Yang Belum Kering di Kampung Dobi

kampung dobi celana

Oleh: Arif Abdurahman (@yeaharip)

Hampir tiap subuh, selama bertahun-tahun, ibu saya mencuci pakaian kami sekeluarga dengan tangannya, dengan berjongkok. Air cucian bikin kakinya pecah-pecah. Ibu saya mulai tak kuat berlama-lama jongkok. Mesin cuci merk Korea bekas kemudian hadir di rumah kami. Baca lebih lanjut

Iklan

Jangan Bawa Saya Pergi dari Andir

IMG-20171105-WA0053.jpg

Ngaleut Jatayu – Photo by Komunitas Aleut

Oleh: Hendi “Akay” Abdurahman (@akayberkoar)

Langitnya yang biru dengan cahaya matahari yang terang benderang, hijaunya taman membikin kupu-kupu bisa terbang dengan bebas tanpa merasa pengap, belum lagi gedung-gedung tinggi serta kemodernan yang diciptakan. Sungguh, inilah hunian yang menawarkan keoptimisan: Meikarta. Arghh… Aku ingin pindah ke Meikarta!

Akhir-akhir ini saya sering kali mendengar kata Meikarta. Katanya, tempat inilah yang kelak akan menjadi kawasan hunian yang super-super nyaman, mewah dan berteknologi tinggi. Jika kamu tinggal di sana kamu dijanjikan  dapat menghirup udara segar meskipun Baca lebih lanjut

Us Tiarsa dan Memoar tentang Bandung

Memoar Us Tiarsa dalam bahasa Sunda
Memoar Us Tiarsa dalam bahasa Sunda

 

Oleh: Irfan Teguh (@Irfanteguh)

Ketika pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) tengah berkecamuk di Jawa Barat, banyak penduduk yang mengungsi ke tempat yang lebih aman, salah satunya ke Kota Bandung. Mereka yang mengungsi ke Kota Bandung itu mayoritas datang dari Tasikmalaya terutama dari Ciawi dan Garut. Bahkan ada juga yang datang dari daerah-daerah dekat seperti Ciparay, Manggahang, dan Dayeuhkolot.

Tahun 1952 seorang bocah melihat banyak tamu datang ke rumah orang tuanya. Ia bertanya kepada bapaknya ihwal siapa tamu-tamu tersebut. Bapaknya menjelaskan bahwa mereka adalah para pengungsi yang menghindari gerombolan DI/TII. Us Tiarsa nama anak tersebut. Ia baru kelas tiga sekolah rakyat waktu itu, tapi sudah senang membaca koran Pikiran Rakyat dan Sipatahoenan.

Kebiasaan Us membaca dua koran itu mendorongnya untuk menulis saat satu peristiwa kedatangan para rombongan ke rumahnya. Ia lalu mengirimkan tulisannya ke redaksi Pikiran Rakyat tanpa memberitahu orang tuanya. Baca lebih lanjut

Menghisap Candu di Bandung

Oleh: Irfan Teguh Pribadi (@irfanteguh)

    • Banyak teks fiksi dan memoar yang mengetengahkan fragmen tentang candu di Bandung.
    • Sebuah gang di Kampung Arab, persisnya Gang Aljabri, menjadi tempat madat di Kota Bandung.

Melacak keberadaan candu dan para pemadat di Kota Bandung.

tirto.id – Bandung tempo dulu tak hanya dibaluri julukan yang bertendensi pujian macam Parijs van Java, The Garden of Allah, Paradise in Exile, Europe in de Tropen, De Bloem der Indische Bergsteden, dll, namun juga menyisakan kisah tentang candu atau madat.

Seperti ditulis James R. Rush dalam Candu Tempo Doeloe, pemerintah kolonial Belanda pernah menjadikan candu sebagai pundi-pundi kas negara. Persebaran candu di Pulau Jawa ternyata masuk dan beredar di Bandung, kota pegunungan yang menjadi salah satu “anak emas” pemerintah kolonial.

Agak sulit sebetulnya mendapatkan catatan yang gamblang ihwal candu di Bandung, namun jika menilik beberapa teks fiksi dan memoar, akan banyak ditemukan fragmen-fragmen pendek yang setidaknya menjelaskan bahwa candu telah ada dan hidup dalam keseharian sebagian masyarakat Bandung. Baca lebih lanjut

Catatan Perjalanan: Basa Bandung Halimunan

Oleh: Chika Aldila (@chikaldila)

Mengenang masa lalu, terutama masa kecil, memang selalu menyenangkan. Banyak hal-hal yang dapat kita tertawakan di saat kita beranjak dewasa; kebanyakan mempertanyakan kebodohan-kebodohan yang telah diperbuat saat kita kecil dahulu. Membandingkan keadaan dahulu dan sekarang, dari mulai sifat perilaku sampai dengan lingkungan tempat tinggal. Pahit manisnya kenangan itu tentunya menjadi satu rasa tersendiri, yang akan semakin lengkap apabila dituangkan ke dalam satu tulisan.

