Ringkasan Biografi Inggit Garnasih

Tulisan ini merupakan hasil latihan Kelas Menulis sebagai bagian dari Aleut Development Program 2020. Tulisan sudah merupakan hasil ringkasan dan tidak memuat data-data penyerta yang diminta dalam tugas.

Ditulis oleh: Deuis Raniarti

Buku: Senja di Ranah Bandung; Sejarah Singkat Inggit Garnasih.

Inggit Garnasih adalah seorang wanita yang perannya sangat besar bagi kesuksesan Sukarno, beliau adalah wanita yang mampu berperan sebagai teman, kekasih, serta ibu, bagi Sukarno. Ia menemani Sukarno dalam berbagai tahap kehidupan seperti membantunya menyelesaikan pendidikan, menemani perjalanan politiknya, hingga bertahan pada setiap masa sulit maupun senang.

Dalam perjalanannya menemani Sukarno, Inggit tidak ditakdirkan memasuki istana. Ia hanya mengantarkan Sukarno hingga gerbang kemerdekaan.

Sinopsis

Buku ini menceritakan biografi Inggit secara singkat. Inggit lahir di Kamasan, ia tumbuh dalam keluarga petani yang sederhana. Inggit dikenal sebagai gadis cantik yang dikagumi banyak pria, namun pilihan Inggit jatuh pada Sanusi, tapi kisah cinta mereka terhalang oleh status ekonomi, karena Sanusi adalah seorang keturunan kaya raya. “Waja harus dengan waja, besi harus dengan besi.” pada saat itu memang status dan kedudukan keluarga selalu menjadi pertimbangan manakala sebuah perkawinan akan dilangsungkan.

Akhirnya, pada usia 16 tahun ia menikah dengan seorang Kopral Residen Belanda bernama Nata Atmaja, namun pernikahan mereka hanya bertahan 4 tahun dan tanpa dikaruniai anak. Inggit bertemu kembali dan menikah dengan Sanusi yang statusnya sudah berubah menjadi duda anak dua, mereka tinggal di daerah Kebonjati. Sanusi adalah saudagar kaya, selama tinggal dengannya Inggit tidak pernah merasakan kesusahan.

HOS Cokroaminoto menitipkan menantunya, Sukarno, kepada Sanusi. Selama bersekolah, Sukarno tinggal di rumah Sanusi bersama Inggit. Rumah itu menjadi lebih sering kedatangan tamu karena Sukarno aktif dalam dunia politik. Sanusi lebih sering menghabiskan harinya di luar, dari sanalah kedekatan Sukarno dan Inggit semakin menjadi setiap harinya. Sanusi menyadari apa yang terjadi di antara keduanya, akhirnya ia memutuskan untuk bercerai dengan Inggit dan menitipkannya pada Sukarno. Sukarno pun menceraikan istri pertamanya, Utari.

Menjalani kehidupan setelah menikah dengan seorang mahasiswa tentu berbeda dengan kehidupannya sebelumnya. Inggit membuat bedak, lulur dan kutang untuk dijual. Hasil dagangnya ini ia gunakan untuk membiayai hidup sehari-hari dan untuk perjalanan politik Sukarno. Sukarno beberapa kali dipenjara dan diasingkan karena dianggap terlalu membahayakan Belanda. Inggit tetap setia mendampingi dan selalu bersiasat mengabarkan kondisi yang sedang terjadi ketika Sukarno di dalam bui. Ia rela berpuasa untuk menyembunyikan buku di perutnya dan berjalan kaki menempuh jarak beberapa kilometer untuk menemui Sukarno.

Suatu hari, Sukarno diasingkan ke Ende, lalu dipindahkan ke Bengkulu. Di sinilah ia bertemu dengan Fatmawati. Gadis itu mampu menarik perhatian Sukarno. Tak lama setelah itu, Sukarno pun ingin menikahi Fatmawati. Inggit enggan dimadu dan memilih bercerai. Inggit kembali ke Bandung. Dua tahun setelah perceraian mereka, Indonesia merdeka dan Sukarno menjadi presiden pertama Republik Indonesia.

