Catatan Perjalanan: Ngaleut Gunung Hejo

Oleh: Irfan Teguh Pribadi (@irfanteguh)

Beberapa bulan ini Komunitas Aleut jarang melakukan ngaleut dalam kota, diganti dengan momotoran ke beberapa tempat di wilayah Priangan, dan sesekali melakukan perjalanan jauh menyusuri pantai selatan Jawa Barat dan Banten. Konon ada yang berkomentar dengan nada sinis, keur resep ngadatangan tempat angker jeung jujurigan anyeuna mah. Barangkali benar belaka apa yang pernah dikicaukan seorang kawan, “yang berbahaya dari menurunnya minat baca adalah meningkatnya minat berkomentar.”

Minggu, 16 April 2017, melintasi 5 kota dan kabupaten (Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Purwakarta, Kabupaten Subang), momotoran hendak menuju Gunung Héjo dan Bukit Patenggéng. Dua tempat ini terlihat jelas dari tol Cipularang, dan kerap mengundang rasa penasaran: yang satu khas hutan hujan tropis, dan satu lagi gersang berbatu.

Sekira 15 motor bersiap dari Kedai Preanger, Jl. Solontongan-Buahbatu, sementara satu motor lagi menunggu di daerah Cimindi. Perjalanan seperti biasa aduhai, kecuali ketika melintas di ruas jalan Gado Bangkong: ada razia kendaraan dari kepolisian. Beberapa kawan berdegup kencang, termasuk saya. Baca lebih lanjut

Iklan

Berbuatlah Untuk Bumi Kita Yang Tua

Oleh: Rulfhi Pratama (@rulfhi)

Bumi yang kita tinggali ini sudah tak muda lagi kan? Dan saya rasa jawaban Anda akan setuju dengan saya. Bumi ini sudah ditinggali ratusan generasi, baik oleh dinosaurus, manusia purba ataupun makhluk lainnya hingga sampai di masa sekarang ditempati oleh manusia kaum milenial.

Semakin tua usia maka akan rentang sekali dengan berbagai penyakit. Terlebih jika tidak bisa menjaga kondisi agar tetap prima. Tentunya bumi telah diciptakan oleh Tuhan dengan kemampuan untuk menjaga kondisinya tetap seimbang yang disebut daya dukung lingkungan. Kemampuan yang sudah cukup untuk menjalankan semua kehidupan berjalan sesuai ketentuannya.

Tetapi lambat laun kemampuan bumi itu berkurang secara “paksa”. Salah satu faktor yang paling mempengaruhinya adalah keberadaan manusia. Manusia mengolah setiap sumber daya alam yang tersedia dengan rakus. Semua digunakan tanpa memikirkan untuk dikembalikan ke alam sebagai penyeimbang. Sehingga secara perlahan bumi yang sedang pijak mengalami ketimpangan ekosistem.

Manusia yang sebenarnya didaulat Tuhan menjadi khilafah, seorang pemimpin yang bertugas menjaga agar semua tetap seimbang dan berjalan sebagai mana mestinya, malah menjadi salah satu faktor utama yang mempercepat kerusakan di bumi.

Berbicara mengenai alam, kebetulan minggu kemaren saya berkesempatan untuk momotoran bersama Komunitas Aleut untuk mengunjungi sebuah gunung di daerah Kecamatan Darangdan, Kabupaten Purwakarta. Gunung Hejo namanya.  Baca lebih lanjut

#InfoAleut: Kelas Literasi “Perpustakaan Bagian 2” dan Ngaleut Gunung Hejo

Malam, Aleutians! Mati gaya karena “jaga kandang” di Bandung long weekend ini? Ayo mending gabung di dua acara seru dari kami, karena dijamin ga akan bikin mati gaya 😀

Besok di Kelas Literasi pekan ke-90 kita akan membahas Perpustakaan Bagian 2. Setelah dua minggu sebelumnya adalah bagian mukadimah soal perpustakaan, nah di pekan ini kita bakal juga belajar bareng dan praktek pengelolaan perpustakaan Dijamin seru deh, makanya langsung aja merapat ke Kedai Preanger pukul 13.45 WIB.

