Ngarumat Pusaka di Bumi Alit

Oleh: Anggi Aldila (@anggicau)

Rabu malam (23/12) setelah selesai shalat Maghrib, saya memberanikan diri untuk masuk ke lingkungan situs Bumi Alit di Lebakwangi – Batukarut, Banjaran. Menurut informasi yang saya terima, malam itu ada acara yang akan digelar semalam suntuk sebelum acara inti digelar keesokan harinya, Kamis (24/12). Akan tetapi, hanya ada anak – anak yang sedang latihan menabuh gamelan pada malam itu.

Saya cukup beruntung, karena di sana ada beberapa orang panitia acara. Salah satunya Bapak. H. Itang Wismaya yang terkadang menjadi penabuh gamelan “Goong Renteng”. Beliau cukup membantu memberikan informasi terkait rangkaian acara inti Kamis esok hari, yang meliputi acara memandikan pusaka yang disimpan di dalam Bumi Alit sepanjang tahun dan juga acara memandikan Gamelan yang menjadi acara utama.

Setelah melaksanakan aktivitas rutin di rumah di keesokan harinya, sekitar pukul 06.00 saya mulai berangkat ke Bumi Alit. Waktu yang diperlukan untuk sampai di sana cukup setengah jam saja. Setibanya di sana, terlihat masih belum banyak orang yang masuk area Bumi Alit. Namun, para pupuhu, panitia, dan juga kuncen sudah hadir.

Para Pupuhu Berkumpul Sebelum Memandikan Senjata Pusaka

Kami para peliput dipersilahkan masuk ke dalam Bumi Alit untuk mengikuti proses memandikan pusaka yang hanya dikeluarkan setiap tanggal 12 Rabiul Awal atau setiap memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Sekitar pukul 07.15, acara di Bumi Alit dimulai. Suasana heningpun menyelimuti semua yang ada di dalam Bumi Alit. Kami sempat dikagetkan oleh seseorang yang menangis sebelum pusaka dikeluarkan.

Saat kami sedang menunggu acara memandikan pusaka, tiba–tiba melintas arak–arakan gamelan yang dibawa dari rumah kuncen. Gamelan tersebut akan dimandikan setelah acara memandikan pusaka selesai. Kami para peliput dengan sopan langsung keluar, sedikit berlari, untuk mendapatkan momen arak–arakan gamelan. Setelah mengambil sedikit gambar, kami masuk kembali ke dalam Bumi Alit, dan acara pun dimulai.

Satu persatu benda pusaka yang dibalut oleh kain kafan mulai dikeluarkan. Setelah seluruh barang dikeluarkan, kuncen menerangkan bahwa semua barang pusaka akan dimandikan secara berurutan. Dari pusaka yang yang dimandikan pertama, kedua, ketiga, begitu seterusnya sampai terakhir.

Gobang, Salah Satu Pusaka yang Dikeluarkan untuk Dimandikan

Jika proses memandikan pusaka di dalam Bumi Alit berlangsung dalam keadaan hening, lain halnya dengan proses memandikan gamelan yang sudah ditunggu oleh banyak orang.Maklum, proses memandikan gamelan ini dilakukan di lingkungan luar Bumi Alit dan bisa disaksikan oleh khalayak ramai. Beberapa orang mulai merapat ke tempat pemandian gamelan yang disediakan di samping bale. Sebelum gamelan mulai dimandikan, para petugas yang bertugas memandikan gamelan berdoa terlebih dahulu. Sesaji pun disiapkan, dan wangi harum kemenyan mulai merebak di sekitar pemandian.

Berdoa Sebelum Memandikan Goong Renteng

Banyak orang membawa botol air mineral sampai ember untuk menampung air bekas memandikan gamelan secara berebut. Anak–anak dan sejumlah ibu–ibu bahkan dengan sengaja berdiam di bawah gamelan yang sedang dimandikan.

Anak–anak Mandi di Bawah Goong Renteng

Gamelan “Goong Renteng” adalah seperangkat gamelan yang masih utuh dan lengkap peninggalan dari leluhur Lebakwangi. Ada yang mengatakan kalau usia Goong Renteng dan juga pusaka yang ada di Bumi Alit itu sudah mencapai ribuan tahun. Kalimat ini sering diutarakan oleh para keturunan Lebakwangi. Namun, diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan usia sebenarnya dari gamelan tersebut.

