#PojokKAA2015: Ajian Pawang Hujan Gagal, Gedung Merdeka Pun Bocor

Oleh: Arif Abdurahman (@yeaharip)

Sekitar Gedung Merdeka Saat Hujan Turun (Foto: Arya Vidya Utama)

Sekitar Gedung Merdeka Saat Hujan Turun (Foto: Arya Vidya Utama)

Beberapa hari menuju hari raya komemorasi 60 Tahun Konferensi Asia-Afrika, hujan masih sering mengguyur Kota Bandung.  Kemungkinan besar hujan pun akan turun pada acara puncak peringatan KAA 2015 yang dihadiri para kepala negara dan delegasi negara Asia-Afrika. Tentunya ini dikhawatirkan dapat menghambat jalannya prosesi acara.

Sebagai bangsa yang menjunjung tinggi klenik, pastinya menghadirkan sang pawang hujan untuk suksesnya sebuah hajatan jadi suatu keharusan. Dan usulan non ilmiah ini justru datang dari seorang Kapolda Jabar.

| Republika – Kapolda Jabar Usulkan Pawang Hujan dalam Peringatan KAA

Soal pawang hujan ini, ada sebuah cerita unik dari KAA 1955 silam yang saya temukan dari Bandung Connection-nya Ruslan Abdul Gani. Gara-gara hujan, atap Gedung Merdeka ada yang bocor saat perhelatan akbar ini berlangsung. Baca lebih lanjut

#PojokKAA2015: Bendera Dadakan di KAA 1955

Oleh: Vecco Suryahadi Saputro (@veccosuryahadi)

Saat berada di Museum Konferensi Asia-Afrika, ada satu bendera yang membuat saya tertarik. Bendera ini tidak memiliki bermacam-macam warna atau pola. Bendera ini berwarna polos dan bertuliskan Sudan. Loh, bukannya bendera sudan memiliki tiga warna (1956-1970) lalu empat warna (1971-sekarang)?

Bendera Dadakan Untuk Dikibarkan

Terdapat cerita di balik bendera Sudan yang dipamerkan di Museum Konferensi Asia-Afrika. Cerita tersebut bermula dari beberapa minggu sebelum konferensi dimulai. Saat itu, Joint Secretariat memerlukan bendera-bendera negara peserta konferensi. Maksud permintaan bendera tersebut untuk dikibarkan di beberapa gedung di Bandung. Baca lebih lanjut