  • Informasi Tambahan

Buku ini adalah buku untuk gerakan literasi sekolah dan tidak diperjualbelikan. Cerita lebih lengkap mengenai kisah Inggit Garnasih dan Sukarno dapat dibaca di buku Kuantar Ke Gerbang karya Ramadhan K.H.

Di Mana Jejak Sejarah Tokoh-tokoh Nasional di Bandung?

Tadi malam, Rabu, 23 September 2020, seorang kawan mengirimi saya tautan ini melalui whatsapp, https://www.instagram.com/p/CFesnD_gO1n/?igshid=sdsmy3b3i8eh, tanpa berita tambahan apapun. Ketika saya buka, ternyata isinya beberapa foto surat nikah dan surat cerai Sukarno-Inggit dengan catatan di bawahnya yang menerangkan bahwa pemilik dokumen tersebut berencana akan menjualnya.

Seorang bapak di Bandung menawarkan surat nikah dan surat cerai asli Presiden pertama RI Ir. Soekarno dan Ibu Inggit Garnasih. Beliau ternyata cucunya Ibu Inggit. Saya kaget pas baca dokumen sangat bersejarah ini, baru tau juga ternyata yang jadi saksi cerainya Bung Karno & Bu Inggit adalah Bung Hatta, Ki Hadjar Dewantara dan KH. Mas Mansoer,” begitu isi bagian awal catatan tersebut.

Empat dari tujuh foto yang diunggah oleh akun instagram @popstoreindo
(Foto: @postoreindo)

Di bawah postingan foto tersebut, ada cukup banyak komentar. Macam-macam isinya, tapi kebanyakan menyayangkan rencana penjualan tersebut atau menyarankan agar dokumen itu diserahkan saja ke lembaga-lembaga pemerintahan atau museum yang dapat mengurusnya dan memamerkannya untuk publik.

Saya tidak mengikuti efek dari pengunggahan foto dan berita tersebut, tapi mendapatkan kiriman beberapa tautan berita lainnya yang menunjukkan keriuhan di luaran. Tak berapa lama, tautan-tautan ini segera bermunculan di grup-grup whatsapp yang saya ikuti.

Tautan berikut ini dari CNN Indonesia yang ikut memberitakan postingan akun @popstoreindo https://m.cnnindonesia.com/nasional/20200924090948-20-550248/viral-surat-nikah-sukarno-inggit-dijual-sejarawan-prihatin. Fenomena ini tidak terlalu aneh, karena pernah terjadi juga sebelumnya, mungkin sampai beberapa kali, di antaranya seperti dalam berita tahun 2010 ini, https://nasional.kompas.com/read/2010/08/24/16144283/~Oase~Muasal. Di sini diceritakan bahwa Tito Zeni Asmarahadi, cucu Inggit Garnasih yang menyimpan dokumen tersebut, mengatakan akan menjual dokumen itu karena merasa kesal pada pemerintah daerah yang kurang memberikan perhatian. Padahal, pada tahun 1983 kedua surat bersejarah itu sudah pernah ditawar oleh sebuah yayasan di Belanda senilai 2 milyar rupiah.

Saya terpikir untuk menemui Pak Tito, yang kebetulan sudah lama juga tidak jumpa, untuk sekadar ngobrol sambil mencari tahu apa yang sedang terjadi sehingga ada unggahan soal rencana penjualan itu lagi. Dalam obrolan melalui telepon, rencana berubah. Jadinya, saya akan undang saja Pak Tito ke sekretariat Komunitas Aleut pada hari Minggu siang untuk ngobrol sambil minum kopi. Dengan begitu, saya dapat undang beberapa kawan di lingkungan pergaulan Komunitas Aleut untuk ikut hadir dan menyimak obrolan agar mendapatkan sedikit wawasan tambahan mengenai Sukarno, Inggit, dan berbagai kisah di baliknya.

