Ke Timur: Kereta Api, Ubi, Radio, sampai Candi

Ditulis oleh: Inas Qori Aina

Saya senang karena selalu ada cerita berbeda di setiap Momotoran. Diawali dengan keberangkatan yang agak siang dan perjalanan yang mengarah ke timur, terasa asing karena biasanya jalur selatan yang selalu menjadi jalur utama setiap kali momotoran.

Tema momotoran kali ini adalah Jejak Kereta Api Bandung-Tanjungsari. Sabtu, 30 Januari 2021, saya bersama teman-teman ADP 2020 menyambangi beberapa tempat yang berkaitan dengan jejak jalur Kereta Api Bandung-Tanjungsari yang sudah lama tidak aktif. Kami berangkat dari sekretariat Komunitas Aleut melalui jalur yang sering saya sebut sebagai jalur neraka, karena kemacetannya yang selalu menguji kesabaran, Jalan Soekarno Hatta lalu Cibiru-Cileunyi-Jatinangor.  

Atas: Plang Makam
Bawah: Jembatan Cincin diambil dari pemakaman
Foto: Inas Qori Aina

Tempat pertama yang kami tuju adalah Jembatan Cincin di Cikuda, Jatinangor. Jembatan ini biasanya hanya saya pandangi dari kampus tempat saya berkuliah. Baru kali ini saya menginjakkan kaki di atas jembatan ini. Bukan Cuma berjalan di atasnya, tapi kami pun menyempatkan untuk turun ke bawahnya dan mengamatinya dari area persawahan. Di bawah sini ada sebuah permakaman kecil yang katanya ada makam keramatnya, tapi entah makam yang mana. Dari pemakaman kecil ini kami dapat melihat secara utuh konstruksi jembatan itu.

Cukup lama kami eksplorasi di sekitar Jembatan Cincin Cikuda, sesekali kami juga menyimak berbagai informasi dan cerita yang disampaikan. Berikutnya, kami berangkat lagi menuju titik selanjutnya, yaitu Jembatan Cincin Kuta Mandiri. Untuk menuju jembatan ini kami melalui jalan perdesaan dengan pemandangan sawah yang terhampar di kiri dan kanan jalan. Jembatan ini terletak di tengah Desa Kuta Mandiri, Tanjungsari, sehingga tak heran masih menjadi jalur utama mobilitas warga desa. Ketika kami tiba di sana kami pun harus berhati-hati karena banyaknya kendaraan yang melintas di jembatan ini.

 Jembatan Cincin Kuta Mandiri Foto: Inas Qori Aina

Bentuk jembatan ini mirip dengan Jembatan Cincin Cikuda. Bedanya, di jembatan ini masih dapat dijumpai semacam tempat yang dulu digunakan untuk minggir (safety area) di saat kereta api melintas.

Setelah mendapatkan cerita tentang sejarah jembatan ini, kami bergegas menuju bekas Stasiun Tanjungsari. Bangunan bekas stasiun tersebut kini terletak di tengah permukiman warga yang cukup padat. Hanya sedikit peninggalan yang dapat saya lihat, yaitu papan nama stasiun serta bangunan bekas peron stasiun yang kini digunakan entah sebagai rumah atau taman kanak-kanak. Menurut Pa Hepi, bagian depan dari Stasiun Tanjungsari kini sudah tidak tersisa lagi.

Yang tersisa dari bekas Stasiun Tanjungsari foto: Inas Qori Aina

Tidak jauh dari Stasiun Tanjungsari, terdapat viaduct Tanjungsari yang dibangun melintasi Jalan Raya Pos. Bentuknya mirip dengan viaduct yang berada di Bandung. Hanya saja, Viaduct Tanjungsari tampak lebih sederhana dan lebih pendek.

Dari Tanjungsari kami melanjutkan perjalanan ke Citali. Saya dan teman-teman berhenti di pinggir jalan untuk memarkirkan kendaraan dan berjalan kaki, ngaleut, menuju area persawahan milik warga sana. Siapa sangka, di tengah area sawah milik warga terdapat dua buah struktur bekas fondasi jembatan yang tidak selesai dibangun. Kami hanya memandangi struktur tersebut dari kejauhan, karena tidak berani melintasi jembatan kayu kecil yang di bawahnya terdapat aliran sungai yang terlihat tenang tapi mungkin cukup dalam.

Jembatan kayu menuju bekas jembatan kereta api di Citali Foto:Inas Qori Aina

Perjalanan ini tidak cukup sampai di Citali, dan bukan hanya tentang kereta api. Satu yang tak kami lewatkan yaitu untuk mampir ke sentra ubi Cilembu yang berada di Desa Cilembu. Ketika memasuki gapura desa tampak kebun ubi yang terhampar di kiri dan kanan jalan. Kami pun menyempatkan untuk mampir ke sebuah warung ubi Cilembu milik seorang warga lokal. Di sini kami berbincang mengenai asal mula berkembangnya ubi Cilembu hingga menjadi oleh-oleh yang terkenal saat ini.

Kebun ubi Cilembu Foto: Inas Qori Aina

Oleh-oleh ubi Cilembu telah kami kantongi, saatnya kami melanjutkan perjalanan untuk pulang. Perjalan pulang kami melewati jalur yang berbeda dengan saat kami berangkat. Perjalanan kami melewati Parakan Muncang dan melewati jalur Cicalengka-Rancaekek. Di tengah jalan raya Rancaekek tampak plang yang tidak telalu besar bertuliskan “Situs Candi Bojong Menje”. Untuk menuju situs candi tersebut kami harus memasuki sebuah gang yang cukup kecil. Saya tak habis pikir ketika tiba di sini. Konstruksi batuan candi hanya dilindungi oleh sekeliling pagar yang sudah karatan serta atap yang rusak.