Selesai dimandikan, pusaka di Bumi Alit kembali ditutup oleh kain kafan dan disimpan di dalam Bumi Alit. Lain halnya dengan perangkat gamelan. Setelah dibersihkan dan diberikan wewangian, gamelan kemudian akan ditabuh oleh para nayaga yang sudah bersiap di bale Situs Bumi Alit. Kebanyakan dari nayaga tersebut sudah berusia sepuh, hanya ada satu orang yang masih terlihat muda.

Pagi itu, banyak dari keturunan Lebakwangi yang biasa dipanggil Siwi Suwu berdatangan ke Situs Bumi Alit sambil membawa tikar dan makanan (banyak pula yang membawa nasi tumpeng). Nasi dan lauk pauk yang mereka bawa tersebut tidak dimakan langsung melainkan disantap setelah ada perintah dari pembawa acara.

Pukul 08.45 semua pusaka sudah selesai dimandikan. Pembawa acara kemudian naik ke podium untuk memberikan pengumuman. Beliau meminta kepada para nayaga untuk memainkan satu buah lagu sebagai hiburan bagi para Siwi Suwu dan masyarakat yang sudah hadir di acara yang rutin dilakukan setiap tahun ini.

Nayaga Memainkan Goong Renteng (Gamelan Embah Bandong)

Acara pun dibuka. Dimulai dengan memanjatkan doa terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan dengan sambutan – sambutan yang selalu ada di setiap acara. Para nayaga kemudian memainkan lagu – lagu yang rutin dimainkan setiap helatan ngarumat pusaka. Lagu – lagu ini kebanyakan berisi cerita maupun petuah. Menurut informasi yang penulis dapatkan, dari total 14 lagu ini masih ada beberapa lagu yang nadanya belum diketahui.

Demikian serangkaian kegiatan acara “Ngarumat Pusaka” di Situs Bumi Alit Kabuyutan Lebakwangi-Batu Karut, Arjasari yang rutin digelar setiap tahun. Sebenarnya, setelah acara inti masih ada acara yang dilaksanakan tanggal 26 Desember 2015, yaitu Ngabungbang di mana para peserta Ngabungbang akan melepaskan apa yang ada didalam hati sambil diiringi gamelan. Sayang, penulis berhalangan hadir di acara ini karena berbenturan dengan acara keluarga yang tak bisa ditinggalkan.

Seuweu Siwi Berkumpul di Halaman Situs Bumi Alit

 

Tautan asli: https://tulisansikasep.wordpress.com/2015/12/28/ngarumat-barang-pusaka-kabuyutan-bumi-alit/

Iklan

Kampung Mahmud dan Sisa Kearifan Lokalnya

Oleh: Z. Puteri Syahadah (@PuteriZS)

Put01

Mendengar kata kampung adat, terutama kampung adat Sunda, yang ada di benak saya adalah rumah panggung dan suasana lingkungan asri yang jauh dari jangkauan teknologi. Adapun definisi dari kampung adat menurut saya sendiri adalah suatu lingkungan yang memiliki dan juga masih mempertahankan adat istiadat, hukum, dan aturan yang telah ditetapkan oleh leluhur dari tempat tersebut. Walaupun begitu, sekarang ini ada beberapa kampung adat yang sudah mulai menerima masuknya teknologi, seperti kampung adat yang baru saja saya kunjungi bersama teman-teman dari Komunitas Aleut yaitu Kampung Mahmud yang berada di Desa Mekar Rahayu, Kecamatan Margaasih, Kabupaten Bandung.

Dengan menaiki angkot, saya dan teman-teman bergegas menuju Kampung Mahmud. Alangkah kagetnya saya ketika sampai di Kampung Mahmud. Saya melewati sebuah jembatan yang menebarkan aroma tidak sedap. Aroma tidak sedap itu berasal dari Sungai Ci Tarum yang kini sudah dipenuhi sampah dengan air yang berwarna hitam disebabkan oleh limbah pabrik industri yang dibuang ke Sungai Ci Tarum.

