NgAleut! Kuburan Cina dan Kuburan Kuno Panyandaan : Romantisme Yoko dan Bibi Lung

Oleh : Unang Lukmanulhakim

Hayo temen2 siapa yang masih inget serial “return of the condor heroes”? pasti sebagian masih inget serial itu (bagi yang agkatannya agak lawas itu juga) hehe. kalo yang agak-agak lebih junior sih kayaknya kurang ngeh sama serial itu. terus apa hubungannya sama ngaleut kita minggu ini ya? sebenernya ada beberapa hubungan anatar serial tersebut sama ngaleut minggu ini, yang paling jelas yaitu kedua-dua nya sa

ma-sama berhubungan dengan negeri tirai bambu (semua juga tau kali). Tapi ada satu lagi kesamaan yang saya temukan dari kedua hal tadi setidaknya dari sudut pandang saya, yaitu keduanya memiliki nilai2 romantisme kebudayaan tiongkok. lantas dimanakah letak romantisme tersebut? kita langsung aja ke TKP (OVJ fever nih hehe)

“return of the condor heroes”

Pagi ini seperti pagi-pagi yang lainnya mataku terasa sangat berat untuk membuka apalagi hari ini hari minggu, it’s time to relax bray jadi sangat sah banget kalo bangunnya pun agak2 siang (tapi sebenernya ga juga sih kalo aja ketauan ibuku pasti diomelin hehe), tapi walau berat nih mata buat buka nya, mau ga mau aku harus bangun pagi soalnya hari ini ada agenda yang udah lumayan lama aku lewatkan, yaitu NgAleut! dan kebetulan juga ngaleut hari ini bakal bertandang ke kuburan china, hal itu semakin membuatku semangat karena seperti hadits nabi : menuntut ilmu lah walau sampai ke negeri china, ya walaupun belum sampe ke negeri nya, minimal ke kuburannya dulu dah dan aku yakin pasti disana pun akan banyak pelajran yang akan kutemukan, bukan hanya pelajaran tentang kehidupan saja tapi mungkin juga pelajaran tentang kematian (beuh lebay). Ngaleut kuburan mungkin bukan favorit banyak orang karena terbukti dari ngaleut kuburan yang sudah-sudah peserta nya pasti sedikit. Tapi hal itu tak menyurutkan niatku untuk ikutan ngaleut kuburan kali ini, apalagi setelah melihat foto-foto ngaleut kuburan pandu yang terlebih dahulu diadakan yang dengan sangat menyesal aku lewatkan.

Pukul 7 aku udah stndby menunggu jemputan partner duet mautku ; pak guru, tapi jam 07.15 tiba2 ada sms ternyata dari pak guru dan isinya “sori boz urg blk deui.. helm tnggaleun..” wah2 bagaimana sih pak guru kan ekeu mau nebeng masa ga bawa helm 2 untung aja zmzx gug pke bhasha 4l4y. Akhirnya aku kembali menunggu beberapa saat, sampai tibalah pak guru dengan tunggangan andalannya menjemputku, berangkatlah kami dari tempatku di sarijadi kira-kira jam 7.30 menuju ke cikadut, pasti telat nih pikirku nyampe sananya dan benar saja pas kami nyampe in**maret cikadut sudah tak ada satupun anak aleut disana, mereka telah lebih dulu pergi menuju kuburan cina cikadut. FYI cikadut itu  terletak di :

 

peta cikadut

Berhubung kita berdua ga ada yang tahu di sebelah mana kuburan cina cikadut itu, maka mau ga mau kita harus menghubungi salah seorang anak aleut yang berada di lokasi, akhirnya dengan sedikit terpaksa kita menelpon cici karena nama nya udah berbau2 cina tuh hehe.. setelah berkoordinasi sebentar maka kita langsung pergi menyusul mereka yang telah mendahului kita (asa serem kata2na). akhirnya setelah mencari beberapa saaat terlihatlah sesosok orang yang sudah kita berdua kenal yaitu kang asep suryana dengan senyumnya yang khas menyambut kita. Lalu tanpa basa basi kang asep mengajak kita untuk mengunjungi objek pertama kami yaitu sebuah bangunan yang membuat penasaran kang asep selama ini, ada apakah dengan bangunan tersebut mari kita saksikan bersama-sama :

Hal pertama yang aku temukan adalah kuburan dari Tan Joen Liong :

 

 

kuburan tan joen liong

siapakah Tan Joen Liong?

