Jangan Bawa Saya Pergi dari Andir

IMG-20171105-WA0053.jpg

Ngaleut Jatayu – Photo by Komunitas Aleut

Oleh: Hendi “Akay” Abdurahman (@akayberkoar)

Langitnya yang biru dengan cahaya matahari yang terang benderang, hijaunya taman membikin kupu-kupu bisa terbang dengan bebas tanpa merasa pengap, belum lagi gedung-gedung tinggi serta kemodernan yang diciptakan. Sungguh, inilah hunian yang menawarkan keoptimisan: Meikarta. Arghh… Aku ingin pindah ke Meikarta!

Akhir-akhir ini saya sering kali mendengar kata Meikarta. Katanya, tempat inilah yang kelak akan menjadi kawasan hunian yang super-super nyaman, mewah dan berteknologi tinggi. Jika kamu tinggal di sana kamu dijanjikan  dapat menghirup udara segar meskipun kawasan tersebut memiliki gedung-gedung tinggi yang dibangun berdekatan. Dalam urusan teknologi, kamu akan dimanjakan dengan kemudahan mendapatkan barang yang kamu inginkan hanya one touch one click. Bukan cuma itu saja, dalam urusan transportasi Meikarta akan terintegrasi dengan kereta api super cepat nan mewah. Semua kemodernan dan tawaran-tawaran lainnya sungguh menggiurkan. Owh, siapa yang tidak tergiur?

Sayang, tawaran itu masih atau hanya sebatas khayalan saja. Entah akan benar-benar tercipta, atau hanya akan berakhir menjadi bualan belaka, yang jelas setelah lagu berjudul Pilihanku milik Maliq and D’Essentials yang saya putar di youtube selesai, iklan tentang Meikarta itu muncul. Penasaran, saya ulangi lagi dan lagi, iklan tersebut.

Jika Meikarta dalam iklannya mencoba menawarkan kita untuk berbondong-bondong pindah ke sana, jauh sebelum itu, di Bandung (tanpa iklan di youtube tentu saja) mempunyai kawasan yang membuat warganya berkeinginan untuk bertempat tinggal di sana. Kawasan itu bernama Andir.

Ik zou daar graag willen wonen

Liefst in de buurt van Andir

(Ku ingin tinggal di sana)

(Hidup di daerah Andir)

IMG-20171105-WA0042

Ngaleut Jatayu – Photo by Komunitas Aleut

***

Tepat di depan SMK Negeri 12 Bandung  yang dulu saya kenal dengan nama STM Penerbangan, saya beserta beberapa teman dari Komunitas Aleut! berkumpul untuk menyusuri Kawasan Jatayu dan sekitarnya. Jatayu sendiri salah satu daerah yang termasuk Kawasan Andir. Langit saat itu sedang biru dengan cahaya matahari terang benderang  kala rumput-rumput hijau menjerit terinjak oleh kami. Hanya cukup disayangkan tidak ada kupu-kupu yang berterbangan di langit biru, oiya mungkin mereka bersiap pindah ke Meikarta.

Sebelum mengangkat kaki lebih jauh, salah satu pegiat Aleut yang memperkenalkan dirinya dengan nama Alexxx (x-nya wajib 3) membuka tasnya dan mengeluarkan pelbagai buku bertema Bandung. Ia sedikit bercerita ihwal kawasan yang hendak kami susuri, di mana kala itu kami masih banyak menjumpai pohon-pohon menjulang tinggi. Sebab, dulu kawasan ini merupakan kawasan yang asri, sejuk dan sangat diminati sebagai tempat tinggal.

Penceritaan Alexxx yang begitu komplit membuat saya kenyang daripada semangkok bubur Mang Amid. Sebelum makin kenyang, maka saya dan teman-teman mulai bergerak menyusuri Jalan Arjuna dan menuju Kawasan Jatayu. Setelah melewati jembatan Ci Tepus, sekonyong-konyong Alexxx berhenti dan kembali bercerita. Kali ini ia bercerita mengenai pabrik kue yang dulu dikenal dengan nama Pabrik Merbabu. Dari kacamata awam, terlihat bahwa bangunan ini merupakan bangunan zaman dulu. Kini bangunan tersebut menjadi kantor service center produk elektronik.

“Nah, di sini dulu ada dua lapang, sebelah timur Jalan Bima dan sebelah barat sisi Jalan Rama,” ujarnya.  Anak-anak di daerah Jatayu, Telukbuyung, Baladewa, Pamoyanan, dan Kebonkawung sering bermain-main di sini.

Enggak hanya tentang Merbabu, penceritaan lapangan terbang Andir juga ia jelaskan kepada saya dan teman-teman.

Selanjutnya, penceritaan mengarah kepada seekor kerbau hitam bernama Si Magrib yang diceritakan dalam buku memoar US Tiarsa “Basa Bandung Halimunan”. Konon, dulu di daerah ini suka ada kerbau bertanduk dan berbadan besar, juga berbulu hitam. Kerbau yang satu ini tersohor hingga ke daerah Sukajadi. Jika ada anak kecil yang sering menangis, para orang tua sering menakut-nakutinya dengan ancaman akan memberikannya ke Si Magrib.

