Ngaleut Virtual Jejak Kereta di Tengah Kota

Rindu naik kereta api? Kapan terakhir kamu naik transportasi yang satu ini?

Kereta api menjadi moda transportasi yang paling berpengaruh di Kota Bandung. Masuknya kereta api ke Kota Bandung mengubah wajah kota secara keseluruhan. Kota yang mempunyai julukan “Sebuah desa kecil di pegunungan” itu perlahan menjadi kota singgah yang ramai.

Mobilitas penduduk dan barang-barang yang tinggi mendorong pemerintah kota melakukan perubahan-perubahan. Di sektor transportasi, pemerintah kota dan perusahaan kereta api negara berkolaborasi melakukan pembenahan. Banyak dari hasil kerjasama ini bertahan dan masih bisa kita saksikan sekarang.

Kalau kamu penasaran dengan sejarah dan rute kereta api di Bandung, ikut ngaleut virtual ini yuk!

Jejak Kereta di Tengah Kota
Minggu, 14 Juni 2020
Pukul 13.00
via Zoom

Registrasi:
1 orang = 25k
2 orang = 40k
4 orang = 60k

Pendaftaran dan pembayaran hubungi CP Komunitas Aleut: +62-812-1422-1014. *Pembayaran via Bank BRI dan OVO

IMG-20200605-WA0011

 

 

Soronger dan Peringatan 130 Tahun Jalur Cicalengka-Garut

CC50 (Sumber: world-railways.co.uk)

CC50 (Sumber: world-railways.co.uk)

“For the fifth time I would go from Tjitjalengka to Garoet, along the old postal road, witnessing so much horse suffering and traveler anxiety and sorrow;” (Bataviaasch Nieuwsblad, 1889)

Satu dari sekian banyak jalur kereta api mati yang akan dihidupkan kembali oleh pemerintah di sekitar tahun 2019 ini adalah jalur antara Cibatu dan Garut. Dahulu, Baca lebih lanjut

Napak Tilas Jalur Sepur Menuju Pangandaran

Napak Tilas Jalur Sepur Menuju Pangandaran

Ilustrasi jalur kereta Banjar-Cijulang. FOTO/Istimewa

Oleh: Irfan Teguh Pribadi (@Irfanteguh)

Sekelompok anak muda hendak berlibur ke Pangandaran. Dari Ciamis, mereka menumpang angkutan umum menuju stasiun Banjar, daerah perbatasan dengan Jawa Tengah dan menjadi pintu gerbang utama jalur lintas selatan. Saat kereta tiba di tujuan, perjalanan berlanjut melewati bentang alam.

Empat terowongan dilewati, beberapa jembatan dilalui, dan Samudera Hindia menyambut kedatangan kereta di Pangandaran. Yaps, mereka menikmati jalur Banjar-Cijulang yang telah lama mati. Ahmad Bakri merekam jalur yang kadang disebut ‘BanCi’ itu dalam Rajapati di Pananjung, sebuah novel berbahasa Sunda yang mula-mula terbit pada 1985. Baca lebih lanjut

Naik Sepur Sepanjang Bandung – Cicalengka

Oleh: Vecco Suryahadi Saputro (@veccosuryahadi)

All aboard! The Night Train! (James Brown – Night Train)

Ibu saya pernah menceritakan pengalamannya saat naik kereta api ekonomi ke Kebumen. Dalam ceritanya, gerbong kereta yang dinaiki ibu dipenuhi oleh penumpang dan barang bawaannya. Saking penuhnya, ibu saya yang masih berumur 10 tahun kerap tersenggol hingga jatuh. Selain oleh penumpang, penjual jajanan dan mainan ikut meramaikan gerbong dengan lapaknya!

Cerita ibu saya tidak selesai di gerbong yang penuh oleh manusia. Ibu menceritakan juga kondisi gerbong kereta api ekonomi. Saat dia masih berdiri di gerbong, ibu sering menginjak sampah basah yang berserakan di lantai. Selain sampah, dia pernah beberapa kali menginjak air minuman yang tumpah ke lantai gerbong.

Dari cerita ibu, bayangan banyaknya penumpang, lantai gerbong yang kotor, dan lapak penjual edan di gerbong kereta memenuhi pikiran saya saat hendak naik atau memilih jenis kereta api. Selain itu, karena cerita ibu juga, saya menjadi enggan bahkan anti naik kereta api ekonomi karena tidak mau berdesak – desakan di dalam gerbong.

