Menemukan Udug-Udug, Ibu Kota Karawang Baheula


Ditulis oleh: Hevi Fauzan

“Di dalam perjalanan, kadang kita tidak menemukan apa yang dicari. Kadang, kita malah menemukan hal yang lain lagi.”

Sabtu, 5 September 2020, kami berlima melakukan perjalanan momotoran ke Kabupaten Karawang. Dalam rencana, kami akan mengunjungi Cikao, Bendungan Walahar, rumah bersejarah Rengasdengklok, Candi Batujaya, dan muara Ci Tarum di Laut Jawa. Satu rencana perjalanan untuk menyusuri objek-objek yang kaya akan sejarah.

Di tengah perjalanan, rencana mulai berubah. Karena kurang membaca peta dan tidak ada rambu penunjuk jalan di belokan menuju Jatiluhur di Kota Purwakarta, kami mengambil jalur lurus ke Cikampek. Menyadasi kesalahan di tengah perjalanan, kami akhirnya mengambil keputusan untuk langsung menuju bendungan yang membendung Sungai Ci Tarum, Bendungan Walahar. Sementara, hawa panas mulai memasuki ruang-ruang udara di dalam jaket.

Baca lebih lanjut

Terjerat Puncak Eurad

WhatsApp Image 2018-11-25 at 6.05.54 AM

Oleh: Ariyono Wahyu Widjajadi (@A13xtriple)

Neng Rahmah terjerat tipu daya Gan Andung. Terpikat bujuk rayu Sang Jejaka justru membuat hidupnya tersiksa dan sengsara. Cinta buta membuatnya tega meninggalkan kedua orang tua yang sebenarnya melindunginya dari pesona dusta Si Durjana.

Nasib kemudian menyeretnya hingga tiba di Puncak Eurad, batas antara Bandung dengan Karawang. Baca lebih lanjut

Jembatan Citarum Lama dan Tanjakan Yang Melegenda

Oleh: Abu Fauzan (@pahepipa)

We consider this ascent from the Tjeetaram to be the only really dangerous part of the road between Batavia and Bandong. (Charles W Kinloch – 1852)

Perjalanan saya kali ini adalah mengunjungi dua jembatan Citarum di sekitar Rajamandala. Pertama, mengunjungi jembatan jalan raya lama di atas Citarum dan Cihea, selanjutnya adalah jembatan kereta api di dekat muara sungai Cimeta.

Jembatan lama Citarum yang berada di perbatasan Kabupaten Bandung dan Cianjur ini tidak bisa dikatakan lama juga. Jembatan tersebut adalah jembatan baru yang mengganti jembatan lama dan dibangun oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN) bersamaan dengan pembangunan waduk Cirata Baca lebih lanjut

Dilema Si Pemain Rana

Oleh: Nurul Fatimah (@fatnurulll)

Baterai sudah full charged. Memori card sudah diformat. Setengah tujuh masih dua menit lagi. Tapi di luar, motor sudah menderu. Siap dikebut sepagi itu.

Kami bertemu di Solontongan. Di sebuah kedai di ujung pertigaan. Sudah sekian orang duduk berbincang sambil menunggu yang lain datang. Pagi itu, setelah sehari sebelumnya Bandung diguyur hujan, kami akan melancong ke Padalarang.

Dan…Inilah ngaleut. Bersama 20 motor, kami menuju Sanghyang Heuleut.

Kau perlu tau, kawan. Banyak hal yang perlu disiapkan sebelum memutuskan datang. Berpakaianlah senyaman mungkin. Nyaman untuk mendaki. Nyaman untuk menerjang arus. Nyaman untuk merangkak. Bersiaplah untuk terjembab, terjatuh, terpeleset. Setidaknya kau harus ikhlas untuk lecet.

Gemuruh arus sungai Citarum lah yang pertama menyapa. Mata ini bahagia. Sungguh. Melihat sungai dengan debit yang deras, dengan bibir sungai yang masih berbatu cadas. Kamipun mulai menapak lebih jauh. Masuk ke kawasan rerimbunan pohon dan semak. Jalan tanah yang semalaman terguyur hujan. Sesekali menanjak. Sesekali melompat. Sesekali memanjat. Baca lebih lanjut

Dalam Perjalanan Pulang

Oleh : Ayu ‘Kuke’ Wulandari

*catatan angin yang telah jatuh cinta sejak kali pertama pada Ci Tarum Purba*

Jangan kan biar hilang semua yang telah diberi. Jangan kan pergi rasa manusiawi dan naluri diri. Biar Bumi tetap bersinar di bawah Mentari. Agar kita tetap bersinar di bawah Mentari.