 

(picture courtesy of Ms. Alexandra Wuisan and Mr. Gilbert F. Tanudirdja)
In 1888, Tan Joen Liong, also known as Chen Yunlong, who was the son of Tan Hai Liong was appointed as Chinese lieutenant. Tan Joen Liong was promoted to captain’s rank in the mid 1890. It is unknown if Tan Joen Liong were ever promoted to major-ship which was the highest rank of Chinese officers. (THE CHINESE SETTLEMENT OF BANDUNG AT THE TURN OF THE 20TH CENTURY a thesis of DEVISANTHI TUNAS For the Degree of Master of Arts, Department of History, NATIONAL UNIVERSITY OF SINGAPORE)

 

saya sangat excited ketika melihat kuburan tersebut karena nama yang tertulis di bong pai (maaf kalo salah tulis) atau nisannya kuburan cina adalah seorang yang pernah menjabat kapiten di bandung, dan pasti sangatlah menarik untuk menelusuri sejarahnya, sayangnya sumber yang kami miliki saat itu sangat terbatas tapi mungkin nanti pas ngaleut pecinan bisa mendapat penjelasan lebih lanjut.setelah puas di kuburannya sang kapiten kami bergegas menelusuri objek-objek lain yang kami anggap menarik di area tersebut. sambil berjalan menuju jalan aspal kami berbincang-bincang membahas beberapa hal yang kami temui seperti hal ini :

 

benda apakah ini?

kami hanya bisa menduga-duga tentang benda ini, ada yang menduga bahwa ini adalah tempat untuk membakar dupa, ada juga yang menduga bahwa ini adalah tempat untuk menymbahyangi dewa bumi, manakah yang benar?? jawabanya ada di chapter atlantic park.sembari meninggalkan benda yang masih membuat kami penasaran, kami pun bergegas menuju bagian yang lebih tinggi dari area kuburan cikadut dan kami pun menemukan objek ini :

 

sebuah kuburan muslim di tengah-tengah kuburan cina, mungkin hal ini menjadi sesuatu yang aneh bagi sebagian orang, tapi mungkin juga hal ini adalah hal yang biasa karena di kompleks kuburan pandu pun ditemukan kuburan muslim di tengah-tengah kompleks kuburan belanda.

setelah beberapa saat di kuburan ibu guru kepala, kami menuju sebuah objek yang cukup mencolok apabila kita melintasi area kuburan cina ini yaitu :

 

tempat ini bukan tempat ditemukannya atlantis yang hilang, apalagi gelanggang rekreasi tempat orang-orang berenang lho.

 

atlantic park adalah komplek kuburan keluarga yang dibangun oleh keluarga papa wong (saya lupa nama lengkapnya). dan selain kuburan untuk keluarga dibangun pula menara abu yang dibangun sebgai tempat penyimpanan abu kremasi bagi orang-orang yang tak mampu yang merupakan ide dari istrinya papa wong.

Hari minggu itu kebetulan di kompleks atlantic park ada penjaga yang sedang membersihkan kuburan disana, dan diajaklah kami semua untuk mengunjungi bagian belakang dari atlantic park yang merupakan menara abu dan tempat tinggal penjaga kuburan tersebut yang menasbihkan dirinya sebagai kuncen cikadut. Pak abang, itulah nama dari penjaga tersebut menjelaskan cukup banyak hal kepada kami tentang kuburan-kuburan di atlantic park ataupun kuburan-kuburan yang ada di cikadut pada umumnya. satu hal yang membuat kita miris dan mungkin hal tersebut menjadi lumrah di negeri kita ini, bahwa orang-orang kita itu selain hobby mencuri harta-harta dari orang yang masih hidup, orang-orang kita juga hobby untuk menjarah harta-harta orang yang sudah meninggal. hal ini memang disebabkan pula kebudayaan cina yang rela mengubur harta benda yang disukai orang yang meninggal bersama orang tersebut dan tak jarang benda-benda itu adalah harta yang bernilai tinggi, maka tak heran banyak kuburan cina yang dijarah dan terlantar begitu saja.

