Inggit Garnasih

Mengenal peran wanita di ruang privat dalam pendampingan perjuangan pergerakan kemerdekaan Republik Indonesia

Oleh: Puspita Putri (@Puspitampuss)

Minggu, 17 Februari 2019, pagi-pagi sekali aku bangun lalu mandi, sarapan dan melakukan kegiatan persiapan lainnya. Aku bersiap untuk pergi ke pelataran Gedung Merdeka, memenuhi janji kepada salah satu temanku dari Jakarta untuk menemaninya mem-Bandung hari itu. Baca lebih lanjut

Iklan

Dari Situs Penjara Banceuy

Oleh: Hendi “Akay” Abdurahman (@akayberkoar)

Dari Situs Penjara Banceuy

Saya melihat Sukarno sedang termenung ditemani buku dan pena. Kegelisahan begitu jelas terlihat dari raut wajahnya. Walaupun hanya dalam bentuk patung, keberadaannya terasa esensial. Di tempat inilah Sukarno mendapatkan gagasan dan juga mengumpulkan berbagai rumusan untuk menulis pledoi yang terkenal: Indonesia Menggugat.

Inilah pertama kali saya menginjakkan kaki di Penjara Banceuy, Bandung. Sebuah penjara yang penuh sejarah, terutama yang berkaitan dengan Sukarno.

Angga menuntun saya ke setiap penjuru, “Nah lihat dan bayangkan, di kamar nomor 5 dengan ukuran 1,5 x 2,5 meter ini Sukarno pernah tinggal,” ujarnya sambil menunjuk ke arah bangunan serupa kamar.

“Haaaah!!!!” saya tertegun. “Gilaaaa… Sempit banget.” Baca lebih lanjut

Kuli Gadungan

Oleh: M. Ryzki Wiryawan (@sadnesssystem)

Pak Ahmad adalah opas (office boy) Bung Karno ketika tahun 1927 mendirikan Biro Teknik Bangunan. Tetapi sebenarnya tugasnya bukan hanya sebagai opas saja, melainkan juga sebagai agen PNI. Dia bertugas menyebarkan pamflet ke ranting-ranting di seluruh Bandung. Dari Cimahi sampai Cililin dan Cicalengka, yang jauhnya 30 km lebih dari Kota Bandung. Tugasnya hanya dikerjakan dengan sepeda.

Gajinya? Jangan ditanya. Pak Ahmad tidak mendapat gaji. Hanya mendapat makan dari Bu Inggit. Apa yang dikerjakannya murni demi perjuangan bangsanya.

Tatkala Bung Karno dipenjara, Pak Ahmad berusaha mengadakan kontak dengan pimpinannya yang sekarang mondok di Sukamiskin itu. Tapi bagaimana caranya? Baca lebih lanjut

Lacak Jejak Inggit Garnasih, Minggu, 14 April 2013

13 April adalah tanggal wafatnya Ibu Inggit Garnasih, seorang tokoh perempuan dari Bandung yang ikut mewarnai sejarah nasional mendampingi suaminya, Ir. Sukarno, yang kelak menjadi presiden pertama Republik Indonesia.

Inggit Garnasih berada di samping Sukarno sejak Sukarno masih menjadi mahasiswa di THS (ITB) di Bandung, membantu membiayai perkuliahannya, mengikuti setiap langkah perjuangannya mencapai kemerdekaan Indonesia, mendampingi bersama keluarganya ke pembuangan di Ende, Flores, hingga Bengkulu.

Inggit hanya mengantarkan Sukarno hingga gerbang kemerdekaan Republik Indonesia, tanpa pernah melewati gerbang tersebut. Inggit tidak menikmati semua yang mereka cita-citakan bersama selama di Bandung, Ende, dan Bengkulu.

Kegiatan Komunitas Aleut bekerjasama dengan mooibandoeng kali ini mencoba memperkenalkan ulang tokoh Inggit Garnasih kepada warga Bandung. Sebagai bekal pengetahuan, kami ringkaskan beberapa buku yang menulis tentang Inggit, terutama “Kuantar ke Gerbang” karya Ramadhan KH (Kiblat, Bandung, 2002) dan “Biografi Inggit Garnasih; Perempuan dalam Hidup Sukarno” karya Reni Nuryanti (Ombak, Yogyakarta, 2007).

Yang menarik dalam proses kegiatan ini kami malah menemukan beberapa hal baru yang tidak terduga sebelumnya, yaitu beberapa rumah yang pernah ditinggali oleh pasangan Inggit-Sukarno, rumah orang tua Dewi Sartika, bekas rumah tinggal Sosrokartono (kakak Kartini), dan lain-lain. Ternyata masih banyak cerita yang tersimpan di sudut-sudut Kota Bandung menanti generasi berikut mengungkapkannya kepada masyarakat..

ImagePin Lacak Jejak Inggit Garnasih

Image

 

Leaflet Lacak Jejak Inggit Garnasih

Image

 

Kartu Kelompok Lacak Jejak Inggit Garnasih

Image

 

Kolase foto objek yang harus ditemukan oleh semua peserta dalam Lacak Jejak Inggit Garnasih

Inggit Garnasih – kekasih, kawan dan ibu yang hanya memberi tanpa menuntut balas

Oleh : Natasha Bellania Pertiwi (@achabp)

Jika ditanya siapa perempuan indonesia inspiratif bagi saya, salah satunya adalah Ibu Inggit Garnasih.

Ia sangat mengagumkan bagi saya, dalam banyak hal.
Tak hanya inspiratif, sosoknya yang sederhana, penyayang, keibuan dan memiliki pendirian menjadikannya simbol wanita mandiri.

Garnasih lahir di Desa Kamasan, Banjaran, Kab.Bandung, 17 Februari 1888,dari pasangan Ardjipan dan Amsi. Nama itu diberikan dengan penuh makna dan harapan, kelak menjadi anak yang hegar, segar, menghidupkan, dan penuh kasih sayang.

Menginjak dewasa Garnasih menjadi gadis cantik sehingga ke mana pun ia pergi selalu menjadi perhatian pemuda. Di antara mereka sering melontarkan kata-kata, “Mendapat senyuman dari Garnasih sama dengan mendapat uang seringgit.” (Pada saat itu 1 ringgit sama dengan 2,5 gulden dan nilainya tinggi.) Akhirnya, julukan inilah yang merangkai namanya menjadi Inggit Garnasih.

Ya, Inggit adalah istri kedua Soekarno. Bisa dikatakan beliau adalah sosok perempuan dibalik kesuksesan sang proklamator. Perannya sanggat penting, dimana ia membentuk, menampung, dan mengayomi Soekarno muda yang kala itu tengah berapi-api menjadi seorang pemimpin dan pejuang tangguh, dan Inggit pula yang serta merta mengantarkannya ke gerbang kejayaan.

“Laki-laki dan perempuan adalah sebagai dua sayapnya seekor burung. Jika dua sayap sama kuatnya, maka terbanglah burung itu sampai ke puncak yang setinggi-tingginya; jika patah satu dari pada dua sayap itu, maka tak dapatlah terbang burung itu sama sekali.” ( Sarinah, hlm 17/18 Bung Karno)

Berikut saya simpulkan beberapa peranan Inggit ketika mendampingi Soekarno saat memasuki dunia politik dan pergerakan Kemerdekaan Indonesia, di antaranya:  :

  • Inggit merelakan mengakhiri hubungan rumah tangga nya yang terlanjur hampa dengan seorang pedagang kaya dan juga salah satu tokoh Sarekat Islam, Bernama H.Sanusi.
  • Setelah terjalin ikatan pernikahan dengan Soekarno, Inggitlah yang menjadi tulang punggung keluarga. Ia membiayai rumah tangga dan juga uang kuliah, dengan cara meracik jamu, bedak, membuat Rokok Berlabel “Ratna Djuami” , menjahit kutang, dan menjadi agen sabun dan cangkul meskipun kecil-kecilan. Karena saat itu Soekarno masih menjadi Studen di THS (Technische Hoogeschool atau sekolah Teknik Tinggi yang sekarang menjadi ITB).
  • Membiayai segala bentuk kegiatan politik Soekarno, termasuk menjamu semua tamu Soekarno yang setiap hari datang berkunjung untuk diskusi.
  • Pengabdian Inggit sebagai istri tercermin saat ia menghapus keringat saat Soekarno kelelahan, menemani dan menghibur Soekarno yang tengah kesepian. inggit mampu memerankan 3 sosok sekaligus, yaitu sebagai kekasih, kawan dan ibu yang hanya memberi tanpa menuntut balas.
  • Ia selalu setia mengantarkan makanan, koran, dan uang ketika Soekarno menjalani hukuman di Penjara Banceuy dan Sukamiskin. Meskipun Jarak jauh harus dilewati dengan berjalan kaki bersama Ratna Djuami (anak angkat Inggit dan Soekarno).
  • Inggit juga tabah mendampingi Sukarno hidup di pengasingan, baik selama di Ende maupun Bengkulu. Ia menjadi sumber kekuatan bagi kehidupan Soekarno yang penuh ujian keras.
  • Ia berusaha keras untuk yang menyelundupkan buku-buku untuk Soekarno di dalam penjara. Lewat buku-buku itu Soekarno bisa menyusun pledoi master piece berjudul ‘Indonesia Menggugat’.

Adilkah Jika Masih saja ada orang yang tak mengenalnya ? 😦

Namun takdir berkata lain. Inggit tak bisa selamanya mendampingi Soekarno. Di tahun 1943 itu, saat Sukarno hampir mencapai puncak kejayaannya. Ia berusia 40 tahun sedang Inggit 53 tahun, terguncang oleh keinginan Soekarno yang beralibi menginginkan keturunan langsung darinya. Inggit memang wanita mandul, ia hanya mampu merawat dan mendidik kedua anak angkatnya, Ratna Djuami dan Kartika, bukan dari rahimnya sendiri.

Sampai suatu saat, terucaplah keinginan Soekarno untuk memperistri sesosok wanita muda bernama Fatimah yang kemudian dikenal Fatmawati. Fatmawati sudah dinggap sebagai anak sendiri ketika mereka berada di pengasingan di Bengkulu.

Dengan tegas Inggit mengucapkan, “Itu mah pamali, ari di candung mah cadu”(itu pantang, kalau dimadu pantang). Setelah melewati berbagai pembicaraan dan pertengkaran, sampailah inggit pada keputusannya, ia enggan dimadu dan memilih untuk bercerai dari seorang Soekarno dan dipulangkan kembali ke Bandung.

Itulah Inggit. Dia berbeda dia mampu menentukan keputusan dan memiliki pendirian. Kesedihan dan kesengsaraan yang di arungi bersama selama hampir 20 tahun tidak dirasakan buahnya saat Sukarno mencapai gemilang. Ia telah menuntun Soekarno menuju gerbang. Sampai disitulah tugasnya, kemudian ia memilih membalikan badan menerima kenyataan tak ada lagi Soekarno sebagai pendampingnya, dan mencoba melanjutkan hidup dengan menjual bedak dan meramu jamu.

Soekarno pun akhirnya menikahi Fatmawati, yang setelah mencapai kemeredekaan pada tahun 1945 menjadi First Lady.
Namun sampai akhir hayat pun bisa dipastikan inggit masih menyimpan cintanya yang begitu besar terhadap Soekarno, termasuk melayat saat Soekarno meninggal dunia. Ia sungguh perempuan berhati tulus, memberi tanpa meminta dan memberi tanpa pamrih.

Sumber dan Referensi :

– Ramadhan KH, Kuantar Ke Gerbang

– Obrolan dengan Pak Tito Zeni Asmarahadi (cucu Inggit Garnasih) pada acara lacak jejak – 13 April 2013

– Naskah Lacak Jejak Inggit Garnasih oleh @mooibandoeng dan @KomunitasAleut

– Monolog Inggit Garnasih oleh Happy Salma – Bale Rumawat Unpad