Berbincang dengan Pak Ahmad, kuncen Candi Bojong Menje Foto: Komunitas Aleut

Di sini kami berbincang dengan penjaga candi yaitu Pak Ahmad. Ia menceritakan bagaimana awal mula penemuan situs ini serta kemungkinan masih adanya struktur candi lain yang kini berada di tengah bangunan pabrik.

Tak lama, kami pun melanjutkan perjalanan lagi. Di tengah jalan kami berhenti di sebuah bangunan bekas Stasiun Penerima Radio Nederlands Indische Radio Omroep (Nirom). Kata Pa Hepi, bangunan tersebut kini digunakan sebagai bengkel entah oleh siapa dan masih dimiliki oleh PT Telkom.

Waktu semakin petang, kami mengejar waktu agar sempat untuk melihat satu lagi candi yang masih terletak di Kabupaten Bandung. Beruntungnya, matahari masih mau menemani kami sehingga saat kami tiba keadaan belum terlalu gelap. Candi terakhir yang kami singgahi adalah Candi Bojongemas. Keadaan di sini justru lebih parah daripada Candi Bojong Menje. Papan informasi sudah berkarat dengan tulisan yang tidak cukup jelas. Batuan candi pun hanya dikelilingi oleh pagar kayu yang sangat rentan untuk rusak.

Keadaan di sekitar Candi Bojongemas Foto: Inas Qori Aina

Hanya sebentar kami melakukan pengamatan, keadaan pun semakin gelap. Tandanya perjalanan kami hari itu selesai, dan harus segera pulang. Di perjalanan pulang, pikiran saya tak karuan merenungkan pengalaman dari perjalanan Momotoran ke kawasan timur yang baru saja saya lalui, seperti yang tidak asing karena sering dilalui, tapi ternyata punya banyak peninggalan masa lalu yang rasanya tidak terlalu populer dan jarang dibicarakan orang…

***

Kereta Api, Cilembu, dan Candi

Ditulis oleh: Farly Mochamad

Sabtu, 30 Januari 2021 lau, saya ikut kegiatan Aleut Development Program (ADP) 2020 momotoran menyusuri jejak kereta api antara Bandung-Tanjungsari. Kami berangkat agak siang dari sekretariat Aleut menuju SPBU Cinunuk untuk bertemu dengan rekan lain yang akan bergabung.

Jembatan Cincin Cikuda di pagi hari  foto: Komunitas Aleut

Dari Cinunuk, kami beranjak ke Jatinangor, melewati kampus Unpad, untuk menuju lokasi pertama, yaitu Jembatan Cincin atau kadang disebut Jembatan Cikuda, sesuai dengan nama daerah di situ. Tidak butuh waktu lama sampai kami tiba di lokasi dan berjalan di atas bekas jembatan kereta api ini.

Dari atas jembatan ini saya bisa melihat Gedung Student Center Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Unpad, Asrama Kedokteran Unpad, dan di bawah jembatan terlihat area permakaman di tengah sawah. Di arah timur terlihat Apartemen Taman Melati dengan kolam renangnya. Waktu kami datang, ada beberapa pesepeda yang sedang foto-foto dan eksplorasi seputar jembatan ini juga. Seorang tua yang sedang berfoto sambil minum air dari cangkir menuturkan bahwa dia berangkat dari Setiabudi pagi tadi. Lumayan juga perjalanannya, sepedahan dari Bandung Utara sampai ke Jatinangor, dan entah akan ke mana lagi.

Dari atas jembatan kami mencari jalan untuk turun ke bawah, ke area persawahan dan permakaman. Pak Hepi yang menyertai kami bercerita bahwa jembatan ini memiliki 11 tiang dan 10 lengkungan yang membentuk rupa cincin. Pembangunannya dilakukan pada tahun 1918 dengan tujuan sebagai jalur pengangkutan hasil perkebunan kopi dan teh dari wilayah Jatinangor ke Rancaekek dan Bandung. Saat ini bekas jembatan masih digunakan warga sekitar sebagai jalur lalu lintas antarkampung.

Jembatan Cincin Kuta Mandiri foto: Komunitas Aleut

Tempat kedua yang kami datangi berada di perbatasan Kecamatan Jatinangor dan Kecamatan Tanjungsari, dan baru saya ketahui bahwa sebenarnya ada jembatan cincin lainnya di kawasan ini. Letaknya di tengah perkampungan agak jauh dari jalan raya dan cukup tersembunyi juga, tak heran kalo banyak yang engga tahu keberadaan jembatan ini. Nama jembatan ini Jembatan Kuta Mandiri. Saat ini hanya warga sekitar saja yang memanfaatkan jembatan ini sebagai jalur jalan perkampungan.

Gedung Juang 45 Tanjungsari (atas) Viaduct (bawah) di Tanjungsari Foto : Komuitas Aleut

Jejak kereta api berikutnya yang kami datangi adalah bekas Stasiun Tanjungsari yang saat ini digunakan sebagai Gedung Juang ’45 Tanjungsari. Jalan tempat bekas stasiun ini berada ternyata bernama Jalan Staatspoorwegen (SS) dan gedungnya bernomor 23. Yang masih tersisa di sini selain bangunannya adalah papan nama stasiun yang terdapat pada salah satu dinding luar luar, letaknya di bagian atas. Di situ tertulis nama dengan ejaan lama, Tandjoengsari.