Put02

Tak jauh dari jembatan Ci Tarum Baru, terdapat gerbang Kampung Adat Mahmud. Saya dan teman-teman segera masuk ke Kampung Mahmud sambil sesekali memperhatikan dan memotret lingkungan sekitar. Menurut cerita Haji Syafei, salah satu sesepuh Kampung Mahmud, Eyang Abdul Manaf yang merupakan penyebar agama Islam pertama di Bandung, ketika itu beliau sedang bertafakur kepada Allah di Kampung Mahmud di Mekkah. Kemudian beliau mendapatkan “wangsit” yang menyuruhnya untuk mengambil segenggam tanah dari Kampung Mahmud untuk dibawa ke tanah air dan ditebar di sekitar rawa-rawa Sungai Ci Tarum. Karena itu nama kampung ini pun Kampung Mahmud. Eyang Abdul Manaf menjadikan kampung ini sebagai pusat penyebaran ajaran Islam pertama di wilayah Bandung. Eyang Abdul Manaf adalah keturunan ke-7 dari Syarif Hidayatullah. Dalam menyebarkan ajaran islam sehingga dapat meluas di luar wilayah Bandung, beliau tidak sendirian, melainkan beliau berjuang bersama kedua muridnya yaitu Eyang Agung Zainal Arif dan Eyang Abdullah Gedug.
Put03
Tak hanya itu, Kampung Mahmud dijadikan sebagi kawasan “haram”, artinya Kampung Mahmud tidak boleh dikunjungi atau diinjak oleh seseorang yang tidak beragama Islam. Sekitar 150 m dari makam Eyang Abdul Manaf ke arah timur terdapat sebuah tugu. Tugu ini dibangun oleh Eyang Abdul Manaf untuk menandai bahwa kawasan Kampung Mahmud merupakan daerah “suci” seperti halnya Mekkah dan Madinah.

Pada saat awal pendirian Kampung Mahmud, banyak aturan yang tidak boleh dilakukan oleh masyarakat Kampung Mahmud seperti tidak boleh membuat sumur, tidak boleh membuat rumah permanen dan menggunakan kaca pada jendela, tidak boleh memelihara kambing dan angsa, serta menggunakan alat-alat musik termasuk bedug. Masyarakat dilarang membuat sumur karena untuk memenuhi kebutuhan air yang dipakai masyarakat Kampung Mahmud berasal dari Sungai Ci Tarum yang bersih dan jernih, sedangkan larangan membangun rumah permanen dikarenakan rumah panggung merupakan simbol dari kesederhanaan dan pemasangan kaca di jendela rumah ditakutkan akan membuat masyarakatnya menjadi sombong. Selain itu, larangan memelihara kambing dan angsa ditakutkan akan membuat kebisingan di Kampung Mahmud yang tentram dan damai itu.

Meskipun tidak ada aturan tertulis, masyarakat begitu mempercayai aturan dari para leluhur tersebut. Karena apabila aturan itu dilanggar, maka orang yang melanggar tersebut akan mengalami musibah berupa kehidupan rumah tangga yang hancur, kesulitan ekonomi, atau berupa sakit yang tak kunjung sembuh.

Tidak dapat dipungkiri bahwa peran Eyang Abdul Manaf sebagai tokoh penyebar ajaran islam pada saat itu sangat dihormati. Ini dibuktikan dengan banyaknya orang yang mengunjungi Kampung Mahmud untuk berziarah ke makam beliau. Hampir setiap harinya ada saja masyarakat Kampung Mahmud atau masyarakat luar Kampung Mahmud dari berbagai golongan mendatangi makam Eyang Abdul Manaf. Mereka datang untuk mendoakan leluhur yang dikeramatkan, namun tidak sedikit pula dari mereka yang datang dengan tujuan tertentu. Banyaknya orang yang mengunjungi Kampung Mahmud, kampung ini dimanfaatkan sebagai tempat wisata dan kegiatan ekonomi lainnya. Ini terlihat dari banyaknya pedagang di sepanjang jalan Kampung Mahmud yang menjajakan berbagai kebutuhan ibadah dan kebutuhan perut.