[Deep Blue Sea – Deep Forest feat. Anggun]

Aleutian menuju Ci Tarum Purba (foto oleh Kuke)Aleutian menuju Ci Tarum Purba (foto oleh Kuke)

.

Surga Kecil berkawal pasukan batu ini masihlah merupakan bagian dari salah satu sungai terbesar dan terpanjang di Indonesia.

Ci Tarum mengalir dari hulu di daerah Gunung Wayang, di sebelah selatan kota Bandung menuju ke Utara dan bermuara di Karawang. Sungai ini diperkirakan memiliki panjang sekitar 225 kilometer.

Surga Kecil yang masih lekat dengan nuansa hijau sejuk ini masihlah merupakan bagian dari sungai yang punya keterkaitan hati dengan masyarakat Sunda sejak awalnya. Sungai yang dulu diposisikan lebih besar sebagai sarana transportasi, pusat pemerintahan dan tapal batas  kerajaan-kerajaan di Jawa Barat. Sungai yang sempat menjadi simbol kebesaran para raja/menak yang berkuasa waktu itu.

Pada abad ke-5, dari sebuah dusun kecil yang dibangun di tepi sungai Ci Tarum oleh Jayasinghawarman, lambat laun daerah  berkembang menjadi sebuah kerajaan besar, yaitu Kerajaan Tarumanegara, kerajaan Hindu tertua di Jawa Barat.

.

Dulu, Ci Tarum menjadi batas wilayah antara dua kerajaan yaitu Kerajaan Galuh dan Kerajaan Sunda (pergantian nama dari Kerajaan Tarumanegara pada tahun 670 Masehi). Ci Tarum sebagai batas administrasi ini terulang lagi pada sekitar abad 15, yaitu sebagai batas antara Kesultanan Cirebon dan Kesultanan Banten.

.

[Citarum Dalam Perspektif Sejarah, A.Sobana Hardjasaputra]

Surga Kecil yang pada faktanya kalah populer dengan reputasi pencemarannya yang terlalu aduhai bahkan hingga di mata & telinga dunia (the world’s most polluted river) sebenar-benarnya ada. Masih layak menjadi tempat untuk pulang. Selalu layak menjadi tempat untuk pulangnya para hati yang selalu merindukan makna hening damai, para benak yang selalu terjaga kesadarannya perihal keseimbangan alam dan manusia.

Surga Kecil ini dikenal dengan nama Ci Tarum Purba atau Ci Tarum bersih. Air-nya tidak mengundang kecurigaan akan mengakibatkan sakit perut ketika dikonsumsi (bahkan mentah). Indera penciuman tidak akan terhantui hingga trauma dengan aroma macam Sulfur (belerang) yang menjadi suguhan sekitaran PLTA Saguling dan Sanghyang Tikoro.

Surga Kecil Ci Tarum Purba (foto oleh Kuke)Surga Kecil Ci Tarum Purba (foto oleh Kuke)

.

Dalam bahasan toponimi, Citarum (demikian dunia biasa menuliskannya) berasala dari dua kata yaitu Ci dan Tarum.

Ci atau dalam Bahasa Sunda Cai, artinya air. Sedangkan Tarum, merupakan sejenis tanaman yang menghasilkan warna ungu atau nila sekaligus diyakini dapat digunakan sebagai obat sakit perut dan penyubur rambut [artikel tentang Tarum oleh T. Bachtiar]

Namun, bahkan pada kali ketiga pulang ke Ci Tarum (dan kali ini bersama Komunitas Aleut!), entah mata ini tersilap atau aku memang kurang fasih dalam memperhatikan tumbuhan-tumbuhan di sisian sepanjang sungai, sepertinya benar-benar tak ada Tarum Areuy yang tersisa. Beberapa buah unik macam buah Loa dan Cermot (yang rasanya seperti buah Markisa) ada. Maka untuk sementara, kembali berimajinasi menjadi satu-satunya solusi. Bekalnya adalah gambar-gambar Tarum Areuy hasil googling juga sisian sungai yang sudah aku kenali. Tapi entah kenapa aku malah jadi teringat mbak Diella Dachlan dari Cita Ci Tarum yang punya keinginan untuk kembali menghiasi Ci Tarum bersih ini dengan gerombolan-gerombolan Tarum Areuy. Akan tampak seperti apa ya Ci Tarum dengan tanaman itu?

