Inggit Garnasih

Mengenal peran wanita di ruang privat dalam pendampingan perjuangan pergerakan kemerdekaan Republik Indonesia

Oleh: Puspita Putri (@Puspitampuss)

Minggu, 17 Februari 2019, pagi-pagi sekali aku bangun lalu mandi, sarapan dan melakukan kegiatan persiapan lainnya. Aku bersiap untuk pergi ke pelataran Gedung Merdeka, memenuhi janji kepada salah satu temanku dari Jakarta untuk menemaninya mem-Bandung hari itu. Baca lebih lanjut

Iklan

Aku, Bung Karno, dan Bandung

Oleh : Dahlia Anggita (@dahliaanggita)

“Who is this?” tanya host sister-ku suatu hari, menerjemahkan pertanyaan host dad-ku yang tak bisa berbahasa Inggris. Mereka berdua memandang sebuah foto hitam putih yang ada di dompetku.

“Is that your grandpa?”

“He’s my first president.”

Dan raut wajah Pa – panggilan akrab ­host dad-ku – seketika berubah.

“Then why do you put his photo inside your wallet?”

Tak pernah sekali pun aku mengungkap alasan kenapa aku mengagumi Bung Karno kepada orang lain. Rasanya terlalu naif.

“I just love him,” jawabku singkat.

***

Sudah jalan dua bulan tinggal di Bandung, setiap akhir minggu aku masih bingung harus melakukan apa. Setelah sedikit melakukan riset melalui sosial media, aku menemukan akun sebuah komunitas sejarah yang mengadakan tour wisata.

Di situ tertulis “Ngabandros Jejak Sukarno di Bandung”. Baca lebih lanjut

Dari Situs Penjara Banceuy

Oleh: Hendi “Akay” Abdurahman (@akayberkoar)

Dari Situs Penjara Banceuy

Saya melihat Sukarno sedang termenung ditemani buku dan pena. Kegelisahan begitu jelas terlihat dari raut wajahnya. Walaupun hanya dalam bentuk patung, keberadaannya terasa esensial. Di tempat inilah Sukarno mendapatkan gagasan dan juga mengumpulkan berbagai rumusan untuk menulis pledoi yang terkenal: Indonesia Menggugat.

Inilah pertama kali saya menginjakkan kaki di Penjara Banceuy, Bandung. Sebuah penjara yang penuh sejarah, terutama yang berkaitan dengan Sukarno.

Angga menuntun saya ke setiap penjuru, “Nah lihat dan bayangkan, di kamar nomor 5 dengan ukuran 1,5 x 2,5 meter ini Sukarno pernah tinggal,” ujarnya sambil menunjuk ke arah bangunan serupa kamar.

“Haaaah!!!!” saya tertegun. “Gilaaaa… Sempit banget.” Baca lebih lanjut

Mengungkap dan Mengenal Kembali Alat Transportasi di Bandung Baheula

Oleh: Novan Herfiyana (@novanherfiyana)

Siang itu, Waktu Indonesia bagian Taman Lalu Lintas Ade Irma Suryani Nasution Bandung sudah menunjukkan pukul satu. Hitungan menitnya lebih sedikitlah tanpa tawar-menawar ala penjual dan pembeli di pasar tradisional. Dalam suasana siang itu, kami, pegiat Aleut di Komunitas Aleut, sudah menuntaskan acara #NgaleutTransportasi.

Di luar kawasan Taman Lalu Lintas Ade Irma Suryani Nasution Bandung yang berada di Jalan Belitung No. 1 Kota Bandung, ada pegiat Aleut yang hendak pulang menuju kawasan Alun-alun Bandung yang berada di Jalan Asia Afrika. Mereka mempertimbangkan antara naik angkot atau berjalan kaki sebagaimana sejak awal acara yang ngaleut. Soalnya, motornya diparkirkan di kawasan Alun-alun Bandung.

Ada juga pegiat Aleut yang tinggal naik motor karena motornya sudah diparkirkan di tempat parkir di kawasan Taman Lalu Lintas. Pegiat Aleut yang “semacam” ini sudah mencermati lokasi akhir tempat acara. (Bandingkan dengan kesempatan lain ketika lokasi akhir tempat acara yang direncanakan di kawasan Gasibu, ternyata “terpaksa” berakhir di salah satu halaman minimarket di Jalan Banda karena hujan deras). Jangan lupakan pula pegiat Aleut yang tinggal memboseh sepeda karena sepeda yang dimilikinya diajak ngaleut.