Di sini Mang Alex bercerita bahwa jalan raya yang di depan itu adalah bagian dari De Grootepostweg atau Jalan Raya Pos yang dibangun pada masa Gubernur Jenderal Hindia Belanda ke-36 yaitu Herman Willem Daendels. Untuk pembangunan lintasan jalur kereta api Tanjungsari, ada bagian dari Jalan Raya Pos ini yang dibongkar dan dijadikan viaduct. Bagian atas dan bawah viaduct ini masih digunakan sampai sekarang sebagai jalur lalu lintas, sedangkan jalur rel kereta api sudah tidak terlihat lagi, katanya sudah tertimbun sekitar satu meteran di bawah tanah.

Struktur Jembatan Kereta Api di Citali foto: Komunitas Aleut

Dari Tanjungsari, kami ke Citali. Di sini kami berjalan ngaleut di tengah persawahan untuk menuju sebuah bekas bangunan fondasi jembatan yang tidak selesai dikerjakan. Konon karena masalah kesulitan ekonomi pada waktu itu. Selain itu ada juga dongengan soal kenapa jembatan ini tidak dapat diselesaikan, konon karena keberadaan kabut sangat tebal yang selalu menghambat pekerjaan di sana. Wah, kabut seperti apa ya itu sampai bisa menggagalkan pembangunan jembatan kereta api?

Sekitar pukul 12.30 kami beristirahat dan makan  di daerah Tanjungsari, yaitu di Warung Makan (Warman) Dua Saudara. Tempatnya sangat strategis karena berada di pinggir jalan dan kebetulan sedang kosong sehingga dapat menampung rombongan kami. Saya pikir  warman ini baru, terlihat dari catnya seperti baru dipulas, tapi warman ini sudah semi lama ternyata. Di warman ini saya memilih makanan yang sederhana saja karena taulah mahasiswa korona, paspasan kantongnya, hihihi. Saya mengambil lauknya jamur, tempe, tahu dan sambal, wait, satu lagi asin pemberian Dary yang sengaja di bagikan satu plastik olehnya, untung saja temen-temen yang lain pada gak ada yang ngambil, kecuali Pak Hepi, jadi saya bisa ambil satu lagi. Thanks ya Dary. Setelah makan selesai kami bercanda tawa.

foto bersama Ibu penjual warung (atas) Ibu penjual warung sedang bercerita (bawah) foto: Komunitas Aleut

Dari Tanjungsari, kami tidak putar balik kembali ke arah Bandung, tapi mampir dulu ke satu tempat yang namanya sangat khas dan terkenal, Cilembu. Tadinya saya pikir tempat ini masih berhubungan dengan sejarah kereta api, tapi ternyata engga. Ternyata oh ternyata, Aleut hanya ingin mengenalkan kawasan ini saja. Nama Ubi Cilembu memang sudah sangat terkenal, tapi banyak yang engga tahu di mana sebenarnya Cilembu itu. Nah, karena itulah ternyata kami diajak ke sini.

Kami berhenti di sebuah warung penjual Ubi Cilembu dekat Kantor Desa. Di sini kami ngobrol panjang sekali dengan ibu warung dan ada banyak sekali informasi yang kami dapatkan. Cerita seputar desa, berbagai jenis umbi-umbian, sampai ke pengolahan ubi yang sudah modern. Selain ubi oven yang sudah dikenal, di sini juga banyak diproduksi variasi olahan ubi, termasuk keripik yang banyak jenisnya dan sudah dipasarkan melalui marketplace. Sampai sekarang Desa Cilembu juga termasuk yang secara rutin menerima kelompok mahasiswa yang melakukan Kuliah Kerja Nyata di sini.

Situs Candi Bojong Menje. foto: Komunitas Aleut

Dari Cilembu kami pulang melewati Rancaekek dan tiba-tiba berhenti di tepi jalan. Di situ saya lihat ada sebuah plang kecil dengan tulisan Candi Bojong Menje. Oh, rupanya kami akan mampir melihat situs ini. Kam masuk melewati gang sempit di tengah kawasan pabrik dan permukiman. Di situs candi kami ketemu bapak penjaganya, Pak Ahmad, yang bercerita bahwa sebelum ditemukan bekas-bekas candi ini, dulunya wilayah itu adalah kompleks permakaman umum. Pak Ahmad menceritakan berbagai koleksi temuan yang tersimpan di situ sambil mengatakan juga bahwa sebetulnya di kawasan itu kalau diadakan penggalian maka masih dapat ditemukan banyak tinggalan kuno lainnya, tapi ya ada masalah soal pemilikan tanah sehingga penggalian tidak dapat dilakukan.

Ex Stasiun Penerima Radio Nirom foto: Komunitas Aleut.

Dari lokasi Candi Bojong Menje, kami masih mampir lagi ke tempat lain. Kali ini mengunjungi ex Stasiun Penerima  Radio Nederlands Indische Radio Omroep (Nirom). Gedung depannya terlihat sangat cantik sekali menjulang tinggi dengan ciri khas bangunan Eropa. Namun sayangnya  kondisi bangunan  tidak terawat dan bisa dibilang kumuh. Sekarang gedung bangunan tersebut dikelola oleh PT TELKOM.

Plang dan spanduk Candi Bojong Emas sobek (atas) Tumpukan bebatuan Candi Bojong Emas (bawah) foto: Komunitas Aleut.

Kami tidak terlalu lama berada di lokasi bekas stasiun radio itu karena hari sudah semakin sore. Sambil beranjak menuju pulang, kami masih sempatkan mampir ke satu lokasi lain di Sapan yang memang terlewati, yaitu situs Candi Bojong Emas. Lokasinya di pinggir Jl. Raya Sapan dekat sekali dengan Sungai Ci Tarum. Kondisi candi di sini sangat tidak terawat  dan  terkesan dibiarkan saja. Di sini terdapat pagar pembatas kayu lebih kurang satu meter dan plang spanduk yang sobek. Di bagian dalam terdapat banyak tumpukan batu kali.