***

Tapi pada hari minggu (18/10/2015), saya dengan terpaksa harus menaiki kereta api ekonomi jurusan Bandung – Cicalengka. Saat itu, saya naik kereta api bersama kawan – kawan Komunitas Aleut yang sedang Ngaleut Spoorwagen. Imajinasi saya mulai kembali ke bayangan buruk tentang kereta api ekonomi saat menunggu kereta api datang.

Kereta api ekonomi Bandung - Cicalengka

Kereta api ekonomi Bandung – Cicalengka

Setelah kereta api datang, saya tidak bisa langsung masuk ke gerbong kereta karena masih banyak penumpang yang turun. Saya akhirnya masuk ke kereta api setelah seluruh penumpang turun.

Saat menginjakkan kaki di gerbong, saya seperti anak kecil yang kegirangan karena mendapat angpao. Angpao yang saya dapat saat itu adalah tidak ada sampah berserakan di lantai gerbong. Sehingga lantai gerbong yang berwarna hijau muda terlihat terang dan mengkilat! Bayangan lantai gerbong yang kotor hilang dan lenyap dari pikiran saya saat melihat lantai ini.

Tapi, masih ada dua bayangan yang teringat oleh saya yakni banyaknya orang – orang dan pedagang di gerbong. Setelah beberapa menit, penumpang mulai memasuki gerbong dan memilih bangku – bangku yang menurut mereka nyaman. Tapi saya tidak menemukan pedagang yang membawa dagangan ke dalam gerbong. Selain itu, saya tidak merasa berdesakan saat para penumpang menaiki gerbong. Mereka sangat tertib!

Saat kereta berjalan, saya sempat bertanya ke beberapa penumpang yang telah menjadi pelanggan kereta. Mayoritas penumpang yang saya tanya tinggal di Cicalengka tapi bekerja di pusat kota Bandung. Karena hal itu, tiap hari mereka menaiki kereta api ekonomi yang memiliki tiket murah (hanya 4 ribu). Selain itu, mereka berbagi cerita pengalaman mereka menaiki kereta api ini. Menurut mereka, kondisi kereta api ekonomi sekarang jauh lebih bagus sehingga mereka merasa nyaman.

Komunitas Aleut di gerbong kereta api

Komunitas Aleut di gerbong kereta api

Selesai berbincang – bincang, saya mulai berkelana di dalam gerbong sembari mengisi bayangan tentang kereta api ekonomi. Ternyata setiap gerbong memiliki satu tempat sampah yang terbuat dari plastik. Selain tempat sampah, bagi manusia modern yang memiliki kebutuhan primer baru yakni stopkontak, sekarang setiap gerbong memiliki banyak stopkontak yang berfungsi.

Tapi lepas dari kebutuhan primer baru dan tempat sampah, ada hal baru yang mengingatkan saya akan anime yakni tempat duduk. Jika dalam anime seperti Yakitate Japan! atau Daily Live of Highschool Boy, kita akan menemui tempat duduk memanjang seperti di angkot.Nah, tempat duduk di gerbong kereta api ini memiliki hal serupa yakni tempat duduk memanjang.

Setelah satu jam perjalanan, kereta api akhirnya sampai di Stasiun Cicalengka dengan banyak pengalaman dan bayangan baru. Pertama, saya merasa bahagia dan ketagihan untuk menaiki kereta api ekonomi rute ini karena pemandangan alam yang disajikan selama perjalanan. Kedua, kondisi gerbong yang bersih dan tanpa sampah di lantai. Ketiga, banyak stopkontak yang berfungsi di gerbong. Keempat, tempat duduk yang nyaman mengingatkan saya dengan anime dan manga Jepang. Terakhir, ketepatan waktu kereta api yang luar biasa.

 

Sumber foto : Komunitas Aleut

 

Tautan asli: https://catatanvecco.wordpress.com/2015/10/28/catatan-perjalanan-naik-sepur-sepanjang-bandung-cicalengka/

Surat Kereta Untuk Alina

Oleh: Irfan Teguh Pribadi (@irfanteguh)

Alina sayang, apa kabar?

Ini entah surat yang keberapa. Aku tak menghitungnya. Keberadaanmu yang entah di mana, membuat semua risalah tak menemukan alamatnya. Namun aku tak pernah bosan menulisnya untukmu, Alina. Dan sekali ini, aku ingin berbagi cerita tentang perjalananku ke Semarang dan Ambarawa menggunakan moda transportasi kesayangan kita. Ya, bukankah pada waktu-waktu yang telah lewat kita kerap melakukan perjalanan dengan kereta api? “Dari balik jendela kereta, pemandangannya bagus,” katamu waktu itu.