Adalah H. Us Tiarsa, yang menuliskan pengalaman masa kecilnya di Kota Bandung pada tahun 50-60an dalam sebuah buku yang berjudul “Basa Bandung Halimunan”, atau dalam Bahasa Indonesia “Kala Bandung Berkabut”. Buku tersebut ditulis dalam Bahasa Sunda keseharian dan disajikan dengan gaya bahasa yang membawa pembacanya mengalir ke dalam penuturannya mengenai Bandung di masa lalu.

Bersama dengan Komunitas Aleut, saya dan teman-teman menelusuri beberapa titik di Kota Bandung yang ada di dalam buku Basa Bandung Halimunan hari Minggu (3/4/2016) kemarin. Hari itu kami fokus di kawasan Kebon Kawung, menyusuri wilayah Jl. H. Mesri, Cicendo, dan Kebon Sirih. Rasanya lucu, ngaleut di kawasan yang notabene hanya berjarak beberapa ratus kilometer dari rumah, dan tentunya setiap hari saya lewati. Tapi di sinilah letak keseruan ngaleut, dari rute yang saya biasa sambangi sehari-hari selalu ada hal baru yang saya ketahui. Contohnya adalah rumah Alm. Haryoto Kunto yang berada di Jl. H. Mesri. Ternyata rumah dari “Bapak-nya Bandung” ini berjarak sangat dekat dari rumah saya. For all this time, I just realized it. What a shame.

Kumpul di depan rumah Alm. Haryoto Kunto

Kami berjalan sedikit menuju belakang GOR Pajajaran, dan melihat sebuah pohon yang menjadi saksi sejarah penamaan daerah Kebon Kawung. Ya, pohon kawung. Mungkin ini pertama kalinya saya melihat pohon kawung dari dekat, tepat di lokasi yang dulunya memang merupakan kebun kawung. Tidak lupa sebuah kolam di sebelah pohon tersebut yang jaman baheula biasa digunakan untuk merendam anak-anak laki-laki yang mau disunat sampai bagian bawah tubuh mereka baal (mati rasa). Tidak terbayangkan oleh saya, para anak lelaki yang sedari subuh sudah disuruh berendam selama berjam-jam sampai mereka mati rasa sebelum akhirnya disunat dengan cara yang masih sangat tradisional. Euh, menuliskannya saja sudah membuat saya ngilu, padahal saya perempuan.

Pohon Kawung

Hal menarik lainnya yang saya rasakan adalah pengalaman menelusuri gang-gang yang sangat amat sempit di daerah Cicendo. Bukannya saya tidak pernah menelusuri gang, hanya saja ini kali pertama saya ngaleut melintasi perumahan padat warga di gang yang amat sangat sempit seperti itu. Sempat muncul rasa khawatir akan terganggunya para warga ketika rombongan Aleut melintas, tapi untungnya warga tidak terlihat terganggu ataupun sebagainya.

Saya terkagum-kagum melihat kehidupan warga yang tinggal di gang seperti itu; kegiatannya, interaksinya, perilakunya. Sebagai seseorang yang semenjak lahir tinggal di daerah individualis dengan rumah yang berlokasi di pinggir jalan besar, jarang sekali saya berinteraksi dengan tetangga seperti halnya masyarakat di gang seperti itu. Rasa iri sempat terbesit di dalam hati saya kian makin membesar ketika mendengar pengalaman masa kecil teman-teman saya yang sangat menyenangkan.

Di sesi sharing banyak teman yang bercerita mengenai pengalaman masa kecilnya yang beragam, dan juga menyenangkan. Apalagi mereka yang menghabiskan masa kecilnya di luar kota Bandung, atau mereka yang berusia lebih tua dari saya, yang sempat menikmati indahnya Bandung ketika masih berkabut di pagi hari. Sedangkan saya? Sedari kecil sudah dihadapkan pada sumpeknya kota Bandung—tentunya belum sesumpek saat ini—dan interaksi sosial antara tetangga yang individualis. Masa kecil saya habiskan dengan membaca buku di dalam rumah, jarang bermain dengan teman sebaya. Karena itu, hari Lebaran, dimana saya dan keluarga pergi ke rumah kerabat di Sumedang, merupakan saat yang paling saya tunggu, semata-mata hanya untuk memandang indahnya pegunungan dan hamparan ladang sawah sepanjang jalan.