Saya berpikir sebentar, bagaimana sebaiknya obrolan nanti dilangsungkan, paling tidak, agar dapat memberikan manfaat bagi kawan-kawan yang akan hadir nanti. Saya kontak lagi Pak Tito. Beliau keberatan bila mengundang awak media, karena kuatir hanya akan menambah riuh dan kusut pemberitaan saja.

Baiklah, saya pun tidak terlalu tertarik untuk ikut heboh dalam wacana penjualan dokumen itu dengan segala kontroversinya. Saya hanya merasa perlu mengikuti pemberitaannya karena ingin mengetahui bagaimana masyarakat mengapresiasi peristiwa ini. Buat saya, banyak hal yang sama atau mungkin lebih penting untuk dipertanyakan, misalnya, apakah soal rencana penjualan surat ini memang begitu penting untuk kita riuhkan, karena merupakan peninggalan Sukarno yang kemudian menjadi Presiden RI pertama? Bagaimana dengan peninggalan Sukarno lainnya yang (semestinya) juga banyak terdapat di Bandung?

Sekali waktu, masyarakat juga riuh ketika salah satu rumah hasil rancangan Sukarno (di Jalan Malabar) dibongkar. Banyak media memberitakannya, media-media sosial tak kurang ributnya. Tak kurang dari Walikota Bandung memerlukan datang ke lokasi dan melakukan penyegelan (https://kumparan.com/bandungkiwari/rumah-yang-disegel-di-jalan-gatot-soebroto-adalah-karya-sukarno-27431110790552120/full). Dua tahun berlalu, rumah yang katanya meninggalkan hanya 50% saja dari bangunan aslinya itu, masih terbengkalai seperti puing-puing saja. Masihkah masyarakat hirau dan riuh soal itu?

Bukan hanya rumah di Jalan Malabar itu saja karya Sukarno. Seharusnya, masih banyak rumah lainnya. Ada tiga rumah berjajar di Jalan Kasim (Asia-Afrika) yang entah masih utuh 100% ataukah sudah mengalami perubahan-perubahan? Lalu sebuah rumah di Jalan Gatot Subroto yang pada waktu saya kecil dulu pernah saya lihat ada plakat kecil di tembok depannya bertuliskan (kira-kira) “Rumah hasil karya Ir. Soekarno.” Rumah-rumah lainnya, ada di Jalan Kaca-kaca Wetan, Jalan Dalem Kaum, Jalan Pasirkoja, di Viaduct (masjid), dan lain-lain, apakah sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Bandung, sehingga apa-apa yang akan terjadi pada rumah-rumah itu akan menuai reaksi dari masyarakat?

Saya kok masih merasa belum seperti itu. Berbagai informasi jejak sejarah di Bandung rasanya masih belum jadi bagian kehidupan, atau minimal pengetahuan, masyarakat Bandung sehari-hari. Bukan hanya jejak Sukarno, yang seharusnya cukup banyak karena pernah tinggal lebih dari 10 tahun di kota ini, tapi juga tokoh-tokoh nasional lainnya. Sebut saja nama-nama tokoh ini: Sjahrir, Douwes Dekker, Tjipto Mangoenkoesoemo, Sosrokartono, Tan Malaka, Ki Hadjar Dewantara, Abdoel Moeis, atau bahkan Dewi Sartika. Apakah semua jejak mereka selama tinggal di Bandung menjadi pengetahuan masyarakat luas? Jangankan menjadi bagian pengetahuan, mencari informasi mengenai kehidupan mereka sehari-hari di Bandung pun sangat sulit.