Seiring dengan perkembangan jaman dan terjadinya pergeseran nilai di tengah masyarakat Kampung Mahmud, larangan itu kini sudah mulai ditinggalkan. Arus modernisasi yang terjadi sekarang membawa dampak bagi Kampung Mahmud. Berbagai adat dan aturan yang dulu sangat dipegang oleh masyarakat Kampung Mahmud dengan teguh perlahan mulai melonggar. Adapun perubahan lingkungan yang tidak bisa dihindari seperti berubahnya Sungai Ci Tarum yang menjadi tidak bersih dan jernih, mendorong warganya untuk membuat sumur masing-masing.

Selain itu, masuknya teknologi modern merusak suasana Kampung Mahmud yang sarat akan adat dan tradisi. Kini hampir setiap rumah memiliki televisi. Masyarakat Kampung Mahmud sekarang terbiasa dengan tontonan yang menayangkan kehidupan para selebritis yang mewah sehingga mengakibatkan berubahnya pola pikir dan gaya hidup kampung Mahmud. Nilai-nilai kesederajatan dan kesederhanaan kini mulai sedikit berkurang seiring banyaknya aturan yang dilanggar seperti mulai berdirinya rumah-rumah yang bertembok lengkap dengan kaca.

Meskipun Kampung Mahmud sudah mengalami banyak perubahan dan menerima pengaruh dari luar setidaknya ada kebiasaan yang tidak berubah seperti kebiasaan berziarah. Tidak hanya itu, masyarakat Kampung Mahmud berusaha keras untuk tetap mempertahankan keaslian dan keasrian Kampung Mahmud. Hal itu terlihat dari masih adanya bangunan-bangunan seperti rumah, mesjid, atau komplek makam yang dibuat dengan menggunakan bahan kayu serta berdinding bilik. Itulah Kampung Mahmud, kampung adat yang tetap berusaha memelihara adat-istiadatnya dan penghormatan kepada leluhur.

Beda Nasib Observatorium Mohr dan Observatorium Bosscha

Oleh: Kedai Preanger (@KedaiPreanger)

observatorium mohr 1

Gambar di atas merupakan observatorium abad ke-18 milik Tuan Mohr di Glodok yang berlokasi di dekat Klenteng Ji Den Yuen, Petak Sembilan, Batavia. Ketika Kapten Cook memperbaiki Kapalnya Endeavour di Pulau Onrust, Batavia, dia mencatat mengenai Observaturium Johan Mauritz Mohr ini. Lewat Observatorium miliknya, Pastor Mohr mengamati Transit Venus. Misi yg sama juga diemban oleh James Cook, di samping misi utamanya menemukan Benua di belahan Selatan. Nasib observatorium ini berakhir di tangan bencana alam.  Baca lebih lanjut

Bosscha dan Social Entrepreneurship

Oleh: Arif Abdurahman (@yeaharip)

kar bosscha social entrepreneur

Foto asli: Koleksi Troppenmuseum

Jika tak ada kebijakan CSR, akankah sebuah perusahaan mendermakan sebagian pemasukannya? Secara prinsip ekonomi mustahil, ini disebut pemborosan, kecuali pendermaan tadi termasuk dalam bagian promosi.

Namun tentunya sebagai bagian dari masyarakat, mereka yang diberi kelebihan rezeki dibebankan sebuah tanggung jawab sosial untuk menyisihkan sebagian kekayaannya. Dan ya, pengusaha menjadi salah satu kekuatan dalam memajukan sekitar. Homo homini lupus, manusia memang menjadi serigala bagi sesamanya, namun jangan lupakan bahwa dasar kita adalah sebagai hewan yang bermasyarakat. Baca lebih lanjut

Singgahnya Kian Santang di Tumpukan Sampah

Oleh: Arif Abdurahman (@yeaharip)

Dari Sumedang Larang, Kian Santang memacu mobilnya melintas Jatinangor dan masuk Tol Cileunyi. Rupanya tim intel berhasil melacak keberadaan Prabu Siliwangi di sebuah bukit di daerah Baleendah. Kemacetan, jalanan terjal berbatu dan becek pun harus dilalui Kian Santang dalam perburuannya menaklukan Sri Baduga Maharaja yang keukeuh nggak mau masuk Islam.

