BLEKOK, DULU DAN KINI

Oleh: Aquinaldo Sistanto (@edosistanto)

Tahun 2013. Sebuah berita di surat kabar memaparkan adanya suatu perkampungan di Selatan Kota Bandung, yang menjadi habitat berbagai burung air. Blekok, kuntul sawah, kuntul kerbau dan sebagainya. Sudah tentu saya penasaran, maka saya pun menyempatkan untuk berkunjung dan melihat wujud fisiknya. Kampung Rancabayawak, Baca lebih lanjut

Iklan

17:30 WIB: Waktu Indonesia bagian Blekok

1. Kampung Blekok

Oleh: Audya Amalia

“….the glory of the past, had gone to underground and people just forgot

some people try hard, to wake up in this age to take back their life….”

Hari Minggu tanggal 24 Juni 2018, sepanjang Jalan Soekarno-Hatta Bandung menuju tujuan, earphones di telinga saya terus mengulang-ngulang lagu Unperfect Sky-nya Elemental Gaze. Sambil berdoa supaya hujan sore itu di-pending dulu dan membayangkan seperti apa tempat tujuan ngaleut episode kali ini. Baca lebih lanjut

Wisata Malam, Menyingkap Kisah di Balik Urban Legend Bandung

Tak terkecuali di Kota Bandung, Jawa Barat. Legenda urban yang diyakini ada itu hingga kini ceritanya dipelihara dan diwariskan dari generasi ke generasi lain.

Baca lebih lanjut

Sekelumit Kisah Leendert van der Pijl di Bandung

van der pijl foto

Foto Dr. Leendert van der Pijl

Oleh : Arifin Surya Dwipa Irsyam (IG: @suryadwipa)

Kondisi Karesidenan Priangan (mencakup Ciamis, Tasikmalaya, Garut, Sumedang, Bandung, Sukabumi, dan Bogor) yang sejuk dan sarat akan kandungan keanakaragaman hayati ternyata telah mengambil hati sekelompok ilmuwan Eropa di bidang botani. Hal tersebut dibuktikan dengan maraknya penelitian mengenai tanaman perkebunan di Priangan, juga dengan dibangunnya Herbarium Bogoriense serta ‘s Lands Plantentuin te Buitenzorg. Oleh sebab itu Bogor pernah memperoleh predikat sebagai pusat perkembangan ilmu botani di Hindia Belanda. Selain di Bogor, Kawasan Bandung ternyata juga sempat dijadikan destinasi untuk mempelajari aneka jenis tetumbuhan khas Priangan. Salah satu ahli yang berperan penting dalam mengungkap rahasia dunia flora di Bandung dan sekitarnya adalah Dr. Leendert van der Pijl. Baca lebih lanjut

Bima Sakti Tertancap di Bosscha

index

Observatorium Bosscha | Foto Tropen Museum

Oleh: Vecco Suryahadi (@Veccosuryahadi)

Pada tahun 1948, Observatorium Bosscha mendapatkan bantuan donasi untuk membuat optik teleskop baru dari Unesco. Bantuan ini didapatkan ketika Egbert A. Kreiken yang pernah menjadi staf Observatorium Bosscha (1928-1930) menghadiri General Meeting UNESCO di Meksiko. Baru pada tahun 1950, berita ini disampaikan kepada Pemerintah Indonesia.

Pada awalnya, teleskop yang akan dibuat berjenis Cassegrain. Kemudian diganti menjadi Schmidt karena pertimbangan transparansi langit di observatorium. Sayangnya, jenis Schmidt tergolong mahal. Akibatnya, terjadi negosiasi antara UNESCO dengan Pemerintah Indonesia. Hasilnya biaya pembangunan mounting, gedung, dan operasional teleskop ditanggung oleh Pemerintah Indonesia. Sedangkan optik teleskop berasal dari bengkel Observatorium Yerkes yang didanai oleh UNESCO.

Saat itu, biaya yang ditanggung pemerintah Indonesia tergolong besar. Biaya pembuatan mounting saja berkisar 150 ribu – 200 ribu dolar. Padahal Pemerintah Indonesia hanya menyediakan sekitar 16 ribu dolar saja. Akibatnya, pihak observatorium meminta bantuan Jan H. Oort, direktur Observatorium Leiden. Atas bantuannya, Observatorium Bosscha mendapatkan desain mounting dari Rademakers di Rotterdam secara gratis.

Pembangunan mounting dimulai pada tahun 1957. Biayanya pun turun menjadi 17 ribu dolar dengan donasi seribu dolar dari Leiden yang sebelumnya menjanjikan 4 ribu dolar.  Akhirnya, mounting selesai pada bulan Maret 1958 dan tiba dua bulan kemudian di Pelabuhan Tanjung Priok.