Di mana saja mereka pernah tinggal di Bandung? Masih adakah rumah-rumahnya? Di mana kantor-kantor tempat mereka bekerja? Di mana rumah tinggal Abdoel Moeis? Di mana rumah tinggal Dewi Sartika? Sukarno-Inggit, Abdoel Moeis, atau Sosrokartono pernah tinggal di Jalan Pungkur, tapi di mana persisnya rumahnya sekarang? Atau paling tidak, lokasi bekas tempat tinggalnya. Sutan Sjahrir bersekolah di AMS Bandung, tapi di mana rumahnya? Moh. Hatta punya keluarga, dan tentunya rumah tinggal di Bandung, di mana persisnya? Tjipto Mangoenkoesoemo membuka praktik dokter di Tegallega, di mana persisnya? Dan seterusnya…

Sebagian tokoh nasional yang pernah tinggal di Kota Bandung: Abdoel Moeis, Sutan Sjahrir, Douwes Dekker, Tan Malaka, Sosrokartono, Tjipto Mangoenkoesoemo (historia.id, hariansejarah.id, wikipedia.id).

Kembali ke soal dokumen surat nikah dan surat cerai Sukarno-Inggit. Dokumen tersebut seharusnya berstatus benda cagar budaya yang akan dilindungi keberadaan dan kelanggengannya oleh undang-undang. Setelah mendapatkan status itu, tentu harus dipikirkan pula perawatan dan pemanfaatannya untuk jangka panjang. Paling tidak, dapat dipamerkan kepada publik, apakah melalui museum atau program-program yang berhubungan dengan keberadaan dokumen tersebut.

Jejak Sukarno-Inggit dan sekian banyak tokoh nasional lainnya yang pernah tinggal di Bandung, sudah selayaknya dilacak lagi, dicatat, dan ditulis dengan narasi sebaik-baiknya, lalu diperkenalkan kembali kepada warga Bandung. Bisa lewat kegiatan-kegiatan wisata sejarah Kota Bandung, atau dengan pembuatan signage atau plakat-plakat kecil di setiap tempat itu sebagai sebuah peringatan: “Sukarno Pernah Tinggal di Rumah Ini Tahun …,” “Ini Rumah Tinggal Abdoel Moeis pada tahun … …,” “Tjipto Mangoenkoesomo Pernah Buka Praktik Dokter di Rumah Ini,” “Ini rumah Dewi Sartika Setelah Menikah dengan Raden Kanduruan Agah Suriawinata,” dan seterusnya…

Beberapa plakat bangunan di Kota Bandung yang menyimpan data-data atau peringatan yang selalu dapat dijadikan acuan untuk penelitian atau pembelajaran di masa berikutnya (Komunitas Aleut).

Maka, kumpul-kumpul dan bertemu dengan Pak Tito Asmara Hadi hari ini sebenarnya adalah dalam rangka membicarakan apresiasi sejarah yang lebih luas, lebih kontekstual buat masyarakat, dan perlunya kita mendapatkan berbagai informasi tentang jejak sejarah Kota Bandung yang lebih nyata dan lebih dekat dengan keseharian kita.

Pasirluyu Hilir, 24 September 2020
Ridwan Hutagalung
Komunitas Aleut

Resensi Buku Kisah-Kisah Istimewa Inggit Garnasih

IMG-20200422-WA0067

Cover Buku Kisah-kisah Istimewa Inggit Garnasih | Dokumentasi Vecco

Dulu rasanya kita pernah mendapat tugas sekolah untuk membuat kliping koran. Temanya sudah ditentukan guru. Kita potong, tempel, lalu membuat presentasi atas artikel tersebut.

Mungkin itulah yang dalam benak Deni Rachman ketika membuat buku “Kisah-Kisah Istimewa Inggit Garnasih”. Tema besarnya ialah kehidupan Inggit Garnasih, istri kedua Sukarno. Tugasnya ialah “memotong” bagian-bagian koran dan majalah tentang Inggit. Kemudian, Deni buat presentasi atas setiap artikel yang ia temukan. Baca lebih lanjut

Inggit Garnasih

Mengenal peran wanita di ruang privat dalam pendampingan perjuangan pergerakan kemerdekaan Republik Indonesia

Oleh: Puspita Putri (@Puspitampuss)