Cermot & Loa (foto oleh Kuke)Cermot & Loa (foto oleh Kuke)

.

Di hari Minggu (23 Oktober 2011) yang sarat mendung, sebentar gerimis – hujan agak deras – gerimis, disambut lagi dengan mendung lembab selang-seling dengan panas; yang ada di sepanjang perjalanan pulang ke rumahnya hatiku (sejak 1 Agustus 2010) ini sungguh beragam :) Bisa jadi karena si Gunung turut serta. Tapi sepertinya yang lebih membuatnya beragam adalah karena perjalanan mudik ini disertai keceriaan para Aleutian (Komunitas Aleut!).

Ya, harus diakui, aku yang sudah sekitar 1 bulan lebih vakum dari kegiatan bersama komunitas (pasal sakit dan kesibukan yang harus ditanggung sebagai dampak istirahat sakit yang 2 minggu itu) menjadikan kesempatan ngAleut bersenang-senang! (yang undangannya diluncurkan 2 hari sebelum perjalanan) sebagai momentum untuk aktif kembali mendokumentasikan aktivitas komunitas, selain berusaha keras menyerap pengetahuan-pengetahuan sejarah Bandung, Indonesia, hingga musik dunia dari para kawan di sana.

.

Ya, harus diakui, para Aleutian lebih banyak ngangeninnya ketimbang ngeboseninnya. Maka seketika perjalanan pulang ini menjadi lebih berharga dibanding perjalanan sebelumnya karena tumpukan kangen beraktivitas bersama terbayar sudah.

Pia tak kunjung habis berdecak kagum ketika kaki-kaki kami semakin menjauhi Sanghyang Poek yang sebelumnya dijadikan spot untuk beristirahat makan siang. Dephol merutuki baterai-baterai DSLR-nya yang sudah kosong sebelum benar-benar jauh meninggalkan Sanghyang Tikoro. Mr. Kobopop berenang senang di salah satu sisian Ci Tarum menjelang Leuwi Malang yang dulu membuatku nyaris tidak ingin lagi pulang ke Bandung. Bey mengambil resiko untuk merekam keceriaan kawan-kawannya dengan masuk ke sungai (yang dibilang dangkal ya dalam, dibilang dalam ya dangkal) sambil tak melepaskan si Alpha DSLR. Nia mengagumi para Aleutian yang saling bahu-membahu di garis belakang demi tidak meninggalkan Pipit.

Ya, Pipit :) sepertinya inilah Aleutian yang akan sangat lama lupa dengan pengalaman pertamanya menyusuri rute air berbatu demi ikut bersenang-senang dengan kawan lainnya, kebulatan tekad Pipit kali ini dan pembuktian yang dia tunjukkan (menurutku) layak diapreasi dengan baik :)

Keceriaan. Kekaguman.Kebulatan tekad. Kerelaan. Bahu-membahu (foto oleh Kuke)

Keceriaan. Kekaguman.Kebulatan tekad. Kerelaan. Bahu-membahu (foto oleh Kuke)

.

Aku jadi terharu. Lagi-lagi terharu di aliran rumahnya hatiku. Karena ya lagi-lagi dapat pelajaran baru. Perihal manusia, perihal alam, perihal alam yang membawakan kekentalan persahabatan dan kekeluargaan antar manusia. Seperti waktu itu :)  (baca: Persahabatan Ci Tarum)

Ternyata Ci Tarum masih menyimpan keajaiban lain. Ternyata bukan hanya ada Surga Kecil yang berhasil disimpan baik-baik. Ternyata sungai ini sudah menunjukkan, dengan siapa pun aku pergi maka kami semua bersedia dengan rela saling mengulurkan tangan dan berbagi kebahagiaan meski itu sebatas seteguk air.