IMG-20171105-WA0007

Jongko di Jatayu yang menjual peralatan teknis – Photo by Komunitas Aleut

Menjelajah Kawasan Jatayu

Setelah penceritaan tentang si Magrib, barulah kami menjelajah Kawasan Jatayu dan sekitarnya. Deretan jongko-jongko pedagang suku cadang motor menjadi yang pertama saya lihat di kawasan ini. Ada sepatbor, stang, knalpot dan spion. Dan masih banyak lagi yang belum disebutkan saking banyaknya suku cadang motor yang tersedia.

“Tah, meuli dampal motor di dieu, urut oge alus,” ucap saya pada Irfan yang dibalas dengan senyum dikulum. Padahal seharusnya perintah sejenis itu saya tujukan pada saya sendiri. Mengingat motor saya lebih sering rudet dibandingkan motor Irfan.  Hahaha…

Memasuki bunderan antara Jalan Arjuna dan Jatayu, saya melihat banyaknya penjual kunci-kunci, obeng,  besi dan peralatan berat lainnya dengan berbagai macam ukuran. Bahkan saya melihat kunci inggris yang ukurannya tak dapat digenggam, saking gedenya.

Bau besi bekas yang menyengat akhirnya mulai tergantikan oleh bau babi, kala saya sampai di Rumah Pemotongan Hewan (RPH). Pantas saja, dari balik pagar terlihat dua ekor babi menggelantung. Meski bau, beberapa di antara kami penasaran untuk melihat. Arfin menjadi orang yang cukup antusias untuk masuk dan melihat babi-babi yang berada di kandang. Dengan kamera yang ditentengnya, ia bergegas setelah sebelumnya telah mendapatkan izin.

“Hanya dua orang yang boleh masuk buat lihat-lihat,” seru Arfin. Ia akhirnya masuk, teman-teman yang lain saling berpandangan. Antara penasaran dan enggan masuk karena bau yang makin menusuk hidung.

Tak berapa lama Arfin kembali dengan sedikit cengar-cengir. Sambil memperlihatkan hasil jepretannya pada saya dan teman-teman lainnya, ia sedikit bercerita bahwa ternyata itulah kali pertama ia melihat babi asli. Lebih kaget lagi, ternyata ukurannya lebih besar dari manusia. Beratnya bisa mencapai 100 Kg. Babi-babi tersebut didistribusikan kepada restoran-restoran non-halal di Bandung. Tak hanya babi, di ruangan atau tempat yang berbeda terdapat sapi berjenis Brahma di mana beratnya mencapai  1 Ton.

“Okja okja,” kata Nurul sambil senyum setelah melihat foto babi di kamera Arfin. Beberapa teman langsung teringat novel Animal Farm-nya George Orwell. Sedangkan saya, meski pernah membacanya, tidak langsung terlintas pada tokoh-tokoh dibuku tersebut seperti Mayor Tua, Napoleon, Snowball, dan tokoh lainnya. Tokoh-tokoh yang barusan saya sebut saja dapat googling.

IMG-20171105-WA0015

Babi di Rumah Pemotongan Hewan di Jatayu – Photo by Komunitas Aleut

Selesai dari situ, kami meneruskan langkah. Sampailah kami di perlintasan rel kereta api. Berbeda dengan jongko-jongko sebelumnya yang menawarkan suku cadang motor dan kunci-kunci serta besi-besi, kali ini saya mendapati banyaknya jongko yang menawarkan peralatan-peralatan berbau militer: baju, celana, sepatu, tas dan lain sebagainya. Ada juga beberapa jongko yang berjualan peralatan perkemahan dan tenda-tenda.

Seperti diharuskan membawa “oleh-oleh”, Alexxx membeli jas hujan yang oleh si pedagangnya dibonusi informasi tentang adanya jongko yang menjual peralatan outbound cukup lengkap dan berharga miring di Jalan Industri. Walakin, karena hari itu hari Minggu, jongko yang dimaksud tutup.

Di perjalanan pulang, Irfan tak mau kalah, ia pun membeli “oleh-oleh” dengan berbelanja peralatan kunci-kunci yang cukup lengkap. Bedanya, barang yang dibeli Irfan bukan untuknya pribadi melainkan titipan. Saya dan Alexxx mengantarnya menuju jongko yang hendak dituju. Transaksi terjadi, tawar menawar terjalin. Sebelum sah dengan harga yang disepakati saya cukup asyik menyaksikan mereka tawar-menawar, dan akhirnya ijab qabul terjadi.

***

Jika orang-orang zaman dulu menjadikan daerah Andir tempat hunian idamannya, saya melakukannya sekarang. Enggak perlu saya pindah ke Meikarta meski nantinya Meikarta benar-benar ada dengan segala kelebihannya (walaupun saya enggak yakin juga dengan apa yang dijanjikan Meikarta lewat iklannya). Karena nyatanya kawasan Andir tempat saya bermukim cukup memberikan rasa nyaman: Dekat dengan bandara, dekat dengan stasiun kereta api, dekat dengan jalan raya, dekat dengan pasar dan dekat dengan Jatayu. Satu yang saya sesali, enggak dekat dengan si do’i.

Baca juga artikel terkait catatan perjalanan dan tulisan menarik lainnya.  (aka/upi)

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

5 pemikiran pada “Jangan Bawa Saya Pergi dari Andir

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s