 

Dari pak abang pulalah kita mendapat penjelasan tentang beberapa istilah-istilah cina yang lazim ada di kuburan, tapi sayang saya lupa istilah-istilahnya. kami pula mendapat penjelasan tentang benda yang membuat kami penasaran di awal tadi, dan benar saja benda itu adalah tempat untuk sembahyang yang ditujukan bagi tuan tanah/dewa bumi sebelum bersembahyang ke kuburan yang dituju. wah sungguh membantu sekali nih pak abang, terima kasih pak.

 

Nah setelah dari tempat nya pak abang kami menuju lokasi selanjutnya, namun ditengah perjalanan kami menemukan beberapa hal yang menarik, apa sajakah hal tersebut ?? kita lihat sama-sama :

 

sebuah nisan yang berbahasa belanda dan bertuliskan tulisan asing yang kurang dikenal. kata pak abang ini adalah kuburan orang Belanda.

 

objek menarik selanjutnya :

sebuah nisan yang bertuliskan 2 nama orang, yang satu sudah meninggal dan satunya masih hidup. ternyata mereka adalah sepasang suami istri, walaupun sang suami belum meninggal tapi namanya telah ditulis di nisan tersebut, dan apabila dia meninggal maka akan dikubur disamping kuburan sang istri. inilah romantisme tiongkok yang saya maksud, yang diibaratkan romantisme yoko dan bibi lung

 

objek selanjutnya :

kuburan yang cukup tua usianya sekitar 99 tahun, namun belum ada penjelasan lebih lanjtu tentang orang yang bersemayam disana

 

objek yang akan kami telusuri selanjutnya adalah kuburan dari salah seorang raja tekstil di bandung, Yo Giok Sie, beliau adalah pemilik dari bdan Tekstile Indonesia yang pada masa lalu adalah salah satu perusahaan tekstile terbesar di Bandung

 

area pemakaman sang juragan tekstile ini sangatlah indah dan terawat dengan baik, dan ini adalah salah satu kuburan yang paling indah di area pekuburan cina cikadut, orang-orang menyebut kuburan ini “bong koneng” karena mungkin warna atap bagunannya berwarna kuning.karena kompleks ini indah maka kami berinisiatif untuk berfoto keluarga :

 

 

setelah puas dengan objek yang satu ini, kami lalu menuju objek selanjutnya yaitu

 

objek yang satu ini cukup menyeramkan dan bahkan kang asep suryana kalo dulu lari pagi melewati tempat ini tak mau menoleh ke arah krematorium saking horornya kali yah, tapi walaupun horor kami tetap saja membuka perbekalan kami disana da lapar atuh da.

dan ini sejarahnya krematorium

 

 

setelah dari krematorium kami melanjutkan perjalanaan menanjaki tanjakan-tanjakan yang membuat baeud rombongan, maka dari itu pulalah tanjakannya diberi nama tanjakan baeud. tapi walaupun baeud kami semua tetap mnajalaninya dengan tabah karena kami tahu bahwa di atas sana masih ada objek-objek menarik yang akan dijumpai.benar saja di kawasan atas pekuburan cikadut ini banyak kuburan yang sangat mewah dan masa pembangunannya pun masih baru. walalupun objek tersebut cukup menarik tapi tak semenarik objek-objek yang kami temui di bawah tadi, mungkin karena kurang memiliki cerita historis kali yah.

setelah sekian lama berjalan dibawah teriknya matahari dan melewati tanjakan yang membikin baeud, kahirnya kami sampai di area ujung pekuburan, kami pun isirahat sebentar sambil membuka perbekalan dan juga tak lupa sambil ngobrol-ngobrol.

