Mengungkap dan Mengenal Kembali Alat Transportasi di Bandung Baheula

Oleh: Novan Herfiyana (@novanherfiyana)

Siang itu, Waktu Indonesia bagian Taman Lalu Lintas Ade Irma Suryani Nasution Bandung sudah menunjukkan pukul satu. Hitungan menitnya lebih sedikitlah tanpa tawar-menawar ala penjual dan pembeli di pasar tradisional. Dalam suasana siang itu, kami, pegiat Aleut di Komunitas Aleut, sudah menuntaskan acara #NgaleutTransportasi.

Di luar kawasan Taman Lalu Lintas Ade Irma Suryani Nasution Bandung yang berada di Jalan Belitung No. 1 Kota Bandung, ada pegiat Aleut yang hendak pulang menuju kawasan Alun-alun Bandung yang berada di Jalan Asia Afrika. Mereka mempertimbangkan antara naik angkot atau berjalan kaki sebagaimana sejak awal acara yang ngaleut. Soalnya, motornya diparkirkan di kawasan Alun-alun Bandung.

Ada juga pegiat Aleut yang tinggal naik motor karena motornya sudah diparkirkan di tempat parkir di kawasan Taman Lalu Lintas. Pegiat Aleut yang “semacam” ini sudah mencermati lokasi akhir tempat acara. (Bandingkan dengan kesempatan lain ketika lokasi akhir tempat acara yang direncanakan di kawasan Gasibu, ternyata “terpaksa” berakhir di salah satu halaman minimarket di Jalan Banda karena hujan deras). Jangan lupakan pula pegiat Aleut yang tinggal memboseh sepeda karena sepeda yang dimilikinya diajak ngaleut.

Bagaimana dengan penulis sendiri? Saya sendiri tinggal memilih angkot yang berada di kawasan Taman Lalu Lintas. Malah ada beberapa alternatif trayek angkot yang menuju tempat tinggal saya. Dalam ngaleut kali ini, saya memang lebih memilih naik angkot daripada naik kendaraan (motor) sendiri yang mesti diparkirkan di lokasi awal acara (Monumen Km Bandung 0 + 00). Alasannya, kalau membawa motor, saya mesti balik lagi menuju lokasi awal acara sebagaimana sebagian pegiat Aleut tadi. (Sebetulnya mah “pilih-pilih” untuk parkir).

Ya, saya dan pegiat Aleut memang sudah memiliki “strategi” masing-masing untuk menggunakan sarana transportasi. Sangat tepat untuk menggambarkan tema Komunitas Aleut pada hari Minggu, 20 September 2015, kemarin: #NgaleutTransportasi. Acara dimulai di Monumen Km Bandung 0 + 00 dan diakhiri di Taman Lalu Lintas Ade Irma Suryani Nasution Bandung.

Dari Monumen Km Nol Bandung ke Taman Lalu Lintas Bandung

Dimulainya #NgaleutTransportasi di Monumen Km Bandung 0 + 00 yang berada di Jalan Asia Afrika Kota Bandung ini bukan tanpa alasan. Di kawasan inilah, antara lain, dilintasi jalan yang saat itu bernama Jalan Raya Pos (de Groote Postweg). Alat transportasi yang mulai melintasi de Groote Postweg ini tentu saja belum berupa mobil atau motor. Kebetulan pada Minggu, 20 September 2015, pagi itu, Jalan Asia Afrika (mulai Hotel Preanger hingga jembatan penyeberangan orang, dekat Gedung Nedhandel NV) tertutup bagi mobil dan motor, kecuali milik petugas (kepolisian). Tampaknya ada acara sepeda santai dan beberapa kegiatan lainnya.

Monumen Km Bandung 0 + 00 ini terletak di depan Kantor Dinas Bina Marga Provinsi Jawa Barat atau tepat di seberang Gedung Keuangan Negara Bandung. Gedung Keuangan Negara Bandung itu sendiri berada di sebelah Hotel Savoy Homann. Monumen Km Bandung 0 + 00 ini diresmikan (lagi) pada tanggal 18 Mei 2004 oleh Gubernur Jawa Barat Danny Setiawan. Monumen ini didedikasikan untuk para korban politik tanam paksa (cultuurstelsel) pada jaman Hindia Belanda.

Di luar Monumen Km Bandung 0 + 00 yang dibatasi pagar besi itu terdapat patok di trotoar. Jika diperhatikan, ada tulisan menarik yang tertera pada patok tersebut yaitu CLN 18 dan PDL 18. Angka 18 itu bermakna 18 km dari 0 km menuju Cileunyi (CLN) atau Padalarang (PDL).