Senang rasanya setiap kali momotoran bareng Aleut, apalagi hujan turun, serasa nostalgia masa kecil, hihihi. Apalagi ini adalah momotoran pertamaku di Aleut ke wilayah Timur. Di sini aku merasa pengetahuanku tentang sejarah perkeretaan apian lumayan bertambah. Dan aku baru tau juga ternyata di Bandung ada Candi,  jadi gak usah jauh-jauh deh cari candi ke daerah lain, hihihi. Pokoknya momororan kali ini enggak kalah menariknya. sampai jumpa di perjalanan momotoran selanjutnya.

***

Momotoran Jejak Kereta Api Bandung-Tanjungsari

Ditulis oleh: Aditya Wijaya

Hana nguni hana mangke, tan hana nguni tan hana mangke,

Ada dahulu ada sekarang, bila tak ada dahulu tak akan ada sekarang.

Saya tak mengira bahwa Bandung Timur menyimpan kepingan sejarah masa lalu, dari mulai perkebunan, kereta api, hingga candi. Ternyata banyak juga bahan pembelajaran di sini dan saya mendapatkan sebagiannya ketika hari Sabtu lalu, 30 Januari 2021, saya mengikuti kegiatan momotoran bersama Aleut Development Program 2020.

Tema utama momotoran ini sebenarnya menyusuri jejak jalur kereta api mati antara Bandung-Tanjungsari. Tapi di bagian akhir, ada beberapa bonus yang mengejutkan.

Jembatan Cincin Cikuda

Lokasi pertama yang kami datangi yaitu Jembatan Cincin yang terletak dekat Jalan Raya Pos dan kampus Unpad. Setelah melewati satu jalur jalan sempit, kami tiba di atas bekas jembatan kereta api yang masih berdiri kokoh, seperti tak tergerus oleh waktu. Arah timur dari jembatan ini terlihat Gunung Geulis, namun sayang pemandangan tersebut terhalang gedung tinggi. Di sekitar jembatan pun terlihat tidak terawat, banyak tumpukan sampah di sana-sini.

Kereta api sedang melintasi Jembatan Cincin Cikuda, di belakangnya terlihat Gunung Geulis. Foto: nationaalarchief.nl

Lalu kami berjalan menuju bagian bawah jembatan, di sana terdapat komplek permakaman warga lokal. Dari bawah sini terlihat jelas bentuk jembatan, lingkaran bawah jembatan memang terlihat seperti cincin, mungkin itu sebabnya jembatan ini dinamai Jembatan Cincin. Eksplorasi di sekitar jembatan ini tidak terlalu lama karena kami akan bergerak menuju lokasi berikutnya.

Baca lebih lanjut

Menemukan Udug-Udug, Ibu Kota Karawang Baheula


Ditulis oleh: Hevi Fauzan

“Di dalam perjalanan, kadang kita tidak menemukan apa yang dicari. Kadang, kita malah menemukan hal yang lain lagi.”

Sabtu, 5 September 2020, kami berlima melakukan perjalanan momotoran ke Kabupaten Karawang. Dalam rencana, kami akan mengunjungi Cikao, Bendungan Walahar, rumah bersejarah Rengasdengklok, Candi Batujaya, dan muara Ci Tarum di Laut Jawa. Satu rencana perjalanan untuk menyusuri objek-objek yang kaya akan sejarah.

Di tengah perjalanan, rencana mulai berubah. Karena kurang membaca peta dan tidak ada rambu penunjuk jalan di belokan menuju Jatiluhur di Kota Purwakarta, kami mengambil jalur lurus ke Cikampek. Menyadasi kesalahan di tengah perjalanan, kami akhirnya mengambil keputusan untuk langsung menuju bendungan yang membendung Sungai Ci Tarum, Bendungan Walahar. Sementara, hawa panas mulai memasuki ruang-ruang udara di dalam jaket.

Baca lebih lanjut

Terjerat Puncak Eurad

WhatsApp Image 2018-11-25 at 6.05.54 AM

Oleh: Ariyono Wahyu Widjajadi (@A13xtriple)

Neng Rahmah terjerat tipu daya Gan Andung. Terpikat bujuk rayu Sang Jejaka justru membuat hidupnya tersiksa dan sengsara. Cinta buta membuatnya tega meninggalkan kedua orang tua yang sebenarnya melindunginya dari pesona dusta Si Durjana.

Nasib kemudian menyeretnya hingga tiba di Puncak Eurad, batas antara Bandung dengan Karawang. Baca lebih lanjut

Jembatan Citarum Lama dan Tanjakan Yang Melegenda

Oleh: Abu Fauzan (@pahepipa)

We consider this ascent from the Tjeetaram to be the only really dangerous part of the road between Batavia and Bandong. (Charles W Kinloch – 1852)

Perjalanan saya kali ini adalah mengunjungi dua jembatan Citarum di sekitar Rajamandala. Pertama, mengunjungi jembatan jalan raya lama di atas Citarum dan Cihea, selanjutnya adalah jembatan kereta api di dekat muara sungai Cimeta.

Jembatan lama Citarum yang berada di perbatasan Kabupaten Bandung dan Cianjur ini tidak bisa dikatakan lama juga. Jembatan tersebut adalah jembatan baru yang mengganti jembatan lama dan dibangun oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN) bersamaan dengan pembangunan waduk Cirata Baca lebih lanjut

Dilema Si Pemain Rana

Oleh: Nurul Fatimah (@fatnurulll)

Baterai sudah full charged. Memori card sudah diformat. Setengah tujuh masih dua menit lagi. Tapi di luar, motor sudah menderu. Siap dikebut sepagi itu.