Jika sudah begini, sepertinya aku susah untuk menghindari tumbuhnya harapan-harapan akan kepedulian manusia pada alam dan keseimbangan hidup. Jika sudah begini, sepertinya aku menjadi sangat susah untuk tidak berharap agar para pemuda-pemudi penerus bersedia untuk tidak sekedar berjalan-jalan senang sampai memenuhi harddisk/flash-disk mereka dengan file foto jalan-jalan entah-di-mana-saja tanpa mengambil sari yang alam maksud. Jika sudah begini, apakah kemudian salah mencetuskan keberanian bermimpi bahwa 10 tahun mendatang Ci Tarum Purba tidak akan kehilangan Surga Kecil-nya, malah semakin meruak menulari bagian panjangnya yang sama sekali tak menyenangkan sebagai pendamping kehidupan masyarakat?

Tapi, apa aku hanya terhenti di situ? Hanya bisa berharap dan bermimpi? Tidak berbuat apa-apa sebiji dzarrah pun?

Surga Kecil berkawal pasukan batu ini masihlah merupakan bagian dari salah satu sungai terbesar dan terpanjang di Indonesia. Surga Kecil yang masih lekat dengan nuansa hijau sejuk ini masihlah merupakan bagian dari sungai yang punya keterkaitan hati dengan masyarakat Sunda sejak awalnya.  Surga Kecil yang pada faktanya kalah populer dengan reputasi pencemarannya yang terlalu aduhai bahkan hingga di mata & telinga dunia (the world’s most polluted river) sebenar-benarnya ada. Surga Kecil ini dikenal dengan nama Ci Tarum Purba atau Ci Tarum bersih.

Aku ingin selalu pulang ke sana. Bukan cuma sampai esok atau minggu depan, tapi seterusnya bisa sekali-kali pulang ke sana entah bersama siapa saja. Bersediakah turut menjaganya tanpa seratus persen hanya bergantung pada pasukan batu? Ah, atau, mungkin sebaiknya kau perlu mengalami sendiri perjalanan menuju Surga Kecil itu sepertinya halnya aku, kekasihku, para sahabat, dan kawan-kawanku; agar hatimu bersedia rela ikut menjaga :)

Kampung Mahmud, Segenggam Tanah dari Mekah di Kelokan Ci Tarum

Catatan Perjalanan Bersama Komunitas Aleut!

Oleh Budi Brahmantyo

Sambil menunggu beberapa Aleutian kumpul seluruhnya di halaman Museum Sribaduga di Tegalega Bandung, saya serius mempelajari peta terbitan Periplus 2005 yang memuat target acara ngAleut di Minggu pagi 19 September 2010 yang gerimis itu. Komunitas Aleut! (aslinya memang dengan “tanda seru”) adalah komunitas yang kebanyakan terdiri dari anak-anak muda Bandung yang aktif menjelajah Bandung dan sekitarnya. Beberapa anggotanya memahami sejarah Kota Bandung secara luar biasa.

Penulis yg kata Kuke (pemotret foto ini) serius membaca peta, padahal sebenarnya susah melihat tulisan kecil2 oleh mata yg sudah bolor positip ini 🙂

Aleut secara geografis sebenarnya adalah suatu jajaran kepulauan di Amerika bagian utara dekat Alaska yang berada pada perbatasan utara Benua Asia – Amerika. Tapi bukan dari pulau-pulau entah berantah itu dasar penamaan komunitas ini. Justru namanya diambil dari istilah yang sangat dekat, dari Bahasa Sunda “ngaleut” yang berarti berjalan beriring-iringan atau bergerombol. Mereka menyebut anggotanya dengan sebutan keren: Aleutian.

Kebiasaan lain positif mereka, anggotanya harus membuat catatan perjalanan. Saat Minggu pagi itu acara Aleut! adalah ngAleut ke Kampung Mahmud, dua hari kemudian catatan perjalanannya oleh Ujanx Lukman sudah muncul di FB notes: http://www.facebook.com/notes/ujanx-lukman/kampung-mahmud-yang-tak-pernah-tenggelam/151491471552074.