Meskipun tidak memiliki banyak pengalaman masa kecil yang bersinggungan dengan keadaan kota Bandung masa lalu yang indah, saya cukup senang mendengar penuturan mengenai kisah-kisah masa kecil dari teman-teman Aleut yang lain. Nah, inilah hal menyenangkan lainnya dari ngaleut, bercerita dan mendengarkan cerita, terlebih lagi apabila kisah-kisah perjalanan dan kenangan itu dapat dituliskan dan dibagikan.

 

Tautan asli: http://coretankoenangkoenang.blogspot.co.id/2016/04/catatan-perjalanan-basa-bandung.html

Laundry Tempo Dulu di Ciguriang

Oleh: Vecco Suryahadi Saputro (@veccosuryahadi)

Tukang Dobi di Kebon Kawung
Tukang Dobi di Kebon Kawung

Malam ini, saya baru selesai membaca tulisan Chika Aldila tentang pengalamannya saat NgAleut Basa Bandung Halimunan. Tulisan ini menarik dan menggoda saya untuk menambah cerita tentang salah satu titik perjalanannya. Titik itu adalah mata air Ciguriang di Kebon Kawung.

Dalam tulisan Chika, pengguna mata air Ciguriang adalah warga Kebon Kawung yang akan disunat. Tapi sebetulnya ada satu pengguna Ciguriang lainnya yang bernama tukang dobi atau tukang binatu atau nama kerennya adalah tukang laundry.

Ada beberapa hal menarik tentang tukang dobi di mata air Ciguriang. Pertama, mereka baru bisa menggunakan mata air Ciguriang setelah membayar satu sen. Kedua, mereka bekerja pada malam hari hingga pagi hari. Jadi mereka obor dan satu sen sebelum bekerja di mata air Ciguriang.

Lalu, seperti apa cara mereka mencuci baju? Apa menggunakan mesin cuci atau mencuci dengan papan gilas?

Nah, cara kerja mereka tentunya berbeda dengan binatu sekarang. Saat itu, mereka mencuci dengan membantingkan baju ke batu. Sambil mencuci dan membanting baju, mereka kerap menyanyikan lagu-lagu berbahasa Sunda yang kadang-kadang terdengar oleh warga Kebon Kawung yang akan tidur.

Oh iya, tukang dobi di mata air Ciguriang berasal dari berbagai pelosok di kota Bandung. Mereka datang berombongan ke mata air Ciguriang. Walaupun demikian, ada warga asli Kebon Kawung yang telah turun-temurun menjadi tukang dobi di mata air Ciguriang.

Sayangnya, tempo kini tukang dobi di Ciguriang tinggal cerita saja. Sudah jarang orang Kebon Kawung melihat tukang dobi mencuci baju dan mendengar nyanyian tukang dobi di mata air Ciguriang pada malam hari.

 

Tautan asli: https://catatanvecco.wordpress.com/2016/04/06/laundry-tempo-dulu-di-ciguriang/

Membobol Perpustakaan Haryoto Kunto

Oleh: Arif Abdurahman (@yeaharip)

Siapa sih dia? Setahun lalu, saat masih awal-awal mengikuti Komunitas Aleut!, Minggu terakhir di September 2014 ketika ngaleut bertema “Basa Bandung Halimunan”, seekor koordinator yang bernama Vecco menunjukan sebuah rumah di bilangan Jalan Mesri. Katanya itu adalah rumah dari penulis kenamaan yang berjuluk Kuncen Bandung. Kemudian dia mencoba membujuk setengah merajuk agar bisa masuk, namun nahasnya gagal. Saya tentunya nggak peduli, siapa pula Haryoto Kunto itu.

Ya, boleh dibilang saya baru jadi warga Bandung setahun ini. Lahir dan hidup memang di Bandung, tapi Kabupaten-nya. Tinggal selama 18 tahun di Bandung coret, 3 tahun di Jatinangor, dan sebulan di Pusparaja, Tasikmalaya. Tentunya saya tetap bangga jadi orang Kabupaten Bandung, dan pastinya sudah sah jadi orang Bandung juga.

haryoto kunto book

Oke, jadi siapa sih Haryoto Kunto itu? Nah, beliau adalah dia yang dijuluki “Kuncen Bandung”, penulis yang telah menelurkan buku-buku seputar Bandung, khususnya dalam aspek sejarah; ‘Wajah Bandoeng Tempo Doeloe’, ‘Semerbak Bunga di Bandung Raya’, ‘Ramadhan di Priangan’, dan lain sebagainya. Sebagai seorang penulis, sudah suatu keniscayaan Om Hary ini adalah seorang pembaca yang tergolong rakus juga. Dan memang, sepeninggalnya pada 4 Oktober 1999, almarhum mewarisi sekitar 50.000 buku dan beragam literatur lain. Baca lebih lanjut

%d blogger menyukai ini: