Secabik Cerita Komunitas Aleut!

Oleh : Catra Prathama

Kali ini saya tidak akan cerita tentang perjalanan-perjalanan bersama aleut. Karena saya yakin ada seratusan catatan perjalanan yang telah dibukukan, eh di posting di https://aleut.wordpress.com/ .Ya, kami menamakan komunitas ini dengan Komunitas aleut. *bukan kami juga sih, tapi orang2 sebelum kami masuk*. Aleut dalam bahasa sunda artinya berjalan beriringan. Kita selalu terlihat berjalan bergerombolan di pinggir jalan, kadang di pematang sawah, kadang di tengah pemukiman penduduk, bermacam-macam.

 

Awalnya saya menemukan tulisan seorang penggiat aleut di salah satu situs komunitas. Saya telusuri dan akhirnya saya nekat datang sendiri tanpa diajak oleh siapapun. Saya coba sms Contact Person nya, dan dibalas kumpul di depan gerbang ITB jam 7 pagi. Buset, kala itu memang siklus tidur saya sedang tidak teratur. Kebanyakan begadang dan menghabiskan waktu dengan hal-hal yang tidak berguna.

 

Sembari menganggap enteng, saya mencoba cari sarapan dulu dandatang jam 7.30 ke depan gerbang ITB. Ternyata tak ada satupun orang yang berkumpul. Usut punya usut ternyata rombongan telah pergi menelusuri gedung-gedung kuno ITB dan saya ditinggal. First Impression yang luar biasa menyadarkan saya akan selalu tepat waktu.

 

Komunitas ini awalnya didirakan oleh sekumpulan mahasiswa sejarah Unpad kira-kira 6 tahun yang lalu dan dinamakan Klab Aleut, komunitas pencinta sejarah dan apresiasi wisata. Setiap minggu selalu punya kegiatan, entah itu menelusuri peninggalan sejarah, menikmati wisata alam, mengunjungi tempat purbakala dan sebagainya.

 

Komunitas ini dibangun tanpa memikirkan profit apapun dan tak menerapkan ikatan apapun terhadap pegiatnya. Semuanya berkumpul disini dengan semangat anak muda dalam mengapresiasi dan mencintai kotanya. Mencintai kota tak harus dengan ide-ide kosong bualan tanpa realisasi. Cukup dengan hal-hal kecil, seperti kita ngaleut tanpa membuang sampah, menulis catatan perjalanan dan menyebarkan pengetahuan kota nya kepada teman-teman, menghormati penduduk dimana tempat yang kita lewati dan lain sebagainya.

 

Memang, dalam setiap perjalanan rasa penat menghampiri kita semua. *maklum, kita jalan kaki gan!!* Tapi rasa itu dapat dikalahkan dengan semangat kekeluargaan yang kita punya. Kita berjalan tanpa ada sekat-sekat pembatas apapun itu. Ada bapak guru, ada ibu dosen, Ibu guru SMP, Mahasiswa, Pelajar SMA , penulis. Ada mahasiswa UPI, Unpar, Maranatha, ITB, Unpad, enhaii. Ada tua, muda, kasep, geulis beriringan berjalan di pinggir jalan di tengah terik matahari bersama-sama. Tidak hanya berjalan, kalau bosan keluar, kita di hari minggu kumpul untuk nonton bareng, mengapresiasi musik, atau hanya berbagi cerita masa kecil kita.

 

Ada beberapa hal menarik yang saya dapatkan disini

  • Apresiasi, Setiap akhir sesi kita selalu mengeluarkan pikiran kita saling ngeresume dan berdialektika sesuai dengan gaya kita masing-masing. Bermacam-maca ciri khas dari berbagai pegiat. Tentunya kita masing-masing menginterpretasikannya dari sudut pandang kita masing-masing
  • Wawasan, Setiap perjalanan saya selalu mendapatkan hal-hal baru yang selama ini luput dari pengetahuan saya. Entah itu info sejarah, info bangunan tua, rute kota, cara menjepret kamera yang bener, cerita rakyat hingga lokasi wisata kuliner yang berasal dari referensi temen2 aleut. :p
  • Teman Baru, Tentunya ini menjadi salah satu hal yang menarik karena kita bertemu dengan berbagai orang dari latar belakang berbeda, suku berbeda, umur yang beda, kampus yang beda. Disini saya selalu mencuri ilmu-ilmu mereka dan mereka pun mengikhlaskan ilmu itu untuk saya dan pegiat lainnya. *Sssttt salah satu sesepuh aleut bahkan bukan orang sunda asli lho*.
  • Dan yang paling penting adalah, Have Fun, disini hampir semua pegiat merupakan orang yang gila tak peduli entah ia adalah seorang lulusan S2 luar negeri, entah itu seorang penulis, entah itu dia seorang kasep seperti saya, semua nya bercengkrama saling bercanda satu sama lain yang tak jarang mengocok perut saya
  • Everysunday is a new experience. Selalu ada hal baru yang saya dapatkan walaupun dengan rute yang sama. Entah itu pelajaran langsung dari narasumber ataupun celetukan-celetukan para pegiat yang sangat bermanfaat

 

“belum lengkap ke Bandung kalau belum Ngaleut“, imbuh Prince of Majalaya

 

 

Disclaimer: Saya bukan seorang marketing komunitas, semua ini penilaian subjektif saya yang juga manusia ganteng biasa 🙂

Iklan

2 pemikiran pada “Secabik Cerita Komunitas Aleut!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s