Ada Apa Dengan Karst Citatah

Oleh : Lukman

Masih ingatkah anda dengan judul film diatas, film yang sempat booming pada tahun 90-an dan menandai bangkitnya perfilman indonesia. Sebenarnya banyak ide yang ingin dijadikan judul, namun setelah menyaksikan kisah romantis sepanjang perjalanan kemarin nampaknya judul ini yang paling tepat.

Terinspirasi oleh kisah romantis antara Rangga dan Cinta yang diperankan oleh T*** Saputra dan G*** Sastrowardoyo, kisah ini pun dimulai. Dengan setting alun-alun Bandung berkumpullah para pegiat Aluet untuk menuju Karst Citatah di Rajamandala, begitupun Rangga dan Cinta (maaf langsung berduaan, untuk kisah pertemuan dan cara mengajaknya harus dibuat prequelnya). Seperti biasa Rangga dengan “cool” datang dengan pakaian santai plus sandal jepit (pada acara sharing terkuak bahwa itu memang disengaja agar kelihatan stylish), selanjutnya seluruh peserta saling memperkenalkan diri.

Untuk menuju ke Rajamandala, Rangga, Cinta dan rombongan harus menaiki bus jurusan alun-alun Ciburuy. Sepanjang perjalanan tidak ada kisah menarik antara mereka, lebih baik kita alihkan saja pada scene yang lain. Yaitu pengamen yang menghibur para peserta dengan menyanyikan lagu kolam susu, diteruskan dengan lagu yang mengkritik pemerintahan sampai lagu matematika dari 1+1 sampai 8192+8192.. ah kalau saja matematika diajarkan seperti ini mungkin akan menjadi pelajaran favorit di sekolah. Akhirnya rombongan pun tiba di Ciburuy, untuk persiapan mereka membeli perbekalan di toserba dan warung nasi.

Kembali ke cerita, perjalanan dimulai dengan berjalan kaki menuju Gunung Hawu (dalam bahasa Indonesia hawu berarti tungku pembakaran), mungkin melihat dari bentuk gunung tersebut. Lalu kisah penuh konflik antara Rangga dan Cinta pun dimulai, saat melalui rute yang cukup berat dan melelahkan, Cinta dengan nafas terengah-engah berkata “sungguh teganya kau ajak aku ke tempat seperti ini” . Dengan sikap cool-nya Rangga menjawab “aku tidak tahu akan seperti ini, lihat kostum ku” dengan nada penyesalan. Mereka saling berpandangan entah siapa yang harus disalahkan atas situasi ini.

Setibanya di kaki Gunung Hawu mereka beristirahat sejenak, karena masih penasaran dengan pemandangan di sekitar puncaknya seluruh rombongan beranjak pergi. Akhirnya sampai juga diatas, rasa lelah yang tadi hinggap hilang sudah terhapus oleh rasa takjub melihat pemandangan gugusan gunung kapur yang berdiri kokoh seperti gunung masigit, karang panganten, T-125, serta pemandangan disekitarnya. Namun sayang kondisinya sangat menyayat hati, tiap-tiap puncak gunung tersebut terluka oleh tangan manusia baik dengan pengeboman, penggalian dengan alat-alat berat ataupun galian-galian liar yang dilakukan secara manual.

Cerita berlanjut menuju Gunung Hawu yang kedua dimana Rangga, Cinta dan peserta aleut lainnya harus melewati ilalang setinggi hampir 2 meter, seperti dalam video Letto “ruang rindu” mereka menyusuri jalan sambil membelah padang ilalang

Kau datang dan pergi oh begitu saja
Semua kutrima apa adanya
Mata terpejam dan hati menggumam
oh sungguh malang Citatah sekarang….

Untuk mencapainya mereka harus menuruni tebing dengan kemiringan hampir 180 derajat, dibantu dengan sebuah tali satu persatu peserta turun dengan gaya masing-masing ada yang berlari, jongkok, ngesot sampai tiduran.

Hingga tiba saatnya Cinta untuk turun, sebelum turun ia menatap tajam sambil memegang erat tangan Rangga “apa aku harus turun atau balik lagi?”, dengan senyum penuh cemas Rangga melepaskan tangan Cinta seraya berkata “turunlah”. Setelah turun mereka membuka perbekalan masing-masing untuk mengisi perut dan memulihkan stamina yang sudah terkuras. Tiba-tiba pada saat seluruh peserta asyik makan, Cinta berteriak “Aku bukan pacar Rangga” bagai petir tanpa hujan suasana berubah menjadi hening sesaat… lalu…pecahlah gelak tawa dari seluruh peserta (kalau saja ada infotainment pasti akan dibahas setajam silet). Dalam hati Rangga berteriak “TIDAKKK” mengapa kau ucapkan itu sekarang, tidak nanti saja saat ngaleut selesai.

Setelah mengisi perut dan memulihkan stamina, mereka beranjak turun menuju titik selanjutnya. Dalam perjalanan menuruni tebing Cinta dan beberapa peserta jatuh, mungkin jalanan yang licin atau karena suasana hati yanhg sedang rapuh. Melihat hal itu Rangga yang masih berharap coba menolong “aku harus bertanggung jawab” gumamnya sambil mengulurkan tangan, hati Cinta pun luluh lalu meraih tangan Rangga dan berjalan bersama menuruni bukit.

Dengan menaiki angkot seluruh peserta menuju Taman Batu, sebuah puncak gunung dari gugusan Citatah yang masih alami dimana disana menyembul batu-batu besar yang membentuk berbagai formasi. Batuan tersebut merupakan terumbu karang yang sudah mengeras sejak 25 juta tahun yang lalu. Turun dari Taman Batu, Cinta, Rangga dan rombongan harus menuruni lagi tebing yang cukup curam walau tidak se-ekstrim sebelumnya. Disinilah Rangga dan Cinta menemukan kembali serpihan hati yang tadi hilang, bagai acara televisi “CLBK” mereka menuruni tebing dengan berpegangan tangan dan saling bercanda (padahal takut jatuh dan juga mengakibatkan rombongan dibelakang mereka terhambat). Akhirnya sampai juga di Gua Pawon dan menemukan sebuah warung, seluruh peserta melepas lelah sejenak untuk selanjutnya masuk ke Gua Pawon.

Disambut bau kotoran kelelawar satu persatu pegiat aleut masuk Gua Pawon, dengan merundukkan badan untuk menyusuri celah-celah gua dan melihat langsung fosil dari manusia purba. Puas melihat nenek moyang dan berfoto ria, seluruh peserta berkumpul disebuah bale untuk berbagi pengalaman selama perjalanan ngaleut ini.

Disamping kisah yang mengharukan antara Rangga dan Cinta ada beberapa pesan yang tesirat yaitu pentingnya kesadaran dari seluruh pihak untuk melestarikan Karst Citatah karena selain bernilai ekonomis juga merupakan warisan sejarah yang tak ternilai untuk diwariskan pada generasi selanjutnya, serta perlunya publikasi yang positif kepada umum tentang keadaan Karst Citatah sehingga mereka tertarik untuk datang dan memeliharanya. Karst Citatah hanya ada satu dan tidak bisa dibuat lagi, jadi lindungilah….

Iklan

4 pemikiran pada “Ada Apa Dengan Karst Citatah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s