Di hari Minggu-nya kita bakal momotoran ke arah barat di Ngaleut Gunung Hejo. Ya seperti biasa, kita ga akan hanya ke satu lokasi saja. Ga jauh dari rest area KM-97 ada bukit yang pohonannya masih terlihat lebat. Bukit ini legendaris karena banyak mitos di baliknya. Nah nanti kita akan lihat juga ada apa sih di balik bukit itu.
Ayo ramaikan, kalau tertarik ikut langsung kontak via teks ke nomor 0896-8095-4394 atau LINE @FLF1345R dan kumpul di KedaiPreanger pukul 07.26 WIB.
Saat konfirmasi cantumkan juga keterangan bermotor atau tidak, dan bagi yang bermotor jangan lupa bawa dua helm ya.
Ayo gabung untuk menghindarkan diri dari mati gaya di long weekend ini. Sampai jumpa 😀

Rias Muka Ala Purwakarta

Oleh: Irfan Noormansyah (@fan_fin)

Otot kawat tulang baja julukannya, bertengger Sabtu pagi di Stasiun Purwakarta. Tak lain dan tak bukan adalah Gatot Kaca, putra dari Bima. Tokoh yang terkenal bisa melayang di angkasa ini menyambut gagah kedatangan para tamu yang singgah di Purwakarta lewat kereta. Seringai wajahnya menunjukkan wibawa, seolah menjadi penjaga kota.

Stasiun Purwakarta menjadi langkah pertama saya di daerah yang menjadi sub-urban Kota Bandung ini. Ukurannya tak terlalu besar, namun ada yang berbeda. Di balik kereta-kereta yang sedang menunggu giliran untuk berangkat, terdapat deretan gerbong-gerbong kereta tua yang sudah menjadi bangkai, bertumpuk rapi bagaikan mainan anak yang dapat dibongkar pasang.

“Tua..

Namun Begitu Indah di Mata..

Gerbong kereta yang beragam warna..

Menjadikannya Istimewa..”

Lalu saya ingat persis, tempat inilah yang ternama di dunia maya. Tempat orang berfoto diri karena latar belakang foto yang menjadi tak biasa.

Tak lama saya diperkenalkan kepada si kembar yang berdiri tepat di samping stasiun, tak seperti kembar yang saya bayangkan layaknya kembar yang berada di negeri Paman Sam memang. Si kembar yang dimaksud adalah Gedung Kembar yang sudah berusia satu abad lebih dan merupakan salah satu bangunan heritage di Purwakarta. Nakula Sadewa namanya kini, sama seperti nama si kembar dari ceritera Mahabarata, sehingga menambah kental nuansa pewayangan di Purwakarta. Gedung Kembar Nakula Sadewa kini dipergunakan sebagai museum yang diberi nama Bale Panyawangan Diorama Purwakarta.

Buat saya yang sebenarnya cukup mengikuti perkembangan teknologi terkini, Bale Panyawangan Diorama Purwakarta merupakan satu tempat yang cukup ajaib . Sebuah buku yang menayangkan gambar bergerak di setiap lembarnya seperti Film Harry Potter dan sebuah video virtual yang berjalan dengan kayuhan sepeda sukses membuat saya merasa ndeso. Pada umumnya, Bale Panyawangan, seperti titelnya yang menyandang nama Diorama Purwakarta, menceritakan tentang daerah Purwakarta dari mulai sejarah, perkembangan kota, hingga bagaimana Purwakarta mengangkat berbagai budaya nusantara menjadi bagian dari pariwisata.

Purwakarta memang sempat menjadi saksi sejarah perlawanan rakyat Indonesia terhadap VOC, namun hanya sedemikian saja. Secara budaya dan sejarah sebenarnya tak banyak yang dapat ditawarkan sebagai aspek pariwisata. Namun, kondisi itu tak membuat sang penguasa patah arang. Wajah Purwakarta kini cantik dengan daya tarik di berbagai titik. Dengan dalih ingin mengangkat berbagai kearifan lokal yang dimiliki Nusantara, kini Purwakarta menjelma menjadi kota istimewa yang pariwisatanya tak kalah asik dengan kota-kota besar lainnya. Gapura dan corak khas Pulau Dewata dapat dengan mudah ditemukan menghiasi sudut kota. Berbagai tokoh pewayangan Mahabarata pun menjadi satu gaya yang menjadi tanda kota.