Kami bertemu di Solontongan. Di sebuah kedai di ujung pertigaan. Sudah sekian orang duduk berbincang sambil menunggu yang lain datang. Pagi itu, setelah sehari sebelumnya Bandung diguyur hujan, kami akan melancong ke Padalarang.

Dan…Inilah ngaleut. Bersama 20 motor, kami menuju Sanghyang Heuleut.

Kau perlu tau, kawan. Banyak hal yang perlu disiapkan sebelum memutuskan datang. Berpakaianlah senyaman mungkin. Nyaman untuk mendaki. Nyaman untuk menerjang arus. Nyaman untuk merangkak. Bersiaplah untuk terjembab, terjatuh, terpeleset. Setidaknya kau harus ikhlas untuk lecet.

Gemuruh arus sungai Citarum lah yang pertama menyapa. Mata ini bahagia. Sungguh. Melihat sungai dengan debit yang deras, dengan bibir sungai yang masih berbatu cadas. Kamipun mulai menapak lebih jauh. Masuk ke kawasan rerimbunan pohon dan semak. Jalan tanah yang semalaman terguyur hujan. Sesekali menanjak. Sesekali melompat. Sesekali memanjat. Baca lebih lanjut

Dalam Perjalanan Pulang

Oleh : Ayu ‘Kuke’ Wulandari

*catatan angin yang telah jatuh cinta sejak kali pertama pada Ci Tarum Purba*

Jangan kan biar hilang semua yang telah diberi. Jangan kan pergi rasa manusiawi dan naluri diri. Biar Bumi tetap bersinar di bawah Mentari. Agar kita tetap bersinar di bawah Mentari.

[Deep Blue Sea – Deep Forest feat. Anggun]

Aleutian menuju Ci Tarum Purba (foto oleh Kuke)Aleutian menuju Ci Tarum Purba (foto oleh Kuke)

.

Surga Kecil berkawal pasukan batu ini masihlah merupakan bagian dari salah satu sungai terbesar dan terpanjang di Indonesia.

Ci Tarum mengalir dari hulu di daerah Gunung Wayang, di sebelah selatan kota Bandung menuju ke Utara dan bermuara di Karawang. Sungai ini diperkirakan memiliki panjang sekitar 225 kilometer.

Surga Kecil yang masih lekat dengan nuansa hijau sejuk ini masihlah merupakan bagian dari sungai yang punya keterkaitan hati dengan masyarakat Sunda sejak awalnya. Sungai yang dulu diposisikan lebih besar sebagai sarana transportasi, pusat pemerintahan dan tapal batas  kerajaan-kerajaan di Jawa Barat. Sungai yang sempat menjadi simbol kebesaran para raja/menak yang berkuasa waktu itu.

Pada abad ke-5, dari sebuah dusun kecil yang dibangun di tepi sungai Ci Tarum oleh Jayasinghawarman, lambat laun daerah  berkembang menjadi sebuah kerajaan besar, yaitu Kerajaan Tarumanegara, kerajaan Hindu tertua di Jawa Barat.

.

Dulu, Ci Tarum menjadi batas wilayah antara dua kerajaan yaitu Kerajaan Galuh dan Kerajaan Sunda (pergantian nama dari Kerajaan Tarumanegara pada tahun 670 Masehi). Ci Tarum sebagai batas administrasi ini terulang lagi pada sekitar abad 15, yaitu sebagai batas antara Kesultanan Cirebon dan Kesultanan Banten.

.

[Citarum Dalam Perspektif Sejarah, A.Sobana Hardjasaputra]

Surga Kecil yang pada faktanya kalah populer dengan reputasi pencemarannya yang terlalu aduhai bahkan hingga di mata & telinga dunia (the world’s most polluted river) sebenar-benarnya ada. Masih layak menjadi tempat untuk pulang. Selalu layak menjadi tempat untuk pulangnya para hati yang selalu merindukan makna hening damai, para benak yang selalu terjaga kesadarannya perihal keseimbangan alam dan manusia.

Surga Kecil ini dikenal dengan nama Ci Tarum Purba atau Ci Tarum bersih. Air-nya tidak mengundang kecurigaan akan mengakibatkan sakit perut ketika dikonsumsi (bahkan mentah). Indera penciuman tidak akan terhantui hingga trauma dengan aroma macam Sulfur (belerang) yang menjadi suguhan sekitaran PLTA Saguling dan Sanghyang Tikoro.

Surga Kecil Ci Tarum Purba (foto oleh Kuke)Surga Kecil Ci Tarum Purba (foto oleh Kuke)

.

Dalam bahasan toponimi, Citarum (demikian dunia biasa menuliskannya) berasala dari dua kata yaitu Ci dan Tarum.

Ci atau dalam Bahasa Sunda Cai, artinya air. Sedangkan Tarum, merupakan sejenis tanaman yang menghasilkan warna ungu atau nila sekaligus diyakini dapat digunakan sebagai obat sakit perut dan penyubur rambut [artikel tentang Tarum oleh T. Bachtiar]

Namun, bahkan pada kali ketiga pulang ke Ci Tarum (dan kali ini bersama Komunitas Aleut!), entah mata ini tersilap atau aku memang kurang fasih dalam memperhatikan tumbuhan-tumbuhan di sisian sepanjang sungai, sepertinya benar-benar tak ada Tarum Areuy yang tersisa. Beberapa buah unik macam buah Loa dan Cermot (yang rasanya seperti buah Markisa) ada. Maka untuk sementara, kembali berimajinasi menjadi satu-satunya solusi. Bekalnya adalah gambar-gambar Tarum Areuy hasil googling juga sisian sungai yang sudah aku kenali. Tapi entah kenapa aku malah jadi teringat mbak Diella Dachlan dari Cita Ci Tarum yang punya keinginan untuk kembali menghiasi Ci Tarum bersih ini dengan gerombolan-gerombolan Tarum Areuy. Akan tampak seperti apa ya Ci Tarum dengan tanaman itu?