Prabu Kian Santang tertunduk lemas. Nampaknya ada kesalahan informasi, karena yang dia dapatkan hanya sebuah gundukan sampah.

gunung munjul baleendah

Entahlah. Yang pasti jika Descartes mah bersabda, “Aku berpikir maka aku ada”, maka saya berkata, “Aku berpikir maka aku mengada-ada”. Baca lebih lanjut

Di Bukit Tegak Lurus dengan Langit *)

Oleh: Irfan Teguh Pribadi (@irfanteguh)

DSCN8335

Di kampung saya–di Selatan Sukabumi, tak jauh dari rumah; berjajar beberapa bukit (Sunda : pasir) yang memanjang dari Timur ke Barat. Persis di belakang rumah ada Pasir Pogor, kemudian Pasir Gundul, Pasir Hiris, dan Pasir Hanjuang, lalu di akhiri dengan sebuah bukit yang melintang dari Selatan ke Utara, yang dinamai dengan Pasir Malang. Waktu Ahad kemarin (22/03/2015) mengunjungi bukit Munjul dan Culanagara di wilayah Bandung Selatan, tentu saja ingatan melayang ke bukit-bukit yang saya sebutkan tadi. Ada kesamaan yang sangat jelas, yaitu tentang tempat-tempat keramat yang berada di puncak bukit.

Di Pasir Hiris ada beberapa makam yang dikeramatkan, dan konon sering diziarahi oleh orang-orang dari luar kota (terutama Jakarta). Ditemani oleh sang juru kunci, mereka kerap melaksanakan ritual yang diisi dengan do’a-do’a. Saya sendiri baru menyadari kemudian ihwal makam keramat itu, sebab waktu kecil saya hanya menganggapnya tak lebih dari makam biasa saja. Hanya letaknya yang memang terasa ganjil. Di pasir yang lain sebenarnya ada juga beberapa makam, namun makam yang tadi adalah yang paling terkenal.

Kecenderungan tempat-tempat keramat di ketinggian bukan hanya ada di Tatar Priangan, sebab di Pulau Jawa bagian Tengah dan Timur banyak juga terdapat hal demikian. Di Cirebon pun, sebagai suatu wilayah yang kerap “enggan” disebut Sunda—bahasa dan catatan sejarah banyak menulis hal ini, terdapat juga tempat keramat yang letaknya di ketinggian. Dalam buku Ziarah & Wali di Dunia Islam yang naskahnya dikumpulkan oleh Henri Chambert-Loir dan Claude Guillot, terdapat keterangan sebagai berikut :

“Kompleks keramat Sunan Gunung Jati mencakupi dua bukit , yaitu Bukit Sembung dan Bukit Gunung Jati, yang hanya berjarak beberapa ratus meter. Bukit Gunung Jati bisa dipastikan sudah keramat pada jaman pra-Islam. Orang setempat masih mengenang bahwa api besar-besaran kadang-kadang di nyalakan di puncaknya, yang dianggap dan dikeramatkan sebagai puseur alam. Kepercayaan-kepercayaan kuno sedikit demi sedikit telah diintegrasikan dalam kerangka Islam, namun bukit ini tetap mempunyai ciri sakral.”

DSCN8300

Ada tiga kata yang bisa ditangkap dari kutipan tersebut. Pertama “bukit”, kedua “pra-Islam”, dan yang ketiga adalah “diintegrasikan”. Di beberapa petilasan yang diyakini sebagai rute pelarian Prabu Siliwangi sewaktu dikejar oleh Kian Santang—anaknya yang hendak meng-Islamkan sang bapak (salahsatunya di bukit Munjul), kepercayaan masyarakat terbelah dua; yang pro Siliwangi melakukan ritual dengan nuansa Hindu, sedangkan yang berpihak kepada Kian Santang dengan ritual bernuansa Islam. Entah bagaimana perbedaan ritualnya, mungkin terletak pada do’a.