Bagaimana dengan penulis sendiri? Saya sendiri tinggal memilih angkot yang berada di kawasan Taman Lalu Lintas. Malah ada beberapa alternatif trayek angkot yang menuju tempat tinggal saya. Dalam ngaleut kali ini, saya memang lebih memilih naik angkot daripada naik kendaraan (motor) sendiri yang mesti diparkirkan di lokasi awal acara (Monumen Km Bandung 0 + 00). Alasannya, kalau membawa motor, saya mesti balik lagi menuju lokasi awal acara sebagaimana sebagian pegiat Aleut tadi. (Sebetulnya mah “pilih-pilih” untuk parkir). Baca lebih lanjut

#PojokKAA2015: Sel Soekarno di Banceuy Juga Ikut Berbenah

Oleh: Arya Vidya Utama (@aryawasho)

Proyek Perbaikan Bekas Sel Soekarno

Proyek Perbaikan Bekas Sel Soekarno

Ada hal menarik pada saat saya berkunjung ke Jl. Banceuy pada hari Rabu kemarin. Di sekitar Bekas Sel Penjara Soekarno, terlihat tengah berlangsung proyek perbaikan. Pada saat bertanya kepada salah satu pekerja untuk menanyakan proyek apa yang sedang berlangsung, saya lansgung diarahkan untuk bertemu Pak Ahmad, petugas penjaga situs ini.

Pak Ahmad bukanlah nama yang asing bagi saya dan pegiat Komunitas Aleut, karena tahun lalu kami pernah berbincang dengan beliau seputar Soekarno dan situs yang ia jaga secara sukarela. Ia seringkali mengeluhkan tidak adanya bantuan operasional dari pemerintah maupun keluarga dari Soekarno dalam pengelolaan situs ini.

Pak Ahmad, Petugas Penjaga Sel Soekarno

Pak Ahmad, Petugas Penjaga Sel Soekarno

Saat bertemu lagi dengan Pak Ahmad, saya cukup terkejut. Di saku kemeja batiknya terlihat nametag yang bertuliskan “Provinsi Jawa Barat”. Iseng saya bertanya pada beliau, dan memang betul sejak akhir tahun 2014 Pak Ahmad diangkat sebagai pegawai Pemprov Jawa Barat yang bertugas untuk menjaga situs ini. Saya merasa lega karena akhirnya pihak pemerintah daerah mau peduli dengan Pak Ahmad dan situs ini.

Blueprint Proyek Perbaikan Sel Soekarno

Blueprint Proyek Perbaikan Sel Soekarno

Menurut Pak Ahmad, proyek yang sedang berlangsung di situs ini merupakan bagian dari persiapan perayaan Konferensi Asia-Afrika 2015 yang puncak acaranya akan berlangsung pada 24 April 2015. Nantinya, di sekitar sel ini akan dipasang patung perunggu Soekarno yang sedang duduk membaca buku. Akses masuk utama pun dialihkan ke Jl. Banceuy, bukan lagi dari Jl. Belakang Factory.

Patung Perunggu Soekarno yang Akan Ditempatkan di Situs Ini

Patung Perunggu Soekarno yang Akan Ditempatkan di Situs Ini

Proyek ini menurut Pak Ahmad diharapkan bisa selesai sebelum tanggal 20 April 2015, meskipun proyek ini sendiri baru dimulai tanggal 1 April. Untuk mengejar waktu penyelesaian, proyek ini berlangsung pagi hingga malam hari. Saat saya ajak bercanda dengan sebutan “Proyek Sangkuriang”, Pak Ahmad pun tersenyum.

Meskipun proyek ini terlihat paralel dengan proyek perbaikan yang berlangsung di Jl. Braga, dan sebagian ruas Jl. Asia-Afrika, rupanya perbaikan sel ini tidak didanai oleh biaya dari pemerintah maupun partai politik. Menurut Pak Ahmad, dana perbaikan sel ini berasal dari dana udunan beberapa warga yang peduli dengan kondisi situs ini.

Proyeksi Visual Setelah Perbaikan

Proyeksi Visual Setelah Perbaikan

Semoga saja setelah proyek perbaikan ini selesai, situs Bekas Sel Penjara Soekarno ini lebih mendapat perhatian dari warga Bandung maupun pemerintah daerah.

 

Foto: Arsip Arya Vidya Utama