Cermot & Loa (foto oleh Kuke)Cermot & Loa (foto oleh Kuke)

.

Di hari Minggu (23 Oktober 2011) yang sarat mendung, sebentar gerimis – hujan agak deras – gerimis, disambut lagi dengan mendung lembab selang-seling dengan panas; yang ada di sepanjang perjalanan pulang ke rumahnya hatiku (sejak 1 Agustus 2010) ini sungguh beragam :) Bisa jadi karena si Gunung turut serta. Tapi sepertinya yang lebih membuatnya beragam adalah karena perjalanan mudik ini disertai keceriaan para Aleutian (Komunitas Aleut!).

Ya, harus diakui, aku yang sudah sekitar 1 bulan lebih vakum dari kegiatan bersama komunitas (pasal sakit dan kesibukan yang harus ditanggung sebagai dampak istirahat sakit yang 2 minggu itu) menjadikan kesempatan ngAleut bersenang-senang! (yang undangannya diluncurkan 2 hari sebelum perjalanan) sebagai momentum untuk aktif kembali mendokumentasikan aktivitas komunitas, selain berusaha keras menyerap pengetahuan-pengetahuan sejarah Bandung, Indonesia, hingga musik dunia dari para kawan di sana.

.

Ya, harus diakui, para Aleutian lebih banyak ngangeninnya ketimbang ngeboseninnya. Maka seketika perjalanan pulang ini menjadi lebih berharga dibanding perjalanan sebelumnya karena tumpukan kangen beraktivitas bersama terbayar sudah.

Pia tak kunjung habis berdecak kagum ketika kaki-kaki kami semakin menjauhi Sanghyang Poek yang sebelumnya dijadikan spot untuk beristirahat makan siang. Dephol merutuki baterai-baterai DSLR-nya yang sudah kosong sebelum benar-benar jauh meninggalkan Sanghyang Tikoro. Mr. Kobopop berenang senang di salah satu sisian Ci Tarum menjelang Leuwi Malang yang dulu membuatku nyaris tidak ingin lagi pulang ke Bandung. Bey mengambil resiko untuk merekam keceriaan kawan-kawannya dengan masuk ke sungai (yang dibilang dangkal ya dalam, dibilang dalam ya dangkal) sambil tak melepaskan si Alpha DSLR. Nia mengagumi para Aleutian yang saling bahu-membahu di garis belakang demi tidak meninggalkan Pipit.

Ya, Pipit :) sepertinya inilah Aleutian yang akan sangat lama lupa dengan pengalaman pertamanya menyusuri rute air berbatu demi ikut bersenang-senang dengan kawan lainnya, kebulatan tekad Pipit kali ini dan pembuktian yang dia tunjukkan (menurutku) layak diapreasi dengan baik :)

Keceriaan. Kekaguman.Kebulatan tekad. Kerelaan. Bahu-membahu (foto oleh Kuke)

Keceriaan. Kekaguman.Kebulatan tekad. Kerelaan. Bahu-membahu (foto oleh Kuke)

.

Aku jadi terharu. Lagi-lagi terharu di aliran rumahnya hatiku. Karena ya lagi-lagi dapat pelajaran baru. Perihal manusia, perihal alam, perihal alam yang membawakan kekentalan persahabatan dan kekeluargaan antar manusia. Seperti waktu itu :)  (baca: Persahabatan Ci Tarum)

Ternyata Ci Tarum masih menyimpan keajaiban lain. Ternyata bukan hanya ada Surga Kecil yang berhasil disimpan baik-baik. Ternyata sungai ini sudah menunjukkan, dengan siapa pun aku pergi maka kami semua bersedia dengan rela saling mengulurkan tangan dan berbagi kebahagiaan meski itu sebatas seteguk air.

Jika sudah begini, sepertinya aku susah untuk menghindari tumbuhnya harapan-harapan akan kepedulian manusia pada alam dan keseimbangan hidup. Jika sudah begini, sepertinya aku menjadi sangat susah untuk tidak berharap agar para pemuda-pemudi penerus bersedia untuk tidak sekedar berjalan-jalan senang sampai memenuhi harddisk/flash-disk mereka dengan file foto jalan-jalan entah-di-mana-saja tanpa mengambil sari yang alam maksud. Jika sudah begini, apakah kemudian salah mencetuskan keberanian bermimpi bahwa 10 tahun mendatang Ci Tarum Purba tidak akan kehilangan Surga Kecil-nya, malah semakin meruak menulari bagian panjangnya yang sama sekali tak menyenangkan sebagai pendamping kehidupan masyarakat?

Tapi, apa aku hanya terhenti di situ? Hanya bisa berharap dan bermimpi? Tidak berbuat apa-apa sebiji dzarrah pun?

Surga Kecil berkawal pasukan batu ini masihlah merupakan bagian dari salah satu sungai terbesar dan terpanjang di Indonesia. Surga Kecil yang masih lekat dengan nuansa hijau sejuk ini masihlah merupakan bagian dari sungai yang punya keterkaitan hati dengan masyarakat Sunda sejak awalnya.  Surga Kecil yang pada faktanya kalah populer dengan reputasi pencemarannya yang terlalu aduhai bahkan hingga di mata & telinga dunia (the world’s most polluted river) sebenar-benarnya ada. Surga Kecil ini dikenal dengan nama Ci Tarum Purba atau Ci Tarum bersih.

