Bukan Hanya Hitam dan Putih di Kampung Warna Cibunut

Kampung Warna Cibunut

Ngaleut Kampung Warna Cibunut – Komunitas Aleut

Oleh : Rulfhi Pratama (@rulfhi_rama)

Kampung Warna Cibunut mungkin bukan yang pertama kalinya menjadi kampung warna di Indonesia. Sebelumnya sudah ada Jodipan di Malang dan Kampung Pelangi di Semarang. Tapi di Kota Bandung rasanya menjadi kampung warna pertama.

Kampung Warna Cibunut berada di Jalan Sunda yang terhimpit oleh tembok-tembok bangunan niaga. Mungkin kawan-kawan sudah sering melewati Jalan Sunda tetapi belum ngeh dengan keberadaan kampung ini, itu juga yang saya rasakan. Saya baru tahu Kampung Warna Cibunut setelah melihat unggahan instagram pak Ridwan Kamil yang meresmikan kampung warna ini.

Seminggu setelah peresmian tersebut, saya mengunjungi kampung ini bersama Komunitas Aleut dalam agenda rutin tiap minggu pagi yang bernama ngaleut. Pada saat saya kesana masih belum terlalu ramai. Namun saya yakin dalam beberapa hari kedepan kampung ini akan sangat ramai dikunjungi. Potensi keramaian ini cukup beralasan. Sebab di sini terdapat beberapa mural yang sangat instagrameble. Buktinya baru saja lima langkah dari gapura Cibunut, saya langsung disapa dengan mural-mural yang sangat instagrameble. Generasi instagram mana yang tak luluh jika di depannya terdapat mural-mural yang begitu instagrameble, tinggal langsung bergaya sedikit dan ckrek…ckrek, foto bisa langsung diunggah ke instagram.

Mural di Kampung Warna Cibunut

Mural di Kampung Warna Cibunut – Komunitas Aleut

Tembok-tembok yang dihiasi mural ini dikerjakan secara gotong royong oleh pemuda yang menamakan dirinya pemuda Cibunut Finest yang dibantu juga oleh Komunitas Mural Bandung dan Gerakan Semangat Selalu Ikhlas (GSSI).

Mural di Kampung Warna Cibunut

Mural di Kampung Warna Cibunut – Komunitas Aleut

Penempatan mural tidak sembarang tempat. Sebab mural disini mempunyai tema yang telah ditentukan sesuai zona. Adapun zona tersebut dibagi menjadi lima zonasi dengan warna yang berbeda-beda. Zona-zona tersebut meliputi zona world peace, local genius, environment in a playground, dan zona local culture.

Lima zona mural dan sembilan warna sesuai dengan jumlah RT yang ada kampung ini. Keseragaman warna yang mewarnai setiap rumah ditiap RT ternyata memiliki nilai filosofi. Dimana keseragaman warna ini menjadi simbol untuk menyatukan setiap penghuni rumah dengan tetangganya. Diharapkan semua warga memiliki kesamaan visi dan misi untuk saling mencintai dan memajukan lingkungan tempat tinggal mereka.

 

Mural di Kampung Warna Cibunut

Mural di Kampung Warna Cibunut – Komunitas Aleut

Mungkin kampung dengan liku-liku gang ini bisa cocok juga dikatakan dengan gang seniman. Selain anak mudanya yang jago bikin mural, ternyata banyak juga warga di sini yang gemar bermusik. Salah satunya yang sempat teman saya temui adalah Pak Eman. Saat itu Pak Eman sedang asyik memaikan biola. Baginya biola adalah alat musik yang baru ia pelajari dengan alasan mencari alternatif alat musik selain gitar. Pak Eman yang sudah cukup lama tinggal disini, menuturkan bahwa di kampung ini dulu sempat tinggal seorang personil The Rollies. Selain itu dulu di kampung ini terdapat tempat produksi kaset bermerek yes yang sekarang sudah berganti menjadi toko meubel.

Selain mural dan musik di kampung ini ada hal yang menarik lainnya yang saya dapatkan dari kampung ini. Bahwa di kampung ini cukup konsen untuk mengelola sampah mulai dari rumah masing-masing. Setiap rumah sudah secara sadar untuk memisahkan sampah organik dan organik. Sampah-sampah organik yang telah dipisahkan bisa diolah menjadi bahan bakar untuk keperluan memasak atau lainnya melalui teknologi biodigester. Selain itu sampah organik  bisa juga dimasukan ke dalam lubang biopori sebagai media penyerapan air ke dalam tanah. Untuk sampah an-organik bisa disulap menjadi beberapa kerajinan yang cukup bernilai seperti tas jinjing, topi maupun sebuah daster.

Ragam Kerajinan hasil warga Cibunut

Ragam Kerajinan hasil warga Cibunut – Komunitas Aleut

Kampung yang cukup padat ini sangat melibatkan keaktifan warganya di setiap kegiatan. Menurut Kang Roby, salah satu pemuda Cibunut Finest yang berhasil kami temui, bahwa di kampung ini baik pemuda ataupun orang tua saling bergotong royong untuk memajukan kampung mereka. Contohnya anak muda berkreasi dengan seni mural dan para orang tua berkreasi dengan pengolahan sampai menjadi barang berguna dan bernilai. Para orang tua disini mempunyai semboyan Kang Pisman (KuraNGi, PISahkan, MANfaatkan).

Menurut pemuda Cibunut Finest bernama Roby, Kampung Warna ini belum sepenuhnya selesai, mungkin ketika saya berkunjung kesini sekitar 25% saja. Maka tak heran jika saat itu ada masih ada beberapa rumah yang belum dicat.

Jadi rasanya saya akan kembali lagi ke Kampung Warna Cibunut untuk melihat dan belajar bagaimana sebuah kampung kota yang tetap hidup di tengah gempuran perumahan modern.

Pohon Bunut

Pohon Bunut – Komunitas Aleut

For your Info Cibunut sendiri diambil dari nama pohon bunut yang bisa kalian lihat di depan gang kampung ini dan ci artinya air. Jadi bisa dikatakan dahulu kampung ini banyak ditumbuhi pohon bunut yang tumbuh subur. Terlebih kampung ini berada di sekitar sungai bernama Ci Bunut.

Baca juga artikel lainnya mengenai catatan perjalanan ngaleut.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s