“Tak ada yang Gratis!” Kearifan Lokal di Arboretum UNPAD

Oleh : M.Ryzki Wiryawan

“Semangat itu membimbing pena di tangan saya yang lemah untuk menggambar suatu pemandangan alam tropis , seperti yang ditunjukan di pulau Jawa, sejauh  yang dapat diukur , sebagai suatu bagian dari suatu konsep utuh. Ini hanya sketsa , sebuah bukti awal yang lemah yang dapat saya berikan kepada para pembaca…” Junghuhn, Jawa 1853

 

Franz Willem Junghuhn  (1809-1864) adalah seorang Peneliti asal Jerman yang jatuh cinta terhadap keberagaman hayati di Nusantara, khususnya pulau Jawa. Ia menulis buku Java. Siene Gestalt, Pflanzendecke unm innere Bauart tahun 1845 yang berisikan monograti geografis alam Jawa terpenting di masa itu. Buku itu memuat sketsa-sketsa dan lukisan keindahan alam pulau Jawa, yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata sehingga perlu ditunjukan dengan  suatu citra, Yang tentu saja pada masa itu belum ada fotografi sehingga lukisan/sketsa menjadi media utama dalam pendokumentasian keindahan ini. Beruntunglah kita yang tinggal di tanah Jawa Barat ini karena bisa menyaksikan keindahan alam secara langsung tidak lewat foto/lukisan. Tapi beberapa waktu lagi untuk menikmati beragam jenis vegetasi khas Jabar, mungkin kita harus beralih lagi pada pada gambar-gambar dua dimensi  tanpa bisa menyaksikan tumbuhan aslinya.

 

Lalu apa hubungannya dengan Ngaleut terakhir (9/01/11) ? Tentu saja ada, saya yang selama ini mengadakan perjalanan bersama Aleut kerapkali menemukan suatu daerah yang dinamakan berdasarkan nama suatu vegetasi, diantaranya seperti : Kosambi, Andir, Baros, Binong, Dadap, Gadung, dll. Tanpa mengetahui bentuk fisik dari tumbuhan-tumbuhan yang dimaksud tersebut. Padahal vegetasi tersebut merupakan tanaman lokal yang menurut saya sengaja dijadikan nama suatu daerah oleh orang-orang tua kita jaman dahulu sebagai media untuk mengingatkan kita akan pentingnya pengetahuan  tumbuhan-tumbuhan tersebut.

 

Beberapa Buah Khas Nusantara

Sayangnya, seperti yang saya rasakan selama ini, kita tampaknya acuh-tak acuh saja dalam mengenai jenis-jenis vegetasi. Ini menyadarkan saya akan istilah yang selalu saya gunakan “tak kenal maka tak sayang”, untuk menyelamatkan lingkungan pertama tama kita harus mengenal penghuni lingkungan itu.  Omong kosong aktivis-aktivis yang berkoar meneriakkan penyelamatan lingkungan sementara ia tidak mengenal vegetasi yang ada di sekitarnya (punten rada galak yeuh.. hehe). Terimakasih pada Aleut! yang membawa saya ke Arboretum UNPAD yang ternyata menyimpan banyak koleksi tanaman lokal tersebut. Walau tidak hapal seluruhnya, minimal saya jadi tahu bentuk dan kegunaan dari beberapa vegetasi khas Jawa Barat. Mungkin dengan beberapa kuliah selanjutnya dari Pak Joko dan Pak Prihadi selaku narasumber, saya bisa menghapal seluruh vegetasi khas Jawa Barat (amienn)…

 

Tampaknya kearifan lokal terhadap  lingkungan lebih disadari oleh nenek moyang kita dahulu yang masih menganut animisme. Contohnya mereka beranggapan bahwa roh-roh nenek moyang berdiam di puncak-puncak gunung sehingga mereka tidak berani mengusik daerah tersebut yang notabene adalah daerah resapan air. Mahkluk-mahkluk halus juga dipercaya mendiami pohon-pohon besar sehingga tidak ada yang berani mendekati atau bahkan mengganggunya. Apabila mereka akan menebang atau mengambil suatu hasil alam, mereka juga memberikan semacam pengorbanan sebagai suatu tanda terima kasih kepada alam. Tanpa bermaksud menjadi musyrik, tindaka-tindakan nenek moyang ini harus dibaca sebagai suatu upaya konservasi yang sukses walau tanpa diiming-imingi ancaman pemanasan global atau undang-undang.

 

Keanekaragaman hayati di Jawa Barat ini tidak hanya didokumentasikan dalam nama-nama daerah, melainkan juga dalam karya sastra Jawa Klasik. Ketika saya berada di Arboretum, saya langsung terbayang suatu fragmen dalam Serat Centhini yang menggambarkan keadaan kekayaan alam Jawa Barat. Kitab Centhini merupakan suatu kitab “Ensiklopedi Jawa” berbentuk tembang-tembang dengan petuah-petuah dan kisah-kisah menarik dan yang sangat indah, karya ini ditulis pada abad ke-18.