Aku ingin selalu pulang ke sana. Bukan cuma sampai esok atau minggu depan, tapi seterusnya bisa sekali-kali pulang ke sana entah bersama siapa saja. Bersediakah turut menjaganya tanpa seratus persen hanya bergantung pada pasukan batu? Ah, atau, mungkin sebaiknya kau perlu mengalami sendiri perjalanan menuju Surga Kecil itu sepertinya halnya aku, kekasihku, para sahabat, dan kawan-kawanku; agar hatimu bersedia rela ikut menjaga :)

Kampung Mahmud, Segenggam Tanah dari Mekah di Kelokan Ci Tarum

Catatan Perjalanan Bersama Komunitas Aleut!

Oleh Budi Brahmantyo

Sambil menunggu beberapa Aleutian kumpul seluruhnya di halaman Museum Sribaduga di Tegalega Bandung, saya serius mempelajari peta terbitan Periplus 2005 yang memuat target acara ngAleut di Minggu pagi 19 September 2010 yang gerimis itu. Komunitas Aleut! (aslinya memang dengan “tanda seru”) adalah komunitas yang kebanyakan terdiri dari anak-anak muda Bandung yang aktif menjelajah Bandung dan sekitarnya. Beberapa anggotanya memahami sejarah Kota Bandung secara luar biasa.

Penulis yg kata Kuke (pemotret foto ini) serius membaca peta, padahal sebenarnya susah melihat tulisan kecil2 oleh mata yg sudah bolor positip ini 🙂

Aleut secara geografis sebenarnya adalah suatu jajaran kepulauan di Amerika bagian utara dekat Alaska yang berada pada perbatasan utara Benua Asia – Amerika. Tapi bukan dari pulau-pulau entah berantah itu dasar penamaan komunitas ini. Justru namanya diambil dari istilah yang sangat dekat, dari Bahasa Sunda “ngaleut” yang berarti berjalan beriring-iringan atau bergerombol. Mereka menyebut anggotanya dengan sebutan keren: Aleutian.

Kebiasaan lain positif mereka, anggotanya harus membuat catatan perjalanan. Saat Minggu pagi itu acara Aleut! adalah ngAleut ke Kampung Mahmud, dua hari kemudian catatan perjalanannya oleh Ujanx Lukman sudah muncul di FB notes: http://www.facebook.com/notes/ujanx-lukman/kampung-mahmud-yang-tak-pernah-tenggelam/151491471552074.

Kembali ke halaman Museum Sribaduga. Sambil mempelajari peta Periplus 2005 itu, pertama-tama saya terpana dengan lokasi Kampung Mahmud. Tepat berada di tengah-tengah “pulau” kelokan Ci Tarum. Lalu ketika mempelajari elevasi topografis, mata saya terbentur pada pertigaan Jalan Mahmud – Cicukang dengan elevasi tepat 666 m. Angka yang untuk beberapa orang mungkin bermakna luar biasa. Kampung Mahmud sendiri diperkirakan berelevasi 662 – 664 m, lebih tinggi dari daerah lebih hulu di Dayeuhkolot – Baleendah – Cieunteung yang berelevasi 660 – 661 m. Jadi jika di Dayeuhkolot selalu kebanjiran, Kampung Mahmud yang sebenarnya lebih hilir, tidak pernah dalam sejarahnya kebanjiran.

citra google-erath: dua kelokan Ci Tarum dg pola aneh, tempat Kp. Mahmud berada, dan titik 666.

Ci Tarum yang berhulu di Gunung Wayang mulai bermeander setelah tiba di Majalaya. Dataran luas Cekungan Bandung bekas dasar danau purba yang surut 16.000 tahun yang lalu itu membuat Ci Tarum mengalir pelan. Ada laporan yang menyatakan gradien alirannya hanya sebesar lebih kurang 0,02% (bisa dibaca: setiap jarak 100 m hanya turun sekitar 0,02 m atau hanya 2 cm).  Wajar saja dalam kondisi morfologi datar, sungai besar akan cenderung berkelok-kelok dalam lengkungan besar. Istilahnya: sungai meander (diambil dari sebuah sungai di Turki Meandoros yang alirannya berkelok-kelok).

Ciri sungai di dataran adalah lebarnya dataran banjir (flood plain). Dataran ini adalah dataran di kiri kanan sungai yang menjadi wilayah sungai ketika kapasitas salurannya terlampaui sehingga melimpas ke samping kanan-kiri salurannya. Pada musim kemarau, dataran banjir mengering. Sayangnya orang-orang seolah-olah berdatangan dan bermukim saat musim kemarau, tidak menyadari bahwa tempat itu adalah hak sungai untuk memindahkan airnya saat musim hujan.

Dua ciri morfologi penting lagi dari sungai meander adalah tanggul alam (natural levee) suatu tinggian dari saluran sungai yang umumnya terdiri dari endapan pasir sungai dan tersebar mengikuti sejajar saluran sungai. Di belakangnya, morfologi merendah lagi yang jika terbanjiri akan membentuk rawa belakang (back swamp). Kedua hal ini penting dalam konteks cerita Kampung Mahmud.

morfologi sungai meander: flood plain, back swamp (John Wiley & Sons, 1999)

Seorang warga yang sedang ngecrik (menjaring ikan) di bekas aliran Ci Tarum, bercerita bahwa ketika banjir melanda wilayah Pameuntasan seberang Kampung Mahmud, di seberangnya tempat keberadaan makam salah satu eyang Kampung Mahmud, yaitu Eyang Dalem Gedug, tidak pernah kebanjiran padahal elevasinya (perasaan) sama. Di sinilah peran tanggul alam yang membatasi wilayah Pameuntasan yang kebanjiran karena merupakan rawa belakang dengan tepi sungai Makam Eyang Dalem Gedug. Bukan berarti elevasi banjir jadi miring (menyalahi hukum alam alias sunatullah dong). Tetapi begitulah kepercayaan terhadap mitos bagi warga setempat.

