Dari Radio sampai Marhaenisme (Part 2)

Oleh : Rini Anggraini Lestari

Saya: “Marhaen tu siapa sih?”

Temen: (dengan gaya meyakinkan) “Gurunya Soekarno. Pernah denger partai PNI Marhaenis kan?”

Saya: “Ohh I see..”

Setelah selesai melihat2 stasiun radio, kami pun melanjutkan perjalanan menuju tempat selanjutnya. Katanya kami akan diajak melihat makam Pak Marhaen. Dengan modal pernah denger nama PNI Marhaenis ditambah pengetahuan sesat  kalau Pak Marhaen adalah gurunya Soekarno, saya dengan setia mengikuti perjalanan panjaaaaang berliku2 menyusuri galengan sawah menuju makam Pak Marhaen.

Sesampainya di makam Pak Marhaen, akhirnya saya mendapat pencerahan mengenai siapa sosok Marhaen sebenarnya dari cerita kang indra.

Alkisah Soekarno muda sedang berjalan-jalan di Kawasan Bandung Selatan, menyusuri galengan sawah yang tadi kami lewati (heu.. ngarang). Kemudian Soekarno bertemu dengan seorang petani yang sedang bekerja di sawah. Nama petani tersebut adalah Pak Marhaen. Sawah yang digarap Pak Marhaen adalah milik Pak Marhaen sendiri. Beliau bukanlah seorang buruh tani yang bekerja untuk sawah orang lain. Tetapi walaupun begitu, kehidupan Pak Marhaen tetap sulit karena hasil sawahnya hanya cukup untuk makan keluarga sehari2. Melihat mayoritas kondisi sosial masyarakat Indonesia yang hidupnya sulit, terkangkangi (bahasanya kang indra) oleh masyarakat kelas borjuis, mendorong Soekarno untuk membuat gerakan perjuangan untuk membebaskan penderitaan masyarakat kelas bawah. Paham gerakannya dinamakan Marhaenisme, karena terinspirasi oleh Pak Marhaen sebagai simbol penderitaan rakyat kecil.

Wait!

Kelas masyarakat? Penderitaan kelas bawah? Perjuangan pembebasan?

Itu sih Marxisme

Br%$#x@*&^%$#@#$%^&%^$#zz Marxisme!” tiba2 terdengar suara kang Indra menyebut kata Marxisme

Nah kan bener ada hubungannya..

Karl Marx yang seorang filosof, ahli sejarah, ahli sosiologi, ahli ekonomi, sepertinya sangat mempengaruhi faham yang dianut Soekarno. Pemikiran2 Marx yang praktis (dan politis) diterapkan Soekarno di Indonesia dalam bentuk gerakan Marhaenis. Ngga heran sih sebenernya. Karena kondisi penderitaan kelas pekerja (proletar) pada zaman Marx masih sangat terasa juga pada masa penjajahan di Indonesia. Bahkan kalau dipikir2 kondisi penderitaan masyarakat kecil dari setiap zaman komplit ada di Indonesia. Markicek (Mari kita cek)!

  1.  Penderitaan para budak oleh warga bebas khas zaman perbudakan kuno? Ada!
  2. Penderitaan para hamba pengolah tanah oleh kesewenangan tuan tanah pada masyarakat feodal abad pertengahan? Ada!
  3. Penderitaan warga negara biasa oleh kaum bangsawan/pemerintah? Ada!
  4. Penderitaan kaum proletar (pekerja) oleh para pemilik sarana produksi (pemodal) pada masyarakat kapitalis? Ada!
  5. Penderitaan masyarakat yang hidup sulit walaupun mereka memiliki sarana produksi sendiri? Ada, seperti Pak Marhaen. Dan ini yg paling ironi memang.

Astagfirullah, penderitaan yang sangat lengkap sekali.. *ngurut dada sampai kaki*

Bisa jadi yang membedakan Marxisme dengan Marhaenisme adalah bahwa Karl Marx membuat faham Marxisme sebagai gerakan pembebasan penderitaan kelas masyarakat No 4, sedangkan Marhaenisme adalah gerakan pembebasan penderitaan kelas masyarakat No 1,2,3,4,5.  Artinya seluruh masyarakat yang merasa menderita oleh sistem yang diterapkan kelas masyarakat yang lebih berkuasa.