Tanggal 16 September 2015, aku bersama beberapa kawan dariKomunitas Aleut, ikut bergabung bersama komunitas lain untuk melakukan perjalanan malam menggunakan Kereta Api Wisata Priority. Sore menjelang malam, Bandung diselimuti lembayung tipis. Sembari menunggu kereta berangkat, kami berkumpul di ruang tunggu VIP, sisi Timur Statiun Bandung. Ketika waktunya tiba, di muka gerbong kami disambut oleh para petugas kereta wisata dengan ramah.

Alina, sewaktu aku melihat fasilitas yang ada di kereta wisata priority, seketika wajahmu memenuhi benak. Aku membayangkan, alangkah nyamannya jika kita—aku dan kamu, membelah Pulau Jawa dengan menggunakan kereta ini. Di dalamnya ada mini bar, bagasi yang luas, toilet bersih, dan kita bisa karaoke! Ya, kamu yang suka bernyanyi-nyanyi kecil, bisa memanjakan hobimu di dalam kereta ini. Selain itu, setiap kursi dilengkapi juga dengan audio/video on demand (AVOD) seperti layaknya di pesawat terbang. Bukankah kita bisa menikmati lagu dan film berdua saja, Alina? Baca lebih lanjut

Bandung (BD) ke Semarang Tawang (SMT) dengan Kereta Wisata Priority

Oleh: Ghera Nugraha (@vonGNR)

BD – CMI – PWK – CKP – CN – TG – PK – SMT

Bandung – Cimahi – Purwakarta – Cikampek – Cianjur – Tegal – Pekalongan – Semarang Tawang

Bagi masyarakat Indonesia di Pulau Jawa, moda transportasi masal Kereta Api sudah tidak asing lagi. Bahkan di beberapa kota besar seperti Jakarta, Bandung, Semarang, dan Surabaya, mereka memiliki rute perjalanan khusus di dalam kota atau yang suka disebut KRL atau Commuterline. Sebenarnya di Pulau Sumatra juga sudah terdapat rel kereta api berikut rutenya, walaupun belum menyambungkan Sumatra Selatan hingga D.I. Aceh.

Perjalanan menuju Semarang ini dimulai dari Stasiun Bandung.

Senja di Stasiun Bandung

Senja itu di Stasiun Bandung

Atap Bangunan Utama Stasiun Bandung

Atap Bangunan Utama Stasiun Bandung

Stasiun Bandung atau Stasiun Hall (BD) yang menjadi tempat pertemuan kami berada di ketinggian 709 mdpl. Berdasarkan buku Wajah Bandoeng Tempo Dulu (1984) karangan Haryoto Kunto, stasiun ini dibangun berdasarkan kebutuhan moda transportasi penunjang para pemilik perkebunan disekitar kota Bandung sekitar tahun 1870. Pada 17 Mei 1884 stasiun ini diresmikan, seiringan dengan dibuka jalur kereta Batavia– Bandung melalui Bogor dan Cianjur. Bupati Bandung pada saat itu adalah Koesoemadilaga. Para Preangerplanters (tuan tanah Priangan) mulai membangun gudang – gudang penyimpanan yang mendekati jalur kereta api ini, mulailah dibangun gudang-gudang penimbunan barang di beberapa lokasi dekat Stasiun Bandung, yaitu Jalan Cibangkong, Jalan Cikuda-Pateuh, daerah Kosambi, Kiaracondong,Braga, Pasirkaliki, Ciroyom, dan Andir. Baca lebih lanjut

Perpisahaan, Topi, dan Kereta Api

Oleh: Kedai Preanger (@KedaiPreanger)

“Akhirnya peluit pun dibunyikan
Buat penghabisan kali kugenggam jarimu
Lewat celah kaca jendela
Lalu perlahan-lahan jarak antara kita
Mengembang jua
Dan tinggallah rel-rel, peron dan lampu
Yang menggigil di angin senja.”
—Elha

Entah, bagi saya kereta api selalu identik dengan perpisahan. Tak hanya kereta sebetulnya, namun alat transportasi lain pun kerap menyuguhkan satu episode itu; memisahkan seseorang dengan orang-orang terkasihnya. Kereta api dan moda transportasi lainnya, menjadi perantara kepergiaan dan perpisahan.