Lalu, bagaimana dengan optik teleskopnya? Optik itu datang terlambat karena dua faktor. Pertama, direktur observatorium Van Albada kembali ke Belanda karena boikot terhadap orang Belanda yang dilakukan Pemerintah Indonesia. Kedua, Gerard Kuiper yang menjabat direktur Observatorium Yerkes enggan menyerahkan optik karena tidak ada astronom yang bertanggung jawab di Bosscha.

ps_the_afscheidrede_figuur1 (Langit Selatan Blog)

Foto: milik pribadi Prof. Dr. The Pik Sin di blog langit selatan

Kemudian, datanglah Dr. The Pik Sin yang telah menyelesaikan studi doktoral di Amerika Serikat. Pada tahun 1959, Dr. Pik Sin diberi mandat sebagai direktur observatorium. Perlu diketahui bahwa Dr. Pik Sin adalah murid pertama Van Albada. Dengan alasan-alasan di atas, maka yakinlah Gerard Kuiper untuk menyerahkan optik teleskop berharganya.

Perakitannya dan pembangunan dilakukan secara hati-hati dan detail. Pemasangan tabung dan rangka kaki “Bima Sakti” dipercayakan kepada Pabrik Sendjata & Mesiu Bandung (kini Pindad). Sedangkan, pemasangan alat-alat optiknya diserahkan kepada Dr. The Pik-Sin dan Dr. Victor. M. Blanco, ahli bintang dari Case Institute of Technology. Perakitan dan pemasangan ini memakan waktu dua bulan.

Teleskop selesai pada bulan Mei 1960. Teleskop itu kemudian dipancang di bangunan bekas astrograaf yang letaknya sekitar 300 meter sebelah timur dari koepel Teleskop Zeiss. Upacara serah terima dilakukan Dr. Mattson yang mewakili UNESCO kepada Pemerintah Indonesia.

Lalu, apa nama teleskop baru yang mahal ini? Namanya ialah Bima Sakti. Pelaku di balik nama Bima Sakti ialah Van Albada. Alasannya ialah penggunaan utama teleskop untuk meneliti galaksi Bimasakti.

Baca juga artikel lainnya dari Vecco

(komunitasaleut.com – vss/upi)

Sumber Bacaan:

Tulisan Evan I. Akbar di Bosscha.itb.ac.id.

Buku Djawa Barat.

The Bosscha Observatory Schmidt Telescope karya Van Albada

 

Sejarah Singkat Pabrik Kina

Pabrik Kina

Bandoengsche Kinine Fabriek N.V. Foto Tropen Museum

Oleh: Vecco Suryahadi (@Veccosuryahadi)

Pada pertengahan abad ke-19, tersebar sebuah penyakit yang memakan banyak orang Eropa di Batavia. Saking banyaknya, Batavia sempat dijuluki Het Graf van Het Oosten atau kuburan di negeri timur. Penyakit yang memakan banyak korban itu bernama malaria.

Saat itu, obat malaria yang ampuh berasal dari pohon Kina. Bagian yang diambil yaitu kulit pohonnya.

Melihat hal itu, pada tahun 1851, Ch. F. Pahud yang menjabat sebagai Menteri Jajahan Seberang Lautan Belanda mengusulkan Junghuhn untuk membudidayakan kina di Jawa. Di tahun yang sama, Prof. de Vriese mendapatkan biji Kina paling baik dari Perancis dan mulai menanam di Kebun Raya Bogor. Baca lebih lanjut

Pendirian Lembaga Rumah Buta (PSBN Wyata Guna)

 

Oleh: Vecco Suryahadi (@Veccosuryahadi)

Pada tahun 1902, K.A.R. Bosscha mendonasikan lahan seluas tiga bahu yang terletak di Burgemeester Coopsweg (kini Jl. Pajajaran) kepada yayasan untuk tuna netra bernama Blinden Instituut en de Werk Inrichting voor Blinde Inlanders te Bandoeng. Kemudian dibangunlah sebuah komplek rumah buta di lahan tersebut.

Baru pada tahun 1903, komplek rumah buta ini selesai. Peresmian komplek ini dilakukan oleh Ketua Kehormatan Perkumpulan Residen bernama G. J. A. F. Oosthout yang kemudian diserahkan kepada Dr. Westhof yang saat itu menjadi ketua perkumpulan.

Selanjutnya, banyak aktivitas-aktivitas terkait kaum tuna netra di Hindia Belanda. Salah satunya ialah pengajaran cara meraba, mencium, dan mencicipi yang memungkinkan para murid dapat mengetahui ilmu tumbuh-tumbuhan dan tanah. Baca lebih lanjut