Minggu, 17 Februari 2019, pagi-pagi sekali aku bangun lalu mandi, sarapan dan melakukan kegiatan persiapan lainnya. Aku bersiap untuk pergi ke pelataran Gedung Merdeka, memenuhi janji kepada salah satu temanku dari Jakarta untuk menemaninya mem-Bandung hari itu. Baca lebih lanjut

Dari Situs Penjara Banceuy

Oleh: Hendi “Akay” Abdurahman (@akayberkoar)

Dari Situs Penjara Banceuy

Saya melihat Sukarno sedang termenung ditemani buku dan pena. Kegelisahan begitu jelas terlihat dari raut wajahnya. Walaupun hanya dalam bentuk patung, keberadaannya terasa esensial. Di tempat inilah Sukarno mendapatkan gagasan dan juga mengumpulkan berbagai rumusan untuk menulis pledoi yang terkenal: Indonesia Menggugat.

Inilah pertama kali saya menginjakkan kaki di Penjara Banceuy, Bandung. Sebuah penjara yang penuh sejarah, terutama yang berkaitan dengan Sukarno.

Angga menuntun saya ke setiap penjuru, “Nah lihat dan bayangkan, di kamar nomor 5 dengan ukuran 1,5 x 2,5 meter ini Sukarno pernah tinggal,” ujarnya sambil menunjuk ke arah bangunan serupa kamar.

“Haaaah!!!!” saya tertegun. “Gilaaaa… Sempit banget.” Baca lebih lanjut

Kuli Gadungan

Oleh: M. Ryzki Wiryawan (@sadnesssystem)

Pak Ahmad adalah opas (office boy) Bung Karno ketika tahun 1927 mendirikan Biro Teknik Bangunan. Tetapi sebenarnya tugasnya bukan hanya sebagai opas saja, melainkan juga sebagai agen PNI. Dia bertugas menyebarkan pamflet ke ranting-ranting di seluruh Bandung. Dari Cimahi sampai Cililin dan Cicalengka, yang jauhnya 30 km lebih dari Kota Bandung. Tugasnya hanya dikerjakan dengan sepeda.

Gajinya? Jangan ditanya. Pak Ahmad tidak mendapat gaji. Hanya mendapat makan dari Bu Inggit. Apa yang dikerjakannya murni demi perjuangan bangsanya.

Tatkala Bung Karno dipenjara, Pak Ahmad berusaha mengadakan kontak dengan pimpinannya yang sekarang mondok di Sukamiskin itu. Tapi bagaimana caranya? Baca lebih lanjut

Lacak Jejak Inggit Garnasih, Minggu, 14 April 2013

13 April adalah tanggal wafatnya Ibu Inggit Garnasih, seorang tokoh perempuan dari Bandung yang ikut mewarnai sejarah nasional mendampingi suaminya, Ir. Sukarno, yang kelak menjadi presiden pertama Republik Indonesia.

Inggit Garnasih berada di samping Sukarno sejak Sukarno masih menjadi mahasiswa di THS (ITB) di Bandung, membantu membiayai perkuliahannya, mengikuti setiap langkah perjuangannya mencapai kemerdekaan Indonesia, mendampingi bersama keluarganya ke pembuangan di Ende, Flores, hingga Bengkulu.

Inggit hanya mengantarkan Sukarno hingga gerbang kemerdekaan Republik Indonesia, tanpa pernah melewati gerbang tersebut. Inggit tidak menikmati semua yang mereka cita-citakan bersama selama di Bandung, Ende, dan Bengkulu.

Kegiatan Komunitas Aleut bekerjasama dengan mooibandoeng kali ini mencoba memperkenalkan ulang tokoh Inggit Garnasih kepada warga Bandung. Sebagai bekal pengetahuan, kami ringkaskan beberapa buku yang menulis tentang Inggit, terutama “Kuantar ke Gerbang” karya Ramadhan KH (Kiblat, Bandung, 2002) dan “Biografi Inggit Garnasih; Perempuan dalam Hidup Sukarno” karya Reni Nuryanti (Ombak, Yogyakarta, 2007).

Yang menarik dalam proses kegiatan ini kami malah menemukan beberapa hal baru yang tidak terduga sebelumnya, yaitu beberapa rumah yang pernah ditinggali oleh pasangan Inggit-Sukarno, rumah orang tua Dewi Sartika, bekas rumah tinggal Sosrokartono (kakak Kartini), dan lain-lain. Ternyata masih banyak cerita yang tersimpan di sudut-sudut Kota Bandung menanti generasi berikut mengungkapkannya kepada masyarakat..

ImagePin Lacak Jejak Inggit Garnasih

Image

 

Leaflet Lacak Jejak Inggit Garnasih

Image

 

Kartu Kelompok Lacak Jejak Inggit Garnasih

Image

 

Kolase foto objek yang harus ditemukan oleh semua peserta dalam Lacak Jejak Inggit Garnasih

Inggit Garnasih – kekasih, kawan dan ibu yang hanya memberi tanpa menuntut balas

Oleh : Natasha Bellania Pertiwi (@achabp)

Jika ditanya siapa perempuan indonesia inspiratif bagi saya, salah satunya adalah Ibu Inggit Garnasih.

Ia sangat mengagumkan bagi saya, dalam banyak hal.
Tak hanya inspiratif, sosoknya yang sederhana, penyayang, keibuan dan memiliki pendirian menjadikannya simbol wanita mandiri.

Garnasih lahir di Desa Kamasan, Banjaran, Kab.Bandung, 17 Februari 1888,dari pasangan Ardjipan dan Amsi. Nama itu diberikan dengan penuh makna dan harapan, kelak menjadi anak yang hegar, segar, menghidupkan, dan penuh kasih sayang.

Menginjak dewasa Garnasih menjadi gadis cantik sehingga ke mana pun ia pergi selalu menjadi perhatian pemuda. Di antara mereka sering melontarkan kata-kata, “Mendapat senyuman dari Garnasih sama dengan mendapat uang seringgit.” (Pada saat itu 1 ringgit sama dengan 2,5 gulden dan nilainya tinggi.) Akhirnya, julukan inilah yang merangkai namanya menjadi Inggit Garnasih.

Ya, Inggit adalah istri kedua Soekarno. Bisa dikatakan beliau adalah sosok perempuan dibalik kesuksesan sang proklamator. Perannya sanggat penting, dimana ia membentuk, menampung, dan mengayomi Soekarno muda yang kala itu tengah berapi-api menjadi seorang pemimpin dan pejuang tangguh, dan Inggit pula yang serta merta mengantarkannya ke gerbang kejayaan.

“Laki-laki dan perempuan adalah sebagai dua sayapnya seekor burung. Jika dua sayap sama kuatnya, maka terbanglah burung itu sampai ke puncak yang setinggi-tingginya; jika patah satu dari pada dua sayap itu, maka tak dapatlah terbang burung itu sama sekali.” ( Sarinah, hlm 17/18 Bung Karno)

Berikut saya simpulkan beberapa peranan Inggit ketika mendampingi Soekarno saat memasuki dunia politik dan pergerakan Kemerdekaan Indonesia, di antaranya:  :