Tak mau kalah dengan tetangganya Kota Bandung, Purwakarta memiliki beberapa taman cantik yang menjadi andalan muda-mudi menghabiskan banyak waktunya di ruang terbuka. Beberapa instalasi seni di sekeliling taman menjadi primadona untuk berfoto selfie tatkala segerombol wisatawan hadir lengkap membawa tongkat narsisnya. Memang tak seramai taman dan alun-alun di Bandung, namun justru hal ini yang menciptakan faktor kelestarian lingkungan sekitar. Tak banyak sampah berserakan dan fasilitas umum relatif masih baik dan terjaga.

Beranjak dari alun-alun, saya dikenalkan kepada Citra dan Sri. Sayangnya bukan dalam wujud perempuan tinggi cantik semampai seperti yang saya khayalkan, tetapi dua nama yang menjadi taman di Purwakarta; Taman Citra Resmi dan Taman Sri Baduga. Dyah Pitaloka Citra Resmi seorang putri kerajaan Sunda yang terlibat dalam terjadinya Perang Bubat merupakan inspirasi bagaimana Taman Citra Resmi di Purwakarta dinamakan. Secara fisik, keberadaannya sangat mencolok dengan keberadaan patung dan relief yang menggambarkan ringkasan peristiwa Perang Bubat ini tertata sangat indah. Di bagian tengah taman terdapat sang boga lakon, yaitu Dyah Pitaloka Citra Resmi yang sedang beradegan akan menikam lehernya dengan pisau, sementara di bagian belakangnya terdapat relief yang menceriterakan bagaimana perang tersebut berlangsung dan memakan banyak korban.

Sri Baduga, yang tentunya bukan nama seorang wanita layaknya nama Sri di jaman sekarang, merupakan nama lain dari Prabu Siliwangi. Prabu Siliwangi dikenal sangat erat kaitannya dengan binatang maung (macan), karena konon di saat kehancuran kerajaan yang dipimpinnya ia dan pengikutnya berubah menjadi maung saat ditemukan sang anak, Prabu Kian Santang, di lokasi bekas kerajaannya. Bagi orang Bandung, nama Sri Baduga sendiri sudah tidak asing, karena di Bandung Sri Baduga merupakan nama museum yang terletak di Jalan Lingkar Selatan.

Untuk memasuki wilayah Taman Sri Baduga yang ternyata sangat luas wilayahnya ini (mungkin hampir seluas Monas), pengunjung harus mengitari setengah lingkaran lebih taman tersebut dari mulai titik awal di Taman Citra Resmi. Sungguh melelahkan rasanya karena ketika menemukan pintu masuk, kita harus kembali mengelilingi setengah lingkaran sebuah kolam besar untuk dapat berfoto dengan patung Sri Baduga dan keempat maung pengikutnya di titik paling dekat. Melelahkan, namun cukup pantas didapat saat melihat dari dekat megahnya patung Sri Baduga dan empat maung pengikutnya yang memancarkan air layaknya patung singa di Singapore.

Sri Baduga dan Citra Resmi hanyalah dua tokoh yang sebenarnya tidak memiliki kaitan erat dengan Purwakarta, namun diangkat oleh pemerintah setempat sebagai bagian dari pariwisata daerah. Walaupun tidak memiliki hubungan budaya dan sejarah dengan tempat-tempat wisata yang dibuat di Purwakarta, namun cara cerdik pemerintah yang mengisi kosongnya kekurangan mereka dengan berbagai konten yang menarik perlu diacungi jempol.

Tentunya kurang rasanya bila berwisata ke suatu kota tapi tak mencoba kuliner khasnya. Es Kuwut, satu kuliner menarik yang menjadi penutup kunjungan saya ke Purwakarta. Lokasinya tepat bersebrangan dengan Stasiun Purwakarta. Es Kuwut terbuat dari air perasan jeruk nipis berisikan hirbis dan selasih, agak asam namun memberikan kesegaran di bawah suhu Purwakarta yang lebih sedikit eksotis dibandingkan di Bandung.

 

Tautan asli: http://ceritamatakata.blogspot.co.id/2016/06/rias-muka-ala-purwakarta.html