Lebih dari  setahun yang lalu, saya pernah mengalami perpisahan. Walau tak sedramatik perpisahan seperti pada puisi yang saya kutip di pembuka catatan ini. Jika puisi digunakan untuk menerangkan majas personifikasi, perpisahan yang saya alami mungkin bisa ditasbihkan sebagai contoh majas hiperbola.

Anggaplah saya terlalu membesar-besarkan kejadian itu, karena perpisahaan yang terjadi bukanlah dengan kekasih pujaan hati atau orang-orang tersayang, namun “hanya” dengan sebuah topi. Ya, sebuah topi yang dibeli dari upah sebagai joki semester pendek saat kuliah dulu. Topi dari sebuah band kegemaran,  juga koleksi topi mula-mula–sebagai minat yang saya rawat dengan sepenuh hati.

Perpisahaan itu terjadi saat ngaleut bersama kawan-kawan Komunitas Aleut ke Cimahi. Untuk mencapai salah satu kota yang bertetangga dengan Kota Bandung tersebut, kami menggunakan Kereta Rel Diesel (KRD). Di atas  kereta jurusan Cicalengka-Padalarang itulah “bencana” terjadi. Baca lebih lanjut

Mengungkap dan Mengenal Kembali Alat Transportasi di Bandung Baheula

Oleh: Novan Herfiyana (@novanherfiyana)

Siang itu, Waktu Indonesia bagian Taman Lalu Lintas Ade Irma Suryani Nasution Bandung sudah menunjukkan pukul satu. Hitungan menitnya lebih sedikitlah tanpa tawar-menawar ala penjual dan pembeli di pasar tradisional. Dalam suasana siang itu, kami, pegiat Aleut di Komunitas Aleut, sudah menuntaskan acara #NgaleutTransportasi.

Di luar kawasan Taman Lalu Lintas Ade Irma Suryani Nasution Bandung yang berada di Jalan Belitung No. 1 Kota Bandung, ada pegiat Aleut yang hendak pulang menuju kawasan Alun-alun Bandung yang berada di Jalan Asia Afrika. Mereka mempertimbangkan antara naik angkot atau berjalan kaki sebagaimana sejak awal acara yang ngaleut. Soalnya, motornya diparkirkan di kawasan Alun-alun Bandung.

Ada juga pegiat Aleut yang tinggal naik motor karena motornya sudah diparkirkan di tempat parkir di kawasan Taman Lalu Lintas. Pegiat Aleut yang “semacam” ini sudah mencermati lokasi akhir tempat acara. (Bandingkan dengan kesempatan lain ketika lokasi akhir tempat acara yang direncanakan di kawasan Gasibu, ternyata “terpaksa” berakhir di salah satu halaman minimarket di Jalan Banda karena hujan deras). Jangan lupakan pula pegiat Aleut yang tinggal memboseh sepeda karena sepeda yang dimilikinya diajak ngaleut.

Bagaimana dengan penulis sendiri? Saya sendiri tinggal memilih angkot yang berada di kawasan Taman Lalu Lintas. Malah ada beberapa alternatif trayek angkot yang menuju tempat tinggal saya. Dalam ngaleut kali ini, saya memang lebih memilih naik angkot daripada naik kendaraan (motor) sendiri yang mesti diparkirkan di lokasi awal acara (Monumen Km Bandung 0 + 00). Alasannya, kalau membawa motor, saya mesti balik lagi menuju lokasi awal acara sebagaimana sebagian pegiat Aleut tadi. (Sebetulnya mah “pilih-pilih” untuk parkir). Baca lebih lanjut

Kiaracondong, Kiaracondong

Oleh: Mohamad Salman (@vonkrueger)

Kalau kita naik kereta api jarak menengah/jauh dari atau menuju Bandung, ada beberapa alternatif untuk naik-turun selain Stasiun Hall Bandung. Yaitu Stasiun Padalarang, Cimahi dan Kiaracondong. Cimahi dan Padalarang terletak di sebelah barat Stasiun Hall Bandung, sementara Kiaracondong ada di timur. Secara kelas dan luas stasiun, ketiga stasiun ini tidak banyak berbeda. Hanya saja Stasiun Padalarang dan Cimahi telah berdiri sejak awal era 1900an, sedangkan Kiaracondong sendiri saat itu masih berupa stopplaats, atau halte, dan baru setelah tahun 1920an berkembang menjadi sebuah stasiun.

