Gedung Konperensi Asia-Afrika Bandung, Kisahnya di Masa Lalu

Oleh : Arya Vidya Utama

Kemarin, atau tepatnya hari minggu kemarin, saya dapet tugas (halah) buat memandu beberapa orang mahasiswa dari berbagai universitas di Indonesia untuk lebih mengenal bagaimana Bandung di masa lalu. Berhubung materinya masih nempel  di kepala, mending dituang disini aja, sekalian berbagi.

Di postingan ini, saya menjelaskan mengenai awal mula bangunan yang kita ketahui sebagai Gedung Konprensi Asia Afrika. Awalnya hanya ada bangunan yang berdiri di sebelah barat, bernama Societeit Concordia, yang berada di Bragaweg. Bentuknya pun belum seperti yang sekarang, masih seperti ini. Dibangun pada tahun 1895.

(gambar diambil dari http://dieny-yusuf.blogspot.com, terima kasih)

Gedung ini merupakan tempat berkumpulnya para preanger planters, preanger merupakan sebutan Priangan, daerah Bandung dan sekitarnya. Preanger planters merupakan para pengusaha perkebunan di daerah Bandung dan sekitarnya. Mereka berkumpul di tempat ini biasanya untuk sekedar minum-minum, bersosial, dan berbincang berbagai macam hal.

Baru pada tahun 1941, arsitek asal Belanda, A.F. Aalbers, merubah bentuknya menjadi melengkung.

(gambar diambil dari http://dieny-yusuf.blogspot.com, terima kasih)

Wilayah ini juga menjadi simbol rasialisme Belanda di masa itu. Di Bioskop Concordia (sekarang Majestic) pernah terdapat tulisan “Verbodden voor Honden en Inlander”, artinya “Dilarang masuk bagi anjing dan pribumi”. Mengapa Belanda dulu tega menyetarakan pribumi dengan anjing? Karena dulu pribumi itu sangat jorok. Buang sampah sembarangan, buang air besar maupun besar dimana saja, sehingga menimbulkan kesan jijik bagi para orang Belanda.

Bahkan orang indo, blasteran Indonesia-Belanda pun tidak diterima disini. Walaupun demikian, pribumi terkemuka seperti bupati Bandung dan pribumi terhormat bisa masuk ke sini.

Karena mereka membutuhkan juga hiburan seperti musik dan sandiwara, maka dibangunlah gedung di sebelah timur, yang dinamakan Schowburg (Gedung Pertunjukkan), pada tahun 1921 oleh C.P. Wolff Schoemaker, seorang arsitek berkebangsaan Belanda kelahiran Banyubiru.

(gambar diambil dari http://dieny-yusuf.blogspot.com, terima kasih)

Karena para preanger planters ini sangat kaya, mereka mampu mendatangkan para pemain drama atau musisi dari Eropa langsung untuk bermain di Schowburg. Kalau saya tidak salah, Ismail Marzuki pernah konser di gedung ini atas undangan para preanger planters (Ralat: ternyata Ismail Marzuki hanya sebatas diundang saja, namun enggan datang kesini). Selain itu, gedung ini juga mempunyai fungsi untuk sebagai tempat dansa.

Fungsinya tidak banyak berubah pada saat masa kependudukan Jepang, gedung ini dinamakan Dai Toa Kaman dengan fungsinya sebagai pusat kebudayaan.

Pada tahun 1955, bertepatan dengan tahun penyelenggaraan Konprensi Asia-Afrika, oleh Ir. Soekarno, nama Schowburg diubah menjadi Gedung Merdeka yang menjadi ruangan konprensinya, sedangkan jalan yang menghadap gedung ini diganti menjadi Jalan Asia-Afrika, dari sebelimnya Jalan Raya Timur. Ssoekarno ingin “mendobrak” keadaan masa lalu gedung ini, dimana dulu kedua belah bangunan ini merupakan simbol rasialisme dari kolonialisme di Indonesia.

Pada tahun 1980, oleh presiden kedua kita Soeharto, bangunan ini diresmikan sebagai Museum Konprensi Asia Afrika, hingga sekarang ini fungsinya masih sebagai museum.

Sebenarnya masih ada objek lain lagi yang bisa diceritakan dari perjalanan pemanduan kemarin, cuma akan saya buat menjadi serial, lumayan buat bikin blog lebih penuh :D

Iklan

5 pemikiran pada “Gedung Konperensi Asia-Afrika Bandung, Kisahnya di Masa Lalu

  1. Tulisan yang menarik, kalau ada tulisan lebih detil mengenai “Verbodden voor Honden en Inlander” sangat ingin membacanya. Terima kasih, wassalam

  2. Tulisan itu belum pernah dipasang selama sejarah gedung itu. Lagi pula kalau memang ada, pasti bkn orang belanda yg menulisnya. Karena ada ejaan yg salah peda tulisan itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s