  • Inggit merelakan mengakhiri hubungan rumah tangga nya yang terlanjur hampa dengan seorang pedagang kaya dan juga salah satu tokoh Sarekat Islam, Bernama H.Sanusi.
  • Setelah terjalin ikatan pernikahan dengan Soekarno, Inggitlah yang menjadi tulang punggung keluarga. Ia membiayai rumah tangga dan juga uang kuliah, dengan cara meracik jamu, bedak, membuat Rokok Berlabel “Ratna Djuami” , menjahit kutang, dan menjadi agen sabun dan cangkul meskipun kecil-kecilan. Karena saat itu Soekarno masih menjadi Studen di THS (Technische Hoogeschool atau sekolah Teknik Tinggi yang sekarang menjadi ITB).
  • Membiayai segala bentuk kegiatan politik Soekarno, termasuk menjamu semua tamu Soekarno yang setiap hari datang berkunjung untuk diskusi.
  • Pengabdian Inggit sebagai istri tercermin saat ia menghapus keringat saat Soekarno kelelahan, menemani dan menghibur Soekarno yang tengah kesepian. inggit mampu memerankan 3 sosok sekaligus, yaitu sebagai kekasih, kawan dan ibu yang hanya memberi tanpa menuntut balas.
  • Ia selalu setia mengantarkan makanan, koran, dan uang ketika Soekarno menjalani hukuman di Penjara Banceuy dan Sukamiskin. Meskipun Jarak jauh harus dilewati dengan berjalan kaki bersama Ratna Djuami (anak angkat Inggit dan Soekarno).
  • Inggit juga tabah mendampingi Sukarno hidup di pengasingan, baik selama di Ende maupun Bengkulu. Ia menjadi sumber kekuatan bagi kehidupan Soekarno yang penuh ujian keras.
  • Ia berusaha keras untuk yang menyelundupkan buku-buku untuk Soekarno di dalam penjara. Lewat buku-buku itu Soekarno bisa menyusun pledoi master piece berjudul ‘Indonesia Menggugat’.

Adilkah Jika Masih saja ada orang yang tak mengenalnya ? 😦

Namun takdir berkata lain. Inggit tak bisa selamanya mendampingi Soekarno. Di tahun 1943 itu, saat Sukarno hampir mencapai puncak kejayaannya. Ia berusia 40 tahun sedang Inggit 53 tahun, terguncang oleh keinginan Soekarno yang beralibi menginginkan keturunan langsung darinya. Inggit memang wanita mandul, ia hanya mampu merawat dan mendidik kedua anak angkatnya, Ratna Djuami dan Kartika, bukan dari rahimnya sendiri.

Sampai suatu saat, terucaplah keinginan Soekarno untuk memperistri sesosok wanita muda bernama Fatimah yang kemudian dikenal Fatmawati. Fatmawati sudah dinggap sebagai anak sendiri ketika mereka berada di pengasingan di Bengkulu.

Dengan tegas Inggit mengucapkan, “Itu mah pamali, ari di candung mah cadu”(itu pantang, kalau dimadu pantang). Setelah melewati berbagai pembicaraan dan pertengkaran, sampailah inggit pada keputusannya, ia enggan dimadu dan memilih untuk bercerai dari seorang Soekarno dan dipulangkan kembali ke Bandung.

Itulah Inggit. Dia berbeda dia mampu menentukan keputusan dan memiliki pendirian. Kesedihan dan kesengsaraan yang di arungi bersama selama hampir 20 tahun tidak dirasakan buahnya saat Sukarno mencapai gemilang. Ia telah menuntun Soekarno menuju gerbang. Sampai disitulah tugasnya, kemudian ia memilih membalikan badan menerima kenyataan tak ada lagi Soekarno sebagai pendampingnya, dan mencoba melanjutkan hidup dengan menjual bedak dan meramu jamu.

Soekarno pun akhirnya menikahi Fatmawati, yang setelah mencapai kemeredekaan pada tahun 1945 menjadi First Lady.
Namun sampai akhir hayat pun bisa dipastikan inggit masih menyimpan cintanya yang begitu besar terhadap Soekarno, termasuk melayat saat Soekarno meninggal dunia. Ia sungguh perempuan berhati tulus, memberi tanpa meminta dan memberi tanpa pamrih.

Sumber dan Referensi :

– Ramadhan KH, Kuantar Ke Gerbang

– Obrolan dengan Pak Tito Zeni Asmarahadi (cucu Inggit Garnasih) pada acara lacak jejak – 13 April 2013

– Naskah Lacak Jejak Inggit Garnasih oleh @mooibandoeng dan @KomunitasAleut

– Monolog Inggit Garnasih oleh Happy Salma – Bale Rumawat Unpad