Kalau dihubung2kan, sepertinya Karl Marx yang lambat laun menggaungkan sistem komunis, sedikit banyak mempengaruhi praktek gerakan2 di Indonesia, terutama Soekarno. Melalui tulisannya, Comunist Manivesto, Marx mengusung ide bahwa jalan pembebasan penderitaan kaum proletar hanya bisa dilakukan melalui jalan R-E-V-O-L-U-S-I. Menyatukan seluruh kekuatan masyarakat yang menderita dan  membuat kelompok penguasa gemetar. Aah, bisa jadi Comunist Manivesto-nya Marx kalau di Indonesia adalah Indonesia Menggugat-nya Soekarno . (Haa ngaco..  oke abaikan. Ini cuma skeptis pribadi :p)

Skip ttg Marxisme. Kembali kepada Marhaenisme. Ketika diskusi sempat ada pertanyaan mengenai nama Marhaen yang terdengar kurang lazim untuk nama orang Indonesia apalagi orang sunda. Marhaen.. Berasa nama penyanyi.. Insya Allah~~  Insya Allah~~

Lanjut!

Menurut kang indra, justru Soekarno mengatakan bahwa pada saat itu nama Marhaen banyak digunakan oleh masyarakat sekitar sini. Nah dari nama yang tidak lazim itu pertanyaan menjadi meluas. Benarkah pertemuan soekarno dengan petani bernama Marhaen benar2 terjadi? Seandainya Soekarno bertemu dengan petani bernama Pak Ujang (ini nama yg lebih lazim kayanya) apakah fahamnya akan dinamakan Ujangnisme?

Rasanya untuk Soekarno yang sangat mengedepankan sebuah citra tidak akan menamakan fahamnya Ujangnisme. Boleh jadi Soekarno sebenarnya sudah merencanakan memberi nama Marhaenisme untuk fahamnya (ngga kalah keren kan dengan nama Marxisme). Tapi Soekarno perlu membuat cerita filosofis dan simbolis yang kuat dari nama Marhaenisme tersebut. Maka dibuatlah Alkisah pertemuan Soekarno dengan Pak Marhaen (kalau yang ini udah jadi skeptis rame2 dari dulu, jadi boleh tidak diabaikan..:p)

Hari ini, jauh setelah Indonesia terbebas dari penjajahan kolonialisme, apakah ditandai juga dengan terbebasnya seluruh masyarakat kelas bawah dari penderitaan kelas masyarakat yang lebih berkuasa? Apakabar faham Marhaenisme hari ini? Apakah sudah mati?

Belum (sepertinya)

Selama mata kita masih melihat ada kelas masyarakat yang masih terbelenggu dalam rantai penderitaan, maka gerakan2 pembebasan akan tetap menggeliat. Marhaenisme masih menggaung dalam forum2 masyarakat, bisa dilihat dalam salah satu situs http://marhaenisme.com/ . Semangat Marhaenisme pun masih dianut oleh puteri Soekarno yang mengusung salah satu Partai dengan kredo “Partainya Wong Cilik”. Tapi apakah faham tersebut benar2 dijiwai dalam praktek2 pembebasan penderitaan Wong Cilik atau hanya sebatas dijadikan kredo untuk menarik simpati rakyat?

No comment ah..

Original post : http://anggrainilestari.tumblr.com/post/10799777685/dari-radio-sampai-marhaenisme-part-2

Iklan

3 pemikiran pada “Dari Radio sampai Marhaenisme (Part 2)

  1. Bung Karno gak adopsi Marxisme. Marhaen bukan Marxis yang disesuaikan dengan kondisi Indonesia. Memang ada kwmiriban, ada beberapa yang sama, tapi ada juga yang sangat beda yaitu Marharn berketuhanan, kalo Marxis atheis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s