Kutipan di atas pun menyatakan sebuah alur, bahwa kata “pra-Islam” menunjukan adanya kekuatan politik dan kepercayaan yang mendahului Islam sebagai pemenang selanjutnya. Sebagai pemenang tentu saja leluasa membuat narasi sejarah, dan atau menempel lalu menggantikan simbol-simbol si kalah. Kata “diintegrasikan”—bukan “terintegrasikan”, jelas adalah kata aktif, artinya sebagai bentuk penyengajaan. Hal ini mungkin juga berlaku pada perlakuan dan penamaan situs-situs, makam keramat, dan petilasan yang lain.

Selain itu, kalau kita amati, banyak juga komplek pemakaman Cina yang berada di dataran tinggi. Beberapa contoh antara lain; Sentiong di Sukabumi, Pasir Hayam di Cianjur, Lereng Tidar di Magelang, dan Cikadut di Bandung. Artinya pemilihan bukit sebagai tempat tinggi bukan kepercayaan yang dimonopoli oleh etnis dan kepercayaan tertentu saja. Bukit sebagai sebuah dataran tinggi, bahkan telah juga dituliskan pada teks-teks jaman kenabian. Bukankah bukit Tursina disebutkan dalam riwayat Nabi Musa?, dan Jabal (gunung) Nur ada dalam lintasan sejarah Nabi Muhammad?

Membahas kaitan antara tempat-tempat tinggi dengan kepercayaan manusia mungkin bisa ditulis dari ragam perspektif, namun saya hendak mencatatnya dari sudut pandang tempat tinggal dan budaya produksi pangan etnis Sunda jaman baheula.

Tapi sebelum masuk ke sana, mungkin ada baiknya kita sadari dulu sebuah kenyataan, bahwa fakta-fakta sejarah di negara kita—terutama era pra kolonial, seringkali dipadukan dan lebur bersama mitos dan legenda.  Dalam sebuah pengantar yang beraroma pujian di buku Bo’ Sangaji Kai-Catatan Kerajaan Bima–penyunting buku tersebut menulis hal berikut :

“Sumber-sumber Eropa terutama sumber Belanda umumnya dianggap lebih berguna daripada sumber-sumber lokal, oleh karena orang Eropa sudah lama mengembangkan satu usaha pendokumentasian yang tepat dan lengkap. Berbagai bentuk arsip yang dikembangkan oleh orang Eropa selama berabad-abad sarat dengan fakta, angka, nama, dan tanggal. Arsip jenis itulah yang menjawab pertanyaan para sejarawan modern, sedangkan sumber-sumber berbahasa Melayu, seperti juga sumber dalam bahasa-bahasa lain di Indonesia, seringkali mamadukan mitos, legenda, dan sejarah, sehingga sukar dimanfaatkan. Karya-karya sejarah yang ditulis dalam bahasa Melayu di Bima (Pulau Sumbawa) merupakan satu kekecualian yang gemilang.”

Anggaplah saya imperior dengan mengiyakan kutipan tersebut, tapi kenyataannya memang demikian.

***

DSCN8364

Menurut Drs. Saleh Danasasmita dalam buku berbahasa Sunda yang berjudul Nyukcruk Sajarah Pakuan Pajajaran jeung Prabu Siliwangi, beliau menjelaskan bahwa type masyarakat di Indonesia terbagi menjadi tiga, yaitu; masyarakat sawah, masyarakat ladang (huma), dan masyarakat pesisir. Pajajaran (Sunda) termasuk ke dalam type masyarakat ladang (huma).

Bukti-bukti sejarah mengenai hal ini bisa ditemukan pada beberapa catatan. Pertama,  dalam buku Priangan, de Haan menginformasikan bahwa system pertanian sawah di Jawa Barat dimulai oleh van Imhoff. Di Bogor, daerah pertama yang membuka lahan sawah adalah Cisarua, yang petaninya didatangkan dari Tegal dan Banyumas. Untuk selanjutnya daerah Bogor dijadikan “daerah bebas huma” oleh Yakob Mossel yang menggantikan van Imhoff pada tahun 1750. Selain itu, beberapa istilah yang digunakan oleh petani Sunda dalam ngawuluku dan ngagaru, umumnya bukan kosa kata Sunda, melainkan kosakata Jawa, seperti : kalen, mider, luput, sawed, arang, damping, dll.