Berkembangnya Stasiun Kiaracondong tidak terlepas dari perkembangan sistem perkeretaapian di Bandung. Jangan lupa, Bandung adalah kota pegunungan. Disaat truk belum mampu untuk mengangkut barang hingga puluhan ton bahkan di jalanan datar, dan pesawat terbang pun kesusahan untuk melewati barisan pegunungan yang mengelilingi Bandung, maka pilihan transportasi yang paling reliable adalah kereta api. Agar tidak terjadi kesemrawutan dalam mengatur perjalanan orang dan barang dan tidak terjadi penumpukan di Stasiun Hall Bandung, disusunlah suatu sistem emplasemen* besar.

Sistem Emplasemen Bandung

Sistem Emplasemen Bandung

Sistem ini tentu saja berpusat di Stasiun Hall Bandung, dimana stasiun ini menjadi tujuan utama perjalanan KA penumpang dan perawatan lokomotif. Tak jauh kearah barat, berdiri dipo perawatan kereta dan gerbong, dan juga Stasiun Bandung Gudang dan Stasiun Ciroyom. Kedua stasiun ini melayani kegiatan bongkar muat barang (saat itu belum ada peti kemas).

Untuk mendukung semua itu, Stasiun Kiaracondong pun dikembangkan sedemikian rupa sehingga selain mampu melayani perjalanan KA penumpang, ia juga memiliki Marshalling Yard. Fungsinya adalah untuk menyortir gerbong-gerbong barang sesuai dengan tujuan, baik berdasarkan stasiun (contoh : Surabaya, Tanjung Priok) maupun arah (barat, timur, selatan). Gerbong – gerbong ini disortir dengan cara dilangsir hingga gerbong-gerbong yang memiliki tujuan yang sama tergabung dalam satu rangkaian. Selain itu, Stasiun Kiaracondong juga menjadi titik awal dari beberapa jalur cabang. Ke arah barat menuju Stasiun Karees dan pergudangan di sekitarnya, lalu sepur menuju pergudangan Cikudapateuh yang berjalan paralel dengan jalur utama, dan jalur menuju pabrik senjata ACW (sekarang Pindad). Stasiun Kiaracondong juga terhubung dengan Balai Yasa Jembatan dan Perusahaan Gas.

Kiaracondong

Kiaracondong

Sekarang, Stasiun Kiaracondong tidak lagi memiliki jalur cabang maupun marshalling yard. Tetapi, Stasiun ini tetap menjadi stasiun penting di Bandung, karena kebijakan PT KA yang menjadikan stasiun ini menjadi stasiun perhentian untuk KA ekonomi dari dan menuju Bandung, atau yang melewati Bandung. Sama seperti Jakarta yang memisahkan KA eksekutif/bisnis (berhenti Gambir) dan ekonomi (berhenti Pasarsenen). Menurut kabar burung, Stasiun Kiaracondong dan Balai Yasa Jembatan akan dikembangkan lagi untuk mendukung pengoperasian KRL Komuter Bandung Raya. Yah, kita tunggu saja bagaimana kelanjutannya…

 

 

*emplasemen : sekelompok sepur/jalan rel dengan wesel-wesel dan peralatan-peralatan/perlengkapannya yang mempunyai fungsi tertentu

 

Sumber gambar : Ir. THM. Pangestu, Jalan Rel Kereta Api untuk Fakultas Teknik Sipil

 

Tautan asli: https://msvonkrueger.wordpress.com/2015/04/02/kiaracondong/

Wong Jawa di Bandung Tempo Dulu

datang poek teu diaku (Datang kemalaman tak dibukakan pintu)

Lagi – lagi bau kopi membangunkan saya dari lamunan siang hari. Saya baru ingat bahwa ada cerita yang harus ditulis. Cerita yang berasal dari satu pertanyaan kawan saya di Komunitas Aleut. Pertanyaan tentang orang Jawa di Bandung.

Babakan Surabaya, kampung wong Jawa

Babakan Surabaya pada peta Bandung tahun 1945

Babakan Surabaya pada peta Bandung tahun 1945

Saya akan mulai bercerita tentang satu kampung orang Jawa di Bandung. Kampung tersebut bernama Babakan Surabaya.

Cerita di Babakan Surabaya bermula dari pemindahan pabrik mesiu di Ngawi dan pabrik senjata di Surabaya ke Bandung. Lokasi yang dipilih bagi penempatan pabrik senjata terletak di Desa Kiaracondong. Saat itu, Desa Kiaracondong berada 5 km dari batas timur Kota Bandung.