Dari obrolan-obroalan kecil kami ada beberapa pengetahuan yang tergali diantaranya tentang penemuan kuburan kuno yang diduga dari masa pre-islam historic yang terletak mulai dari kawasan sekitar vila isola sampai dengan kawasan sekitar gunung manglayang, salah satu dari kuburan kuno itu terletak di panyandaan.

Ternyata panyandaan terletak tak jauh dari tempat kami beristirahat (walaupun jauh oge ternyata setelah disusuri, nanjak deui), maka kami pun memutuskan untuk melihatnya. perjalanan menuju makam kuno panyandaan ternyata tidak sesuai dengan harapan, karena trek yang dilalui sangatlah terjal dan nanjak terus, sehingga kamipun kepayahan dan beberapa kali harus berhenti untuk beristirahat. namun stelah berjuang sampai titik keringat penghabisan kamipun sampai di bukit dimana kuburan kuno tersebut berada. dari bukit ini kami bisa melihat wjah bandung dari ketinggian, tapi sayang sebagian bandung wajahnya berasap polusi, sungguh tidak cantik. tapi walalupun wajah bandung agak mengecewakan, tapi bukit itu tidak membuat kami kecewa karen disana terdapat dua buah kuburan kuno yang hanya tersusun oleh batuan-batuan, mirip kuburan-kuburan mannusia purba :

 

 

lagi-lagi kami kekurangan info tentang kuburan ini, mudah-mudahan ada teman-teman yang mengetahui info tentang kuburan ini bersedia untuk membagi infonya

kami hanyalah sebentar di lokasi kuburan kuno mengingat langit yang sudah mulai tampak gelap tak bersahabat, maka kamipun bergegas untuk pulang walalupun kami tahu bahwa perjalanan pulang yang akan kami tempuh tak akan mudah, dan benar saja perjalanan pulang tersebut cukup memakan tenaga terutama memakan kekuatan lutut saya (asa rek coplok euy).walaupun perjalanan kali ini cape dan jumlah pesertanya tak sebanyak ngaleut yang lain, tapi tetap saja selalu ada nilai yang bisa diambil dari ngAeut!. mulai dari romasntisme yang dibawa sampai mati samapai pada pengingat buat kita bahwa hidup tak akan selamanya.

14 November 2010

 

Belum ke bandung kalo belum ngAleut!

Iklan

2 pemikiran pada “NgAleut! Kuburan Cina dan Kuburan Kuno Panyandaan : Romantisme Yoko dan Bibi Lung

  1. Ayah saya pernah bercerita mengenai sejarah GOR pajajaran bandung, sebelum dibangun GOR adl komplek pekuburan Belanda, dgn banyak patung2 megah & antik, berdasarkan berita yg ayah sy baca d koran pikiran rakyat (thn 70 an), ketika pembongkaran makam terjadi hal2 yg diluar nalar seperti ditemukannya mayat2 yg masih utuh seperti manusia yg sedang tertidur, ditemukan mayat dgn rambut yang panjang sekali sampai memenuhi peti mati,ditemukan mayat dgn kuku2 yg tumbuh sampai melilit tubuh, dll. Mungkin dulunya almarhum2 belanda tsb pada ngelmu kali ya, dan ternyata prosesi pembongkaran tersebut pun memakan banyak korban nyawa, yaitu pekerja2 yg melakukan pembongkaran. Yang jadi pertanyaan saya dipindahkan kemanakah mayat2 ajaib belada tsb?

    • Setahu kami ada beberapa makam yang dipindahkan ke kompleks pekuburan Pandu, seperti makam Keluarga Ursone. Namun kami kurang tahu apakah semua makam dipindahkan atau hanya yang amsih jelas ahli warisnya saja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s