Jembatan Citarum Lama dan Tanjakan Yang Melegenda

Oleh: Abu Fauzan (@pahepipa)

We consider this ascent from the Tjeetaram to be the only really dangerous part of the road between Batavia and Bandong. (Charles W Kinloch – 1852)

Perjalanan saya kali ini adalah mengunjungi dua jembatan Citarum di sekitar Rajamandala. Pertama, mengunjungi jembatan jalan raya lama di atas Citarum dan Cihea, selanjutnya adalah jembatan kereta api di dekat muara sungai Cimeta.

Jembatan lama Citarum yang berada di perbatasan Kabupaten Bandung dan Cianjur ini tidak bisa dikatakan lama juga. Jembatan tersebut adalah jembatan baru yang mengganti jembatan lama dan dibangun oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN) bersamaan dengan pembangunan waduk Cirata di tahun 1986/1987.

Plakat

Jika dilihat dari keadaan jembatan lama, masuk akal memang jika negara membangun ulang jembatan ini lebih tinggi. Pasalnya, jika kita melihat pondasi jembatan lama yang jauh ada di bawah, kita bisa membayangkan bahwa tinggi jembatan dari permukaan air Citarum hanya beberapa meter saja, yang bisa jadi akan terendam jika pembendungan air di sekitar Cirata mengalami hal di luar teknis. Belum lagi, diceritakan bahwa kondisi jembatan lama konon mengalami kerusakan.

Bapak penjaga warung yang berada di dekat jembatan mengatakan, sebelum dibangun jembatan baru, ada jembatan Citarum lama yang letaknya berada di bawah jembatan. Bapak tersebut berbicara sembari menunjukkan pondasi jembatan lama yang jalurnya menuju jembatan Cihea yang terlihat dari kejauhan. Itulah jembatan yang menghubungkan jalan raya pos yang terpisah oleh sungai Citarum. Kedua sisi jembatan kemudian bisa disatukan oleh bupati Bandung RAA Martanegara.

Jalan Lama

Bapak tadi bercerita tentang kesulitan-kesulitan ketika jembatan lama masih berdiri. Jika kendaraan datang dari arah Bandung, kendaraan akan berhadapan dengan turunan curam sebelum berbelok ke kanan di bibir sungai Citarum. Sebaliknya, jika datang dari arah Cianjur, setelah melewati jembatan, kendaraan berbelok ke kiri menghadapi tanjakan yang curam.

Saking curamnya, kendaraan akan mengalami kesulitan terutama saat menaiki tanjakan tersebut.  Keadaan kendaraan seperti ini disebut ngadaweung (diam, yang biasanya disertai kegiatan melamun) oleh penduduk setempat. Karena kondisi seperti itulah, tanjakan curam tersebut diberi nama tanjakan Cidaweung.

jembatan lama

Yang menjadi hal yang unik, saat kendaraan akan melewati tanjakan ini, para supir akan melemparkan satu batang rokok Gudang Garam Merah ke pinggir jalan, mungkin untuk kelancaran dan keselamatan. Prosesi melempar sebatang rokok yang sudah dinyalakan ini persis seperti prosesi saat para supir akan membawa kendaraannya melewati tanjakan Emen di kabupaten Subang, baik pada saat naik, ataupun turun. Bedanya di tempat ini, mereka melempar rokok dengan merk tertentu.

Sulitnya menaklukkan tanjakan ini sudah berlangsung dari jaman dahulu kala. Dalam tulisannya di buku Rambles in Java and The Straits in 1852, seorang petualang dari Inggris bernama Charles Walter Kinloch menggambarkan kesulitan-kesulitan saat menaklukan tanjakan ini. Empat kerbau diakui penulis dengan alias Bengal Civilian ini, dibutuhkan untuk menaikkan kereta kuda. Saking beratnya, Kinloch  mengatakan bahwa tanjakan ini merupakan bagian yang paling berbahaya selama perjalannya dari Batavia menuju Bandung.

Citarum Baru

Di pertengahan 70 an, sebelum pemerintah membangun jembatan di Rajamandala, kegiatan ekonomi di daerah ini sangat hidup. Masyarakat mendapatkan rezeki dengan membuka warung-warung di sekitar jembatan. Barang yang dijual saat itu bukan berupa jajanan, akan tetapi berupa hasil bumi penduduk sekitar seperti jagung dan buah-buahan. Para pengendara yang kebanyakan dari Bandung menuju Jakarta sering singgah mencari oleh-oleh, terutama saat weekend.

Kini, jembatan ini telah terpisah dari keramaian sejak jalur utama dipindahkan oleh pemerintah melalui jembatan Rajamandala di sebelah utara di akhir tahun 70-an. Hanya sesekali saja jalan dan jembatan ini dilalui oleh kendaraan. Jalan raya yang pernah menjadi bagian penting pemerintah Hindia Belanda di masa lalu ini menjadi jalan yang ditinggalkan, seolah dilupakan dalam sepi.

Pertama kali tayang di http://pahepipa.com/jembatan-citarum-lama-dan-tanjakan-yang-melegenda/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s