Dari Monumen Km Bandung 0 + 00, pegiat Aleut ngaleut menuju Alun-alun Bandung untuk menerangkan bahwa di kawasan inilah pernah dijadikan pangkalan DAMRI. Karena situasi dan kondisi, pegiat Aleut menerangkannya di trotoar di halaman Nedhandel NV. (Saya pribadi, di Alun-alun Bandung ini, sempat mengalami naik bemo trayek Alun-alun Bandung-Ciroyom pada akhir 1980-an. Saya masih ingat ucapan ibu saya bahwa beliau mengajak saya naik bemo karena bemo akan segera dihapuskan di kota Bandung. Betul saja, itu pengalaman pertama dan sekaligus terakhir kali saya naik bemo di Bandung. Saya kira, kalau soal bemo, masih ada di Jakarta yaitu di Benhil alias Bendungan Hilir dan di Manggarai. Itu pun ternyata terungkap oleh cerita pegiat Aleut lainnya dalam sesi sharing #NgaleutTransportasi).

Ngaleut pun berlanjut ke bekas istal (tempat peristirahatan) kuda sebagai sarana transportasi. Pegiat Aleut memasuki halaman belakang Bank Mandiri, tepatnya di halaman parkir khusus nasabah yang pintu masuknya di Jalan Banceuy. Sebelum memasukinya, cara ngaleut kali ini, kami berjalan berbaris. Tidak sebebas sebelumnya. Soalnya, trotoar di Jalan Banceuy sedang ada proyek perbaikan (tetapi tidak ada “pembangun”-nya). Paling tidak, gaya seperti itu dimaksudkan agar kami dan kendaraan saling berbagi jalan. Saling menghargai lalu lintas. Beruntung, pagi itu, lalu lintas tidak terlalu ramai.

Karena masih di Jalan Banceuy, pegiat Aleut sempat melihat bekas penjara Ir. Soekarno yang kelak menjadi presiden pertama RI. Sayang, pintu pagarnya dikunci sehingga kami hanya berada di luar. Selanjutnya, Taman Braga, sekaligus melintasi Jalan Braga. Di Jalan Braga inilah merupakan tempat didirikannya perusahaan perakitan mobil pertama di Hindia Belanda.

Tidak lupa singgah di Jalan Suniaraja tempat “4848” sebagai alat transportasi publik yang legendaris. Tidak jauh dari situ, kawasan Viaduct disinggahi. Di sinilah, selain jalan mobil/motor, ada juga jalan kereta api. Namanya, tentu saja, rel yang berada di atas jembatan (viaduct). Bahkan kalau diperhatikan secara saksama, tampak pula papan petunjuk jalan berwarna hijau yang bertuliskan “Jl. Viaduct”. (Di Viaduct ini, ada beberapa pegiat Aleut yang merasakan pengalaman yang sama tentang Viaduct di Yogyakarta. Ya, tampak sama. Ada rel kereta api di atas. Di bawahnya ada dua jalan yang dipisahkan sungai).

Lalu, halaman PT KAI yang berada di Jalan Perintis Kemerdekaan No. 1 Kota Bandung disinggahi. Diterangkanlah cerita-cerita tentang kereta api, termasuk gedung ini yang pada masa lalu dijadikan sebagai hotel.

Tidak jauh dari situ, pegiat Aleut ngaleut memasuki halaman Gedung Balaikota Bandung yang luas. Dulunya, Gedung Balaikota Bandung ini dijadikan sebagai gudang kopi pada masa politik tanam paksa. Antara Gedung Balaikota Bandung dan Jalan Asia Afrika (Gedung Concordia yang sekarang bernama Gedung Merdeka) itulah dibangun akses jalan yang dilintasi oleh pedati. Karenanya, jalan itu dinamakan pedatiweg (Jalan Pedati) yang kini dikenal dengan nama Jalan Braga.

Setelah memasuki Balaikota Bandung, kami ngaleut menuju Taman Lalu Lintas Ade Irma Suryani Nasution Bandung. Di sini ada cerita-cerita tentang kisah masa kecil kami di Taman Lalu Lintas Bandung.

Selain bercerita tentang pengalaman masa kecil pegiat Aleut ketika rekreasi ke Taman Lalu Lintas Bandung (tentu bagi yang mengalami), setiap pegiat Aleut pun berbagi (sharing) tentang #NgaleutTransportasi.

Ternyata sesi sharing dan makan secara bancakan di Taman Lalu Lintas ini mengakhiri acara kebersamaan kami hari itu. #NgaleutTransportasi pun berakhir untuk kemudian kita memilih sarana transportasi menuju tempat tinggal masing-masing.

Ya, memilih, sebagaimana kita di “dunia nyata” yang memilih alat transportasi dari segala kompleksitasnya dunia transportasi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s