Mitos lain yang disampaikan kasepuhan Kampung Mahmud Bapak Haji Syafei adalah bahwa sebelum Ci Tarum berkelok dalam dua kelokan berpola aneh (yang jauh dari kesan meander pada umumnya), Ci Tarum dulunya memang mengalir seperti sodetan yang dilakukan pemerintah sekarang. Hanya kemudian oleh pendiri Kampung Mahmud Eyang Dalem Mahmud Haji Abdul Manaf, aliran sungai diubah dibelokkan dalam dua lengkungan aneh tersebut. Sodetan pemerintah tahun 1980 – 1990an yang dimaksud untuk mempercepat aliran agar Dayeuhkolot terbebas banjir dengan proyek miliaran rupiah (dan ternyata tidak berhasil), oleh Haji Syafei dianggap menggali kembali apa yang tadinya telah ditutup oleh Eyang Dalem Mahmud Haji Abdul Manaf.

Kasepuhan Kp. Mahmud Bpk. H. Syafei bercerita ttg kampungnya

Kelokan aneh itu bukan meander tetapi lebih kepada kontrol struktur batuan dasar. Ci Tarum di wilayah ini telah berinteraksi dengan endapan-endapan gunungapi purba 3 – 4 juta tahun yang lalu sehingga alirannya dikontrol oleh struktur batuan dasarnya. Setelah kelokan itu, alirannya kemudian lurus mengarah ke utara sebelum kemudian berbelok ke arah barat di Curug Jompong. Air terjun berketinggian total 12 m ini adalah terobosan Ci Tarum pada batuan dasit yang keras, bagian dari batuan volkanik Pliosen 3 – 4 juta tahun itu.

Peta Rupa Bumi Bakosurtanal 2001, kelokan tanpa sodetan (tks pak Supardiyono Sobirin atas peta ini)

Mitos lain adalah tentang penguasa Ci Tarum, yaitu Raden Kalung Bimanagara, yang kepalanya berupa seorang ksatria berada di Gunung Wayang, badannya berupa tubuh ular naga meliuk-liuk sepanjang aliran Ci Tarum, hingga ekornya di Gua Sangiangtikoro, Saguling. Total panjang tubuh tokoh anak indo-jin putera Eyang Dalem Dayeuhkolot ini adalah hampir 100 km! Jika masyarakat sepanjang Ci Tarum percaya adanya penguasa alam gaib ini, sebenarnya bisa dimanfaatkan pemerintah untuk mengurus Ci Tarum secara lebih baik berdasarkan kearifan lokal tersebut. Jangan hantam kromo menyikat Curug Jompong yang dianggap menghambat aliran Ci Tarum sebagai penyebab banjir!

Curug Jompong (foto: Ayu Kuke)
ngAleut! ke Jompong, selaput dara bumi Bdg menurut T. Bachtiar, 2004 (Foto: Ayu Kuke)

Itulah Kampung Mahmud, kampung tradisional yang tetap memelihara adat-istiadatnya dan penghormatan kepada para leluhurnya, juga kepada para penunggu alam gaibnya. Minggu itu kampung begitu hiruk-pikuk oleh para peziarah yang berzikir dan bermunajat di makam utama Eyang Dalem Mahmud Haji Abdul Manaf, pendiri kampung ini. Tradisi tahunan yang selalu dilakukan sampai dua minggu di awal bulan Syawal.

Syawalan di Makom Mahmud

Eyang Dalem yang masih keturunan Sunan Gunung Jati dan bersaudara dengan Eyang Pamijahan Tasikmalaya mendapat amanat untuk mendirikan Kampung Mahmud ketika berhaji di Mekah. Dengan membawa segenggam tanah Kampung Mahmud di Mekah, Eyang Dalem memilih “pulau” di tengah kelokan Ci Tarum ini sebagai kampung yang diberi nama sama dengan asal tanah yang diambilnya dari Mekah, Mahmud “yang dipujikan.”

Tetapi jika ada pendapat bahwa Eyang Dalem Mahmud Haji Abdul Manaf memilih tempat ini sebagai tempat terpencil, saya kurang setuju. Justeru pada zamannya, ketika sarana transportasi melalui sungai atau mengikuti jalan paralel dengan sungai besar, Kampung Mahmud berada pada lalu lintas penting antara Dayeuh Kolot (kota lama ibu kota Tatar Ukur) dengan wilayah di sebelah baratnya, Cianjur. Inilah sebenarnya jalur tradisional yang diantaranya akan menyeberang Ci Tarum di Saguling di atas Cukang Rahong, berupa jembatan bambu yang terbentang di atas ngarai sempit Ci Tarum di Rahong. Rahong dalam bahasa Sunda, menurut T. Bachtiar, adalah wilayah sungai yang sempit dan terjal.

Demikian catatan perjalanan ngAleut yang beberapa hari kemudian di foto-foto yang dipublikasi di facebook mengungkap sosok misterius yang ikut berfoto bersama :”)

Dalam perjalanan pulang duluan di atas angkot trayek Tegallega – Mahmud, dataran pesawahan menghijau yang masih luas menjadi pemandangan Kampung Mahmud. Di latar belakang kerucut G. Lalakon (+ 972 m) berjajar bersama rangkaian gunungapi purba tampak membiru. Angkot Minggu relatif sepi. Hanya seorang gadis manis berkerudung yang ikut menumpang dari Cicukang.

Selalu ada keindahan dimana pun kita berada, tergantung bagaimana cara memandangnya ***