Kedua, dalam Carita Parahiyangan—yang merupakan hasil sastra jaman Pajajaran, tidak terdapat istilah husus “patani”, tapi “pahuma”. Dalam naskah yang lain disebutkan bahwa perkakas yang disebut hanyalah kujang, baliung, patik, korěd, dan sadap; yang semuanya adalah perkakas untuk berladang.

Ketiga adalah dokumen tradisi seperti yang terdapat di suku Baduy kiwari. Orang Baduy yang masih memegang teguh adat kebiasaan leluhurnya cadu untuk bertani di sawah.

Dan yang terakhir adalah berdasarkan kepada dokumen lisan dalam bahasa Sunda yang terkait dengan bahasa Indonesia. Huma dalam bahasa Indonesia artinya rumah, sedangkan ladang dalam bahasa Sunda artinya hasil. Hal ini bisa menjadi petunjuk bahwa huma adalah ya rumah itu sendiri. Ini bisa juga diperkuat dengan kebiasaan orang tua dulu ketika melarang anaknya yang sedang bertengkar atau berselisih, mereka kerap berucap; “Ulah sok pasěa jeung dulur, bisi pajauh huma!” (Jangan bertengkar dengan saudara, nanti huma/rumah-nya berjauhan).

Dari keempat hal tersebut di atas, bisa ditarik kesimpulan bahwa masyarakat Sunda pada mulanya adalah masyarakat ladang/huma, yang secara geografis mayoritas berada di dataran tinggi (minimal lebih tinggi dari sawah)—umumnya disebut dengan bukit. Karakter tanah huma pada umumnya tidak bisa ditanami tumbuhan pangan secara berulang-ulang, oleh sebab itu para pehuma biasanya berpindah-pindah tempat ketika hendak menanam padi. Hal tentu berpengaruh juga dengan tempat tinggal, artinya perkampungan pun mesti pindah berkali-kali.

DSCN8387

Lalu apa kaitannya antara masyarakat huma dengan beberapa situs, makam keramat, dan petilasan yang berada di Priangan? Jika dilihat dari posisi, keberadaan tempat-tempat yang keramatkan sesuai dengan kebiasaan tempat tinggal orang Sunda baheula, yaitu di dataran tinggi. Selain itu, letaknya yang berjauhan danancal-ancalan, menandakan bahwa memang karakter masyarakat huma adalah nomaden.

Kita kerap mendengar beberapa ungkapan yang menunjukkan Tuhan (sesuatu/dzat yang tidak terjangkau kecuali dengan kepasrahan) dengan kata “di atas”, misalnya; “Kita serahkan kepada yang di atas”, atau “terserah yang di atas”. Dalam konteks ini, barangkali posisi beberapa situs, makam keramat, dan petilasan yang berada di ketinggian adalah simbol tentang dzat yang tidak terjangkau. Sesuatu yang tidak tergapai oleh logika, dan sumerah menjadi jalan pilihan.

Namun dalam masyarakat Sunda yang sudah Islam, agak sulit jika menganggap semua yang keramat-keramat itu sebagai Tuhan, bagi mereka mungkin lebih tepat sebagai batu pijakan menuju yang di atas yang lebih mutlak. Beberapa kelompok dalam masyarakat Sunda Islam (biasanya kaum nahdliyin/NU)–ketika berdo’a, kerap menyebut beberapa syekh dan atau wali yang disebut tawasul. Penyebutan ini bukan berarti menganggap orang-orang saleh itu Tuhan, namun sebagai jembatan menuju Tuhan.

Maka dengan meredakan sangka buruk (suudzon) tentang praktek kemusyrikan; keberadaan situs, makam keramat, dan petilasan di bukit adalah sebuah simbol agar bisa tegak lurus dengan langit. Ya, lurus ke atas—ke hadirat Tuhan. [ ]

 

*) Tegak Lurus dengan Langit adalah salahsatu judul cerpen Iwan Simatupang

 

Foto : Arsip Irfan TP

 

Tautan asli: http://wangihujan.blogspot.com/2015/03/di-bukit-tegak-lurus-dengan-langit.html

 

Situ Sipatahunan

Oleh: Vecco Suryahadi Saputro (@veccosuryahadi)

Tergolek janji berahi. 