Saat pemindahan pabrik, pekerja pabrik senjata beserta keluarganya ikut dipindahkan ke Bandung. Untuk menampung pekerja pabrik dan keluarganya, dibangun daerah yang disebut Babakan Surabaya. Babakan Surabaya berada di Kiaracondong, dekat dengan pabrik senjata.

Selain di Babakan Surabaya, kita akan menemukan satu kampung yang berisi orang Jawa. Kampung tersebut bernama Kampung Jawa. Kampung Jawa berlokasi dekat dengan Pabrik Gas yang berlokasi di daerah Kiaracondong.

Orang Jawa dan Pasar Kosambi

Pasar Kosambi

Pasar Kosambi

Sebetulnya Bandung tempo dulu memiliki banyak pasar. Pasar – pasar tersebut tersebar dari Bandung Barat hingga Bandung Timur. Setiap pasar adalah pusat kegiatan ekonomi penduduk yang dekat pasar tersebut. Salah satu pasar yang menjadi pusat kegiatan ekonomi orang Jawa adalah Pasar Kosambi.

Sebelum ada Pasar Cicadas dan Pasar Kiaracondong, pasar paling dekat dengan kediaman orang Jawa adalah Pasar Kosambi. Sehingga orang Jawa sangat sering mengunjungi Pasar Kosambi untuk menjual atau membeli kebutuhan mereka. Itulah sebabnya, penduduk Bandung tempo dulu bisa membeli segala macam makanan Jawa di Pasar Kosambi.

Selain makanan, orang Jawa sering mentas seni di Pasar Kosambi. Menurut kuncen makam Mbah Malim, orang Jawa sering mentas ludruk dan wayang kulit di Pasar Kosambi. Menurutnya, salah satu dalang yang bermain di Pasar Kosambi adalah warga Babakan Surabaya.

Sindiran untuk wong Jawa di Bandung

Eendaagsche dari Gambir ke Surabaya

Eendaagsche dari Gambir ke Surabaya

Para mbakyu dan kangmas yang daerah asalnya dari Jawa Tengah dan Jawa Timur, umumnya datang ke Bandung dengan Kereta Api Ekspres Surabaya – Bandung. Saat itu, waktu tempuh kereta tersebut adalah satu hari penuh.

Dikarenakan kedatangan mereka yang lewat larut malam, ada sindiran atau ejekan warga kota dalam bentuk sisindiran. Sindiran tersebut berbunyi “jawa koek maling apu, datang poek teu diaku.” Sindiran tersebut berarti orang jawa hendak mencuri kapur, datang kemalaman tak dibukakan pintu. Untungnya, sindiran ini tidak terjadi hingga pasca kemerdekaan.

Karena sampai di Bandung pada malam hari, orang Babakan Surabaya yang baru sampai mendapat kesulitan kendaraan pulang. Saat itu, kendaraan seperti sado dan delman jarang sekali ke Babakan Surabaya pada malam hari. Oleh karena itu, tidak jarang orang Babakan Surabaya menginap atau menunggu di Pasar Baru yang tak pernah tidur.

Wong Jawa di Bandung tempo kini

Menurut saya, sisa – sisa keberadaan orang Jawa di Bandung hanya terlihat dari bahasa dan makanan. Saya masih menemukan pemakaian bahasa Jawa saat orang Jawa berkumpul di Angkringan. Sedangkan untuk makanan, saya masih menjumpai makanan khas Jawa tapi diberi label asli Bandung seperti gudeg dan hasil olahan ayam khas Jawa Tengah.

Tidak bisa dipungkiri lagi kalau keberadaan orang Jawa sudah berbaur dengan orang Bandung. Saya mendapatkan hal tersebut setelah wawancara dengan kuncen makam Mbah Malim. Menurutnya, kita tidak bisa melihat garis tegas yang memisahkan orang Jawa dengan orang Bandung. Semuanya sudah tercampur seperti es campur.

 

Sumber Bacaan :

Semerbak Bunga di Bandung Raya karya Haryoto Kunto

Wajah Bandoeng Tempo Doeloe karya Haryoto Kunto

Sumber Foto :

Sepurwagen.blogspot.com

 

Tautan asli: https://catatanvecco.wordpress.com/2015/04/01/babakan-surabaya-babakan-wong-jawa-di-bandung/