Kembali ke halaman Museum Sribaduga. Sambil mempelajari peta Periplus 2005 itu, pertama-tama saya terpana dengan lokasi Kampung Mahmud. Tepat berada di tengah-tengah “pulau” kelokan Ci Tarum. Lalu ketika mempelajari elevasi topografis, mata saya terbentur pada pertigaan Jalan Mahmud – Cicukang dengan elevasi tepat 666 m. Angka yang untuk beberapa orang mungkin bermakna luar biasa. Kampung Mahmud sendiri diperkirakan berelevasi 662 – 664 m, lebih tinggi dari daerah lebih hulu di Dayeuhkolot – Baleendah – Cieunteung yang berelevasi 660 – 661 m. Jadi jika di Dayeuhkolot selalu kebanjiran, Kampung Mahmud yang sebenarnya lebih hilir, tidak pernah dalam sejarahnya kebanjiran.

citra google-erath: dua kelokan Ci Tarum dg pola aneh, tempat Kp. Mahmud berada, dan titik 666.

Ci Tarum yang berhulu di Gunung Wayang mulai bermeander setelah tiba di Majalaya. Dataran luas Cekungan Bandung bekas dasar danau purba yang surut 16.000 tahun yang lalu itu membuat Ci Tarum mengalir pelan. Ada laporan yang menyatakan gradien alirannya hanya sebesar lebih kurang 0,02% (bisa dibaca: setiap jarak 100 m hanya turun sekitar 0,02 m atau hanya 2 cm).  Wajar saja dalam kondisi morfologi datar, sungai besar akan cenderung berkelok-kelok dalam lengkungan besar. Istilahnya: sungai meander (diambil dari sebuah sungai di Turki Meandoros yang alirannya berkelok-kelok).

Ciri sungai di dataran adalah lebarnya dataran banjir (flood plain). Dataran ini adalah dataran di kiri kanan sungai yang menjadi wilayah sungai ketika kapasitas salurannya terlampaui sehingga melimpas ke samping kanan-kiri salurannya. Pada musim kemarau, dataran banjir mengering. Sayangnya orang-orang seolah-olah berdatangan dan bermukim saat musim kemarau, tidak menyadari bahwa tempat itu adalah hak sungai untuk memindahkan airnya saat musim hujan.

Dua ciri morfologi penting lagi dari sungai meander adalah tanggul alam (natural levee) suatu tinggian dari saluran sungai yang umumnya terdiri dari endapan pasir sungai dan tersebar mengikuti sejajar saluran sungai. Di belakangnya, morfologi merendah lagi yang jika terbanjiri akan membentuk rawa belakang (back swamp). Kedua hal ini penting dalam konteks cerita Kampung Mahmud.

morfologi sungai meander: flood plain, back swamp (John Wiley & Sons, 1999)

Seorang warga yang sedang ngecrik (menjaring ikan) di bekas aliran Ci Tarum, bercerita bahwa ketika banjir melanda wilayah Pameuntasan seberang Kampung Mahmud, di seberangnya tempat keberadaan makam salah satu eyang Kampung Mahmud, yaitu Eyang Dalem Gedug, tidak pernah kebanjiran padahal elevasinya (perasaan) sama. Di sinilah peran tanggul alam yang membatasi wilayah Pameuntasan yang kebanjiran karena merupakan rawa belakang dengan tepi sungai Makam Eyang Dalem Gedug. Bukan berarti elevasi banjir jadi miring (menyalahi hukum alam alias sunatullah dong). Tetapi begitulah kepercayaan terhadap mitos bagi warga setempat.

Mitos lain yang disampaikan kasepuhan Kampung Mahmud Bapak Haji Syafei adalah bahwa sebelum Ci Tarum berkelok dalam dua kelokan berpola aneh (yang jauh dari kesan meander pada umumnya), Ci Tarum dulunya memang mengalir seperti sodetan yang dilakukan pemerintah sekarang. Hanya kemudian oleh pendiri Kampung Mahmud Eyang Dalem Mahmud Haji Abdul Manaf, aliran sungai diubah dibelokkan dalam dua lengkungan aneh tersebut. Sodetan pemerintah tahun 1980 – 1990an yang dimaksud untuk mempercepat aliran agar Dayeuhkolot terbebas banjir dengan proyek miliaran rupiah (dan ternyata tidak berhasil), oleh Haji Syafei dianggap menggali kembali apa yang tadinya telah ditutup oleh Eyang Dalem Mahmud Haji Abdul Manaf.