Berikut ini saya kutip kisah Jayengresmi “tokoh utama cerita” yang sedang mengunjungi  Bogor.

 

Alkisah Jayengresmi bertemu dengan kepala Desa Bogor bernama Ki Wargapati. Sang Kepala Desa kemudian membawa sang Jayengresmi ke bekas keraton Padjajaran yang saat itu hanya berupa kolam bertepikan batu hitam dengan ukiran yang indah. Jayengresmi kemudian melanjutkan perjalanan ke pertapaan Gunung Salak dan menikmati keindahan di sana. Tak lupa ia menyebutkan tanaman-tanaman yang ada di sana, antara lain :

 

Bunga-bunga

-andong, mawar warna-warni, dalia, andul, anggrek buan, noja, nagasari, cepiring, dan cempaka wangi

– claket, cengger, ragaina, rukem dan rejasa

– krandang, kalak wangi, kanigara, dan kalurak

– kalilika, kemuning dan kenikir

– Kesturi dan kenanga

– Dlima, druju, dilem, tluki, tunjung, tlutur, tongkeng, sungsang, soka, srigading, sulastri, sruni, sumarsana, widuri dan warsiki ungu

– wura-wari merah dan landep

– Larawudu, liander, dan landep

– Patragala, pundak, pulu, purbanegara (bunga matahari) dan prabu set, pancasuda

– Pacar banyu

– Petet, pacarcina, pacarkuku yang harum baunya

– Menur bersusun dan tunggal

– Melati banak sekali, mandakaki, gandapura, gambir merah, dawung dan gambir putih

– Buntut kucing merah dan kuning

– Bakung, bangah, dan bebeg.

 

Tanam-tanaman

– Anggi-anggi, ulet-ulet dan inggu

– Adas, cengkeh, ceguk, cabe rasukangin, rasamala, ketumbar, kemukus, kayu abang, kapulaga, klembak, klabet, kedawung dan kayu legi.

– Tenggari dan trawas

– Kayu tai, sintok, sidawayah, suprantu, sukmadiluwih, widara putih, waron, pala, pulasari, pucuk, pacar, jongrahap, merica, masoyi manis, kemenyan

– Ganthi, gelam, gaharu, botor dan bunga tempayang.

 

Pohon buah-buahan

– Asem, elo dan epreh

– Nam-nam, nangka muda, crème, rukem, randu, kuweni, kokosan, ketos, kleca, kelayu, kapundung, kecapi, kawis, kemlaka, kopi, kluwih, delima, durian, tanjung, tangkil, sawo, semak, dan srikaya.

– Sentul, sokat, sukun dan sulastri.

– Wuni, Beringin, langsep, pijetan, mangga, plenisan, dan pakel.

– Pucung, duwet, duku, jeruk, jirak dan Jambu

– Nyamplung, manggis, mulwa, melinjo, maja, mundu, gowok, kedondong dan gayam.

– balong, Belimbing, blimbing wuluh, besaran merah dan bogem banyak sekali…

 

PEmandangan Gunung Salak

 

Nah, itulah sebagian vegetasi yang didokumentasikan dalam Serat Centhini, sebagian besar nama tumbuh-tumbuhan itu masih asing bagi saya. Nah di akhir kisah, disebutkan sebagai berikut :

Hasil tanam-tanaman tersebut diberikan sebagai amal sedekah kepada siapa saja yang memerlukannya. Boleh memetik sesuka hatinya. Maka tiap hari tak ada hentinya, orang selalu berdatangan menerima dana yang tak dibatasi itu. Yang diambil tak habis-habisnya, bahkan selalu bertambah. Peristiwa itu sampai terdengar di lain-lain daerah”.

 

Nah inilah watak orang-orang bagsa kita yang secara jujur diungkapkan serat Centhini dan ditekankan lagi oleh Pak Prihadi serta pak Joko dari Arboretum UNPAD, bahwa seringkali kita hanya menikmati hasil alam tanpa ingat untuk berterima kasih kepadanya, sehingga alam tidak akan memberikan hasil terbaiknya lagi  kepada kita, kita telah melupakan kearifan lokal kita padahal  “Tidak ada yang Gratis” !

 

 

Selasih

 

Sumber :

Twentienth Century Indonesia. Wilfred T Neill. Columbia Univ. press. 1973

Serat Centhini Jilid I-B. Tardjan Hadidjaya. UP Indonesia. 1979

Sejarah Ringkas Indonesia. L. Mariatmo. Kanisius Jogjakarta. 1953

 

Gambar

Ilmu Tumbuh-tumbuhan. T. Uit De Bos. JB Wolters. 1950

De Tropiche Natuur. Dr. A.H. Blaau. Koloniaal Instituut. 1917

Pepohonan Bambu
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s