ada ruangan tempat menyimpan perangkat2 radio tua, juga terdapat foto-foto ketika stasiun radio masih aktif. Daaann tidak disangka-sangka saat temen2 lain lagi muterin atap gedung, saya diajak pak agus untuk melihat-lihat ruangan tempat perangkat radio tua.

Ruangan perangkat radio tersebut gelap dan dingin. Nyaris tidak pernah terjamah manusia (Ha! berlebihan). Dengan pintu besi dan dinding yang dilapisi besi, alat-alat yang sudah rusak dan terbengkalai, serta cahaya senter yang diarahkan ke wajah pak agus, cukup bikin suasana serem ajah (heu..ampun pak). Sebenarnya pak agus mau memperlihatkan foto-foto jaman dulu ketika stasiun radio masih aktif (Ya ampun pak baek bener). Tapi sayangnya foto2 tersebut ada di dalam lemari dan pak agus harus mendapat izin terlebih dulu untuk membuka lemarinya. Tapi saya sudah cukup merasa beruntung karena bisa melihat ruangan tempat sisa2 perangkat radio. Jejak sisa2 kejayaan teknologi radio di masa lalu. Tempat yang Bang Ridwan bilang, mungkin 5 tahun kedepan sudah hilang tergusur zaman..

To be continued.

Original post : http://anggrainilestari.tumblr.com/post/10721332265/dari-radio-sampai-marhaenisme-part-1

Iklan

4 pemikiran pada “Dari Radio Sampai Marhaenisme (Part 1)

  1. Psot-nya keren.. apalagi dibuat oleh orang yang pertama kali ke stasiun transmisi radio deyauh kolot.. aku yang hampir tiap hari kesana aja munkgin gak bisa bikin seperti ini.. bahasanya asyik.. 😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s