Kasepuhan Kp. Mahmud Bpk. H. Syafei bercerita ttg kampungnya

Kelokan aneh itu bukan meander tetapi lebih kepada kontrol struktur batuan dasar. Ci Tarum di wilayah ini telah berinteraksi dengan endapan-endapan gunungapi purba 3 – 4 juta tahun yang lalu sehingga alirannya dikontrol oleh struktur batuan dasarnya. Setelah kelokan itu, alirannya kemudian lurus mengarah ke utara sebelum kemudian berbelok ke arah barat di Curug Jompong. Air terjun berketinggian total 12 m ini adalah terobosan Ci Tarum pada batuan dasit yang keras, bagian dari batuan volkanik Pliosen 3 – 4 juta tahun itu.

Peta Rupa Bumi Bakosurtanal 2001, kelokan tanpa sodetan (tks pak Supardiyono Sobirin atas peta ini)

Mitos lain adalah tentang penguasa Ci Tarum, yaitu Raden Kalung Bimanagara, yang kepalanya berupa seorang ksatria berada di Gunung Wayang, badannya berupa tubuh ular naga meliuk-liuk sepanjang aliran Ci Tarum, hingga ekornya di Gua Sangiangtikoro, Saguling. Total panjang tubuh tokoh anak indo-jin putera Eyang Dalem Dayeuhkolot ini adalah hampir 100 km! Jika masyarakat sepanjang Ci Tarum percaya adanya penguasa alam gaib ini, sebenarnya bisa dimanfaatkan pemerintah untuk mengurus Ci Tarum secara lebih baik berdasarkan kearifan lokal tersebut. Jangan hantam kromo menyikat Curug Jompong yang dianggap menghambat aliran Ci Tarum sebagai penyebab banjir!

Curug Jompong (foto: Ayu Kuke)
ngAleut! ke Jompong, selaput dara bumi Bdg menurut T. Bachtiar, 2004 (Foto: Ayu Kuke)

Itulah Kampung Mahmud, kampung tradisional yang tetap memelihara adat-istiadatnya dan penghormatan kepada para leluhurnya, juga kepada para penunggu alam gaibnya. Minggu itu kampung begitu hiruk-pikuk oleh para peziarah yang berzikir dan bermunajat di makam utama Eyang Dalem Mahmud Haji Abdul Manaf, pendiri kampung ini. Tradisi tahunan yang selalu dilakukan sampai dua minggu di awal bulan Syawal.

Syawalan di Makom Mahmud

Eyang Dalem yang masih keturunan Sunan Gunung Jati dan bersaudara dengan Eyang Pamijahan Tasikmalaya mendapat amanat untuk mendirikan Kampung Mahmud ketika berhaji di Mekah. Dengan membawa segenggam tanah Kampung Mahmud di Mekah, Eyang Dalem memilih “pulau” di tengah kelokan Ci Tarum ini sebagai kampung yang diberi nama sama dengan asal tanah yang diambilnya dari Mekah, Mahmud “yang dipujikan.”

Tetapi jika ada pendapat bahwa Eyang Dalem Mahmud Haji Abdul Manaf memilih tempat ini sebagai tempat terpencil, saya kurang setuju. Justeru pada zamannya, ketika sarana transportasi melalui sungai atau mengikuti jalan paralel dengan sungai besar, Kampung Mahmud berada pada lalu lintas penting antara Dayeuh Kolot (kota lama ibu kota Tatar Ukur) dengan wilayah di sebelah baratnya, Cianjur. Inilah sebenarnya jalur tradisional yang diantaranya akan menyeberang Ci Tarum di Saguling di atas Cukang Rahong, berupa jembatan bambu yang terbentang di atas ngarai sempit Ci Tarum di Rahong. Rahong dalam bahasa Sunda, menurut T. Bachtiar, adalah wilayah sungai yang sempit dan terjal.

Demikian catatan perjalanan ngAleut yang beberapa hari kemudian di foto-foto yang dipublikasi di facebook mengungkap sosok misterius yang ikut berfoto bersama :”)

Dalam perjalanan pulang duluan di atas angkot trayek Tegallega – Mahmud, dataran pesawahan menghijau yang masih luas menjadi pemandangan Kampung Mahmud. Di latar belakang kerucut G. Lalakon (+ 972 m) berjajar bersama rangkaian gunungapi purba tampak membiru. Angkot Minggu relatif sepi. Hanya seorang gadis manis berkerudung yang ikut menumpang dari Cicukang.

Selalu ada keindahan dimana pun kita berada, tergantung bagaimana cara memandangnya ***