Tumpur dalam keangkuhan jaman. (Juniarso Ridwan – Asap di Atas Bandung)

Sebetulnya saya agak malu dengan pengetahuan saya tentang tempat wisata di Bandung Selatan. Tempat wisata di Bandung Selatan yang pernah saya kunjungi hanya di Ciwidey dan Cibuni. Saat itu, saya merasa gagal sebagai warga Bandung yang harusnya kenal Bandung.

Setelah mengetahui pengetahuan saya yang kurang tentang Bandung Selatan, saya coba ikuti kegiatan ngaleut Ciparay bersama Komunitas Aleut. Objek – objek ngaleut Ciparay yakni Situ Sipatahunan, Bukit Munjul, dan Bukit Cula.

Kali ini, tulisan pertama saya tentang Situ Sipatahunan. Kenapa harus Situ Sipatahunan dulu? Tentu saja karena Situ Sipatahunan adalah salah satu tempat wisata yang memprihatinkan.

Situ Sipatahunan dulu dan kini

Sawah dekat Situ Sipatahunan

Menurut warga, Situ Sipatahunan yang sekarang adalah  bekas sawah  milik warga. Sawah – sawah tersebut berada di cekungan. Oleh karena itu, cekungan tersebut sering menjadi danau tadah hujan saat hujan.

Pada akhir tahun 1970-an, pemerintah membeli sawah –  sawah tersebut untuk diubah menjadi danau buatan. Fungsi awal danau buatan tersebut adalah sebagai pengairan sawah sekitarnya.

Sekarang ini, fungsi danau bertambah menjadi tempat wisata dengan nama Situ Sipatahunan. Selain tempat wisata, Situ Sipatahunan sering dipakai oleh warga sebagai tempat pemancingan. Kalau musim kemarau, warga sekitar sering memakai air di Situ Sipatahunan untuk kebutuhan sehari – hari.

Situ Sipatahunan, tempat wisata yang setengah matang

Walaupun memiliki status sebagai tempat wisata, jalan  yang menuju Situ Sipatahunan tergolong tidak layak. Jalan sepanjang 1,5 km tergolong sempit dan tidak rata. Sehingga, saya tidak bisa membayangkan bus wisata berukuran besar bisa melalui jalan tersebut.

Setelah jalan selama 15 menit, pemandangan Situ Sipatahunan akan terlihat. Pemandangan Situ Sipatahunan lebih diisi dengan warna hijau dan coklat muda. Warna hijau berasal dari pohon – pohon di gunung yang berada di belakang Situ Sipatahunan. Sedangkan warna coklat muda berasal dari air Situ Sipatahunan.

Situ Sipatahunan dan TPS

 

Rasanya ada yang mengganggu pemandangan Situ Sipatahunan. Gangguan tersebut berasal dari dua Tempat Pembuangan Sampah (TPS) . TPS tersebut berlokasi dekat dengan Situ Sipatahunan.

Selain TPS, terdapat satu hal lagi yang mengganggu pemandangan Situ Sipatahunan. Gangguan tersebut datang saat saya ingin buang sampah. Situ Sipatahunan yang berstatus tempat wisata tidak memiliki tempat sampah. Mungkin karena itulah, saya menemukan banyak sampah yang tercecer di sekeliling Situ Sipatahunan.

Melihat banyak kekurangan Situ Sipatahunan yang disebabkan oleh manusia. Rasanya Situ Sipatahunan kurang mendapat penghargaan dan perawatan dari warga dan pemerintah. Mungkin dengan sedikit perawatan, Situ Sipatahunan akan indah seperti seharusnya.

Keindahan Situ Sipatahunan tanpa TPS

 

 

Tautan asli: https://catatanvecco.wordpress.com/2015/03/24/catatan-perjalanan-situ-sipatahunan/